Pesantren
sebagai Pendidikan Moral Sepanjang Sejarah
Judul
: Akar Sejarah Etika Pesantren di Nusantara
Penulis
: Aguk Irawan MN
Penerbit
: Pustaka IIMaN
Tahun
terbit : 2018
Tebal
: 462 halaman.
ISBN
: 978-602-8648-29-5
Peresensi
: Ashimuddin Musa, alumnus
Instika, Guluk-guluk, Sumenep, Jawa Timur.
Membaca
Islam yang komprehensif tentunya tidak bisa dilepaskan dari peradaban awal
Islam, yaitu Islam di era Nabi Muhammad SAW. Model Islam yang dipromosikan
kepada umat manusia adalah Islam rahmatan lil ‘alamin: sebagai rahmat bagi
seluruh alam. Kehadiran Islam seutuhnya ditujukan untuk kemaslahatan umat
manusia. Kehidupan yang sejahtera, damai, berkeadilan, dan kehidupan yang
didasarkan pada nilai-nilai luhur merupakan visi dan tujuan ajaran Islam.
Buku
ini merekam jejak historis islamisasi Jawa yang dilakukan dengan cara yang
santun dan damai. Proses penguatan nilai-nilai Islam di Jawa tidak dilakukan
dengan cara menghakimi tradisi masyarakat sebagai bid’ah, sekalipun tradisi
tersebut berbau animistik-hinduistik, melainkan dilakukan dengan mengafiri
budaya lokal setempat, menjadikannya sebagai instrumen penyebaran Islam.
Yang
menjadi persoalan, kadang-kadang ketika menjadi seorang Muslim, kita dituntut
untuk se-Arab mungkin. Sebaliknya sebagai orang yang modern, kita dituntut
untuk kebarat-baratan atau se-Barat mungkin. Kita bisa menjadi seorang Muslim
tanpa harus kehilangan jati diri sebagai warga negara. Sebab, jati diri utama
seorang Muslim ditentukan oleh ketakwaannya.
Islam
yang dibawa ke Indonesia dapat diterima dengan mudah karena memiliki kemiripan
konseptual, sehingga inkulturasi terjadi. Melalui proses inkulturasi yang
panjang, nilai Islam dan nilai pra-Islam berpadu dan membentuk hal baru. Islam
di Arab, Turki, India dan di seluruh penjuru dunia memiliki bentuk yang sama,
termasuk bentuk Islam yang berkembang di Indonesia. Kebaruan di sini menurut
penulis buku ini terletak pada makna, bukan bentuknya.
Para
juru dakwah Islam di Indonesia banyak sekali. Akan tetapi, yang paling banyak
dikenal oleh masyarakat luas adalah Wali Songo. Sebab, jasa yang mereka
perjuangkan sangat tampak dirasakan. Salah satu contohnya adalah lahirnya
pendidikan pesantren. Pondok pesantren menjadi representasi yang masih
mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai lokal dan Islam. Keduanya terpilih
dalam suatu proses inkulturasi yang sangat panjang, menyejarah, tampil dalam
pentas perjalanan historis bangsa dan negara (hal. 396-397).
Belakangan
ini, muncul fenomena yang menjadi tren pesantren. Pertama, pesantren
tradisional ramai-ramai mengadopsi pendidikan modern saja. Pesantren ini
membuka pendidikan umum dan kampus ala Barat dengan meninggalkan karakter
pesantren--tetapi mempertahankan apa yang khas dalam pesantren. Kedua,
munculnya pesantren garis keras. Akibatnya, banyak alumni pesantren beraliran
radikalis (hal. 23). Menurut penulis, teroris tingkat tinggi hampir semuanya
alumni pesantren. Sebut saja misalnya Amrozi, Umar Patek, Imam Samudra dan
lain-lain.
Perlu
diketahui, bahwa ada tugas-tugas pokok yang harus dilakukan bagi para pendakwah
untuk memberikan pendidikan keislaman yang baik kepada masyarakat, yaitu
mengimplementasikan pendidikan moral (makruf), bukan dengan cara kekerasan
(mungkar). Sekarang justru malah terbalik, para pendakwah awal seperti Wali
Songo dikafir-kafirkan karena tidak membidahkan atau mensyirikkan budaya
setempat, padahal mereka dulu mengislamkan orang kafir.
Dalam
berhubungan dengan Allah, kita mesti mengikuti apa yang diajarkan agama. Akan
tetapi, dalam berhubungan dengan manusia (hubungan horizontal), untuk
mewujudkan kemaslahatan kepada makhluk di muka bumi, maka kita perlu menyerap
sebanyak mungkin budaya dari manapun yang baik, dan meninggalkannya yang jelek,
termasuk dari budaya kita sendiri.
Oleh
karena itu, bagi para peletak dasar berdirinya pesantren dan atau penyebar awal
Islam di Indonesia menilai urgensinya prinsip-prinsip tidak menggunakan
kekerasan di dalam seluruh kehidupan manusia. Nilai-nilai lokal yang baik terus
dipelihara oleh mereka (wali) sebagai sesuatu yang baik dan dijadikannya
sebagai medium dalam penyebaran agama Islam yang sesuai dengan karakter bangsa
Indonesia (hal. 399). Dengan prinsip dasar itu mereka berhasil dengan mudah
mentransformasikan nilai-nilai non-islami menuju kehidupan yang Islami secara
paripurna.
Akar
Sejarah Etika Pesantren di Nusantara sangat penting dibaca untuk menambah
wawasan tentang strategi dakwah persepektif etika pesantren karya Aguk Irawan
ini. Buku yang dihasilkan dari hasil penelitiannya sudah pasti dilakukan dengan
sungguh kehati-hatian dalam menyelesaikan gagasannya. Meski bahasa yang
digunakan dalam buku ini terkesan akademik-intelektual, tapi tidak menutup
kemungkinan untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas, terutama bagi mereka yang
sedang mendalami dunia dakwah dan mereka yang ingin memahami Islam dan tuntunan
idealnya. Selamat membaca. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar