Senin, 14 Oktober 2019

(Ngaji of the Day) Hoaks tentang Aqidah Asy'ariyah dalam Masalah Keimanan


Hoaks tentang Aqidah Asy'ariyah dalam Masalah Keimanan

Jangan kira hoaks hanya ada di zaman now. Hoaks sudah ada sejak dahulu, bahkan di wilayah paling sakral sekalipun, yaitu agama. Selepas Nabi Muhammad wafat, hadits-hadits hoaks diedarkan oleh orang-orang yang mau terlihat keren meriwayatkan hadits atau oleh ahli bid'ah untuk mendukung bid'ahnya. Demikian juga riwayat-riwayat hoaks tentang ucapan para imam juga beredar sejak lama. Entah apa maksudnya, mungkin agar imam tertentu tampak buruk atau karena tujuan lain.

Salah satunya adalah keterangan hoaks yang disandarkan pada Imam Abu Hasan al-Asy'ari dan para Asya'irah berikut ini perihal keimanan seseorang yang jelas-jelas melakukan kekufuran:

وَالثَّانيِة الطَّائِفَة القائلة أَن الْإِيمَان عقد بِالْقَلْبِ وَإِن أعلن الْكفْر بِلِسَانِهِ بِلَا تقية وَعبد الْأَوْثَان أَو لزم الْيَهُودِيَّة أَو النَّصْرَانِيَّة فِي دَار الْإِسْلَام وَعبد الصَّلِيب وأعلن التثليث فِي دَار الْإِسْلَام وَمَات على ذَلِك فَهُوَ مُؤمن كَامِل الْإِيمَان عِنْد الله عز وَجل ولي لله عز وَجل من أهل الْجنَّة وَهَذَا قَول أبي مُحرز جهم بن صَفْوَان السَّمرقَنْدِي مولى بني راسب كَاتب الْحَارِث بن سُرَيج التَّمِيمِي أَيَّام قِيَامه على نصرين سيار بخراسان وَقَول أبي الْحسن عَليّ بن إِسْمَاعِيل بن أبي الْيُسْر الْأَشْعَرِيّ الْبَصْرِيّ وأصحابهما

"Golongan Murji'ah kedua adalah yang berkata bahwasanya iman adalah suatu akad di dalam hati saja. Meskipun orangnya menampakkan kekafiran dengan ucapannya tidak dalam rangka bertaqiyah atau menyembah berhala, menetapi agama Yahudi atau Nasrani di Darul Islam, menyembah salib dan mendeklarasikan aqidah trinitas di Darul Islam dan ia mati dalam kondisi tersebut, maka ia adalah mukmin yang sempurna imannya di sisi Allah . Ini adalah pendapat Jahm bin Sofwan dan Abu Hasan Al Asy'ari serta pengikut keduanya." (Ibnu Hazm al-Andalusi, al-Fashlu fil Milal wal Ahwa' wan-Nihal, IV/155)

Keterangan di atas adalah keterangan Ibnu Hazm al-Andalusi (456 H), seorang ahli hadits dan ahli fiqih terkemuka dari mazhab Zhahiriyah. Keterangan tersebut banyak dikutip orang-orang yang tidak suka terhadap mazhab Asy'ariyah, misalnya saja pengarang kitab Al-Asya'irah fi Mizan Ahlissunnah dalam buku kritiknya terhadap Asy'ariyah yang tidak objektif tersebut.

Keterangan Syekh Ibnu Hazm itulah yang sepertinya menjadi sumber adanya anggapan bahwa Asy'ariyah adalah Murji'ah. Sungguh mengherankan ketika ada yang mempercayai nukilan itu mentah-mentah padahal kitab-kitab ulama Asy'ariyah menyebar luas di seluruh planet ini. Meski beragam, tidak ada satu pun dari kitab-kitab Asy'ariyah itu yang menyatakan keterangan tersebut. Para santri pesantren Asy'ariyah di seluruh Indonesia juga akan terheran-heran mendengar keterangan seperti itu sebab tak pernah mendengarnya dari guru-guru mereka. 

Yang justru dikenal di kalangan Asy'ariyah dari kitab-kitab mereka sendiri justru bertolak belakang dengan itu. Karena itulah, Imam Tajuddin as-Subki (771 H) mengkritik keras keterangan Ibnu Hazm di atas yang dia sandarkan pada Imam Ahlussunnah, Abu Hasan al-Asy'ari. Beliau berkata:

وَمِمَّا يعرفك مَا قلت لَك من جراءته وتسرعه هَذَا النَّقْل الَّذِي عزاهُ إِلَى الْأَشْعَرِيّ وَلَا خلاف عِنْد الْأَشْعَرِيّ وَأَصْحَابه بل وَسَائِر الْمُسلمين أَن من تلفظ بالْكفْر أَو فعل أَفعَال الْكفَّار أَنه كَافِر بِاللَّه الْعَظِيم مخلد فِي النَّار وَإِن عرف بِقَلْبِه وَأَنه لَا تَنْفَعهُ الْمعرفَة مَعَ العناد وَلَا تغني عَنهُ شَيْئا وَلَا يخْتَلف مسلمان فِي ذَلِك

"Yang engkau ketahui dari apa yang saya katakan sebelumnya adalah keberaniannya dan keteledorannya dalam nukilan yang dia sandarkan pada al-Asy'ari, padahal tak diperselisihkan oleh Imam Asy'ari dan para pengikutnya, bahkan oleh seluruh kaum muslimin bahwa sesungguhnya orang yang mengucap kalimat kekufuran atau melakukan tindakan kekufuran adalah orang yang kafir kepada Allah yang Maha Agung, kekal di neraka meskipun hatinya mengakui Allah." (Imam Tajuddin as-Subki, Thabaqat as-Syafi'iyah al-Kubra, I/91).

Penjelasan Imam as-Subki di atas bukanlah sekadar pembelaan tetapi adalah fakta yang bisa ditemui di kitab-kitab Asy'ariyah. Sebagai contoh, Syekh Taqiyuddin al-Hishni (829 H) dalam kitabnya yang berjudul Kifayat al-Akhyar, sebuah kitab fiqih standar di pesantren Indonesia, menjelaskan:

وأما الردة وهي قطع الإسلام إما بفعل كأن سجد في الصلاة لصنم أو للشمس أو قول كأن ثلث أو اعتقاد كأن فكر في الصلاة في هذا العالم بفتح اللام فاعتقد قدمه وما أشبه ذلك كفر في الحال قطعا وتبطل صلاته

"Adapun kemurtadan adalah memutus Islam, adakalanya dengan tindakan seperti bersujud dalam shalat kepada berhala atau kepada matahari, atau dengan perkataan seperti berkata trinitas, atau dengan keyakinan seperti berpikir dalam shalat tentang alam lalu meyakininya tak berawal atau keyakinan yang mirip dengan itu, maka dia kafir seketika itu secara pasti. Dan, batal juga shalatnya." (Syekh Taqiyuddin al-Hishni, Kifayat al-Akhyar, 122) 

Ada banyak lagi hoaks yang disebarkan oleh Syekh Ibnu Hazm tentang Asy'ariyah dalam kitabnya yang berjudul al-Fashlu Fil-Milal wal-Ahwa' wan-Nihal, tetapi terlalu panjang untuk dibahas semuanya. Namun demikian, penulis mengikuti Imam Tajuddin as-Subki yang masih berbaik sangka pada Syekh Ibnu Hazm. Menurut penelitian beliau, Ibnu Hazm tak mendengar penjelasan yang benar tentang Imam Asy'ari tetapi mendengarnya dari penipu yang berkata macam-macam dengan menisbatkannya pada Imam Asy'ari tetapi sayangnya beliau mempercayai itu mentah-mentah. Sayangnya lagi, bukan hanya mempercayai mentah-mentah, beliau malah mencela Imam Asy'ari.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. []

Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center PCNU Jember

Tidak ada komentar:

Posting Komentar