Selasa, 07 Desember 2021

(Do'a of the Day) 03 Jumadil Awwal 1443H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Bismillaahit tuklaanu 'alallaahi, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

 

Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya,  tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 8.

(Ngaji of the Day) Manfaat Shalat Berdasarkan Kajian Psikoterapi

Shalat adalah rukun Islam kedua yang wajib bagi setiap Muslim untuk meyakini serta melaksanakannya. Dalam shalat, sebagaimana kita ketahui bahwa setiap Muslim dituntut untuk mendirikannya setiap lima kali sehari di tiap-tiap waktunya. Mendirikan shalat tentu mempunyai aturan, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun, dan adab-adabnya, baik lahir maupun batin.

 

Secara terminologis, Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari dalam kitab Fathul Mu’in menyebutkan bahwa shalat pada pengertian syara’ adalah rangkaian ucapan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Dengan pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa shalat tidak bisa dilaksanakan secara sembrono, karena itu setiap muslim diharuskan mempelajari ilmu yang meliputi pembahasan tentang aturan-aturan shalat, yaitu ilmu fiqih.

 

Selain hal-hal yang terkait dengan aturan shalat, pada praktiknya, ternyata shalat itu mempunyai manfaat yang dapat dirasakan kebaikannya. Salah satunya adalah memberi pengaruh pada ketenangan jiwa. Pernyataan ini tentu bukan tanpa alasan, ada banyak penelitian psikologis yang mengungkapkan hal itu berdasarkan kajian ilmiah, yakni dengan istilah bernama 'terapi religius'.

 

Terapi religius adalah bagian dari cabang psikoterapi (terapi jiwa). Menurut penelitian Dedy Susanto berjudul Psikoterapi Religius sebagai Strategi Dakwah dalam Menanggulangi Tindak Sosiopatic (2013), terapi religius merupakan sebuah penyembuhan terhadap pola perilaku menyimpang dengan menggunakan pendekatan-pendekatan agama.

 

Sebagaimana kita ketahui, setiap manusia selalu dilanda pada ragam permasalahan tentang kehidupan, seperti kegagalan dalam soal karir, ekonomi, dan problematika sosial lainnya. Tidak jarang akibat permasalahan tersebut akan mengalami gangguan jiwa, sehingga berdampak pada kesehatan jasmani, baik fisik maupun mental, termasuk juga di dalam hubungan sosialnya.

 

Sangat penting bagi manusia untuk rileks di kala pikirannya mengalami gejala stres berat. Sangat penting pula baginya untuk selalu memperhatikan kondisi dirinya dalam menyikapi permasalahan yang ada. Oleh sebab itu, dibutuhkan terapi jiwa agar pengembangan, pemberdayaan potensi, dan kecerdasan fitrah manusia dapat dikondisikan dengan stabil.

 

Ritual shalat merupakan ibadah yang bisa menjadi praktik terapi jiwa dengan sangat sederhana. Melalui shalat, manusia bisa berhubungan langsung antara seorang hamba kepada Allah SWT tanpa ada sekat komunikasi yang dapat terpisahkan.

 

Pada praktiknya, shalat memiliki norma khusus yang dapat memelihara pikiran manusia yang mengerjakannya. Karena itu, seyogyanya kita dituntut untuk khusyu dalam shalat, yakni konsentrasi memusatkan pikiran pada satu titik dengan segala kerendahan hati sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

 

Menurut Ibnu Hajar Ansori dkk dalam penelitian berjudul Psikologi Shalat (2019), ketika seseorang itu berkonsentrasi, ia akan dituntut untuk mengontrol diri mereka, baik dalam hal perbuatan maupun pikiran. Kontrol diri ini adalah metode pengendalian emosi seseorang serta dorongan-dorongan yang terdapat dalam dirinya. Melalui pengendalian emosi, seseorang bisa mengarahkan energi emosi ke saluran ekspresi yang bermanfaat.

 

Seperti halnya orang yang shalat harus melihat ke tempat sujudnya, yaitu pada titik yang tetap ketika berdiri. Melihat kedua kaki ketika ruku’, melihat ujung hidungnya ketika sujud, dan lain sebagainya, artinya terdapat titik pandang yang tetap pada setiap gerakan shalat agar pandangan orang yang mengerjakannya tidak terpecah sehingga dapat mempengaruhi konsentrasinya.

 

Dengan begitu, apabila pekerjaan tersebut sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, maka akan berdampak besar pada perbuatan-perbuatan yang lain. Kontrol diri inilah yang bisa menjadi solusi dalam menghadapi gejala stres, sangat mudah diterapkan hanya melalui ibadah shalat.

 

Selanjutnya, gerakan shalat juga dapat menstabilkan fungsi organ tubuh dengan baik. Salah satunya sujud, ketika posisi kepala lebih rendah dari posisi jantung, urat saraf pada bagian otak akan terisi oleh darah, hal ini dapat mengakibatkan otak dapat berfungsi dengan baik. Artinya dengan membiasakan sujud setiap harinya bisa membantu merelaksasi otot-otot kepala.

 

Di samping melatih konsentrasi, gerakan shalat juga memiliki esensi yang identik dengan kerendahan hati. Bermula dengan gerakan takbiratul ihram, manusia dituntut untuk memusatkan pikiran untuk merendahkan diri ketika ber-tawajjuh kepada Allah. Diikuti gerakan ruku’ dengan membungkukkan badan yang menggambarkan sifat tawadhu'.

 

Gerakan berikutnya yaitu sujud di mana sebagai bentuk manifestasi penghambaan kepada Allah. Kemudian tasyahud yang berisi pujian, doa, dan keselamatan sebagai wujud harapan manusia paling tinggi. Terakhir gerakan salam menoleh ke arah kanan dan kiri, dengan memaksudkan menebarkan keselamatan dan kebaikan untuk semua makhluk Allah.

 

Semua rangkaian itu memberikan pesan penting kepada manusia tentang makna kesalehan, baik kesalehan individu maupun sosial. Tidak dapat dipungkiri bahwa ritual shalat jika dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, maka dapat membentuk identitas dan moral yang baik untuk masyarakat.

 

Sangat terang benderang bahwa Allah sudah banyak menegaskan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya dalam surat Al-Ankabut ayat 45:

 

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

 

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

 

Dengan demikian, begitu mudahnya bagi seseorang yang dilanda stres untuk menjalankan terapi jiwa yang sangat sederhana ini, yakni membiasakan shalat lima waktu setiap harinya. Mungkin saja di antara kita masih banyak yang suka menunda-nunda waktu shalat atau bahkan meninggalkannya.

 

Permasalahan hidup yang kita hadapi bisa menjadi ajang untuk introspeksi diri bahwa solusi paling sempurna yang dilakukan oleh manusia adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena semua yang ada di dunia ini berada pada qudrah dan iradah-Nya, sehingga bentuk penghambaan adalah proses mengadu yang terbaik dalam menghadapi semua persoalan hidup. []

 

Ahmad Rifaldi, Mahasiswa Magister Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

Senin, 06 Desember 2021

(Do'a of the Day) 02 Jumadil Awwal 1443H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Bismillaahi tawakkaltu 'alallaahi, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

 

Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 8.

(Ngaji of the Day) Cara Nabi Muhammad Menjaga Lingkungan

“Barang siapa menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Apa yang dimakan oleh binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekah,” kata Nabi Muhammad dalah satu hadits riwayat An-Nasai, Ibnu Hibban, dan Ahmad.

 

Nabi Muhammad tidak melulu mengajarkan ritual keagamaan. Dalam beberapa kesempatan, Nabi juga mengingatkan para sahabat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Jika lingkungan rusak, maka manusia juga yang akan menanggung dampaknya. Karena bagaimana pun, manusia dan lingkungan dengan segala aspeknya yang berbeda-beda itu saling terkait dan saling membutuhkan.

 

Nabi Muhammad memberikan beberapa rambu dan arahan umum terkait dengan pelestarian lingkungan. Pertama, melarang melakukan pencemaran lingkungan. Nabi sangat tegas terkait dengan hal ini. Dalam satu hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Majjah, beliau melarang keras seseorang buang air besar di sungai-sungai yang mengalir, di jalan yang dilalui orang, dan tempat berteduh. Ketiga perbuatan tersebut merupakan hal yang dilaknat. Di hadits lain, Nabi juga melarang seseorang untuk buang air besar di air yang tidak mengalir karena itu akan merusak air tersebut.

 

Kedua, menghemat air. Suatu ketika, Nabi Muhammad menegur sahabatnya, Sa’ad, karena berlebih-lebihan menggunakan air ketika berwudhu—meskipun pada saat itu air tersedia melimpah. Hal itu membuat Sa’ad bingung dan bertanya kepada Nabi perihal yang dilakukannya.

 

“Apakah di dalam wudhu ada berlebih-lebihan?” tanya Sa’ad.

 

“Ya, walau pun engkau sedang berada berada di sungai yang mengalir,” jawab Nabi. Melalui hadits riwayat Ibnu Majah dan Ahmad ini, Nabi menasihati sahabatnya (dan umat Islam) agar hemat dalam menggunakan air. Karena, air merupakan salah satu kekayaan alam yang paling penting dalam kehidupan manusia. Selain air, penggunaan listrik, minyak, dan energi lainnya juga harus dihemat, tidak berlebih-lebihan.

 

Ketiga, menanam tumbuhan. Dalam upaya menjaga lingkungan, Nabi Muhammad juga menganjurkan umatnya untuk menanam tumbuh-tumbuhan di lahan-lahan yang sekiranya kosong. Kata Nabi, seseorang yang menanam pohon akan mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah. Ia akan mendapatkan pahalanya sepanjang tanaman tersebut memberikan manfaat atau dimanfaatkan orang yang hidup di sekitarnya.

 

Keempat, mengidupkan tanah mati. Nabi menyerukan kepada para sahabatnya untuk menghidupkan tanah-tanah yang tidak dikelola. Beliau tidak membiarkan ada lahan sejengkal pun di wilayah kekuasaan umat Islam yang mati atau tidak dikelola. Mengapa? Karena siapapun yang memakan hasilnya itu –baik manusia atau pun hewan- maka yang menaman atau menabur akan mendapatkan pahala sedekah.

 

“Barang siapa yang menghidupkan tanah yang mati, maka baginya pahala. Dan apa yang dimakan binatang darinya, maka itu baginya pahala sedekat,” kata Nabi.

 

Kelima, menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan. Nabi Muhammad bersabda, suatu ketika Allah memperlihatkan kepadanya amal baik dan amal buruk dari umatnya. Di antara amal baik umatnya yang diperlihatkan kepada Nabi adalah menyingkirkan gangguan atau bahaya dari jalan. Sementara amal buruk umatnya adalah meludah di masjid dan tidak membersihkannya.

 

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menekankan kepada umatnya agar menjaga kebersihan karena Allah menyukai kebersihan. Di hadits lain, Nabi mengtakan bahwa Allah itu Mahaindah yang mencintai keindahan.

 

“Maka bersihkanlah halaman kalian,” kata Nabi.

 

Satu hari, Nabi Muhammad pernah mencagarkan sebuah wilayah—yang meliputi lembah, padang rumput, dan tumbuhan- di sekitar Madinah. Nabi melarang siapapun menggarap lahan yang dilindunginya tersebut untuk kepentingan pribadi karena lahan itu dimaksudkan untuk kemaslahatan bersama. Lahan yang dicagarkan Nabi itu ditaksir seluas 2.049 hektare dan dipakai sebagai tempat berdiamnya kuda-kuda perang kaum Muhajirin dan Anshor.

 

“Ini adalah lahan yang aku lindungi” kata Nabi merujuk sebuah gunung di sekitar Madinah.

 

Demikian cara Nabi Muhammad menjaga dan melestarikan lingkungan. Memang, persoalan lingkungan yang ada pada zaman Nabi Muhammad tidak lah se-kompleks seperti saat ini. Namun demikian, secara garis besar Nabi Muhammad telah memberikan rambu-rambu atau arahan tentang bagaimana cara menjaga dan melestarikan lingkungan. []

 

(Muchlishon Rochmat)

Jumat, 03 Desember 2021

(Do'a of the Day) 28 Rabiul Akhir 1443H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Bismillaahi tawakkaltu 'alallaahi. Allaahumma inni a'uudzubika an adhilla au udhalla, au adzilla au udzalla, au adhlima au udhlama, au ajhala au yujhala 'alayya.

 

Dengan menyebut nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tersesat atau disesatkan, terhina atau dihinakan, menganiaya atau dianiaya, dan menjadi bodoh atau dibodohi orang.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 8.

(Khotbah of the Day) Tiga Macam Bentuk Sabar

KHUTBAH JUMAT

Tiga Macam Bentuk Sabar


Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَىٰ الدَّارِ (الرعد: ٢٤)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 

Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.

 

Kaum Muslimin yang berbahagia,

 

Sabar adalah adat kebiasaan para nabi dan rasul. Sabar adalah permata yang menghiasi kehidupan para wali. Sabar adalah mutiara bagi orang-orang shalih. Sabar adalah cahaya penerang bagi siapa pun yang menapaki jalan menuju kebahagiaan abadi di akhirat.

 

Menurut Imam al-Ghazali, kata sabar dan berbagai kata turunannya disebutkan di lebih dari tujuh puluh tempat dalam Al-Qur’an. Di antaranya adalah firman Allah ta’ala:

 

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُونَ (النحل: ٩٦)

 

Maknanya: “... Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS an-Nahl: 96).

 

Juga firman Allah ta’ala:

 

سَلَـٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَىٰ الدَّارِ (الرعد: ٢٤)

 

Maknanya: “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu” (QS ar-Ra’d: 24).

 

Hadirin rahimakumullah,

 

Seseorang yang memiliki sifat sabar bukan berarti ia pengecut, putus asa dan lemah dalam berucap, bertindak, dan mengambil keputusan. Sabar hakikatnya adalah menahan diri dan memaksanya untuk menanggung sesuatu yang tidak disukainya, dan berpisah dengan sesuatu yang disenanginya. Sabar yang merupakan salah satu kewajiban hati ada tiga macam, yaitu:

 

Pertama, sabar dalam menjalankan ketaatan yang Allah wajibkan.

 

Pada pagi hari yang suhu udarannya sangat dingin, misalkan, kita harus sabar dalam melaksanakan perintah Allah. Kita paksa diri kita untuk menahan dinginnya udara guna mengambil air wudhu. Pada pagi hari juga, saat tidur adalah sesuatu yang disenangi nafsu kita, kita tahan keinginan nafsu itu, dan kita paksa diri kita untuk menjalankan ibadah shalat Shubuh. Kita lakukan itu semua semata-mata mengharap ridha Allah ta’ala. Inilah yang disebut dengan sabar dalam menjalankan ketaatan yang diwajibkan oleh Allah ta’ala.

 

Kedua, sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan segala yang Allah haramkan.

 

Nafsu manusia pada umumnya menyenangi hal-hal yang dilarang oleh Allah. Barangsiapa yang menjauhkan dirinya dari kemaksiatan dengan niat memenuhi perintah Allah, maka pahalanya sangat agung. Para ulama mengatakan bahwa meninggalkan satu kemaksiatan lebih utama daripada melakukan seribu kesunnahan. Karena meninggalkan kemaksiatan hukumnya wajib. Sedangkan melakukan kesunnahan hukumnya sunnah. Tentu yang wajib lebih utama daripada yang sunnah. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa barangsiapa yang menjaga pandangan matanya dari aurat-aurat perempuan yang tidak halal baginya, maka pahalanya lebih besar daripada melakukan seribu rakaat shalat sunnah. Hal itu dikarenakan sabar dalam meninggalkan perkara haram menuntut perjuangan yang luar biasa berat. Yaitu perjuangan melawan setan yang selalu menghiasi kemaksiatan seakan-akan ia adalah sesuatu yang sangat indah dan mempesona. Dan perjuangan melawan hawa nafsu yang seringkali mengajak manusia tenggelam dalam dosa dan keburukan.

 

Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah yang menimpa.

 

Musibah jika dihadapi dengan sabar akan meninggikan derajat atau menghapus dosa. Musibah banyak macamnya. Perlakukan buruk orang lain pada kita adalah musibah. Begitu juga penyakit yang kita derita, kemiskinan, kecelakaan, kemalingan, kehilangan harta benda, kebakaran, dan lain sebagainya.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَة يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

 

Maknanya: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa keletihan dan penyakit, kekhawatiran dan kesedihan, gangguan dan kesusahan, bahkan duri yang melukainya, melainkan dengan sebab itu semua Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari).

 

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

 

Maknanya: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya” (HR al-Bukhari).

 

Jadi orang yang dikehendaki baik oleh Allah, ia akan ditimpa musibah dan diberi kekuatan oleh Allah untuk bersikap sabar dalam menanggung dan menghadapi musibah yang menimpanya.

 

Sabar dalam menghadapi musibah artinya musibah yang menimpa tidak menjadikan seseorang melakukan sesuatu yang dilarang dan diharamkan oleh Allah. Seseorang yang ditimpa kemiskinan, misalkan, jika kemiskinan yang menimpanya tidak menyebabkannya mencari harta dengan jalan mencuri, merampok, korupsi dan perbuatan-perbuatan lain yang diharamkan oleh Allah, maka artinya ia telah bersikap sabar dalam menghadapi musibah kemiskinan yang menimpanya.

 

Musibah yang menimpa, terkadang tidak hanya menyebabkan seseorang melakukan perbuatan haram. Bahkan lebih dari itu, terkadang menjadikannya melakukan atau mengucapkan perkataan yang menjerumuskannya pada kekufuran. Seperti orang yang ketika anggota keluarganya meninggal dunia, ia mengatakan bahwa Allah zalim, Allah tidak adil, Allah bukan tuhan yang berhak disembah, dan perkataan lain yang membatalkan keislaman dan keimanannya. Na’udzu billah min dzalik. Hal yang demikian wajib kita hindari.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 

Seseorang yang memahami ilmu agama dengan baik dan memegang teguh ajaran Islam sebagaimana mestinya, maka musibah yang menimpanya tidak akan menambahkan kepadanya kecuali sikap sabar dan peningkatan ibadah kepada Allah. Bahkan para wali Allah, kegembiraan mereka atas bala’ dan musibah yang menimpa mereka lebih besar daripada kegembiraan mereka atas kelapangan hidup dan keluasan rezeki yang dianugerahkan kepada mereka. Oleh karena itu, sebagian kaum sufi mengatakan:

 

وُرُوْدُ الْفَاقَاتِ أَعْيَادُ الْمُرِيْدِيْنَ

 

“Datangnya berbagai musibah adalah hari raya bagi para pencari kebahagiaan di akhirat.”

 

Mereka menganggap bahwa musibah yang menimpa adalah hari raya bagi mereka. Dengan itu, musibah akan meningkatkan ketaatan dan ibadah mereka kepada Allah ta’ala.

 

Hadirin rahimakumullah,

 

Suatu ketika, datang seorang perempuan ke hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tujuan agar beliau berkenan memperistri putrinya. Perempuan itu memuji putrinya di hadapan beliau dengan mengatakan bahwa putrinya sangat cantik jelita dan memiliki kesehatan yang sempurna. Bahkan sakit kepala pun tidak pernah ia rasakan. Rasulullah lantas menjawab:

 

لَا حَاجَةَ لِي فِيْهَا

 

“Saya tidak membutuhkannya, saya tidak mau menikahinya.”

 

Kenapa Rasulullah menolak tawaran itu? Karena beliau mengetahui bahwa seseorang yang berlimpah kesenangan di dunia dan tidak pernah ditimpa musibah, maka ia adalah orang yang sedikit kebaikannya di akhirat. Seseorang yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, maka Allah akan menimpakan pada dirinya berbagai musibah di dunia.

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَأَحْمَدُ وَغَيْرُهُمَا)

 

Maknanya: “Manusia yang paling berat ujian dan musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka. Seseorang diuji berdasarkan sekuat apa ia pegangteguh agamanya” (HR at-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya)

 

Diceritakan bahwa ada seorang yang shalih, kedua tangannya terpotong, kedua kakinya terpotong dan kedua matanya buta. Ia juga terjangkit suatu penyakit yang menggerogoti beberapa anggota tubuhnya. Anggota-anggota tubuhnya yang terkena penyakit itu menjadi menghitam lalu berjatuhan dan berguguran. Tidak ada satu pun yang mau merawatnya. Ia dibuang di jalanan. Banyak serangga yang mengerubungi kepalanya dan menggigitnya. Namun apa daya. Ia tidak punya tangan untuk menjauhkan dirinya dari serangga-serangga itu. Ia juga tidak punya kaki untuk bergerak dan berpindah dari tempat duduknya. Suatu ketika, beberapa orang melewatinya. Ketika melihat orang shalih tersebut, mereka mengatakan: Subhanallah, alangkah tabah dan sabarnya laki-laki ini. Mendengar perkataan mereka, orang shalih itu kemudian mengatakan:

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ قَلْبِيْ خَاشِعًا وَلِسَانِي ذَاكِرًا وَبَدَنِي عَلَى الْبَلَاءِ صَابِرًا، إِلَهِي لَوْ صَبَبْتَ عَلَيَّ الْبَلَاءِ صَبًّا، مَا ازْدَدْتُ فِيْكَ إِلَّا حُبًّا

 

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hatiku khusyu’, lisanku berdzikir, dan badanku bersabar atas musibah. Ya Tuhanku, seandainya Engkau menimpakan kepadaku musibah seberat apa pun, tidaklah aku bertambah kepada-Mu kecuali rasa cinta.”

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

 

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

 

Ustadz Nur Rohmad, Pemateri/Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Bidang Peribadatan & Hukum, Pengurus Daerah Dewan Masjid Indonesia Kab. Mojokerto

Belajar dari Gerakan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Para Kiai

Belajar dari Gerakan Kemandirian dan Kedaulatan Ekonomi Para Kiai


Pada 1918, kiai atau ulama-ulama dari kalangan pondok pesantren berusaha mendirikan perhimpunan para saudagar Islam untuk melawan monopoli penjajah Belanda atas perekonomian. Perhimpunan tersebut diberi nama Nahdlatut Tujjar (kebangkitan saudagar).

 

Para kiai saat itu merasa prihatin dengan kemerosotan perekonomian rakyat. Kemerosotan tersebut berdampak pada melemahnya kesejahteraan masyarakat Islam, pendidikan, budaya, dan politik. Sementara kalangan non-Muslim makin kuat dan eksis karena perekonomian mereka didukung oleh kolonial Belanda.

 

Untuk memperkuat perekonomian rakyat, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Chasbullah mengumpulkan saudagar dari kalangan pesantren untuk mendirikan badan usaha mandiri agar tidak bergantung pada penjajah.

 

Kalangan pesantren akhirnya setuju dengan usulan pendirian badan usaha untuk memupuk kedaulatan ekonomi itu. Lalu para kiai mendirikan badan usaha bernama Syirkah al-Inan di bawah naungan Nahdlatut Tujjar.

 

Pendirian perhimpunan tersebut didasarkan atas pertimbangan kemaslahatan dan menghindar dari kemudharatan kolonial Belanda. Karena bekerja sama dengan kolonial pada akhirnya akan memperkuat penjajahan di Nusantara dan tidak akan menguntungkan bagi umat Islam.

 

Berdasarkan kaidah fiqih yang selama ini menjadi pegangan kalangan pesantren yang dikutip dari Qawaidul Ahkam karya Syekh Izzuddin bin Abdussalam, Tahshilul mashalih wa dar’u hadzihil mafasid aula min ta’thiliha (mengambil kemaslahatan dan menghindari kemudharatan lebih utama dari pada mengabaikannya), apabila ditemukan peluang untuk memperoleh kemaslahatan dan menghindari kemudharatan, maka segeralah mewujudkan dan jangan mengabaikannya. (Syaikhul Islam Ali, Kaidah Fikih Politik: Pergulatan Pemikiran Politik Kebangsaan Ulama, 2018)

 

Sebab itu, pendirian Nahdlatut Tujjar merupakan salah satu upaya dan ikhtiar untuk memperoleh kemaslahatan dan bidang perekonomian dan menolak monopoli penjajah Belanda.

 

Sejak berdirinya gerakan kemandirian dan kedaulatan ekonomi para kiai itu, kalangan pesantren tidak mau menerima bantuan sedikit pun dari penjajah Belanda dan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan perekonomian masyarakat secara mandiri.

 

Bahkan Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) menjelaskan bahwa ketika Nahdlatul Ulama sudah berdiri pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344, seluruh kegiatan muktamar, pendidikan, dan acara-acara yang berkaitan dengan NU didanai oleh Nahdlatut Tujjar.

 

Perhimpunan kaum saudagar ini juga berhasil mendanai perjalanan delegasi NU atau dikenal sebagai Komite Hijaz untuk bernegosiasi dengan Raja Saudi agar kebebasan bermazhab di Haramain tetap diberlakukan sehingga jangan sampai diseragamkan, khususnya ketika Bani Saud dari kelompok Salafi Wahabi mengambil tampuk pengelolaan negara di Arab Saudi.

 

Jika membaca kembali wasiat KH Hasyim Asy’ari yang sangat visioner dalam deklarasi pendirian Nahdlatut Tujjar, beberapa catatan yang dapat diambil dari antara lain. (Baca Abdul Mun’im DZ, Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011)

 

Pertama, KH Hasyim Asy’ari menyeru kepada para cerdik pandai dan ustadz. Hal ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dari kalangan profesional dan agamawan sebagai fondasi badan usaha. Di sini bisa dilihat bahwa tujuan akhir yang diinginkan oleh KH Hasyim Asy’ari ialah badan usaha dapat berfungsi sebagai sumber pendanaan kesejahteraan para pendidik agama dan pencegahan kemaksiatan melalui pengentasan kemiskinan.

 

Kedua, KH Hasyim Asy’ari menyeru lokasi badan usaha merujuk pada kota. Perputaran ekonomi bergerak dari desa ke kota dan akan kembali kepada kesejahteraan masyarakat di desa sehingga menciptakan rantai bisnis desa-kota. Sehingga basis kota sebagai tempat suplai, jaringan usaha, dan perusahaan-perusahaan harus tergarap dalam visi kedaulatan ekonomi.

 

Ketiga, KH Hasyim Asy’ari menyeru badan usaha yang beroperasi bersifat otonom. Hal ini mengisyaratkan bahwa pengelolaan badan usaha tersebut harus profesional dengan tata kelola yang baik.

 

Melalui tata kelola badan usaha yang modern tersebut, yang pada prinsipnya mengacu pada sifat otonom yang disampaikan oleh KH Hasyim Asy’ari itu bahwa setiap pihak dapat fokus menjalankan fungsinya masing-masing sesuai dengan keahlian yang dimiliki.

 

Keempat, KH Hasyim Asy’ari menyeru badan usaha yang beroperasi bertujuan menghidupi para pendidik dan pencegah laju kemaksiatan. Artinya badan usaha ekonomi mempunyai tanggung jawab atas segala problem di tengah masyarakat dengan keuntungan-keuntungan yang didapatkan.

 

Kelima, soal bentuk implementasi badan usaha. Setelah deklarasi Nahdlatut Tujjar, KH Hasyim Asy’ari langsung bergerak membentuk koperasi sebagai badan usaha yang menggerakkan ekonomi rakyat, jauh sebelum koperasi menjadi salah satu bentuk badan usaha yang termaktub dalam UUD 1945.

 

Dari paparan dan penjelasan di atas, bisa dikatakan bahwa kalangan pesantren, khususnya Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari merupakan sosok pelopor kemandirian dan kedaulatan ekonomi rakyat Indonesia melalui gerakan dan perkumpulan Nahdlatut Tujjar. []

 

(Fathoni Ahmad)

Jumat, 26 November 2021

(Do'a of the Day) 21 Rabiul Akhir 1443H

Bismillah irRahman irRaheem

 

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind


Allaahumma innii as aluka min khairihii wa khairi maa huwa lahu, wa a'uudzubika min syarrihii wa syarri maa huwa lahu.

 

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu akan kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang berkaitan dengannya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang diakibatkannya.

 

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 1, Bab 3.

(Khotbah of the Day) Soal Berlebih-lebihan dalam Beragama

KHUTBAH JUMAT

Soal Berlebih-lebihan dalam Beragama


Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ بِصِدْقِ نِيَّةٍ كَفَاهُ وَمَنْ تَوَسَّلَ إِلَيْهِ بِاتِّبَاعِ شَرِيْعَتِهِ قَرَّبَهُ وَأَدْنَاهُ وَمَنِ اسْتَنْصَرَهُ عَلَى أَعْدَائِهِ وَحَسَدَتِهِ نَصَرَهُ وَتَوَلاَّهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ حَافَظَ دِيْنَهُ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ أَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ فَـَٔامِنُوا بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَٰثَةٌ ۚ ٱنتَهُوا خَيْرًا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا ٱللَّهُ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ سُبْحَٰنَهُۥٓ أَن يَكُونَ لَهُۥ وَلَدٌ ۘ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah Pada kesempatan Jumat ini, marilah kita menata hati dan niat hadir di majelis Jumat ini untuk beribadah kepada Allah SWT. Kita perlu ingat, keberadaan kita di dunia ini memiliki tugas utama yakni beribadah kepada Allah SWT sebagaimana ditegaskan dalam QS Addzariyat: 56

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

 

Artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

 

Jangan sampai hadirnya kita di majelis yang mulia ini dengan motif atau niatan lain seperti numpang istirahat, bermain handphone, atau malah ngobrol dengan orang lain saat khatib sedang menyampaikan khutbahnya. Seharusnya kita ingat pesan para bilal melalui hadits nabi saat khatib akan naik mimbar yang berbunyi:

 

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمْعَةِ: (أَنْصِتْ) وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

 

“Jika kamu berkata kepada temanmu, “diamlah” sementara imam sedang berkhutbah di hari jumat, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (Muttafaqun ‘alaihi)

 

Dan sebagai sebuah salah satu rukun khutbah jumat, khatib juga berwasiat kepada seluruh jamaah dan pada diri khatib sendiri untuk senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dalam wujud menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang oleh Allah SWT. Mudah-mudahan kita akan menjadi hambaNya yang dicintai dan mendapatkan keberkahan serta keselamatan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Amin

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa ayat 171:

 

يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ لَا تَغْلُوا فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ

 

Artinya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar”.

 

Allah dalam firman-Nya ini mengingatkan kepada kita, dengan kata-kata “laa tahgluw”, untuk senantiasa tidak berlebih-lebihan atau melampaui batas. Berlebih-lebihan disini bukan mencakup hal yang sempit tapi mencakup pengertian yang luas termasuk tidak diperbolehkannya melampaui batas dalam beragama. Berlebihan dalam agama ini kerap disebut dengan istilah “ghuluw”.

 

Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan para sahabat melalui haditsnya dalam Kitab Shahih Bukhari (Dâru Thûqin Najâh, 1422 H, juz 7, halaman 2) untuk tidak berlebihan dalam beragama. Hadits ini berisi kisah yang bisa menjadi renungan kita semua untuk hidup dengan seimbang dan menghindari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah dan Rasulullah SAW.

 

Suatu ketika para sahabat datang kepada Rasulullah SAW untuk mengetahui bagaimana Rasulullah SAW beribadah. Mereka ingin menyampaikan dan melakukan perbandingan, apakah ibadah yang mereka lakukan selama ini sudah sama dengan ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah.

 

Salah satu di antara sahabat mengatakan bahwa ia telah melakukan ibadah puasa setiap hari. Sahabat lain mengatakan bahwa ia sudah lama tidak tidur malam dan melakukan shalat sepanjang malam. Sementara satu lagi mengatakan bahwa ia sudah tidak pernah lagi berhubungan suami-isteri untuk mengekang hawa nafsu.

 

Mengetahui cerita para sahabat ini, Rasulullah tidak memberikan sanjungan atas semangat ibadah yang mereka lakukan. Para sahabat ini malah diingatkan oleh Rasulullah dengan sabdanya:

 

“Aku ini adalah orang yang paling takut kepada Allah jika dibanding dengan kalian. Aku juga orang yang paling taat kepada Allah. Meski begitu, aku terkadang berpuasa, kadang juga tidak. Aku juga melaksanakan ibadah, shalat malam, namun aku tidur juga. Aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku”.

 

Dialog Rasulullah dengan para sahabatnya ini menunjukkan bahwa ibadah yang dilakukan secara berlebihan dengan mengorbankan sisi-sisi lain dalam kehidupan termasuk hal yang tidak baik. Rasulullah pun mengingatkan melalui haditsnya pula bahwa: “kahiral umur ausatuha” yang bermakna sebaik-baik urusan ialah yang dilakukan dengan biasa-biasa atau sedang-sedang saja, sekalipun itu sedikit.

 

Ini memiliki artian bahwa yang penting untuk diperhatikan dalam ibadah adalah konsistensi atau keistiqamahan walaupun dilakukan dalam kuantitas yang sedikit. Sebab, yang dihitung pahala banyak dalam ibadah adalah konsistensinya. Jika hanya sekali, kemudian berhenti, pahalanya juga akan berhenti. Berbeda jika dilakukan terus-menerus, selama ibadah itu dilakukan, ibadahnya akan terus mengalirkan pahala.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Tidak berlebih-lebihan atau keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam beragama, merupakan bagian dari karakteristik ajaran Islam. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menjadikan kehidupan dunia dan akhirat saling melengkapi. Kita tidak boleh hanyut dalam materialisme dan juga tidak tenggelam dan terlena dalam spritualisme. Ketika kehidupan seseorang dalam kondisi seimbang, maka ia pun akan hidup dalam ketenangan.

 

Selain keseimbangan vertikal yakni beribadah kepada Allah, sebagai umat Islam, kita juga harus menanamkan keseimbangan horizontal yakni antarsesama makhluk Allah SWT. Hal ini penting karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya.

 

Bukan hanya terbatas pada sesama umat Islam saja, keseimbangan hidup juga harus dibangun dengan baik oleh umat Islam bersama umat-umat pemeluk agama lain. Di sinilah pentingnya umat Islam untuk senantiasa memegang prinsip moderasi dalam beragama yakni mengaplikasikan cara beragama yang wasathiyah, moderat, toleran, dan memosisikan diri di tengah, tidak condong ke salah satu sisi.

 

Allah SWT berfirman:

 

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَٰكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَآءَ عَلَى ٱلنَّاسِ وَيَكُونَ ٱلرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

 

Artinya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. (Al-Baqarah: 143)

 

lslam merupakan agama yang Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi seluruh alam). Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Jangan sampai kita menjadi oknum yang menjadikan perwajahan Islam di mata umat Islam sendiri dan pemeluk agama lain menjadi agama yang kaku dan tidak ada toleransi sama sekali.

 

Saat ini kita pun perlu berhati-hati terhadap paham-paham radikal yang sering membungkus aksinya atas nama tuhan dan membela agama. Banyak provokasi dilakukan melalui media yang dilakukan dil uar nilai-nilai keislaman serta tidak menggambarkannya sebagai orang yang beragama. Aksi oknum-oknum inilah yang kemudian menyebabkan munculnya persepsi buruk umat lain atau sering disebut Islamofobia.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Sebagai umat yang baik, marilah kita mengaplikasikan nilai-nilai Islam dengan menunjukkan bahwa Islam adalah agama damai, mari jauhi perbuatan yang mengacu pada perpecahan. Jauhkanlah diri dari membenci sesama muslim dan juga non-muslim karena menjadikan kita akan tidak berbuat adil kepada mereka.

 

Untuk menghindari perpecahan ini, ada tiga ukhuwah yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita yakni Ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam), Ukhuwah Wathaniyyah (persaudaraan sesama satu bangsa), dan Ukhuwah Basyariyyah (persaudaraan sesama manusia).

 

Hindari saling menuduh dan menyalahkan orang lain karena ketika kita menunjuk orang lain dengan satu jari telunjuk kita, lalu berapa jari lainnya yang menunjuk kepada kita sendiri? Ini menjadi contoh agar kita tidak merasa “paling” namun kita harus “saling”. Jangan merasa paling benar, tapi mari kita harus saling bertoleransi dan menghormati. Jangan merasa paling shaleh, tapi mari kita harus saling menasihati. Jangan merasa paling berkuasa, tapi mari kita harus saling berbagi.

 

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Demikian khutbah singkat ini, mudah-mudahan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita dan membawa kemaslahatan untuk sesama. Semoga kita termasuk hamba yang dicintai oleh Allah SWT dengan menjalankan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Amin.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

 

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

 

 

Muhammad Faizin, Sekretaris II MUI Provinsi Lampung