Selasa, 27 September 2016

(Do'a of the Day) 25 Dzulhijjah 1437H



Bismillah irRahman irRaheem

In the Name of Allah, The Most Gracious, The Most Kind

Allaahumma innii as'alukal hudaa wa tuqaa wal 'afaafa wal ghinaa.

Ya Allah, aku memohon hidayah, ketakwaan, 'afaf (ketahanan menjaga diri) dan kekayaan kepada-Mu.

Dari Kitab Al-Adzkar - Imam An-Nawawi, Bagian 9.

(Tokoh of the Day) KH. Ghozaly bin Lanah, Sarang, Rembang - Jawa Tengah



Mengenal Mbah Ghozaly bin Lanah, Pendiri Pesantren Sarang


KH Ghozaly bin Lanah lahir di Madura tahun 1184 H atau sekitar 1770 M. Masa kecil beliau lebih akrab dipanggil Saliyo. Pada masa remajanya beliau nyantri di pesantren Dukuh Belitung Desa Kalipang Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang diasuh oleh Kiai Mursyidin.

Pada suatu hari datanglah seorang santri dari Pesantren Makam Agung Tuban yang beranama Jawahir, ia adalah santri Kiai Ma'ruf yang hendak pulang, namun singgah di Belitung, dan santri tersebut menginap di kamar Saliyo. Menurut literatur sejarah yang ada, Jawahir adalah seorang santri yang mahir dalam bidang ilmu fiqih. Pada saat itu mereka berdiskusi tentang ilmu fiqih dan nahwu, sebelum berdiskusi mereka telah berkonsensus, siapa yang kalah akan mengaji kepada si pemenang. Dalam diskusi tersebut akhirnya tidak ada yang menang atau yang kalah. Maka dengan keputusan mereka bersama, akhirnya mereka sepakat bertukar tempat, Saliyo menimba ilmu di Makam Agung Tuban dan Jawahir di Belitung.

Setelah sekian lama Saliyo menimba ilmu di Makam Agung bersama Kiai Ma'ruf, akhirnya sang kiai mengevaluasi para santrinya dengan pertanyaan mengenai ilmu nahwu. Sebelum melontarkan pertanyaan kepada santrinya, Kiai Ma'ruf berjanji kalau ada yang bisa menjawab, akan dijadikan saudara iparnya.

Setelah pertanyaan tersebut dilontarkan oleh sang kiai, keadaan berubah menjadi hening karena tidak ada satu pun santri yang menyahut untuk menjawabnya. Akhirnya ada salah seorang santri yang berkata: "Nyuwun sewu, Yai, wonten santri ingkang saget jawab, asmanipun Saliyo ingkang dipun laqobi Tumpul (Maaf, Yai, ada santri yang bisa menjawab, namanya Saliyo atau yang dijuluki Tumpul, red).”

Karena pertanyaan Kiai Ma’ruf merupakan bidang ilmu keahlian Saliyo, maka tidak menjadi hal yang sulit untuk menjawabnya. Akhirnya kiai menepati janjinya dan mengangkat Saliyo menjadi saudara iparnya, dijodohkan dengan Pinang (putri dari KH Muchdlor Sidoarjo). Tidak ada kuasa untuk Saliyo menolak kehendak dari sang kiai, sebagai santri yang selalu mengharap ridlo sang kiai. Di sisi lain, Saliyo berkesempatan untuk mendalami ilmu fiqih yang memang sebelumnya belum sempat untuk didalami. Hingga akhirnya Saliyo diizinkan pulang.

Setelah kembali ke Sarang, beberapa saat kemudian beliau mendapatkan tanah wakaf dari seorang dermawan (ayah Kiai Muhsin Sarang). Kemudian beliau mendirikan pondok dan masjid, yang sekarang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Ma'hadul Ilmi Asy-Syar'ie (MIS).

Beberapa tahun kemudian kira-kira pada abad 12 H, beliau pergi ke Tanah Suci dengan mengarungi samudra yang menghabiskan waktu 7 bulan lamanya. Sesampainya di Tanah Suci ternyata para jamaah haji telah melakukan wuquf di Arafah, sehingga ia pun harus menunggu waktu 1 tahun lamanya untuk menunaikan ibadah haji kembali. Kesempatan itu tidak disia-siakannya, Saliyo gunakan untuk menuntut ilmu kepada para ulama di Makkah. Sampai akhirnya beliau mampu menulis kitab "Tafsir Jajalain" yang kini masih tersimpan rapi di Pondok Pesantren MIS Sarang. Sebagai tafa'ul, sekembalinya beliau dari tanah suci berganti nama menjadi Ghozaly.

Perkembangan Pondok Sarang

Meski Kiai Ghozaly telah tiada, bukan berarti pondok pesantren itu tutup. Perjuangan Kiai Ghozaly diteruskan oleh menantunya yang bernama KH Umar bin Harun. Sejak itu, nama Pondok Pesantren Sarang semakin dikenal oleh banyak orang baik masyarakat lokal maupun luar daerah.

Pada saat pondok pesantren berkembang, Kiai Umar tak lagi sanggup meneruskan perjuangan orang tuanya karena sakit. Kemudian beliau meninggal pada 1890. Setelah pergantian kepemimpinan, kendali pesantren dipegang oleh KH Fathurrohman (putra KH Ghozaly) hingga 1962.

Selanjutnya, pimpinan pesantren berikutnya adalah KH Syu'aib yang dibantu oleh dua putranya, KH Achmad dan KH Imam Kholil.

Setelah Kiai Syu'aib meninggal, Pondok Pesantren Sarang itu dibagi menjadi dua, yaitu Pondok Pesantren Ma'had Ilmisy Syar'i (MIS) yang diasuh oleh KH Imam Kholil dan Pondok Pesantren Ma'hadul Ulumisy Syar'iyyah (MUS) yang diasuh oleh KH Achmad dan KH Zuibair Dahlan. Generasi pimpinan berikutnya adalah KH Abdurrochim.

Sumber:
1.     Buku Al-Shibghah (Penyusun M-Qta Crew Tahun 1427 H), Sarang;
2.     Suara Merdeka (2 Nopember 2004)

[]

(Aan Ainun Najib)

Buya Syafii: Islam Ditelikung oleh Kelompok Elitenya



Islam Ditelikung oleh Kelompok Elitenya
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Telikung (bahasa Jawa) diberi awalan me menjadi menelikung berati “mengikat kaki dan tangan” sehingga tidak bisa bergerak bebas, apakah itu manusia, hewan, atau pun sesuatu yang bersifat abstrak, seperti agama, ideologi, dan sebagainya. Maka Islam menjadi sesuatu yang tersandera karena ditelikung oleh kelompok elite umatnya sendiri yang telah berhenti berfikir kreatif.

Akibatnya, agama ini telah berubah menjadi fosil, membeku, tidak lagi menawarkan solusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial kemanusiaan. Adapun diktum Alquran tentang misi kenabian sebagai “rahmat bagi alam semesta” (s. al-Anbiyâ’: 107) telah menjadi hampa di tangan elite Muslim yang tuna kejujuran, tuna kreativitas, dan tuna inisiatif.

Diktum ini masih dikutip berulang-ulang oleh berbagai kalangan, tetapi tanpa pemahaman yang benar dan dalam. Diktum ini telah kehilangan dinamika pemahaman yang segar akibat telikungan yang demikian dahsyat dalam baju teologis, faham politik, sukuisme, dan sektarianisme. Benar, secara teoretik, Islam adalah agama pembela keadilan dan persaudaraan sejati sebagai wujud ajaran tauhid dalam kehidupan kolektif manusia. Lain teori, lain pula kenyataan. Godaan duniawi berupa benda dan kekuasaan yang melingkari kelompok elite ini (penguasa dan ulama) dalam kurun yang panjang telah menjadikan umat ini seperti ayam kehilangan induk. Bukti yang teranyar, tengoklah tanah Suria dan Irak, tak ubahnya seperti kepingan neraka yang dipindahkan ke bumi. 

Ulama yang biasa menyebut dirinya sebagai “ahli waris para nabi” tidak jarang bersekongkol dengan penguasa yang busuk sekalipun. Untaian tasbih dan jubah panjang tidak jarang dipakai sebagai tameng suci untuk mengelabui umat yang buta politik, buta agama, dan minus pendidikan. Munculnya ulama sunni, ulama syi’ah, ulama khawarij dengan klaim kebenarannya masing-masing adalah akibat belaka dari perseteruan elite Arab Muslim yang berebut kuasa di masa awal, sebagaimana yang pernah ditulis di ruang ini.

Jalan ke luarnya adalah agar Islam kenabian dipisahkan dari sektarianisme Arabisme politik kekuasaan yang telah menelikung agama ini tanpa perasaan dosa. Tidak ada yang perlu dicemaskan, selama al-Qur’an dijadikan pedoman pertama dan utama. Nabi Muhammad sebagai pelanjut risalah nabi Ibrahim dengan susah payah telah meruntuhkan norma-norma sektarisnisme, sukuisme, dan kebanggaan atas ajaran leluhur yang lepas dari kawalan tauhid dan cita-cita tentang keadilan. Adalah sebuah ironi yang sangat melelahkan, ajaran yang begini universal, anggun, dan humanis, telah dicemari oleh daki-daki sektarianisme dan sukuisme yang membunuh cita-cita suci Islam.

Semestinya elite Arab Muslim menyadari bahwa Islam itu bukan hanya untuk mereka, tetapi untuk kemanusiaan sejagat. Tidak ada hak mereka untuk memenopoli kebenaran Islam sebagaimana yang terkesan dari faham Wahabisme, bentuk ekstrem sunnisme, dan syi’sme. Gerakan al-Qaedah dan ISIS tidak lain dari Wahabisme radikal yang kini sedang menggali kuburan masa depan Islam. Adapun pihak Barat yang ikut bermain untuk melumpuhkan dunia Arab Muslim yang telah mereka peras selama ini adalah akibat belaka dari suasana internal Arab yang semakin merapuh dan tak kunjung sadarkan diri. Islam yang dibungkus dalam mantel sektarianisme dan sukuisme jelas berkhianat terhadap al-Qur’an dan cita-cita kenabian.

Memang tidaklah mudah mengurai benang kusut yang sudah berusia berabad-abad, tetapi jika Alquran difahami secara benar dan tulus,  benang kusut itu pasti bisa diurai. Masalahnya tidaklah rumit amat dan bahkan sederhana: bersediakah kita menundukkan egoisme dan subjektivisme kita kepada perintah Alquran tentang kesatuan dan persaudaraan umat beriman? Selama egoisme dan subjektivisme yang jadi sesembahan, selama itu pulah malapetaka dan palu godam sejarah akan senantiasa mengejar kita sehingga umat ini luluh berkeping-keping. Saya teringat ucapan Prof. Fazlur Rahman: “Jika bahan bakar lenyap dari bumi pasti akan ada gantinya. Tetapi jika Islam yang hilang, tidak akan ada gantinya.” Ucapan ini teramat dalam dan tajam yang menembus relung-relung saraf mereka yang masih punya kepekaan ruhani.

Akhirnya, Alquran dalam surat al-Shaff (61):4 menggambarkan mereka yang berjuang di jalan Allah dalam barisan yang rapi, “mereka seperti sebuah bangunan yang kokoh dan kompak.” Sekarang tengoklah situasi dunia Muslim, jangankan penaka bangunan yang kokoh, bangunan itu sendiri telah roboh di tangan elitenya yang merasa benar di jalan yang sesat. Lalu, siapa kita sebenarnya? Inilah peta global umat Muhammad yang mesti diubah dengan pemahaman agama yang benar dan perbuatan yang konkret. Jalan lain adalah jalan kehancuran! []

REPUBLIKA, 27 September 2016, 06:00 WIB
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Dahlan: Kiai Ahong dari Makam Wali Ningxia



Kiai Ahong dari Makam Wali Ningxia
Oleh: Dahlan Iskan

Inilah pengalaman saya jumatan di satu di antara 3.100 masjid di Provinsi Ningxia, Tiongkok bagian barat. Saya memilih masjid itu demi kepraktisan. Lokasinya di tengah kota. Kota Wuzhong, dua jam dari Yinchun, ibu kota Provinsi Ningxia. Masjid itu bersebelahan dengan restoran. Selama saya jumatan, istri saya bisa makan siang. Bersama beberapa teman Tiongkok yang mengaku ber-Tuhan tapi tidak beragama.

Sebenarnya saya bisa jumatan di satu masjid berumur 600 tahun. Bahkan, ada dua yang segitu tuanya. Sama-sama besarnya. Sama-sama seperti kelenteng bentuknya. Yang pagi itu juga sama-sama saya kunjungi. Yang dua jam jaraknya dari Wuzhong. Tapi, hari masih terlalu pagi. Lebih baik saya jalan lagi. Waktu yang tersedia bisa saya manfaatkan untuk ziarah. Ke makam wali penyebar Islam di Ningxia: Kiai Hong Shou-lin.

Saya membayangkan betapa sulitnya Kiai Hong Shou-lin membawa Islam ke Tiongkok. Hingga ada 70 juta orang Islam di sana saat ini. Makam itu terletak di tengah gurun pasir. Dua jam naik mobil dari Kota Wuzhong, tempat saya jumatan tadi. Tidak ada kampung di dekat makam itu. Dari jarak setengah jam, saya sudah bisa melihat makam itu. Dari menara-menaranya yang tinggi. Begitu megahnya, semula saya pikir itu masjid besar.

Ada empat menara setinggi menara Masjid Istiqlal, Jakarta. Di tengah menara-menara hijau itu, terlihat kubah besar yang juga berwarna hijau. Itukah masjid utama di kompleks makam waliullah ini? Ternyata bukan. Menara-menara itu dan kubah besar itu ternyata hanya pintu gerbangnya. Di balik bangunan gerbang tersebut, masih banyak bangunan lain. Masing-masing memiliki gerbang sendiri. Juga menara sendiri. Yang paling belakang barulah bangunan seperti masjid. Saya menapaki tangga-tangganya. Ternyata itu juga bukan masjid. Itulah makamnya.

Tiga orang terlihat sedang berdoa di dekat makam itu. Satu orang lagi, tua, berada di lantai atas. Lagi menyimak kitab. Saya tidak mau menegur mereka. Agar tidak mengganggu. Saya langsung menyiapkan diri untuk sembahyang sunah. Menghadap searah dengan mihrab, tempat imam, yang lagi kosong.

Begitu melakukan gerakan takbiratul ihram (gerakan pertama salat dengan mengangkat kedua tangan sampai setinggi telinga), orang yang menyimak kitab tadi berteriak-teriak ke arah saya. Marah-marah. Saya membatalkan sembahyang saya. Saya datangi dia. ”Saya tidak mengerti mengapa Anda marahi saya,” kata saya. Dalam bahasa Mandarin.

”Anda ini Islam atau bukan?” ”Islam,” jawab saya. ”Kok tidak tahu cara sembahyang?” tanyanya, masih dengan nada tinggi.

Saya memahami sikapnya itu. Orang Islam di Tiongkok umumnya curiga dengan orang asing. Atau orang yang bukan suku Hui.

”Apanya yang salah?” tanya saya. ”Menghadap ke mana sembahyangmu itu?” tegurnya. Oh, saya tahu. Saya tadi ternyata menghadap ke utara. Bukan menghadap ke barat.

Lalu, saya jelaskan bahwa saya tadi hanya mengikuti arah mihrab. Tempat imam. Begitulah di Indonesia. ”Itu bukan tempat imam,” katanya. ”Itu kamar saya,” lanjut dia.

Saya baru sadar bahwa ini kan bukan masjid. Tidak ada tempat imam. Ini bangunan makam. Meski bentuknya, besarnya, dan penataan karpetnya persis seperti masjid. Saya pun kembali salat. Dengan arah yang benar. Lalu membaca Alquran. Seusai berziarah, di halaman tengah kompleks itu saya bertemu dengan rombongan yang berdoa tadi. Dialah yang memberi tahu saya siapa yang dimakamkan di situ.

”Beliau itu wali Allah,” katanya. Rombongan itu sendiri datang dari satu desa sekitar 30 menit dari situ. Ternyata dia juga seorang kiai. Yang di Tiongkok disebut ahong. Kalau lagi tidak liburan musim panas, ada 200-an santri yang mondok di kompleks makam itu, katanya. Masih adakah keturunan wali ini? Masih. Cucunya. Yang sekarang juga jadi tokoh agama. Dan tokoh politik. Tinggalnya di ibu kota Provinsi Ningxia, Yinchun. Namanya Kiai (Ahong) Hong Yang. Beliau tamatan Beijing University, Harvard-nya Tiongkok. Kini juga menjabat wakil ketua DPRD Provinsi Ningxia.

Tiga hari saya keliling propinsi itu. Terutama ke gurun pasir Gobi. Untuk meninjau pembangkit listrik tenaga angin. Yang lagi dibangun besar-besaran di gurun pasir itu. Yang satu kincirnya sudah bisa menghasilkan 2 mw. Dalam perjalanan dua jam berikutnya, saya melintasi desa-desa pertanian Tiongkok. Tapi, perasaan saya seperti melintasi desa-desa di Lombok: begitu banyak masjidnya. Di tiap desa, pasti ada satu atau dua masjid besar. Terlihat dari menara-menara tingginya. Satu masjid umumnya memiliki tiga menara.

Akhirnya, saya tiba di masjid besar Kota Wuzhong. Masih ada waktu setengah jam untuk menemani istri dan teman-teman saya makan siang. Tapi, saya memilih ke masjid lebih awal. Ada zikir tertentu yang harus saya lakukan sebelum jumatan itu. Tepat pukul 13.00, imam masjid tiba dan duduk di dekat mihrab.

Tujuh orang lainnya, yang semua berpakaian persis imam, duduk berjajar di belakangnya. Saya mengembalikan tasbih dan duduk di barisan berikutnya. Masjid di lantai dua itu sudah mulai penuh. Sang imam berbalik menghadap ke jamaah. Lalu bersama-sama melafalkan salawat nabi. Dibaca dari buku tipis. Ada dua podium di masjid itu. Yang satu di dekat tempat imam. Bentuknya mirip podium pidato. Satunya dihiasi ukiran. Tepat pukul 13.30, seorang pengurus tampil ke dekat imam. Membawa dua lidi hio. Seperti di kelenteng. Ujung lidi hio itu dibakar. Lalu, lidi ditancapkan di dupa.

Saat itulah sang imam berdiri menuju podium. Berpidato. Ceramah agama. Dalam bahasa Mandarin. Tanpa assalamualaikum.  Lima belas menit kemudian, ada azan. Lalu salat sunah empat rakaat. Sesaat kemudian, satu di antara tujuh orang tadi berdiri. Menuju podium berukir. Mengambil tongkat. Dan mulai mendendangkan kalimat-kalimat berbahasa Arab. Semula saya pikir itu bilal sebelum khatib naik ke mimbar.

Tapi, dendangnya kok tidak selesai-selesai. Lima menit kemudian dia duduk sekedipan mata, lalu mendendangkan lagi kalimat-kalimat berbahasa Arab dengan lagu mengalun-alun. Dendang itu secara total sekitar 7 menit. Lalu, ada iqamah. Tanda salat segera dimulai. Oh, dendang tadi ternyata khotbah. Dia bukan bilal, melainkan khatib. Begitu singkat dan simpel khotbah tersebut. Karena itu, rupanya, ada ceramah sebelumnya. Kalau mengandalkan isi khotbahnya saja, pasti tidak banyak yang paham apa maksudnya.

Habis jumatan, saya ngobrol dengan beberapa anak muda di serambi masjid. Ternyata mereka para ustad madrasah. Dari provinsi lain: Yunnan. Saya pun bertanya apakah di Yunnan khotbah juga dilagukan. ”Tidak,” katanya.

Saya tahu, Islam di Tiongkok hampir semuanya bermazhab Hanafi. Dan hampir semuanya penganut tarekat. Satu prinsip yang mengutamakan hubungan batiniah. Bukan hanya lahiriah. Tapi, umumnya, tarekat mereka terbelah dalam aliran-aliran sufi yang sangat banyak.

Wali tadi, misalnya, mengajarkan filsafat sufi Khuffiyah. Zikir Khuffiyah. Di seberangnya, ada aliran Jahriyyah. Sedang anak muda dari Yunnan tadi mengaku menganut Qadiriyah. Selama 35 tahun terakhir mengikuti perkembangan Tiongkok, saya melihat ini: Kian banyak anak muda datang ke masjid. Ini sangat berbeda dengan 35 tahun lalu, yang kalau ke masjid hanya melihat orang-orang renta. (*)