Jumat, 14 Februari 2020

Nasaruddin Umar: Meluruskan Makna Jihad (23): Membumikan Ajaran Langit


Meluruskan Makna Jihad (23)
Membumikan Ajaran Langit
Oleh: Nasaruddin Umar

Membumikan ajaran langit bagian dari jihad. Tak seorang pun mengingkari bahwa agama berasal dari langit, khususnya agama-agama anak cucu Ibrahim, yang biasa disebut al-din al-samawi. Agama yang kitab sucinya diturunkan dari langit kemudian diturunkan ke bumi dalam dua proses penurunan, yang dikenal dengan cara al-inzal dan al-tanzil.

Sebagai agama langit yang diturunkan ke bumi untuk dijadikan petunjuk kepada manusia sebagai sasaran agama tersebut, sudah barang tentu melalui proses tawar menawar antara sang subjek (agama) dengan sang objek (manusia). Pembumian ajaran sesungguhnya adalah bagian dari rahmat Tuhan untuk melangitkan kembali manusia.

Manusia yang diciptakan dengan seperangkat kecerdasannya, dibekali dengan sikap kritis untuk mempertahankan eksistensi dirinya, termasuk bersikap kritis terhadap ajaran-ajaran agama langit itu. Istimewanya ialah Allah memahami kenyataan ini. Buktinya, setiap kitab suci-Nya diturunkan dengan cara berangsur-angsur (tadrij), menyedikitkan beban (taqlil al-taklif), dan mengeliminir kesulitan ('adam al-haraj). Ini membuktikan bahwa agama langit turun ke bumi mengalami proses "pembumian".
Allah yang memiliki kekuatan "kun fa yakun" tidak serentak ajaran agama-Nya dipaksakan kepada hamba-Nya yang sangat dhaif. Padahal, tak satu pun hambanya yang bisa menolak seluruh ajaran agama-Nya jika ia menghendaki-Nya. Ini bukan berarti tuhan mengalah terhadap manusia, tetapi menjadi bukti betapa Tuhan memanusiakan manusia.

Di dalam membumikan ajaran agama Tuhan mengandung konsekuensi bahwa manusia pada satu sisih memiliki potensi, otoritas, dan kapasitas tertentu yang juga semuanya berasal dari-Nya, tetapi sisih lain manusia memiliki kekurangan yang prinsip sehingga mereka memerlukan bimbingan agar tidak jatuh terjerumus dengan kelemahan fundamental yang melekat pada dirinya.

Manusia dalam pandangan Islam bukan antroposentris, yang serba manusia, bukan juga teosentris yang serba Tuhan, tetapi manusia menurut Prof. S.H. Nasr sebagai teomorfis, yaitu makhluk yang memiliki berbagai kelebihan tetapi memiliki kelemahan melekat pada dirinya sehingga masih tetap membutuhkan petunjuk Tuhan. Karena itu, diturunkan kepadanya wahyu (Kitab) dan para Nabi untuk menjelaskan sekaligus mencontohkan pengamalan bagaimana petunjuk itu dilaksanakan.

Manusia tidaklah sepantasnya memaksakan kehendak agar manusia lain mengikuti petunjuk-Nya. Allah tidak melakukannya dan para Nabi-Nya pun tidak melakukannya. Bahkan Allah menegaskan: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya. (Q.S. al-Qashash/28:56).

Dalam ayat lain Allah menyindir orang-orang yang melampaui kapasitasnya, mau memaksakan keinginannya untuk dan atas nama agama: Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya? (Q.S. Yunus/10:99).

Namun perlu diingat bahwa siapapun tidak boleh berlindung dengan jargon "membumikan agama" untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, atau melakukan penafsiran secara liberal kitab suci hingga keluar jauh meninggalkan inti ajaran agama. Harus kita ingat bahwa pembumian agama untuk melangitkan kembali manusia setelah jatuh dalam drama kosmos, yang dilakukan oleh nenek moyang kita Adam dan Hawa. []

DETIK, 03 Februari 2020
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar