Beginilah Cara Kita
Mengenalkan Diri kepada Rasulullah
Dalam beberapa hari ini viral di media sosial
sebuah video cuplikan film tentang Sultan Abdul Hamid II yang mendapat teguran
dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam lewat seorang rakyatnya. Dalam
video berdurasi kurang dari lima menit itu diceritakan seorang pedagang
bangkrut dan selalu berdoa kepada Allah. Hingga pada satu malam ia bermimpi
bertemu Rasulullah. Kepadanya beliau berpesan agar menyampaikan pesan kepada
Sultan Hamid bahwa satu malam ia telah melupakan shalawat yang biasa ia baca
setiap malam. Rasul juga memerintahkan pedagang yang bangkrut itu untuk meminta
kebutuhannya kepada sang sultan.
Ketika pedagang itu menghadap dan
menceritakan ihwal mimpinya kepada Sultan Hamid sang sultan tertegun, ia merasa
bersalah telah lalai tidak bershalawat kepada Rasulullah pada satu malam karena
kesibukan pekerjaan yang ia lakukan pada malam itu. Maka ia sedekahkan banyak
harta kepada si pedagang dengan harapan Allah berkenan mengampuni kelalaiannya
itu.
Kisah ini cukup menarik dan mengetuk hati
setiap mukmin. Satu pertanyaan yang lahir dari kisah itu adalah bagaimana
Rasulullah mengenal nama Sultan Abdul Hamid? Apakah ia hidup semasa dan
termasuk salah satu sahabat Rasul? Tentu tidak. Sultan Hamid hidup jauh beratus
tahun lama setelah Rasulullah wafat. Lalu bagaimana bisa beliau mengenalinya
dan bahkan tahu kelalaiannya tidak bershalawat satu malam, yang juga itu
berarti Rasul mengetahui bahwa sang sultan selalu bershalawat kepadanya setiap
malam?
Kiranya ini bukanlah sesuatu yang musykil.
Bahwa Rasulullah mengetahui siapa yang bershalawat kepadanya adalah bukan
sesuatu yang mustahil. Ada banyak riwayat hadits yang darinya bisa digambarkan
bagaimana Rasulullah mengenali orang yang bershalawat kepadanya.
Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Abu Dawud menuturkan:
وعن
أوس بن أوس - رضي الله عنه -، قَالَ: قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم -:
إنَّ مِنْ أفْضَلِ أيَّامِكُمْ يَومَ الجُمُعَةِ، فَأكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ
الصَّلاةِ فِيهِ، فَإنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ. قَالَ: قالوا: يَا رسول الله، وَكَيفَ تُعْرَضُ صَلاتُنَا
عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ (قَالَ: يقولُ بَلِيتَ) قَالَ: إنَّ اللهَ حَرَّمَ
عَلَى الأرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ
Artinya: “Dari Aus bin Aus radliyallâhu ‘anhu
ia berkata, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya
termasuk hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Perbanyaklah
membaca shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian dilaporkan
kepadaku. Aus berkata, para sahabat berkata, “Rasul, bagaimana shalawat kami
dilaporkan kepadamu sedang engkau telah hancur?” Rasulullah menjawab,
"Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi (menghancurkan) jasad para nabi.”
(Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyâdlus Shâlihîn, Semarang: Toha Putra, tt., hal.
533 – 534)
Dari hadits inilah—dan juga beberapa hadits
semisal lainnya—diketahui bagaimana Rasulullah mengenali orang yang membaca
shalawat kepadanya. Beliau mengenalinya karena setiap shalawat yang dibaca oleh
umatnya selalu dilaporkan kepadanya. Lalu siapakah yang melaporkan? Bagaimana
pula shalawat itu dilaporkan sementara Rasulullah telah meninggal dunia dan
berada di kuburnya?
Muhammad bin Alan As-Shidiqi dalam kitab
Dalîlul Fâlihîn menjelaskan bahwa yang menyampaikan kepada Rasul perihal
shalawat yang dibaca oleh umatnya adalah para malaikat yang ditugaskan oleh
Allah untuk melaksanakan itu. Apa yang dijelaskan oleh Ibnu Alan ini
didasarkan pada sebuah hadits:
أن
لله ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني من أمتي السلام
Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki
malaikat-malaikat yang mengelilingi bumi, mereka menyampaikan salam dari umatku
kepadaku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi)
Penyampaian laporan perihal shalawat ini
apabila orang yang membacanya berada jauh dari kubur Rasulullah. Sedangkan bila
ia berada di dekat kubur beliau maka beliau sendiri mendengar shalawat dan
salam yang dibaca umat kepadanya. Berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam
Baihaqi:
من
صلى علي عند قبري سمعته ومن صلى علي نائياً بلغته
Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat
kepadaku di dekat kuburku maka aku mendengarnya. Dan barangsiapa yang
bershalawat kepadaku di tempat yang jauh maka disampaikan kepadaku
shalawatnya.”
Demikian penjelasan Muhammad bin Alan
As-Shidiqi dalam Dalîlul Fâlihîn (Kairo: Darul Hadits, 1998, Juz IV, hal. 156).
Lebih lanjut, bagaimana Rasulullah bisa
menerima laporan shalawat dari umatnya sementara beliau telah wafat dan berada
di dalam kuburnya? Hadits di atas telah menjelaskan bahwa Allah mengharamkan
bumi menghancurkan jasad para nabi. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan
bahwa ketika ada orang yang bersalam kepada Rasulullah maka Allah akan
mengembalikan ruh beliau ke jasadnya untuk membalas salam tersebut. Namun
kiranya tidak di sini tempatnya untuk membahas perihal pengembalian ruh ini.
Dari penjelasan di atas maka kiranya bisa
dimengerti bahwa Rasulullah akan mengenali setiap umatnya yang bershalawat
kepadanya melalui laporan malaikat yang ditugaskan untuk itu. Maka bila
seseorang banyak membaca shalawat dan istiqamah melakukannya ia akan secara
terus-menerus sering dilaporkan oleh malaikat kepada beliau. Dari inilah
seorang umat mengenalkan diri kepada Rasulullah, dari inilah Rasulullah
mengenali umatnya.
Dapat dibayangkan, betapa senangnya seseorang
ketika dirinya ditanyakan oleh seorang tokoh yang disegani dan dihormati oleh
banyak orang. Itu pertanda sang tokoh mengenali dan memberikan perhatian lebih
kepadanya.
Lalu bagaimana bila tokoh yang mengenali dan
memperhatikan kita adalah Baginda Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa
sallam, makhluk terbaik yang diutus sebagai rahmat bagi semesta?
Cukuplah hadits-hadits di atas sebagai
motivasi untuk memperbanyak membaca shalawat dan melanggengkannya. Hingga diri
kita dikenal beliau dan beliau mengenal diri kita. Hingga ketika kita lupa
sehari saja tak membacanya Rasulullah berkenan menegur kita, menanyakan kita,
sebagai tanda cinta dan perhatian beliau kepada kita.
Tentu sebuah kesedihan dan kerugian, bila
seorang umat di dunia dan di akherat kelak tak dikenal oleh nabinya, tak
diperhatikan oleh junjungannya, karena tak banyak bershalawat memuliakannya.
Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alâ sayyidinâ wa maulânâ Muhammad.
Wallâhu a’lam. []
Sumber: NU Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar