Rabu, 24 Agustus 2016

Buya Syafii: Karya James R Rush tentang Hamka



Karya James R Rush tentang Hamka
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Jika Anda pernah membaca Resonansi bertanggal 18 Juni 2013, di bawah judul "Hamka's Great Story: Islam for Indonesia", tentu akan cepat menangkap ke mana arah tulisan kali ini.

Resonansi itu adalah hasil pembicraan saya pada 8 Juni 2013 dengan Prof James R Rush di suatu tempat di Jakarta yang pada waktu itu sudah menyiapkan sebuah karya tentang Hamka (1908-1981), semacam biografi dan alur fikir tentang sosok manusia Indonesia multitalenta ini.

Rush adalah guru besar sejarah pada Universitas Arizona, Amerika Serikat. Karya tentang Hamka ini semula diharapkan terbit pada 2014. Baru tahun ini menjadi kenyataan. Mengapa dimunculkan lagi karya ini? Tentu ada pemicunya.

Pada 16 Agustus 2016 saya menerima email dari James Rush dengan penyesalan karena karyanya dengan judul lengkap: Hamka's Great Story, A Master's Vision of Islam for Modern Indonesia (University of Wisconsin Press, Juni 2016) telah dikirim ke alamat saya di Yogyakarta, tetapi tidak sampai.

Menurut Rush, kiriman itu telah dirusak oleh imigrasi di Indonesia, mungkin karena biaya pengiriman tidak cukup, sesuatu yang tidak disadari oleh penulisnya sebelum itu. Tentu saja berita ini tidak sedap dibaca, tetapi demikian itulah yang berlaku.

Karena kejadian itu, Rush menulis; "I shall hope to deliver a copy in person the next time I am in Indonesia." Sebagai tanda terima kasih kepada Prof Rush, saya jawab begini: "It seems the Indonesian customs have no intellectual sensitivity on Hamka, unfortunately. I'm sorry to say that. Thanks a million."

Semoga karya penting ini akan segera diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebagaimana yang telah saya sampaikan kepada penulisnya pada 8 Juni 2013. Adapun tentang imigrasi yang merusak kiriman itu, tidak perlu dipermasalahkan karena mungkin aturannya memang demikian.

Hamka adalah ibarat sumur dalam yang jernih airnya dan tidak akan pernah habis ditimba oleh siapa pun. Semakin ditimba, semakin pahamlah kita bahwa air sumur ini bersumber jauh di dunia hakekat. Entah sudah berapa tesis dan disertasi tentang pemikiran tokoh yang tidak tamat sekolah dasar ini telah ditulis oleh para peneliti.

"Berbahagialah Engkau, Hamka di alam sana. Karya tulis yang dicetak ulang dan suara engkau yang serak-serak basah dalam kaset dan Youtube masih tetap saja dibaca dan didengar oleh para penggemarmu di dunia Melayu dan di kalangan bangsa asing. Sungguh batang usiamu yang penuh makna merupakan sumbangan besar bagi Islam dan Indonesia. Bangsa ini berutang budi kepada Engkau, Hamka!"

Menurut Rush, dalam pemikiran keislaman, Hamka mengambil jalan tengah antara kutub Muktazilah dan kutub 'Asy'ariyah: dua mazhab teologis kelasik yang masih saja mempengaruhi cara berfikir dunia Muslim sampai hari ini.

Sebenarnya yang ingin segera saya telusuri adalah penilaian Rush tentang karya besar Hamka berupa Tafsir al-Azhar genap 30 juz. Karena kiriman Rush mengalami kecelakaan di jalan, saya jadi penasaran.

Lalu internet dibuka.

Ternyata memang sudah ada bagian-bagian dari karya Rush itu ditampilkan, tetapi belum menyentuh Tafsir al-Azhar. Sekitar sepertiga dari isi karya yang tebalnya lebih sedikit dari 300 halaman itu barulah membicarakan karya-karya Hamka yang lain, seperti novel-novel, Ayahku, dan lainnya.

Untuk menimbang pentingnya karya Rush ini, kesaksian Indonesianis Amerika, Robert W Hefner dari Universitas Boston, diturunkan berikut ini: ''Dalam sejarah modern Indonesia, selain Hamka, sedikit intelektual dan aktivis Muslim yang mendapat tempat demikian luas. Dalam karya tulis yang kaya, rinci, dan elok ini, James Rush telah melengkapi sebuah laporan yang hidup, tajam tentang manusia yang rumit ini. Ini adalahsumbangan penting bagi pemahaman kita tentang Indonesia dan Islam Indonesia.''

Kesaksian lain ditulis oleh Eric Tagliacozzo (Universitas Kornel, Amerika): "A tour de force of historical writing. This is an epic work that will prove very important." (Sebuah kekuatan penulisan sejarah. Ini adalah sebuah karya hebat yang jelas sangat penting).

Dengan catatan ini, Resonansi ini ingin menggoda tuan dan puan untuk suatu ketika membaca karya Rush tentang Hamka ini. []

REPUBLIKA, 23 Agustus 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar