Senin, 27 Februari 2017

(Ngaji of the Day) Hukum Shalat Wajib Sebelum Masuk Waktunya



Hukum Shalat Wajib Sebelum Masuk Waktunya

Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online yang saya hormati, semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Kami ingin menanyakan tentang status sembahyang wajib yang dilakukan sebelum waktunya. Sepanjang pengetahuan kami, sembahyang itu harus diulang. Mohon keterangan lebih jelasnya. Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Jabir – Palu

Jawaban:

Assalamu ’alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sembahyang wajib yang lima waktu sehari itu sudah ditentukan waktunya. Kalau terlewat, maka sesorang wajib mengqadhanya, atau membayar utang sembahyangnya.

Adapun sembahyang yang dikerjakan sebelum waktunya dianggap luput. Hal ini didasarkan pada kaidah fikih yang menyebutkan, bila sesuatu dikerjakan sebelumnya waktunya, maka sanksinya adalah luput. Artinya, ia dinilai belum mengerjakan sembahyang itu.

Sebagai contoh, seseorang mengerjakan sembahyang zhuhur. Ternyata selepas sembahyang, ia sadar bahwa sembahyang zhuhurnya dilakukan jam 10.00 WIB. Maka ia wajib mengerjakan kembali sembahyang zhuhur pada waktunya kelak.

Pasalnya, masuk waktu merupakan salah satu syarat sembahyang lima waktu. Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani dalam karyanya pernah menyinggung masalah serupa berikut ini.

والخامس دخول الوقت أي معرفة دخوله يقينا أو ظنا بالاجتهاد. فمن صلى بدونها بان هجم وصلى لم تصح صلاته وإن وقعت في الوقت لعدم الشرط بخلاف ما لو صلى بالاجتهاد ثم تبين أن صلاته كانت قبل الوقت فإنه ان كان عليه فائتة من جنسها وقعت عنها وإلا وقعت له نفلا مطلقا

Artinya, “(Syarat kelima sembahyang adalah masuk waktu) mengetahui masuknya waktu sembahyang dengan yakin atau dengan dugaan berdasar ijtihad. Siapa saja yang bersembahyang tanpa mengetahui waktu seperti orang yang bersembahyang begitu saja, maka sembahyangnya tidak sah sekalipun sudah masuk waktu. Sembahyangnya tidak sah karena ketiadaan syarat. Lain soal kalau seseorang sembahyang dengan berijtihad dalam melihat masuknya waktu, kemudian setelah selesai ketahuan bahwa sembahyangnya dilakukan sebelum masuk waktu, maka sembahyangnya dinilai sebagai pembayar utang bila ia pernah keluputan sembahyang sejenis. tetapi ketika ia tidak memiliki utang sembahyang yang sejenis itu, maka sembahyangnya dinilai sebagai pahala sunah mutlak,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja ala Safinatin Naja, Indonesia, Daru Ihya’il Kutub Al-Arabaiyyah, tanpa tahun, halaman 50).

Dari keterangan ini, kita dapat menyimpulkan bahwa mengetahui masuk waktu merupakan syarat sahnya sembahyang. Dengan demikian keabsahan sembahyang itu bergantung di sini. Di samping itu, sembahyang yang dilakukan sebelum waktunya tidak terhitung sia-sia belaka. Sembahyang itu dihitung sebagai pahala sembahyang sunah. Tetapi bisa juga dianggap sebagai sembahyang qadha atas utang sembahyang yang sejenis dengan sembahyang yang telah dikerjakan sebelum waktunya itu.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Alhafiz Kurniawan
Tim Bahtsul Masail NU

Jumat, 24 Februari 2017

(Do'a of the Day) 26 Jumadil Awwal 1438H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma shayyiban naafi'aan.

Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 10.

(Khotbah of the Day) Amal-amal yang Tak Pernah Putus Pahalanya



KHOTBAH JUM'AT
Amal-amal yang Tak Pernah Putus Pahalanya

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم


Sidang jum’ah rahimakumullah,

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa baginya.”

Hadits di atas menjelaskan bahwa ketika seseorang telah meninggal dunia, maka semua amalnya telah putus. Dalam arti ia tidak bisa lagi menambah perolehan pahalanya yang ia usahakan sendiri karena terhalang oleh kematiannya. Oleh sebagian orang, hadits ini dipahami sebagai larangan untuk melakukan suatu amal untuk menambah pahala bagi seseorang yang telah meninggal dunia. Padahal hadits ini sebenarnya tidak dimaksudkan seperti itu, tetapi lebih untuk memberi peringatan atau dorongan kepada kita semua yang masih hidup agar dapat memanfaatkan waktu hidup ini dengan sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah SWT karena hidup di dunia hanya sekali dan tak pernah terulang kembali. Hadits ini memiliki kaitan dengan hadits Nabi yang lain yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas:

اغْتَنِمْ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Rebutlah masa hidupmu sebelum datangnya saat kematianmu.”

Hadits ini menekankan agar kita selalu dapat memanfaatkan hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk melakukan amal kebaikan sebanyak-banyaknya sebelum ajal tiba.

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits di atas bahwa ada 3 (tiga) amal yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita sudah meninggal dunia. Amal pertama adalah shadaqah jariyah. Suatu amal yang disebut shadaqah jariyah pahalanya akan terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal dunia. Ini bisa terjadi jika kemanfaatan atau dampak positif dari amal itu masih terus berlangsung hingga saat-saat berikutnya setelah yang beramal meninggal dunia. Sebagai contoh adalah seseorang di masa hidupnya telah menyumbangkan sebuah bangunan sebagai wakaf untuk kepentingan umum seperti masjid, mushola, sekolah, pesantren atau bahkan rumah sakit. Selama bangunan itu masih digunakan untuk kegiatan yang manfaatnya jelas, maka selama itu pula pahala akan terus mengalir kepada penyumbangnya meski ia sendiri telah meninggal dunia.

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Pertanyaan kemudian muncul apakah hanya orang kaya saja yang bisa beramal jariyah? Tentu saja tidak. Semua orang sebenarnya memiliki kesempatan yang sama untuk dapat beramal jariyah. Jika orang kaya bisa beramal jariyah dengan hartanya, maka orang miskin bisa beramal jariyah dengan tenaga fisiknya, atau bisa juga dengan harta meski tidak sebesar orang kaya. Seorang buruh bangunan yang sedang membangun sebuah masjid, misalnya, dia tidak mendapat upah yang layak karena suatu alasan tetapi dia ikhlas dan bahkan meniatkan kekurangan dari upahnya sebagai sumbangan jariyahnya, maka kekurangan itu akan dicatat sebagai amal jariyah. Tetapi tentu saja nilai sebuah amal tidak semata-mata dilihat dari berapa besar nilai nominalnya, yang tak kalah penting adalah bobot keikhlasan dalam beramal.

Jika orang pandai bisa beramal jariyah dengan ilmu atau ide-idenya, maka orang yang tidak pandai bisa beramal jariyah dengan tenaga fisiknya untuk mengimplementasikan gagasan-gagasan dari orang pandai tersebut. Orang-orang tua yang sudah tidak punya harta yang cukup, tenaga fisik juga sudah lemah, gagasan-gagasan cemerlang mungkin juga sudah sulit mereka capai, mereka sesungguhnya masih bisa beramal jariyah dengan memberikan dorongan semangat kepada yang muda-muda untuk menghasilkan sebuah karya monumental. Jika memberikan dorongan semangat juga sudah tidak mampu mereka lakukan, mereka tetap saja memiliki kesempatan beramal dengan senantiasa mendoakan kepada Allah SWT agar sebuah karya atau program penting di masyarakat dapat terlaksana dengan baik.

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Amal kedua yang tak putus pahalanya adalah ilmu yang bermanfaat. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan ilmu bermanfaat itu? Mungkin saja ada beragam jawaban atas pertanyaan itu. Tetapi intinya adalah ilmu yang bisa memberikan manfaat kepada diri sendiri maupun orang lain untuk mencapai keselamatan dunia dan akherat. Tentu saja ilmu seperti ini tak lain adalah ilmu agama karena hanya ilmu agamalah yang memberikan manusia petunjuk bagaimana beriman kepada Allah SWT dan melaksanakan apa yang diperintahkan serta meninggalkan apa yang dilarang-Nya. Oleh karena itu setiap orang wajib hukumnya belajar ilmu agama. Dengan kata lain, belajar ilmu agama hukumnya fardhu ain. Di luar itu hukumnya fardhu kifayah yang tentu saja juga mendapatkan pahala mempelajarinya. Keharusan mencari ilmu dapat kita lihat dalilnya pada Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Anas bin Malik:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم

“Mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap orang Islam.”

Namun demikian, tidak berarti bahwa seseorang secara otomatis telah memiliki ilmu yang bermanfaat ketika ia telah mendapatkan ilmu agama yang luas. Justru letak kemanfaatan ilmu ada pada pengamalannya. Seseorang yang memiliki ilmu agama tapi tidak diamalkan maka akan menjadi bumerang bagi orang itu. Seseorang yang sudah mengetahui bahwa shalat lima waktu itu wajib namun tidak melakukannya secara utuh, maka dia akan mendapatkan dosa yang lebih besar dari pada mereka yang belum mengetahui hal itu.

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Selain adanya keharusan mengamalkan ilmu agama yang sudah diperoleh, keharusan lain adalah menyampaikan ilmu itu kepada orang lain agar orang lain juga tahu bagaimana caranya mendapatkan keselamatan di dunia dan akherat. Seberapa pun ilmu agama kita, kita diharuskan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain yang membutuhkannya. Kita tidak boleh menyembunyikan ilmu yang kita miliki karena ini termasuk perbuatan dosa. Rasululllah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban:

أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ مَنْ كَتَمَ عِلْمًا

"Barangsiapa yang menyembunyikan suatu ilmu yang ia ketahui maka Allah akan mengekangnya pada hari kiamat dengan kekang api neraka."

Oleh karena itu agar kita memiliki ilmu yang bermanfaat yang tidak putus pahalanya hingga akherat, maka kita harus mempelajari ilmu agama, lalu mengamalkan dan menyebarkannya sebagai aktivitas dakwah kita walaupun kita baru mampu menyampaikan satu ayat saja.

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Amal ketiga adalah memiliki anak yang saleh. Jika kita memiliki anak saleh yang mau dan mampu mendoakan kita agar senantiasa mendapat petunjuk, pertolongan dan ampunan dari Allah SWT, maka anak saleh ini menjadi amal kita yang pahalanya akan terus mengalir. Tetapi pertanyaannya bisakah anak mendoakan kita kalau kita tidak membekali mereka dengan ilmu agama? Bisakah mereka berdoa memohonkan ampunan atas dosa-dosa kita kalau kita tidak pernah mengajari atau melatihnya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu hendakanya selalu kita ajukan pada diri sendiri. Alasannya, karena kita memang membutuhkan anak-anak mendoakan kita terutama ketika kita sudah tidak bisa berdoa sebaik ketika masih hidup karena sudah berbaring di dalam kubur. Di dalam kubur tidak ada yang kita nanti, kecuali doa-doa dari yang masih hidup terutama anak turun kita sendiri. Disinilah relevansinya antara tahlil dengan doa anak untuk kedua orang tua. Untuk itulah, anak-anak harus kita ajari melakukan ritual tahlil dan melafadzkan doa-doa seperti:

 اغْفِرْلِي وَلِوَالِدَيَّ وارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًارَبِّ

“Ya Allah ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan kasihanilah keduanya sebagaimana mereka mengasuh kami di waktu kecil.”

Sidang jum’ah rahimakumullah,

Ketiga amal di atas, yakni shadaqah jariyah, ilmu bermanfaat dan anak saleh, hendaklah menjadi perhatian kita secara serius. Jangan sampai kita terburu meninggal dunia sementara ketiga hal itu belum sempat kita persiapkan dengan baik. Apalah arti hidup ini jika kita tidak mengisinya dengan amal-amal yang kita butuhkan buahnya kelak di akherat. Hidup hanya sekali, maka jangan kita merugi untuk selamanya. Kalau hanya rugi di dunia, pasti kita bisa mencari gantinya. Tetapi kalau rugi di akhirat kita hanya bisa menyesali karena kerugian itu bisa jadi untuk selamanya. Semoga kita semua mampu meraih ketiga hal di atas. Amin ya Robbal Alamin.

جعلنا الله وإياكم من الفائزين الأمنين، وأدخلنا وإياكم في زمرة عباده المؤمنين : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمن الرحيم: يأيها الذين امنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا. بارك الله لي ولكم في القران العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الايات والذكرالحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو الغفور الرحيم، وقل رب اغفر وارحم وأنت خيرالراحمين


Khutbah II

الحمد لله الحمد لله الذي أكرمنا بدين الحق المبين، وأفضلنا بشريعة النبي الكريم، أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شريك له، الملك الحق المبين، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمدا عبده و رسوله، سيدالأنبياء والمرسلين، اللهم صل و سلم وبارك على نبينا محمد وعلى اله وصحبه والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أما بعد: فيأيها الناس اتقوا الله، وافعلوا الخيرات واجتنبوا عن السيئات، واعلموا أن الله يأمركم بأمربداْ فيه بنفسه، فقال عز من قائل: إن الله وملائكته يصلون على النبى، يا أيها الذين أمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صلّ على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد. اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات انك سميع قريب مجيب الدعوات، وغافر الذنوب انك على كل شيئ قدير. ربنا اغفر لنا ذنوبنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رءوف رحيم، ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار. والحمد لله رب العالمين. عبادالله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم ولذكرالله اكبر.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Azyumardi: Standardisasi Pesantren (1)



Standardisasi Pesantren (1)
Oleh: Azyumardi Azra

Tema atau isu ‘standardisasi’ belakangan ini tidak hanya menyangkut khatib dan/atau penceramah agama (lihat Resonansi 9/2/2017 dan 16/2/2017), tetapi hampir berbarengan juga mengenai pesantren. Gagasan atau wacana tentang ‘standardisasi kurikulum pesantren’ muncul dari Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Kamarudin Amin (Republika, 9/2/2017).

Kamaruddin Amin menyatakan: “Standardisasi kurikulum’ ponpes ditargetkan dapat dijalankan pada 2017. Kami akan membuat standardisasi kurikulum pesantren dengan standar minimalnya”. Dia menjelaskan, kriteria standardisasi minimal untuk buku-buku yang diajarkan di ponpes dan standar kompetensi pesantren dalam mengembangkan lembaganya.

Apa tujuan dan perlunya ‘standardisasi kurikulum’ ponpes itu? Tujuannya boleh jadi baik. Dirjen Kamaruddin Amin mengelaborasi: “Standardisasi itu akan memperkuat moderasi Islam di ponpes. Jadi, kami akan mengeluarkan buku-buku wajib standar. Ini bukan proyek deradikalisasi, karena ponpes tidak radikal, tapi memperkuat moderasi. Moderasi ini adalah moderasi pendidikan di ponpes”.

Menurut Kamaruddin Amin lebih lanjut, ponpes merupakan lembaga pendidikan [Islam] yang strategis untuk menebarkan Islam moderat yang damai. [Karena itu] kehadiran ponpes harus dapat memberi nilai tambah dengan menangkal muncul [dan berkembangnya] radikalisme dalam masyarakat.

Dalam konteks itu, pernyataan Dirjen Kamaruddin Amin beralasan dan bisa dipahami. Sejak Peristiwa 9/11 [2001], lembaga pendidikan ‘tradisional’ Islam seperti ponpes di Indonesia, yang di negara Muslim lain disebut madrasah seperti di Afghanistan, Pakistan, atau Yaman dipersepsikan pengamat dan media Barat sebagai ‘breeding ground of radicalism’, tempat perkecambahan radikalisme.

Dalam batas tertentu, persepsi itu benar adanya. Keadaan itu terkait kenyataan, madrasah tradisional di negara-negara itu tidak memiliki kurikulum yang jelas. Kurikulum madrasah tergantung pada keahlian, paham keagamaan, dan ideologi-politik syaikh dan gurunya. Tidak ada standar ‘kurikulum nasional’ yang ditetapkan pemerintah. Pemerintah setempat gagal mencampuri kurikulum madrasah tradisional guna memajukan kualitas pendidikannya.

Di tengah berlanjutnya konflik sektarianisme di antara kelompok syaikh dan guru yang berbeda dan sikap berlainan terhadap rejim berkuasa dan juga kuasa Barat yang ingin intervensi, madrasah di negara-negara tersebut mengalami politisasi luarbiasa. Kegagalan pemerintah membawa madrasah ke arah peningkatan kualitas lewat pengembangan kurikulum lebih komprehensif untuk menyemaikan pemahaman dan praksis Islam damai—jauh dari ektremisme dan radikalisme—berujung pada peningkatan radikalisasi di lingkungan madrasah.           

Lembaga pendidikan ‘tradisional’ Islam Indonesia, sejak dari pondok, pesantren, dayah dan surau berbeda banyak dengan madrasah Afghanistan, Pakistan, Yaman atau negara-negara Muslim lain. Dalam perjalanan dan pengalaman panjang, lembaga-lembaga pendidikan ‘tradisional’ Islam Indonesia justru bertumbuh menjadi pusat perkecambahan dan penguatan Islam wasathiyah yang inklusif, akomodatif dan toleran.

Perkembangan seperti itu terjadi berkat konsolidasi Islam Nusantara sejak abad 17 melalui ulama besar—untuk menyebut beberapa nama—sejak dari Abdurrauf al-Singkili, Muhammad Yusuf al-cMaqassari; kemudian abad 18, Abdul Shamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, Ahmad Khatib Sambas; dan abad 19, Nawawi al-Bantani, Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Mahfuzh al-Termasi, Saleh Darat as-Samarani dan banyak lagi.

Melalui jaringan ulama Nusantara, mereka menghasilkan tiga aspek ortodoksi Islam negeri ini: Pertama, kalam Asy’ari-Jabari; kedua, fiqh asy-Syafi’i; dan ketiga, tasawuf akhlaqi al-Ghazali. Ortodoksi Islam Nusantara ini memiliki distingsinya sendiri yang kemudian berkombinasi dan beramalgamasi dengan budaya lokal berbagai suku bangsa di kawasan ini.

Ponpes menjadi pusat penanaman, pendidikan dan pembentukan tradisi ortodoksi Islam Nusantara. Dalam konteks itu, ponpes memainkan paling sedikit tiga fungsi penting. Pertama, sebagai pusat transmisi keilmuan, pemahaman dan praksis Islam; kedua, pusat pemeliharaan tradisi Islam Nusantara; dan ketiga pusat reproduksi ulama.

Lembaga-lembaga pendidikan ‘tradisional’ Islam Indonesia khususnya Ponpes menemukan salah satu ‘puncak’ konsolidasinya pada abad 19. Sejak dasawarsa pertama abad 19, berkat kian banyaknya murid Jawi dan jamaah haji kembali dari Tanah Suci, pesantren mengalami peningkatan dari segi jumlah dan substansi pendidikan.

Selanjutnya sejak dasawarsa ketiga abad ke-20, lembaga pendidikan ‘tradisional’ Islam juga mulai melakukan pembaruan dalam substansi pendidikan, metodologi pembelajaran dan manajemen. Dengan berbagai pembaruan yang dilakukan, ponpes melakukan adaptasi yang memungkinkannya untuk tidak hanya bertahan di tengah berbagai perubahan di lingkungan lebih luas, tetapi sekaligus memajukan diri untuk menjawab tantangan dan kebutuhan umat Islam Indonesia. []

REPUBLIKA, 23 February 2017
Azyumardi Azra | Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia