Senin, 23 Januari 2017

(Do'a of the Day) 25 Rabiul Akhir 1438H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma in kaana ajalii qad hadhara fa arihnii, wa in kaana muta'akhkhiran farfa'nii wa in kaana balaa an fa shabbirnii.

Ya Allah, jika sekiranya ajalku sudah dekat waktunya tiba, maka wafatkanlah aku untuk istirahat. Jika ajalku itu masih jauh datangnya, maka angkatlah (derajatku) dan jika ia adalah merupakan cobaan, maka jadikanlah aku sabar menghadapinya.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 6, Bab 3.

(Hikmah of the Day) Kisah Ketulusan Si Miskin Bersedekah ke Orang Kaya



Kisah Ketulusan Si Miskin Bersedekah ke Orang Kaya

Saudagar kaya yang lagi sakit itu menangis tersedu-sedu sesaat setelah tetangganya yang miskin menengoknya di rumah sakit dan memberinya amplop. Amplop kecil itu berisi uang Rp 20.000. H. Mahmud, demikian ia biasa dipanggil, membuka amplop itu dengan penuh rasa haru.

“Bagaimana bisa orang semiskin Pak Manto itu menyumbang aku. Aku tahu Rp 20.000 adalah sebesar penghasilannya per hari,” kata H. Mahmud pada dirinya sendiri. “Dia memang orang baik dan selalu tulus dalam kebaikannya kepada siapa pun. Aku bahkan tahu seandainya uang itu aku tolak, pasti Pak Manto tidak tersinggung.”

Kebaikan dan ketulusan hati Pak Manto membuat H. Mahmud tidak keberatan menerima sumbangannya. Ia tidak merasa tersinggung dengan sumbangan sekecil itu.

“Uang ini akan aku simpan baik-baik. Pasti di dalamnya banyak barokah karena Pak Manto mendapatkan uang ini tentu dengan cucuran keringat dan susah payah. Akan aku gunakan pada saat yang tepat.”

Tiga hari kemudian, H. Mahmud diperbolehkan pulang. Hal pertama yang dia rencanakan setelah kondisinya pulih adalah mengunjungi Pak Manto di rumahnya yang sederhana.

“Assalamu’alaikum!” Demikian H. Mahmud beruluk salam ketika memasuki rumah Pak Manto. Pak Manto terkaget karena tak pernah membayangkan akan dikunjungi H. Mahmud.

“Pak Manto, saya sangat berterima kasih atas kunjungan Pak Manto kepada saya di rumah sakit seminggu yang lalu. Alhamdulillah berkat doa Pak Manto, saya bisa segera sembuh. Saya bersilaturrahim ke sini juga dalam rangka mensyukuri kesehatan saya yang sudah pulih kembali. Tapi maaf saya tak bisa lama-lama di sini.”

H. Mahmud segera berpamitan pada Pak Manto sambil memberikan amplop berisi Rp 2.000.000. Bagi H. Mahmud, uang sejumlah itu sebanding nilainya dengan Rp 20.000 dari Pak manto karena sama-sama sebesar penghasilan per hari mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian, dibukanya amplop itu oleh Pak Manto dan meledaklah tangisnya.

“Tuhan, mengapa secepat dan sebesar ini Engkau membalas sedekahku. Bagaimana aku merasa bangga sedang aku lebih mengharapkan balasan di akhirat, yakni berjumpa dengan-Mu. Tuhan, aku tak pernah berniat bisnis dengan-Mu dalam setiap sedekahku. Berhentilah membalas sedekahku di dunia ini. Ataukah, Engkau memang tidak mencintaiku?!” Pak Manto menangis tersedu-sedu. Air matanya bercucuran. Hatinya pilu.

Siang itu, Pak Manto bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya. Ia tahu pasti banyak pasien miskin yang tak bisa segera tinggalkan rumah sakit karena belum bisa menyelesaikan tagihannya. Diberikanlah uang dari H. Mahmud itu kepada seorang laki-laki muda yang tampak murung dan bingung karena uangnya belum cukup untuk menebus biaya istrinya yang melahirkan dengan operasi caesar.

"Terimalah uang ini. Ini sedekah dari seorang saudagar kaya di kota ini. Mas tidak usah bertanya siapa nama saudagar itu karena beliau belum tentu senang diketahui identitasnya," kata Pak Manto lirih. []

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam, Univeritas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Haedar Nashir: Risalah dari Madinah



Risalah dari Madinah
Oleh: Haedar Nashir

Dulu, namanya Yatsrib. Sebuah dusun besar di utara Makkah jazirah Arabia. Dari kawasan pertanian inilah justru sejarah risalah Islam yang dibawa Muhammad SAW berubah wajah dan menentukan masa depannya.

Nabi memberi nama Yatsrib dengan Madinah dalam banyak sifat. Ia disebut al-Mubarakkah (yang diberrkahi), al-Marhumah (yang dicintai), al-Najiyah (yang terjaga kemurniannya), al-Thayyibah (yang terbaik), dan predikat serbabaik lainnya. Paling ternama ialah al-Munawwarah, yang tercerahkan.

Madinah bukan sekadar nama baru dari Yatsrib. Ia simbol sekaligus penanda perubahan watak dan tatanan masyarakat dari kejahiliyahan menjadi bangsa dan peradaban yang tercerahkan. Sebuah quantum menakjubkan dalam sejarah peradaban bangsa Arab. Bahkan Nabi diterima hijrah oleh penduduk tiga agama ini.

Lalu, dari Madinah lahir piagam yang mengikat hidup damai antarsemua golongan majemuk di bawah naungan kearifan kaum Muslimin, yang dikenal Shahifah al-Madinah. Dari kota ini pula meluas gerak pencerahan Islam (the renaisance of Islam) yang membuana ke seluruh benua, sehingga lahir kejayaan peradaban Islam selama 6 abad lebih tatkala Barat saat itu tertidur lelap dalam keterbelakangan.

Dari jantung kota Madinah inilah sejarah pencerahan dunia memperoleh pijakannya yang transenden dan imanen. Islam mengoreksi risalah teologi yang tercemari politeisme, menjadi agama tauhid. Pada saat yang sama meletakkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan sistem kehidupan yang menunjunjung keutamaan keadaban-berkemajuam. Lalu, lahirlah kota peradaban dunia yang cerah-tercerahkan, al-Madinah al-Munawarrah!

Spirit pencerahan

Sungguh tidak tahu persis jantung hati dan pikiran setiap Muslim yang menjadi tamu Allah di dua kota suci --Madinah dan Makkah-- tatkala berhaji dan berumrah. Adakah semua datang lebih dari sekadar beribadah-mahdhah dengan spirit berlebih, sekaligus berikhtiar memghayati sejarah pergumulan Islam di negeri Arabia ini.

Jutaan insan beriman tiap hari, bulan, dan tahun datang menziarahi dua kota suci umat Islam itu. Di antaranya yang menuntut ilmu-ilmu keagamaan, yang tentu saja setelah pulang diharapkan menjadi penyebar risalah Islam mewarisi jejak perjuangan Nabi sebagai warasat al-anbiyaa. Bukan sebagai pengekor, tetapi tampil selaku sosok uswah hasanah sekaligus mujtahid kemajuan.

Apakah mereka yang datang ke Makkah dan Madinah dalam beragam kehadiran itu dapat memgambil i'tibar untuk gerak pencerahan membangun peradaban Islam yang menyebarkan rahmatan lil-'alamin sebagaimana ditorehkan Nabi dengan sejarah emas? Harapannya demikian. Satu di antara yang berhasil mengambil api pencerahan itu di masa silam ialah Muhammad Darwisy alias Haji Ahmad Dahlan Sang Pencerah.

Kita berharap generasi muslim baru mampu menangkap api penecarahan Islam dalam simbol al-Madinah al-Munawwarah itu. Sebab, sungguh Risalah Islam yang dibawa Nabi akhir zaman itulah yang mengubah secara revolusioner dunia ke-Araban yang jahiliyah menjadi bangsa berperadaban utama, yang memmancarkan sinar pencerahannya ke seluruh dunia.

Pasca-Nabi wafat dan kekhalifahan utama Islam menyebar ke seluruh dunia. Dari kota peradaban itu selama enam abad lahir peradaban Islam yang jaya, yang melambungkan para ilmuwan ternama dan penguasa arif-bijaksana. Peradaban sebagai puncak kebudayaan insan beriman yang membangun mutiara-mutiara kebajikan utama di seluruh semesta.

Islam itu sungguh memancarkan cahaya pencerahan. Cahaya at-tanwir yang membebaskan umat manusia dari kegelapan menuju sinar terang peradaban (QS al-Baqarah: 234). Cahaya kebenaran, kebaikan, dan keutamaan hidup yang berpangkal dari tauhid dan membuahkan ihsan dalam hidup kemanusiaan sejagad raya. Pencerahan yang melahirkan sosok masyarakat tengahan yang adil dan terpilih (ummatan wasatha), yang mampu menjadikan umatnya sebagai syuhada 'ala al-Nas yang mengubah nasib zaman menjadi berkemajuan.

Pesan Islam yang utama juga ingin menghadirkan keadaban mulia. Sebagaimana Nabi bersabda, bahwa "Aku tidak diutus seain untuk menyempurnakan akhlak mulia". Agar manusia, lebih-lebih yang beriman dan berislam, niscaya berbuat segala sesuatu dengan perangai yang utama. Nabi akhir zaman itu sendiri bahkan menjadi role-model akhlak mulia itu (QS Al-Ahzab: 21 ; al-Qalam: 4).

Keadaban yang diajarkan Nabi bahkan detail. Termasuk dalam setiap ujaran berbingkai hifdz al-lisan. Bahwa seorang muslim, apalagi para pembawa risalah dakwah, harus bertutur kata yang benar, baik, dan pantas. Jangan sampai bermuatan dusta, nista, dan sarat ketidakpatutan yang menyebarkan benih kebencian, amarah, permusuhan, dan amuk massa. Setiap kata yang keluar harus beradab dan mencerahkan, apalagi kalimat dakwah, yang menularkan energi kemuliaan.

Pascahijrah

Madinah disebut pula sebagai Darr al-Hijrah. Momentum risalah Islam yang mencerahkan dimulai tatkala nabi hijrah ke daerah damai ini. Sebuah transformasi sosial secara drastis dimulai dengan mengubah wajah bangsa Arab yang semula penyembah berhala menjadi bertauhid. Dari budaya yang menista kaum Hawa menjadi termuliakan dalam relasi yang setara dan bermartabat. Dari praktik ekonomi kapitalis yang kotor menjadi halalan-tahyyiba.

Bangsa Arab yang semula memiliki tabiat konflik, kekerasan, dan pertumpahan darah dicerahkan akal-budinya hingga menjadi masyarakat yang mampu menyelesaikan masalah dengan cara damai berkeadaban. Islam telah mengubah watak keras dan kasar menjadi berakhlak mulia yang luhur. Tatanan kehidupan pun berubah menjadi demokratis, cerdas, dan berilmu. Nabi dan para sahabat menjadi aktor pembentuk peradaban baru yang mencerahkan itu.

Lalu, sekitar 12 tahun setelah itu, Nabi bersama kaum muslimin membebaskan kota Makkah. Nabi Muhammad bersama sepuluhribu kaum muslimin membuka jantung kota Arabia itu. Di sana tak ada politik balas dendam, meski kaum jahiliyah itu melanggar perjanjian Hudaibiyah. Apalagi pertumpahan darah.

Nabi memasuki Kota Makkah sungguh membawa misi damai. Allah Yang Maha Rahman Rahim pun menamanya Fathu Makkah, terbukanya Kota Makkah. Bukan penaklukkan. Meski berpuluh tahun Nabi akhir zaman bersama umatnya dinista, diisolasi, dan diserbu tiada henti. Penduduk setempat yang selama ini memusuhi Nabi dan umat Islam diberi pilihan beriman atau tidak tanpa tekanan.

Sebagian umat Islam sempat terjangkiti euforia. Mereka karena gembira atas kemenengan yang ditunggu puluhan tahun itu, menyuarakan pekik "hadza yaum al-malhamah". Inilah hari takdir buruk bagi rakyat Makkah. Nabi segera mengingatkan umatnya agar bersikap utama dan menggelorakan pesan mulia: hadza yaum al-marhamah. Inilah hari kasih sayang. Lalu, turunlah wahyu Allah pada Surat An-Nashr: "Jika datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam Agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka sucikanlah (dirimu) dengan memuji nama Tuhanmu dan mintalah ampun kepada-Nya" (QS An-Nashr: 1-3).

Sejak itu, Makkah bersama Madinah menjadi kota suci simbol Darr As-Salam. Di sana tidak ada kekerasan, kebencian, dan darah. Bahkan tumbuhan dan hewan pun memperoleh perlindungan. Dari dua pusat Risalah Islam itu memancar pesan Islam yang mencerahkan peradaban semesta. Lahirlah Ummatan Wastha sebagai komunitas yang adil dan teladan, yang berperan selaku Syuhada 'ala al-Nas (QS al-Baqarah: 143).

Maka menjadi tanggung jawab seluruh insan Muslim lebih-lebih para ulama dan tokoh umat dari mana pun asal muasal dan golongannya untuk menampilkan Islam sebagai rahmatan lil-'alamin (QS al-Anbiya: 107). Mereka yang tidak beriman sekalipun harus merasakan rahmat kehadiran Islam, tanpa keharusan berislam jika pilihan hidupnya demikian. Pertanggungjawaban kekafirannya tinggal berurusan langsung dengan Allah Dzat Pemberi hidayah di Yaum al-Akhir kelak.

Kini apakah para insan Muslim di seluruh muka bumi, tak kecuali di Indonesia yang akhir-akhir ini banyak diuji keimanan dan kesabaranya, mampu menampilkan umat terbaik yang membangun peradaban mencerahkan? Alangkah mulia dan utama bila Islam yang hadir di bumi Indonesia tercinta ini juga membawa risalah pencarahan sebagaimana diteladankan Nabi akhir zaman di dua kota suci, Makkah dan Madinah. Bukan menampilkan Islam yang sarat amarah, kebencian, dan permusuhan! []

REPUBLIKA, 22 January 2017
Haedar Nashir | Ketua Umum PP Muhammadiyah

Sri Mulyani: Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan



Pertumbuhan tidak Kurangi Kemiskinan
Oleh:  Sri Mulyani Indrawati

SAYA melihat di seluruh dunia banyak negara yang mengalami ketimpangan pesat dari mulai 0,35% sampai mendekati 0,5%. Bahkan di Amerika Latin sampai 0,7%. Artinya betul-betul cuma segelintir orang yang merasakan kesejahteraan. Brasil dikatakan sukses karena Presiden Lula mengoreksi dari 0,7% jadi 0,6%. Itu dalam satu dekade menjadi presiden. Satu upaya yang luar biasa keras. Indonesia saat mencapai 0,4% alarm berbunyi. Ini berbahaya. Komentar datang dari mana-mana, media massa, masyarakat, partai politik, hingga stakeholder, dan ini disuarakan. Presiden Jokowi merespons dengan berbagai kebijakan karena kita tidak ingin naik lagi.

Ini tidak mudah karena harus berlanjut dalam jangka menengah. Kalau kita lihat angka kemiskinan, yang harus diwaspadai adalah pertumbuhan kita tidak bisa mengurangi kemiskinan secara lebih cepat. Intervensinya bukan hanya melalui cash transfer, tapi juga memotong tali kemiskinan antargenerasi. Kalau keluarga miskin tidak bisa memberikan nutrisi anak mereka sejak di dalam perut sehingga anak tidak sehat, tidak punya akses kesehatan, tidak punya akses pendidikan, pasti anak mereka akan miskin dan cucu mereka juga demikian. Inilah kemiskinan antargenerasi.

Inilah yang dipotong dan akhirnya diciptakan kartu pintar, kartu kesehatan. Mungkin ini sifatnya terlihat populis, tapi ini kebijakan yang harus dilakukan. Dari sisi stabilitas, inflasi dan nilai tukar bisa mengalami stabilitas dengan komparasinya di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri secara historis dan di luar dengan negara-negara setara kita. Inflasi 2016 ialah yang terendah dalam satu dekade terakhir dan nilai tukar kita bisa bertahan atau bahkan mengalami apresiasi cukup sedikit di 2016, ketika seluruh dunia mengalami pelemahan di saat dolar AS mengalami penguatan luar biasa.

Daya saing

Eksternal ekspor dan impor serta cadangan devisa kita relatif comfortable. Kalau kita lihat, cadangan devisa di atas US$100 miliar dengan ekspor dan impor yang selalu kita buat imbang. Yang paling penting adalah capital inflow atau arus modal karena mereka percaya terhadap prospek dan stabilitas ekonomi Indonesia. Bagaimana kita melihat tantangan mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Kita lihat dalam konteks hari ini berarti berbicara mengenai konteks tentang bagaimana memberantas kemiskinan, bagaimana mengurangi ketimpangan, bagaimana membuat masyarakat kita produktif memiliki daya saing.

Dari sisi institusi karena orang sering lupa bahwa keberhasilan suatu negara maju dia tidak hanya berdasarkan hanya dari pembangunan fisik, dia juga membutuhkan pembangunan institusi. Institusi harus memiliki tata kelola yang baik, bersih, dan efektif. Ada institusi yang bersih, tetapi dia tidak efektif maka tidak banyak berguna juga. Dia bagus untuk inspirasi, tetapi tidak mampu untuk melayani masyarakat. Jadi, kita perlu institusi yang tata kelolanya baik, bersih, tetapi efektif. Ini adalah tantangan pembangunan bagi banyak negara di dunia.

Saya dalam kapasitas pekerjaan saya sebelumnya melihat banyak negara di dunia mengalami apa yang disebut middle income trap. Dia biasanya mampu dari negara miskin, yaitu pendapatannya di bawah US$1.000 per kapita menjadi sekitar US$3.000-US$3.500. Kemudian dia stuck saja di sana. Lama-lama sampai mendekati US$10 ribu-US$11 ribu per kapita, tetapi dia tidak pernah naik menjadi high income country. Biasanya ciri-cirinya ialah tata kelola dan institusi yang bersih dan efektif sangat tertinggal dari kemajuan ekonominya sehingga waktu muncul kelas menengah masyarakat yang menginginkan aspirasi pemerintahan yang bersih yang berfungsi dan akuntabel, selalu dikecewakan.

Kekecewaan terus-menerus, apalagi menjadi penyakit yang sangat sering terjadi, adalah munculnya apa yang disebut elite capture. Ada sekelompok elite atau biasanya elite di dekat mereka yang sudah menguasai negara tersebut, yang hanya terus-menerus memfokuskan policy-nya untuk kebaikan elite itu sendiri, dan itu terjadi di banyak negara. Apakah itu namanya menjadi oligarki, atau menjadi kronisme, namanya bisa macam-macam. Tetapi Anda bisa lihat dari Afrika hingga Timur Tengah, Rusia, Amerika Latin, Asia, banyak negara yang tidak pernah bisa lepas dari elite capture itu, biasanya mereka mengalami trap di tengah. Ini adalah salah satu pekerjaan rumah yang sangat luar biasa di dalam institusi. Makanya kami di Kementerian Keuangan dari 10 tahun lalu hingga sekarang berbicara tentang reform. Itu karena saya percaya Indonesia berhak dan harus memiliki institusi yang kuat dan bersih serta akuntabel.

Tanggung jawab kemenkeu

Karena berbicara tentang Kementerian Keuangan, menjadikan APBN sebagai instrumen yang menjadi tanggung jawab kami. APBN merupakan instrumen pembangunan yang luar biasa penting. Di dalam menciptakan tidak hanya pertumbuhan, tetapi mendekatkan kita kepada tujuan menyejahterakan masyarakat yang adil dan makmur. Seperti sebuah APBN banyak negara, dia terdiri dari pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Dari sisi pendapatan negara, kalau kita lihat, tren 10 tahun terakhir peningkatan dari sisi revenue atau penerimaan. Namun, kalau tadi dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang terutama didorong komoditas, Indonesia dalam hal ini, kami belum mampu untuk meng-capture-nya dalam bentuk penerimaan pajak yang cukup besar.

Ini adalah PR yang cukup besar kalau kita lihat dari rasio penerimaan kita mengalami penurunan. Ini yang kemudian muncul indikator bahwa Indonesia dianggap sebagai negara yang inequality dan bahkan sudah masuk kepada sektor-sektor yang dianggap di-capture dan tidak mampu kita pajaki sehingga benefit dari sektor tersebut, terutama pertambangan, infrastruktur besar hanya dianggap menguntungkan untuk kelompok yang di atas daripada kelompok yang di bawah.

Kegiatan pertambangan di Indonesia ketika economic boom pada saat komoditas tinggi, dia tidak membayar pajak sehingga negara tidak mampu melakukan redistribusi. Ini pekerjaan rumah yang luar biasa besar. Kalau sekarang kita melakukan tax amnesty karena kita yakin bahwa kita perlu melakukan deklarasi dan melihat, melakukan pemetaan terhadap potensi penerimaan negara. Belanja negara telah mencapai Rp2.080 triliun dan ini peningkatan yang cukup besar. Namun, kalau dilihat dari GDP kita, sebetulnya juga tidak terlalu besar. Jadi, kalau kita lihat APBN Indonesia, kita mampu untuk lari atau belanja lebih banyak apabila kita mampu mengumpulkan penerimaan yang lebih banyak. []

MEDIA INDONESIA, 20 January 2017
Sri Mulyani Indrawati | Menteri Keuangan Republik Indonesia