Jumat, 24 Maret 2017

(Do'a of the Day) 25 Jumadil Akhir 1438H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahummaj'alnii aujaha man tawajjaha ilaika, wa aqraba man taqarraba ilaika, wa afdhala man sa'alaka wa raghiba ilaika.

Ya Allah, jadikanlah aku paling lurus di antara oarang yang menghadap kepada-Mu, paling dekat di antara orang yang dekat kepada-Mu, seafdhal-afdhal orang yang memohon kepada-Mu dan mencintai-Mu.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 7, Bab 1.

(Khotbah of the Day) Keramahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan



KHOTBAH JUM'AT
Keramahan Islam di Indonesia dan Harapan di Masa Depan

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله.اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فياعباد الله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتقون, اتقو الله حق تقاته ولاتموتن ألا وأنتم مسلمون  

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ahamduillah pada hari ini kita masih diberi nikmat untuk bersama-sama menjalankan ibadah bertemu dalam shalat jum’at berjama’ah. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. semoga ketaqwaan itu bisa menyelamatkan kita dari api neraka dan memposisikan kita di dalam surga.

إِنَّ الْجَنَّةَ حُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ وَإِنَّ النَّارَ حُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ

“Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala kemakruhan (hal yang dinistakan agama) sedangkan neraka dikelilingi oleh syahawat (hal-hal yang menyenangkan manusia).”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. yang menganugerahkan keamanan dan  keselamatan atas bangsa Indonesia ini, tepatnya setelah melaksanakan pemilihan kepala daerah secara serentak pada 15 Februari yang lalu. Sebagai bangsa yang hidup berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, keamanan dan  keharmonisan ini haruslah disykuri bersama-sama dengan cara terus menjaga dan meningkatkan rasa kepekaan sosial antar sesama, karena inilah saha satu hal penting yang terbukti mampu melahirkan kebersamaan dan keamanan di tengah perbedaan. Inilah sukses kita semua, sukses bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam

Para hadirin jamaah jum'ah rahimakumullah,

Sukses besar bangsa ini dalam melaksanakan hajatan demokrasi menunjukkan kepada dunia bahwa jalinan kemanusiaan, ukhuwah insaniyah atau humanisme dalam jiwa bangsa Indonesia adalah sesuatu yang nyata bukan sekadar wacana. Sesuatu yang telah terjadi dalam realitas kehidupan sosial (al-madhahir al-ijtima'iyyah), bukan sekedar teori di dalam tumpukan buku. Hal ini membuktikn bahwa ajaran tentang kemanusiaan dalam diri umat Islam di Indonesia telah lebih dulu hadir sebelum kata humanisme itu sendiri. Sehingga Indonesia dengan umat Islamnya yang bersuku-suku dan berbeda-beda bahasa, patut menjadi contoh bagi negra-negara lain yang sedang mencari jati dirinya.

Di sisi lain, kenyataan ini menunjukkan kepada kita akan kebesaran muslim Indonesia yang memiliki kemampuan merubah segala konsep dan pemikiran yang datang dari luar untuk disesuaikan dengan realitas keindonesiaan yang ada di sekitar. Tentunya hal ini tidak lepas dari usaha dan ijtihad para ulama dan cendekiawan muslim yang selalu berusaha meramu berbagai pemikrian dan ideologi yang menyerbu bangsa ini. Para ulama dan cendekiawan muslim itu adalah penjaga (the guardian) yang menginginkan bangsanya tetap berkarakter. Dengan pengetahuan keislaman yang membumi, para ulama itu memeras segala yang datang dari 'Dunia Barat' untuk diambil sari kebaikannya dan membuang remah-remah keliberalan yang tak sesuai nilainya dengan karakter ketimuran. Demikian pula dalam menghadapai pemikiran yang datang dari 'Dunia Arab', para ulama Indonesia  hanya memilah konsep-konsep yang dapat menyempurnakan keislaman di Indonesia dan menghalau unsur-unsur fundamentalis yang tidak sesuai dengan nilai keislaman di Indonesia.

Jama'ah jum'ah yang dirahmati Allah,

Demikianlah sungguh besar karunia Allah terhadap bangsa Indonesia ini. Begitu besarnya karunia itu sehingga seringkali menutupi mata batin kita untuk bersyukur kepada-Nya. Bahkan besarnya karunia itu menjadi sumber kesombongan diri dengan menyatakan sebagai pihak yang paling memiliki andil paling banyak dalam keamanan dan ketertiban. Tentunya kita sebagai umat muslim yang sadar diri hendaknya menghindar dari sifat-sifat buruk yang demikian. Karena sifat-sifat buruk itu hanya akan menyakiti diri kita sendiri dan merugikan sesama umat muslim lainnya.

Sebagai sebuah sistem pemilihan pemimpin, pilkada yang telah lalu akan menghasilkan para pemimpin masa depan. Sebentar lagi akan diikhbarkan kepada kita semua, siapakah yang berhak menjadi pemimpin dan siapa pula yang terbukti mendapat amanah lebih banyak dari masyarakatnya. Pastilah akan banyak kekecewaan, karena tidak mungkin yang terpilih mengantongi 100 persen suara pemilih. Olah karena itu, bagi para pemilih yang kecewa, harus yakin bahwa Allah SWT memiliki rencana tersendiri. Rencana Agung untuk kemajuan bangsa. Rencana terbaik untuk bangsa yang mayoritas penduduknya adalah hamba-hambanya yang taat dan beriman semuanya. Selaku kelompok yang tersisih tidak seharusnya putus asa. Sebagaimana Usaha Nabi Musa melawan Fir'aun yang mencapai kesuksesannya setelah empat puluh tahun berusaha dan berdoa.

Sebagaimana Rasulullah SAW yang tidak putus asa setelah gagal memasuki kota Makkah pada tahun 6 Hijriyah setelah di tahan dan diusir kembali bersama 1500 umat Islam Madinah. Sebuah kejadian yang dramatis menimpa Rasulullah yang telah merindukan kampung halamannya, dan segenap umat muslim yang hendak melakukan ibadah haji. Walaupun hal itu telah diinformasikan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW lewat mimpinya. Ternyata semua rencana tidak dikabulkan Allah SWT, karena Allah SWT telah memeiliki rencana lain yang jauh lebih dahsyat, tentang Fathu Makkah.  Begitulah kegagalan ini diabadikan oleh Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 27.

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.”

Hadirin Jama'ah jum'ah yang dimuliakan Allah

Seringkali Allah SWT menunda keberhasilan dari hamba-Nya, karena telah menyiapkan rencana lain yang lebih agung nilainya. Meskipun seringkali penundaan itu sangat menyakitkan. Sebagaimana yang dirasakan sahabat Umar dalam mengomentari kegagalan Umat Islam memasuki kota Makkah yang diungkapkan kepada Rasulullah SAW  "Ya Rasullah bukankah Engkau telah memberi kabar bahwa kita akan memasuki kota Makkah?" Demikian kekecewaan itu adalah manusiawi. Kemudian Rasulullah SAW menjawab "apakah aku mengatakanmu pada tahun ini?" Umar berkata "tidak". Lalu Rasulullah SAW berwasiat "sungguh engkau akan memasuki kota Makkah dan melakukan thawaf di sana, maka eratkan tanganmu (kekuatan keyakinanmu) wahai saudaraku, untuk membenarkan apa yang dijanjikan Allah kepadamu, perbaiki prasangkamu pada Allah dan para kekasih-Nya terutama pada gurumu, hindarilah perasaan bohong dan ragu-ragu dengan nabimu agar tidak menjadi cacat di mata hatimu dan tidak menjadi sebab kebutaan mata hatimu dan juga tidak memadamkan cahaya rahasia bathinmu.

Apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW terhadap Sayyidina Umar ra. Sebenarnya adalah satu fragmen yang menggambarkan betapa manusia seringkali berharap kepada Allah SWT dan seringkali harapan itu tidak mendatkan balasannya, sehingga kecewa dan merasa putus asa. Sebagaimana lumrahnya sebuah doa yang lama sekali tidak terkabulkan. Inilah yang dibicarakan dalam Al-Baqarah 216:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Demikianlah khotbah singkat ini semoga dapat memberi inspirasi untuk diri khatib khususnya, dan semua jama'ah pada umumnya.


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَىوَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Sumber: NU Online

Mari Rehat Sejenak


Saat Makam Syekh Kuala Selamat dari Terjangan Tsunami di Tahun 2004



Saat Makam Syekh Kuala Selamat dari Terjangan Tsunami

Komplek Makam Syekh Kuala Aceh
Sebelum kembali ke Jakarta pasca liputan kunjungan PBNU ke lokasi gempa di Pidie Jaya, Aceh pertengahan Desember lalu, saya diajak Direktur Penyaluran NU Care-Lazisnu, Slamet Tuharie Ng menyelesaikan beberapa urusan. Termasuk menemui beberapa teman semasa kuliah di Purwokerto dan Jakarta. Para ‘teman seperjuangan’ Mas Slamet yang kini berkegiatan di Banda Aceh. 

Usai dengan urusan itu, kami memanfaatkan waktu untuk berziarah ke makam Syeikh Abdul Rauf As-Singkili. 

Maka pada Kamis 15 Desember 2016 lepas tengah hari, kami meminta Mas Riyan—sopir yang juga mengawal kami selama beberapa hari sebelumnya—melajukan  mobil sewaan ke Desa Deyah Raya, Kecamatan Kuala. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari Kota Banda Aceh.

Sebelum menuju ke desa tersebut, kami menanyai beberapa orang di mana letak makam Syeikh Abdul Rauf As-Singkili. Hal ini amat penting, karena Mas Riyan, walaupun sudah menetap di Banda Aceh tak lama setelah peristiwa tsunami 2004, bukanlah berasal dari kota ini. Pria keturunan Jawa dan Medan ini, aslinya lahir di Medan, Sumatera Utara.

Namun, sama dengan Mas Riyan, orang-orang yang kami tanyai, yang umumnya anak muda, tidak tahu di mana makam Syekh Abdul Rauf As-Singkili. Bagi kami ini agak mengherankan, tersebab Syekh Abdul Rauf As-Singkili adalah seorang ulama tersohor yang punya peran penting dalam penyebaran ajaran Islam di Sumatera khususnya, dan Nusantara pada umumnya.

Ketika kami mengganti pertanyaan dengan “Di mana makam Syiah Kuala?” barulah kami mendapatkan titik terang. Kali ini hampir semua dari mereka yang kami tanyai menjawab tahu. Di Aceh, Syiah Abdul Rauf As-Singkili memang lebih terkenal dengan nama Syiah Kuala. Istilah ‘Syiah’ sama maknanya dengan ‘Syekh’. 

Menempuh perjalanan sekira setengah jam dari Kota Banda Aceh, kami pun tiba di komplek makam Syiah Kuala. Di sebelah kanan dari pintu masuk menuju makam, tampak hamparan laut. Letak makam Syiah Kuala memang hanya sekitar 200 meter dari laut.

Siang itu, kecuali kami, telah banyak peziarah lain yang datang. Umumnya peziarah datang bersama rombongan-rombongan yang terdiri dari belasan hingga puluhan orang. Ada juga peziarah yang hanya satu keluarga.

Tiba di komplek makam, kami lebih dulu menuju musala untuk menunaikan salat zuhur. Ziarah kami kali ini terasa berbeda, karena begitu memasuki ruang tamu, kami langsung bertemu dan disambut Tengku Abdul Wahid, generasi ketujuh Syiah Kuala.

Kepada kami, Tengku Abdul Wahid menjelaskan sejarah dan riwayat Syekh Abdul Rauf As-Singkili. 

Syiah Kuala memiliki nama panjang Syekh Abdul Rauf bin Ali Al-Fansuri As-Singkili. Ada pun Kuala, mengacu pada nama kampung tempat Syekh Abdul-Rauf tinggal semasa hidupnya hingga dimakamkan.

Syekh Abdul Rauf As-Singkili adalah seorang ulama besar Aceh. Ia lahir pada tahun 1001 Hijriah atau 1591 Masehi. Ia wafat pada hari Senin 22 Syawal tahun 1693 M.

Syekh Abdul Rauf mendirikan dayah-dayah yang digunakan sebagai tempat mengajarkan ajaran Islam.

Kitab-kitab Karya Syekh Kuala

Syekh Kuala dikenal menulis banyak kitab seperti Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab. Kemudian, Tarjuman al-Mustafid yang merupakan naskah pertama berbahasa Melayu yang lengkap dari tafsir Al-Quran. 

Selain itu ada juga kitab Mawa'iz al-Badî', Tanbih al-Masyi, Kifayat al-Muhtajin ilâ Masyrah al-Muwahhidin al-Qâilin bi Wahdatil Wujud, dan kitab Daqâiq al-Hurf.

Sayangnya, ketika tsunami melanda Aceh pada 2004 lalu, banyak sekali kitab-kitab karya Syeikh Abdul Rauf yang tersimpan di tempat itu yang tak terselamatkan. 

“Itu yang sangat kami sayangkan,” ujar Tengku Abdul Wahab. 

Makam yang terselamatkan 

Menurut Tengku Abdul Wahid, dahulu jarak makam ke bibir pantai sekitar 1 kilometer. Akibat musibah tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam, menyebabkan tanah-tanah di sekitar makam tergerus. Hal itu menjadikan jarak makam dan bibir pantai semakin dekat. 

“Sekarang jarak makam dengan pantai tidak lebih dari 200 meter,” kata Tengku Abdul Wahid.

Ajaibnya, pada kejadian tsunami tersebut, tidak menyebabkan pusara Syeikh Abdul Rauf hanyut. Padahal makam di sekitarnya mengalami kerusakan yang tergolong berat.

Tengku Abdul Wahid juga memberitahu kami, para peziarah ke makam Syekh Kuala tidak hanya dari Indonesia. Warga Malaysia dan Brunei Darussalam, juga banyak yang berziarah ke makam tersebut. []

(Kendi Setiawan)

Kang Komar: Agama Sumber Kekerasan?



Agama Sumber Kekerasan?
Oleh: Komaruddin Hidayat

HARI-hari ini muncul opini sangat kuat bahwa agama menjadi sumber keresahan dan kekerasan di berbagai belahan dunia. Betulkah demikian?

Karen Amstrong, mantan biarawati yang sekarang paling aktif melakukan kajian sejarah agama-agama dan sangat produktif menulis buku tebal-tebal, secara tegas menyatakan "tidak". Ini bisa dibaca dalam karyanya Fields of Blood: Religion and the History of Violence (2014) yang sudah dialihbahasakan dan diterbitkan Mizan (2016).

Menurut sejarawan militer, dalam setiap peperangan terdapat banyak faktor yang terlibat di dalamnya seperti faktor sosial, materiil, dan ideologis yang saling berhubungan. Dari semua itu alasan utamanya adalah berebut sumber daya yang langka.

Begitu pun terorisme tak bisa disederhanakan sebagai kekerasan agama meskipun sentimen agama terlibat di dalamnya. Mereka yang sudah terbentuk alam pikirnya dengan paham sekuler yang antiagama pun menjadikan agama sebagai kambing hitam, lalu melepaskannya ke padang gurun politik.

Mereka mengklaim bahwa monoteisme sangat tidak toleran dan agama tak mengenal kompromi. Mereka lupa bahwa perang dunia yang menciptakan trauma sejarah itu tidak dipicu agama.

Dulu pernah Kerajaan Islam berjaya, melampaui kekuasaan Barat. Tapi semua negara yang hanya mengandalkan pertanian pada akhirnya akan kehabisan sumber daya intrinsik yang terbatas, yang akan menghambat laju inovasi. Hanya bangsa dan negara industri yang jauh lebih berpeluang membuat kemajuan melampaui kebutuhan zamannya.

Mungkin ini yang menyebabkan kejayaan ilmu pengetahuan di dunia Islam terhenti atau jauh ketinggalan dari Barat. Di sini faktor sains dan militer sangat berperan, bukannya masalah agama.

Perlawanan agama muncul dengan kehadiran modernitas yang menguasai hampir seluruh lini kehidupan, lalu agama terpinggirkan. Ini dirasakan baik oleh Yahudi, Kristen maupun Islam. Kekuatan agama ingin mengembalikan romantisme masa lalu yang kemudian disebut sebagai kebangkitan fundamentalisme.

Istilah kembali ke fundamen ini dicetuskan Protestan Amerika tahun 1920, yang kemudian dilekatkan pada semua gerakan keagamaan yang antimodernitas. Gerakan fundamentalisme ini awalnya hanya sedikit yang melakukan kekerasan. Gerakan ini dipicu rasa takut dan terancam atas kekuatan sekuler yang akan menghancurkan kekuatan agama. Semacam paranoid.

Komunitas Yahudi selalu mengenang pengalaman sangat pahit dari kekuasaan Hitler yang mau menghabisi mereka.

Dalam sejarah Islam, kejatuhan Dinasti Usmani yang berpusat di Turki juga meninggalkan tragedi berkelanjutan bagi dunia Islam di hadapan kekuatan Barat yang agresif. Inggris dan sekutunya dengan seenaknya membagi dunia Islam menjadi negara-negara kecil berdasarkan kesukuan dan kebangsaan, suatu pengalaman baru yang dipaksakan, jauh di luar jangkauan tradisi dan nalar umat Islam.

Mereka terkondisikan menghadapi dua kekuatan sekaligus, yaitu berhadapan dengan Barat yang agresif untuk menguasai sumber daya alam dan merusak tradisi mereka, dalam waktu yang sama juga dihadapkan pada persaingan militer dengan negara-negara tetangganya yang dahulu satu rumpun agama dan kekuasaan di bawah Turki Usmani.

Kisah tragis yang diciptakan Barat juga menimpa India yang kemudian melahirkan pecahan Pakistan dan Bangladesh. Dalam berbagai konflik itu sesungguhnya agama berposisi pinggiran, bahkan dimanipulasi seperti yang dilakukan Amerika masuk ke Afghanistan untuk menghadang pengaruh Rusia dengan mengerahkan tentara Pakistan dan umat Islam lain dengan dalih agama, bagaikan David melawan Goliat. Sebuah jihad suci melawan kekuatan anti-Tuhan.

Jadi, kata Amstrong, agama itu bagaikan cuaca yang bisa  berubah-ubah. Atau metafor kambing hitam sebagai penebus dosa manusia. Setiap kali ada keributan, lalu ramai-ramai menunjuk biangnya adalah "kambing hitam" agama untuk disembelih.

Gejala ini juga bisa dimaklumi mengingat ketika terjadi perebutan kekuasaan, misalnya pilkada atau pemilu, isu, simbol dan sentimen agama sangat manjur sebagai sarana bertahan atau melancarkan serangan terhadap lawannya. []

KORAN SINDO, 24 Maret 2017  
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah