Selasa, 16 Agustus 2016

(Tokoh of the Day) KH. Ahmad Rifa'i, Tempuran, Kendal - Jawa Tengah



Pendekatan Dakwah KH Ahmad Rifa'i Kalisalak di Era Kolonial


Kendati ulama kelahiran Desa Tempuran, Kendal, Jawa Tengah ini hidup pada abad 18 M (lahir: 1786 dalam versi lain 1785), namum nama dan ketokohan KH Ahmad Rifa'i belum begitu masyhur di kalangan umat Islam Nusantara. Tapi sejak Presiden Susilo Bambang Yudoyono memberikan gelar kehormatan kepadanya sebagai Pahlawan Nasional, melalui Kepres Nomor: 089/TK/2004, namanya kian dikenal luas. Sejak itu lebih banyak lagi sejarawan dan penulis yang berminat untuk menggali lebih lanjut tentang kiprah perjuangan dan dedikasi KH Ahmad Rifa'i untuk umat Islam dan Tanah Air.

Tiap-tiap ulama dan kiai meski memiliki tujuaan dan misi yang sama dalam memperjuangkan ajaran agama Islam, namun jalan atau pendekatan yang mereka tempuh berlainan satu sama lain, menyesuaikan dengan konteks demografi umatnya. KH A Rifa'i Kalisalak juga mempunyai strategi dakwah dan pendekatan perjuangan yang khas.

Sejak remaja, jauh sebelum beliau berangkat haji dan sekaligus studi ke Makkah pada usia 30 tahun (tahun 1833 menurut salah satu versi), Ahmad Rifa'i telah giat melakukan dakwah keliling di wilayah Kendal dan sekitarnya. Dakwah dan pengajiannya cukup menarik dengan menggunakan syair ditambah dengan sikapnya yang antipemerintah kolonial. Sebelum pengajiannya diketahui pemerintah kolonial, ia telah berhasil menggalang kekuatan dari santri serta simpatisannya sehingga ketika kemudian pindah ke Kalisalak (pedalaman Batang, Jawa Tengah) ia sudah mempunyai jaringan pengikut yang tersebar di daerah Kendal dan sekitarnya seperti Wonosobo, Pemalang, Pekalongan, dan Batang.

Dalam berdakwah ia tidak segan-segan menghujat penguasa kolonial dan birokrat pribumi yang berkolaborasi dengan pemerintah kolonial. Ia memandang pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir dan sumber kerusakan yang terjadi pada masyarakat Jawa pada masa itu. Ia mengobarkan semangat pada masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial dan mengatakan bahwa perang melawan penguasa kafir serta antek-anteknya sebagai perang sabil (jihad fisabilillah), jika gugur akan mati syahid (Jamil, 2001: 13).

Di Kalisalak (sekarang masuk Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah) yang merupakan domisili terakhir sebelum diasingkan ke Ambon, KH Ahmad Rifa'i tetap melakukan kecaman dan protes terhadap pemerintah dan birokrat pribumi. Tindakan ini tentu sangat meresahkan pemerintah kolonial yang menganggap sikap militan KH Ahmad Rifa'i sebagai ancaman. Kekhawatiran serupa melanda birokrat pribumi yang khawatir kedudukan dan otoritasnya terancam.

Berikut ini adalah kutipan pernyataan KH Ahmad Rifa'i dalam Nazham Wiqayah, salah satu kitab karangannya: Slameta dunya akherat wajib kinira. Ngalawan raja kafir sakuasane kafikira. Tur perang sabil luwih kadane ukara. Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara. Artinya: Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan. Melawan raja kafir sekemampuannya perlu dipikirkan. Demikian juga perang sabil lebih daripada ucapan. Cukup, tidak menggunakan pasukan yang besar (Adabi Darban:1990).

Pernyataan sikap yang serupa juga dikemukakannya terhadap para birokrat pribumi, seperti yang terdapat pada syair dalam Nazham Wiqayah berikut ini: Sumerep badan hina seba ngelangsur. Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur. Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan. Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan maring rojo kafir pada asih anutan Haji, abdi, dadi tulung maksiyat. Nuli dadi khotib ibadah. Maring alim adil laku bener syareate Sebab khawatir yen ora nemu derajat Ikulah lakune wong munafik imane suwung. Anut maksiyat wong dadi Tumenggung.

Artinya, melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap. Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa. Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar. Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan kepada raja kafir senang jadi pengikut termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan. Kemudian menjadi qadhi khotib ibadah. Kepada alim adil bertindak membenarkan syareat. Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan. Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung (Adabi Darban: 1990).

Protes di atas disampaikan kepada santrinya di Pesantren Kalisalak maupun melalui pengajian dan khutbahnya di masjid.

Gerakan protes yang dilakukan KH Ahmad Rifa'i dengan mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir, penindas, patut diperangi dan sumber kerusakan di Jawa terbukti berhasil menimbulkan kekisruhan yang dapat menimbulkan guncangan stabilitas pemerintahan di Jawa dan dikhawatirkan memunculkan gerakan anti-penjajah, meskipun tidak sampai menimbulkan pemberontakan fisik. Hal ini membuat KH Ahmad Rifa'i dijadikan musuh bersama oleh Belanda dan aparat birokrasi tradisional. Segala daya dan upaya dilakukan untuk meniadakan KH Ahmad Rifa'i dan jama'ahnya dengan tuduhan bahwa ajarannya sesat dan menyesatkan.

Lebih spesifik, dalam kaitannya dengan upaya dakwah yang dilakukannya, supaya memperoleh hasil maksimal, menurut Ahmad Syadzirin Amin (1990), ada tujuh metode dakwah yang dikembangkan oleh KH Ahmad Rifa'i, yaitu:

1. Menerjemahkan Al-Qur'an, Hadits dan kitab-kitab berbahasa Arab karangan ulama terdahulu ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon berbentuk nazham atau syair.
2. Mengadakan kunjungan silaturahmi dari rumah ke rumah famili dan masyarakat.
3. Menyelenggarakan pengajian umum dan dakwah keliling ke daerah yang penduduknya miskin secara materi dan agama guna membendung budaya asing.
4. Menyelenggarakan dialog di masjid atau di langgar (mushala).
5. Mengadakan kegiatan kesegaran jasmani bagi pemuda
6. Mengadakan gerakan protes sosial keagamaan terhadap birokrat pribumi dan Belanda
7. Untuk mempererat hubungan antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid, biasa dilakukan pulapernikahan sesama murid, anak guru dengan murid.

KH Ahmad Rifa'i Kalisalak wafat pada 1870 dalam usia 84 tahun. Dimakamkan di komplek makam pahlawan nasional Kiai Mojo di Tondano Minahasa, Manado.

Dalam paparan fragmen di atas tentu penulis baru sebatas memaparkan secara parsial saja salah satu pendekatan dakwah yang ditempuh oleh KH Ahmad Rifa'i. Sementara aspek lain seperti produktivitas menulis kitab dan menerjemahkan ke bahasa Jawa, praktik belajar mengajar dengan para santrinya memerlukan topik fragmen tersendiri.

Disarikan dari berbagai sumber, di antaranya:
1.     Ahmad Syadzirin Amin, Gerakan Syaikh Ahmad Rifa'i dalam Menentang Kolonial Belanda, (Jamaah Masjid Baiturrahman Jakarta Pusat: 1996), Jakarta.
2.     Abdul Djamil, Perlawanan Kiai Desa, Pemikiran dan Gerakan KH Ahmad Rifa'i (Lkis: 2001), Yogyakarta
[]

(M. Haromain)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar