Senin, 29 Agustus 2016

Cak Nun: Perang Terhadap Kata



Perang Terhadap Kata
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Apakah engkau menemukan dan merasakan bahwa tulisan-tulisanku terlalu menyeretmu ke daerah antah barantah yang tak jelas ujung pangkalnya? Mencampakkanmu ke dalam hutan belantara yang bersemak-semak berimbun-rimbun tak jelas barat timur dan selatan utaranya?

Anak cucuku dan para jm mohon memafhumi bahwa tulisan ini bukan untuk publik, melainkan hanya buat kalian. Publik atau masyarakat umum, utamanya kaum cerdik pandai, sudah khatam dulu-dulu, sehingga tidak butuh ini. Anak cucu dan para jm yang masih harus belajar dan terus menerus belajar.

Ataukah engkau menyangka aku melemparkanmu ke seberang cakrawala, di mana setiap kata tak engkau pahami maknanya, apalagi susunan dan maksudku di belakangnya? Atau sebagian dari engkau berpikir bahwa aku menerbangkan pikiran, hati dan jiwamu ke angkasa yang tanpa kiri kanan atas bawah? Ke langit yang semakin engkau tembus semakin sirna rumusannya?

Sudah pasti akan aku turuti reaksi dan kemauan sesaatmu. Aku akan ada bersamamu di ruang yang terbatas, di atas tanah yang bisa dipijak secara sederhana, di dalam utusan yang lurus-lurus dan datar-datar saja.

Meskipun demikian sebelumnya aku titip satu pertanyaan: yang kau sebut hutan belantara, seberang cakrawala, angkasa tanpa kiri kanan dan langit yang tak ada rumusannya itu — bukankah memang di situlah hidupmu berada? Coba engkau diam sesaat, pelan-pelan tengok dan rasakan kiri kananmu. Bukankah engkau memang sedang berada di kepungan urusan-urusan yang setelah beberapa langkah kau tempuh: engkau terbuntu oleh hutan belantara yang remang dan gelap? Engkau terkatung-katung secara tidak masuk akal seakan-akan berada di seberang cakrawala?

Engkau mendengar ada yang disebut masyarakat, negara, hukum, demokrasi, pembangunan, pasar uang, pilkada, pejabat, ulama, ustadz, preman, pengaturan harga, jembatan jebol dan kereta cepat, dan seribu fakta lain — bukankah itu semua adalah angkasa ketidakjelasan, langit ketidakmenentuan, seberang cakrawala yang jauh dari masuk akal, serta senyata-nyatanya hutan belantara?

***

Baiklah kita belok ke jalanan kecil sejenak, nanti kita akan kembali ke jalanan utama yang terjal dan bergerunjal-gerunjal itu.

Sebenarnya yang utama bukanlah jalan yang mana dan yang bagaimana. Yang kita upayakan adalah di jalanan apapun kita tetap memperjuangkan kedekatan hati di antara kita, sekaligus kedekatan kita bersama kepada pangkal jalan dan ujung jalan. Engkau tahu, pangkal dan ujung jalan itu Satu.

Maka langkah pertama memasuki jalanan kecil itu adalah, menurutku, adalah dengan mengubah kata “aku” dengan “saya”, kata “engkau” dengan “anda”. Pilihan kata, sebutan atau panggilan ini sangat menentukan rasa dekat atau jauh di antara kita. Bahkan mengendalikan dimensi makna dan nuansa setiap yang tersambungkan di antara kita, baik kata maupun tali silaturahmi yang lain.

Apakah engkau merasa lebih dekat padaku kalau kusebut diriku “aku” dan kusebut dirimu “engkau”?  Pada yang kurasakan, kata “aku” itu kerelaanku memasukkanmu ke dalam diriku yang lebih dalam. Ibarat tamu, kujamu engkau tidak di beranda, melainkan di ruang dalam, bahkan sesekali kutuntun engkau memasuki kamar pribadiku.

Kupanggil engkau dengan “engkau” karena yang kupanggil bukan sekedar seseorang, bukan sekedar orang di antara orang-orang, bukan sekedar warga dari suatu negara dan bagian dari masyarakat atau institusi atau golongan. “Engkau” yang kupanggil adalah engkau yang di dalam, yang lebih pribadi, yang mungkin agak kau bungkus dengan selubung rahasia.

***

Akan tetapi mungkin sekali bukan itu yang berlangsung di antara kita. Dengan “engkau” dan “aku” bisa jadi engkau malah menjadi merasa asing. Dan akibatnya mungkin membuatmu terlempar akan menjauh dariku.

Komunikasi bahasa dan perhubungan kata dalam pergaulan sosial yang kita alami selama ini mungkin membuat aku-engkau itu menimbulkan semacam eksklusivitas. Kita jadi merasa kurang santai, kurang akrab, kurang dekat, kurang sehari-hari, kurang ‘egaliter’ kata anak-anak sekarang. Kenapa gerangan ini? Bagaimana mungkin tindakan komunikasi yang memakai kata yang paling privat justru menghasilkan kejauhan sosial? Apa yang menyebabkan seorang manusia yang memasukkan saudaranya ke ruang yang terdalam dari jiwanya, menghasilkan hal yang sebaliknya?

Ternyata kita punya masalah besar dan serius dengan kata. Ternyata perhubungan sosial dan interaksi kebudayaan kita justru terancam jadi merapuh atau minimal menjadi tidak pernah matang nilainya, justru oleh alat utamanya. Kata adalah salah satu instrumen andalan untuk menyelenggarakan bebrayan dan membangun silaturahmi. Dan terbukti kata itu pulalah yang potensinya sangat tinggi untuk merusaknya.

Hari-hari ini engkau bergaul dengan ummat manusia di seluruh dunia melalui terutama kata di media massa, media sosial, hutan rimba dunia maya, persambungan lewat aplikasi mengobrol tertulis dengan kerja jari-jari. Muwajjahah atau berjumpa wajah dengan wajah berkurang mungkin sampai hampir 90%. Padahal dalam interaksi muwajjahah langsung pun kita masih punya persoalan dengan kata, kalimat, ungkapan, istilah dan idiom.

Jangan bicarakan dulu akibat baik atau buruk hutan rimba maya itu dengan persoalan tanggungjawab, kejujuran, kebenaran, ketulusan, membengkaknya hak dan menyusutnya kewajiban. Jangan dulu. Itu tema yang seribu kali lebih besar dibanding urusan “satu kata” yang sedang kita selami sekarang ini.

***

Silahkan engkau menggambar, mempetakan dan mensimulasikan jika kupanggil engkau dengan “anda” atau “kamu” atau “ente” atau “antum” atau “kowe” atau “elu” atau “koen” atau “you” bahkan aku melarikan diri menghindari resiko sehingga memanggilmu dengan namamu, atau “jij” atau “siro” atau “sira” atau “ndiko” dan apapun sangat banyak kemungkinannya. Alias sangat tinggi ketidakpastian dimensi silaturahminya. Sangat luas ketidakmenentuan nuansanya.

Apa yang kau pilih. Kepadamu aku menyebut diriku “aku” ataukah “saya” ataukah “kami” ataukah “ana” ataukah “ane” ataukah “reang” ataukah “alfaqir” ataukah “kawulo” ataukah “hamba Allah” atau kata apapun barangkali engkau punya gagasan. Semoga engkau menemukan fakta bahwa sesungguhnya engkau dan aku, kita dan masyarakat, sesungguhnya sedang berada dalam situasi perang terhadap kata. Bahkan negara dan koalisi negara-negara di muka bumi ini menindasmu, merampokmu, menipumu, memperdayakanmu, memiskinkanmu, dengan alat paling ampuh, yaitu kata. []

Dari CN kepada anak-cucu dan JM
Yogya 14 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar