Senin, 22 Agustus 2016

Yudi Latif: Redup Gelora Jiwa Merdeka



Redup Gelora Jiwa Merdeka
Oleh: Yudi Latif

Gelora jiwa merdeka bangsa ini terasa meredup. Percikan api semangatnya bahkan tak lagi berpijar kuat pada peringatan hari kemerdekaan. Spontanitas rakyat untuk memeriahkan ruang publik dengan kibaran bendera dan umbul-umbul, kerlip lampu hias, aneka festival dan karnaval solidaritas multikultural terasa lebih senyap. Harapan kesemarakan tinggal mengandalkan inisiatif Istana, yang merencanakan peringatan yang spektakuler, sebagai rekaan impresi permukaan dengan jiwa yang kosong.

Saat ritus tahunan pesta patriotik kerak- yatan ini menghambar, yang merebak di ruang publik adalah aneka skandal, pengangkatan pejabat tinggi tanpa parameter ideologis-yuridis, gaya kepremanan pembesar negara dalam meredam gugatan publik, akrobat elite politik tuna-etika, serta panen raya gunjingan dan caci maki di media sosial. Suatu suasana yang mengajarkan warga untuk tidak memercayai siapa pun.

Kelesuan semangat kemerdekaan ini pantas dirisaukan. Meski terlihat hanya ritus biasa, kandungan maknanya tak bisa disepe- lekan. Dalam momen ini, sekat kelas, etnis, dan agama lebur melahirkan horizontal comradeship dan nasionalisme kerakyatan. Di sinilah kekuatan khas Indonesia. Peringatan kemerdekaan dirayakan oleh berba- gai bangsa di dunia, tetapi (biasanya) tingkat kemeriahan dan keluasan partisipasinya nyaris tak ada yang menandingi Indonesia. Ini karena perjuangan kemerdekaan Indonesia tak hanya melibatkan elite lewat gelanggang politik dan diplomasi, tetapi juga menyertakan tembang, puisi, bambu runcing, dan air mata rakyat semesta.

Konsekuensi tak terduga dari kebijakan penjajahan Jepang yang memobilisasi rakyat hingga ke perdesaan dalam rangka Perang Asia Timur Raya telah memberi kesempat- an dalam pembentukan bangsa ini untuk bertransformasi dari kesadaran kebangsaan elitis menuju kebangsaan kerakyatan. Inilah yang membuat rakyat negeri ini, betapa pun terus dikhianati dan dikorbankan para pemimpinnya, tetap saja mencintai bangsanya.

Upacara seperti ini sangat penting untuk merajut kembali bangun retak kebangsaan. Sebuah bangsa terbentuk karena jaringan memori kolektif yang menimbulkan bayangan imajiner tentang kerabat sebangsa. Ingat- an dan pengetahuan ke belakang merupakan jangkar penemuan jati diri bangsa. Kenyataan dan perilaku kita hari ini ditentu- kan oleh pengenalan sejarah masa lampau. Adapun bayangan kesilaman dan pengetahuan kesejarahan dibawa dan dijaga oleh upacara peringatan.

”Upacara peringatan,” kata Paul Connerton (1989), ”akan benar-benar bersifat komemoratif jika berbentuk pergelaran; dan pergelaran ini tak terbayangkan tanpa konsep kebiasaan; adapun kebiasaan tak terba- yangkan tanpa praktik olah tubuh (tampilan fisik), seperti cara berbusana, dekorasi, dan cara bertingkah.” Dengan demikian, kemeriahan pesta rakyat dalam memperingati kemerdekaan, dengan segala pergelarannya, bersifat konstruktif untuk menambatkan kembali bangsa pada jangkar jati dirinya.

Namun, segala bentuk peringatan akan memperoleh kepenuhan maknanya jika mengandung dimensi korektif: menyelami (tradisi) masa lalu untuk menemukan (visi) masa depan. Dalam konteks ini, upacara peringatan merupakan ruang ”sela” (liminal) yang memberi kita kesempatan untuk jeda dari rutinitas demi melahirkan energi baru.

Upacara peringatan sebagai titik liminal ini diharapkan jadi momen reflektif bagi se- genap bangsa; dari mana kita bermula, di mana kita sekarang, dan hendak menuju ke mana, dengan menginsafi kesalahan dan penyimpangan untuk kembali ke fitrah kemuliaannya sebagai bangsa. Selepas peringatan, diharapkan terjadi restorasi etos dan etika kebangsaan dengan komitmen luhur untuk menggelorakan semangat proklamasi.

”Semangat proklamasi,” ujar Bung Karno, ”adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealisme. Semangat proklamasi adalah semangat persatuan, persatuan yang bulat-mutlak dengan tiada mengecualikan sesuatu golongan dan lapisan. Semangat proklamasi adalah semangat membangun negara. Dan mana kala sekarang ada tanda-tanda kelunturan dan degenerasi, kikislah bersih semua kuman kelunturan dan degenerasi itu, hidupkanlah kembali semangat proklamasi!”

Untuk menghidupkan kembali semangat proklamasi diperlukan para pahlawan. Mereka yang terus-menerus memproduksi pahala dengan menyemai kebaikan bagi kemaslahatan hidup bersama. Mereka yang lebih suka berbicara dengan ”kata kerja”, demi merealisasikan tujuan bernegara (yang juga diungkapkan dalam kata kerja): melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan melaksanakan ketertiban dunia.

Kenyataan bahwa peringatan kemerdeka- an tahun ini seperti dihambarkan oleh pergelaran pertarungan kuasa mengindikasikan ada ketercerabutan pilihan-pilihan elitis dari realitas aspirasi dan jati diri bangsa. Politik yang sejatinya merupakan seni mulia untuk meraih harapan dan memelihara kemaslahatan umum bergeser jadi seni meraih kekuasaan dengan memanipulasi rakyat.

Peringatan kemerdekaan harus menjadi wahana untuk menguatkan kembali komitmen kebangsaan. Segala pertengkaran harus menemukan jalan kembali ke semangat rela berjuang, semangat persatuan, dan semangat membangun negara demi meraih cita-cita proklamasi: merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. []

KOMPAS, 16 Agustus 2016
Yudi Latif | Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar