Senin, 11 Desember 2017

(Do'a of the Day) 22 Rabiul Awwal 1439H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Ilaahii naffisil kuraba,
Minal 'aashiina wa 'athba.
Wakulli baliyyatiw wawaba,
Bi ahlil badri yaa Allaah.

Fa kam min ni'matiw hashalat,
Wa kam min dzillatin fashalat.
Wa kam min ni'matiw washalat,
Bi ahlil badri yaa Allaah.

Ya Allah Tuhanku, hapuskanlah semua duka,
Hindarkanlah kami dari kebiasaan yang diakibatkan oleh orang-orang durhaka.
Ya Allah Tuhanku, selamatkanlah kami dari bala dan penyakit yang menular,
Lantaran tawassul kami dengan Ahlul Badr (yang dijamin Allah masuk surga).

Banyak sekali rahmat yang Engkau berikan,
Dan banyak sekali kehinaan yang Engkau hilangkan.
Dan banyak sekali nikmat yang Engkau berikan,
Lantaran tawassul kami dengan Ahlul Badr (yang dijamin Allah masuk surga).

Allaahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaihi.
Ya Allah, limpahkanlah rahmat, salam dan berkah kepada Nabi SAW.

[]

Dari Kitab iqdl al-Jawahir ditulis oleh Syekh Jafair Al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim

(Buku of the Day) Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab



Kitab Nadham ‘Sejarah Besar NU’ Karya KH Abdul Halim Leuwimunding


Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nadhaman (puisi Arab). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.

KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kehaliran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.

Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.

Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saifuddin Chalim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.

Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;

دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات
سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه
مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات

(Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat
September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh
Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)

Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).

Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;

سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا
ايغين تاؤ اسال () برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا
مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا

(Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya
Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya
Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya
Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).

KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;

سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك2 تاؤ بركمبيرأن
مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير
مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية

(Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan
Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir
Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).

Dalam menulis kitab nadham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu (w. ?), dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;

سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب
مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا
جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم

(Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)
Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)
Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).

Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nadham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.

KH. Abdul Halim Leuwimunding wafat dan dikebumikan di tempat kelahirannya di Leuwimunding, Majalengka, pada 11 April 1972 M (bertepatan dengan 26 Safar 1392 Hijri). Beliau meninggalkan sebuah pesantren dan institusi pendidikan yang masih lestari hingga kini, yaitu Sabilul Chalim. Salah satu putra beliau, KH. Asep Saifuddin Chalim, tinggal dan berkarir di Surabaya dengan mendirikan pesantren unggulan Amanatul Ummah. KH. Asep Saifuddin Chalim pernah menjabat sebagai ketua PCNU Surabaya dan kini sebagai Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu). []

(A. Ginanjar Sya’ban)

(Hikmah of the Day) Mengapa Allah Merahasiakan Malam Lailatul Qadar?



Mengapa Allah Merahasiakan Malam Lailatul Qadar?

Lailatul qadar adalah malam terbaik dari seluruh malam-malam bulan ramadhan. Bahkan, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam lailatul qadar itu lebih baik dari pada 1000 bulan. Namun sayang, banyak versi yang menerangkan malam terjadinya lailatul qadar.

Di beberapa kitab diterangkan bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal-tanggal ganjil sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Ada juga ulama yang berpendapat lailatul qadar pernah terjadi di malam pertama bulan ramadhan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa lailatul qadar masih menjadi misteri. Mengapa demikian?

Syaikh Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyuby dalam kitabnya Risalah Nawadirul Hikayah menerangkan, Allah memang sengaja menyamarkan beberapa perkara bagi manusia. Salah satunya adalah malam seribu bulan, lailatul qadar. Ia menafsiri:

وأخفى ليلة القدر في رمضان ليجبهد الناس في إحياء لياله رجاء ان يصادفوها 

Dan Allah merahasiakan lailatul qadar di dalam bulan ramadhan supaya manusia bersungguh-sungguh dalam menghidupkan malam-malam ramadhan. Dengan harapan, manusia dapat menjumpai lailatul qadar tersebut.

Bukannya Allah itu mengada-ada tentang lailatul qadar, bukan juga Allah hanya ingin memberi harapan palsu bagi hambanya dengan iming-iming lailatul qadar.

Sesuai penjelasan di atas, Allah menyamarkan lailatul qadar tak lain hanyalah agar manusia bersungguh-sungguh di setiap malamnya.

Karena jika Allah memberi tahu kapan waktu lailatul qadar, niscaya manusia hanya akan konsentrasi pada malam itu saja. Dan bermalas-malas di malam berikutnya.

Marilah kita bersungguh-sungguh dalam setiap malam ramadhan. Dengan harapan suatu malam nanti saat kita beribadah, bertepatan dengan malam seribu bulan. Amin. []

(Ulin Nuha Karim)

Kang Komar: Muhammad, sang Pencerah Zaman



Muhammad, sang Pencerah Zaman
Oleh: Komaruddin Hidayat

BAGI umat Islam, Nabi Muhammad SAW tidak saja diposisikan sebagai nabi pamungkas seluruh nabi sebelumnya, tetapi juga sebagai sosok historis yang memberikan andil besar dalam membangun peradaban dunia. Beliau ialah pencerah zaman. Ajaran Islam yang diwariskan dan rekam jejak serta model kepemimpinannya telah menarik minat para sejarawan dunia, tidak terbatas pada intelektual muslim.

Salah satu ukuran kebesaran seorang tokoh sejarah bisa dilihat dari warisan ajarannya yang dianut dan dijaga oleh miliaran penduduk bumi. Kemudian, itu masih bertahan serta berkembang terus tanpa terputus mata rantai kesejarahannya dan autentisitas dokumen kitab sucinya.

Dalam perjalanan sejarahnya semua agama, termasuk Islam, mesti berinteraksi dengan budaya setempat sehingga pada urutannya agama dan budaya tidak mungkin dipisahkan, sekalipun asal-usulnya bisa dibedakan. Ajaran agama diyakini berasal dari Allah yang diwahyukan melalui Rasul-Nya, sedangkan budaya ialah hasil kreasi budi daya manusia, yang keduanya, saling mendukung dan memerlukan.

Agama tidak akan berkembang tanpa instrumen budaya. Agama punya klaim kebenaran universal, sedangkan ekspresi budaya selalu bersifat lokal-kontekstual sehingga kita mengenal konsep kebenaran normative-universal dan kebajikan partikular (local wisdom)

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW diyakini sebagai penutup para rasul Allah. Namun, jika sosok Muhammad diposisikan sebagai tokoh sejarah pencerah zaman, akan terlihat bahwa setelah Muhammad memang tak ada lagi rasul Allah yang membawa ajaran baru.

Di berbagai belahan bumi, pernah muncul tokoh-tokoh pencerah zaman yang membawa pesan Allah yang warisannya tetap bertahan dan tumbuh meskipun kita tidak tahu sejarah hidup pembawanya. Asumsi ini sangat sejalan dengan Alquran yang menyatakan bahwa Allah pernah mengirim rasul-rasul-Nya ke muka bumi, sebagian diceritakan dalam Alquran dan sebagian lagi tidak diceritakan (Al Mukmin 40 : 78).

Berbagai warisan ajaran rasul Allah, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, merupakan al-hikmah al-khalidah atau perennial wisdoms yang menjadi inspirasi tumbuhnya nilai-nilai dan tradisi kebaikan (al-ma'ruf) yang berkembang di berbagai komunitas di muka bumi, apa pun suku dan agamanya. Kecenderungan masyarakat memilih kebaikan, yang dalam bahasa Alquran disebut al-khair dan al-ma'ruf juga didorong fitrah yang ditanamkan Allah kepada setiap anak Adam yang pada dasarnya selalu menyenangi kebaikan, kebenaran, kedamaian, dan keindahan.

Jadi, menurut ajaran Rasulullah Muhammad, setiap pribadi pada dasarnya baik dan mengarah pada kebaikan, apa pun etnik dan keyakinannya. Kata khair (kebaikan) yang puluhan kali disebutkan dalam Alquran seakar dengan kata khara (memilih) dan ikhtiar yang artinya sebuah tindakan akan memiliki nilai moral kebaikan jika dilakukan atas dasar pertimbangan secara sadar dan pilihan bebas. Bukan produk ancaman dan keterpaksaan.

Oleh karena itu, Allah berfirman, tak ada kebaikan dan kesalehan dalam beragama jika dilakukan karena terpaksa (Albaqarah 2: 256). Jika kita mau jujur dan berempati pada tradisi-tradisi masyarakat mana pun di muka bumi ini akan ditemukan spirit dan dorongan untuk hidup secara baik, benar, damai, dan indah.

Rasulullah Muhammad sendiri menyatakan bahwa kehadirannya untuk menjaga, meneruskan, dan menyempurnakan ajaran-ajaran para rasul Allah yang sebelumnya. Dengan kata lain, ajaran Islam bersikap inklusif, menghargai ajar-an para nabi sebelumnya dan berbagai hikmah dari mana pun datangnya. Oleh karena itu, dalam studi Islam dibedakan antara kajian Islam tekstual-normatif dan Islam historis-sosiologis. Yang kedua ini ialah Islam yang dipahami, ditafsirkan, dan diekspresikan para pemeluknya sehingga melahirkan fenomena Islam Arab, Islam Nusantara, dan Islam di berbagai wilayah lain.

Dalam konteks ini ekspresi keislaman di Indonesia jauh lebih kaya ketimbang di Timur Tengah karena pemahaman dan perkembangan Islam tak bisa dipisahkan dari pengaruh budaya pemeluknya. Makanya, kita perlu membedakan antara Islamisme dan Arabisme, sebagaimana juga kita mesti membedakan antara Islam doktrinal dan Islam kultural. Antara budaya dan wahyu. []

MEDIA INDONESIA, 30 November 2017
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta