Tangisan Santri Bukan
Sembarangan Tangisan
Judul
: Ceurik santri
Pengarang
: Usep Romli H. M.
Penerbit
: Rahmat Cijulang, 1985
Tebal
: 88 halaman
Peresensi
: Abdullah Alawi, Nahdliyin
yang kini tinggal di Bandung
KH Abdurrahman Wahid
(Gus Dur) menyebut pesantren sebagai subkultur. Ya, memang, kehidupan santri,
meskipun pada umumnya sama dengan komunitas lain, tapi memiliki ciri khas
tersendiri. Dan tentu saja memiliki cara pandang tersendiri pada dunia dan
kehidupan yang digelutinya. Hal itu karena mereka menerima pelajaran dan
pendidikan dari bimbingan kiai atau ajengan yang bersumber dari naris
naskah-naskah klasik Islam atau kitab kuning.
Pandangan hidup
seorang santri bisa tergambar pada cerpen-cerpen karya Usep Romli HM yang
pernah mengalami kehidupan pesantren di Garut, Jawa Barat. Misalnya pada cerpen
dalam bahasa Sunda Ceurik Santri (tangisan santri). Cerpen
tersebut berada di dalam buku kumpulan cerpen dengan judul sama yang
diterbitkan pertama kali oleh Rahmat Cijulang tahun 1985. Kemudian diterbitkan
ulang oleh Geger Sunten 2007.
Dari kisah yang
berada di cerpen tersebut, terutama Ceurik Santri tidak lepas
dengan situasi Indonesia pada masa itu, yaitu Orde Baru, terutama pada isu
pembangunan yang digalakkan Presiden Soeharto. Bahkan kemudian ia mendapat
sebutan bapak pembangunan. Pada masa itu, setiap orang harus bahu-membahu dalam
pembangunan, tanpa kecuali. Semua harus produktif.
Nah, persoalannya,
sebagaimana ditulis dalam beberapa artikel penulis NU kawakan, H Mahbub
Djunaidi, kalangan santri dianggap tidak turut serta dalam pembangunan itu dan
tidak produktif. Namun anehnya, kata Mahbub, kalangan siswa dan mahasiswa tidak
disoroti sebagaimana santri. Padahal kedua-duanya dalam taraf tertentu, sama,
sebagai pelajar.
Nah, karena itulah,
sebagaimana dalam cerpen tersebut, kalangan pemerintah mengirimkan bibit ayam
ras dan alat-alat pertanian untuk sebuah pesantren di sebuah desa. Ajengan di
pesantren tersebut tidak menolaknya. Namun, ia pergi ke luar kota, dengan
alasan menghadiri haul di Jawa selama empat hari. Begitu juga kedua putranya,
tidak bisa hadir. Keduanya pergi ke Jakarta hendak mengambil kitab kiriman dari
Tanah Suci Mekkah.
Serah terima benda
tersebut dipercayakan ajengan kepada para santrinya.
Pada saat musyawarah
kepanitiaan serah terima, terjadi perdebatan sengit tentang manfaat dan
mudaratnya jika menerima benda sumbangan tersebut. Namun, pada akhirnya mereka
sepakat menerima sesuai permintaan ajengan. Disusunlah kepanitiaan. Salah
seorang santri yang mendapat tugas dalam kepanitiaan tersebut adalah Sarip. Dia
sebagai pembawa acara. Namun, saat waktu acara dimulai, Sarip
menghilang.
Santri vs Ateis
Sarip menghilang dari
acara karena yang datang adalah orang yang sangat dikenalinya, yaitu Gunawan.
Gunawan adalah temannya saat di Sekolah Menengah Atas. Keduanya berselisih
paham tentang agama Islam yang menurut Gunawan sangat ketinggalan zaman, tidak
cocok dengan zaman modern karena agama melarang pergaulan bebas dan
minum-minuman keras. Sarip menentang keras pendapat Gunawan tersebut.
"Euh ana kitu,
lain Islam anu teu modern atawa teu luyu jeung norma-norma jaman moderen, tapi
silaing anu tinggaleun jaman. Tapi silaing anu teu luyu jeung jaman
moderen."
Terjemahan bebasnya:
"Bukan begitu,
bukan Islam tidak sesuai dengan kondisi kekinian dan norma-norma zaman modern,
tapi kamu ketinggalan zaman. Kamu yang tidak sesuai dengan zaman modern".
"Naha?"
Terjemahannya:
"(Kenapa)?"
"Yeuh
pamabokan, pergaulan bebas alias perjinahan teh kuno. Kuno pisan. Samemeh Islam
gumelar, kabeh pangeusi dunya, di Arab, di Rumawi, di Persia, geus
ngabaju kana inuman keras, ngabaju kana pergaulan bebas. Torojol datang Islam
anu disebarkeun ku Nabi Muhammad SAW, bangsa inuman keras, bangsa lacur
perjinahan, dicaram."
Terjemahan bebasnya:
"Mabuk-mabukan
dan pergaulan bebas alias perzinaan itu adalah perilaku kuno. Sangat kuno.
Sebelum Islam datang, kebanyakan di dunia ini seperti di Arab, Romawi, Persia,
melakukan minum-minuman keras dan pergaulan bebas. Ketika datang Islam yang
disebarkan Nabi Muhammad SAW, tindakan semacam itu dilarang."
Gunawan banyak teman
yang kemudian mengamini pemikirannya karena ia memiliki uang banyak. Teman-temannya
sering diajak makan bareng atau ikut berangkat atau pulang sekolah menggunakan
mobilnya. Sementara teman-temannya yang lain banyak yang tidak mau tahu menahu
perihal itu. bahkan gurunya sendiri. Padahal menurut sarip, Gunawan mengandung
pemikiran ateisme.
ng."
Namun, menjadi
pergolakan batin Sarip adalah ketika Gunawan justru datang ke pesantren untuk
menyerahkan sumbangan ayam ras dan cangkul. Bahkan ia berpidato yang isinya
memuji Islam, santri, pesantren. Sarip yang mengetahui masa lalunya, menyingkir
dari pidato tersebut. Ia tak mau menemuinya. Dan di malam harinya, dalam
doa-doa selepas tahajudnya, ia menangis. Ia ceurik. Ia telah
meninggalkan tugas dan merasa terbebani dengan sikapnya yang berburuk sangka.
Sebab, ia tidak bisa memastikan apakah pidato Gunawan itu kamuflase atau memang
sudah berubah dari masa lalunya.
Ya Allah, mugia
anjeun henteu nibakeun siksa ka abdi sadaya saupama abdi kaliru. Mugia anjeun
henteu ngabeungbeurat sapertos anu ditibakeun ka jalmi-jalmi saheulaeun abdi.
Mugia anjeun ngalebur dosa-dosa abdi, ngaping, ngajaring abdi sadaya sareng
mugia Anjeun maparin rahmat ka abdi sadaya. Paparin abdi kakiatan sareng
pitulung kangge ngungkulan reka perdaya jalmi-jalmi kapir. Amin ya rabbal
alamain.
Terjemahan bebasnya:
Ya Allah, semoga
Engkau tidak menimpakan siksa kepadaku seumpama aku keliru. Semoga Engkau tidak
menimpakan hal itu sebagaimana yang menimpa orang-orang terdahulu. Semoga
Engkau menghapus dosa-dosaku, menjaga dan memberi rahmat kepadaku. Berikan
kekuatan dan pertolongan dari kejahatan orang-orang kafir. Amin.
Kumpulan cerpen ini,
sebagaimana cerpen-cerpen Usep Romli HM, sangat enak dibaca, tentunya bagi
orang yang memahami bahasa Sunda. Usep terampil menyisir batin orang pesantren.
Di samping ia pernah ada di dalamnya, ia termasuk penulis kahot tidak hanya
dalam bahasa Sunda, melainkan bahasa Indonesia. Hal itu bisa dibaca juga dalam
novelnya Bentang Pasantren.
Namun, dalam Ceurik
Santri ini ada sedikit kejanggalan, yaitu anak SMA yaitu Gunawan, telah
terbiasa membaca pemikiran tokoh-tokoh Barat yang lumayan susah dipahami
seperti Sartre, Nietzsche. Dan anak-anak itu mampu memahami isinya. Sementara
di pihak Sarip juga sepertinya sudah memahami Al-Ghazali, Fazlur Rahman,
Al-Maududi, dan lain-lain. Mungkin jika saat ini sangat mungkin, tapi ini
terjadi tahun 1980-an. Namun demikian, sebagai satu kasus, anak SMA di masa itu
yang mampu seperti itu bukanlah yang mustahil. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar