Perempuan yang
Menangis di Sudut Mushala Mal
Didampingi seorang
keponakanku seusai menghadiri sebuah pertemuan aku menyempatkan diri untuk
memenuhi pesanan istriku membeli wajan teflon. Maka kuarahkan kendaraanku
menuju sebuah supermarket di kotaku yang khusus menjual perangkat dapur dan
perkakas rumah tangga.
Dengan menggunakan
sarung dan berpeci sebagaimana lazimnya, aku berpakaian aku menyusuri rak demi
rak mencari pesanan istriku itu. Namun, aku sedikit terkejut saat melihat jam
di ponselku menunjukan pukul 16.45. Aku belum shalat ashar. Maka segera aku
menuju ke mushala supermarket itu.
Memasuki mushala itu
suasana begitu sepi. Aku hanya melihat seorang perempuan di sudut ruang yang
duduk berkerubut mukena warna biru muda. Dari balik mukena itu aku mendengar
isak tangis dibarengi suara istighfar. Sambil menunggu shalat berjamaah dengan keponakanku
yang sedang ke toilet aku terdiam di atas sajadahku. Keponakanku tak kunjung
datang.
Istighfar dan isak
tangis dari mulut perempuan itu masih terus aku dengar. Kurasa ia begitu
khusyuk menikmatinya, ia begitu memahami istighfarnya, hingga kedatangan dan
keberadaanku tak ia hiraukan. Kekagumanku menarik mataku untuk meliriknya saat
ia telah menyelesikan munajatnya. Ia memasuki ruang ganti. Dan saat keluar aku
melihatnya telah mengenakan pakaian ketat di atas lutut dengan model “you can
see”.
Aku makin penasaran.
Usai shalat aku kembali mengelilingi supermarket berharap bisa bertemu lagi
dengan perempuan itu. Bukan untuk menyapanya, tapi untuk mencari tahu perihal
kehidupan ini. Benar saja, aku melihatnya lagi. Ia seorang penjaga stan barang
mewah yang lazimnya berpakaian minim. Kulihat matanya masih sembab. Dan aku
melewatinya begitu saja.
Melihat ini semua,
dalam jalanku yang pelan aku berbisik, “Gusti Allah, terus apa makna peciku,
sarungku, dan serbanku?” []
Diceritakan kepada
penulis oleh KH. Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, Februari
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar