Selasa, 23 Agustus 2016

Helmy Faishal Zaini: Dari Kemerdekaan ke Kemerdekaan



Dari Kemerdekaan ke Kemerdekaan
Oleh: A Helmy Faishal Zaini

"Merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas.., di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa.., satu ke dunia sama ratap sama tangis!" (Ir Sukarno)

Sebagai salah satu ikhtiar untuk membaca tata masa depan Indonesia adalah dengan cara bermuhasabah serta merefleksikan perjalanan 71 tahun kemerdekaan yang telah dilaluinya. Dengan membaca sejarah masa lampau bangsa Indonesia, semoga kita dapat lebih jernih serta lebih bijak dalam menentukan langkah pembangunan di Indonesia pada masa yang akan datang.

Sebab, kegagalan yang utama dan sudah lama diidap oleh bangsa Indonesia, meminjam analisis Sri Edi Swasono (2014), adalah kegagalannya dalam membedakan makna antara pembangunan Indonesia dan membangun Indonesia. Dua frasa tersebut sekalipun terdengar mirip, tapi sejatinya memiliki arti yang jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Pembangunan Indonesia berarti pembangunan segala aspek kehidupan dan elemen bangsa Indonesia, terutama menyangkut pembangunan sumber daya manusianya. Pembangunan Indonesia berorientasi kepada software dan peranti lunak bangsa Indonesia. Ia bersifat sublim dan cenderung tidak tampak. Sebab, pembangunan tersebut menyangkut terutama kepada pola pikir dan mental manusia.

Adapun membangun di Indonesia berarti melakukan pembangunan di wilayah Indonesia. Pembangunan di wilayah Indonesia sesungguhnya memiliki kerancuan dan kejanggalan yang sangat kompleks. Sebab, di samping lebih bernuansa pembangunan fisik, subjek terhadap membangun di Indonesia sesungguhnya tidaklah jelas. Ia bisa saja dilakukan oleh pihak-pihak asing yang berkepentingan untuk mengekploitasi Indonesia.

Mempertagas perbedaan dua frasa di atas adalah modal dasar bagi kita untuk melangkah lebih jauh dalam mengisi serta memaknai kemerdekaan Indonesia. Apalagi, di usia yang menapaki 70 tahun ini, sudah sepatutnya yang kita lakukan haruslah membangun indonesia, bukan malah lebih mementingkan pembangunan di Indonesia.

Membangun jiwa, membangun raga

Dalam bait lagu kebangsaan kita tertera sebuah kalimat "bangunlah jiwanya, bangunlah badannya..." Bait tersebut adalah alarm pengingat bahwa yang pertama kali harus kita bangunkan adalah jiwa manusia Indonesia. Bait tersebut juga mengandung arti bahwa jiwa adalah komponen utama yang harus dibenahi sebagai instrumen penting kemajuan berbangsa dan bernegara.

Tanpa jiwa yang bangun, negara dan bangsa kita tak ada artinya. Oleh karenanya, pembangunan jiwa yang bersifat ruhani, yang menyangkut mental dan cara berpikir, adalah hal perlu dibereskan terlebih dahulu sebelum kita membangun raga bangsa Indonesia.

Membangun jiwa bangsa Indonesia bisa juga diartikan dengan kesadaran memaknai dan menggali arti apa fungsi dirinya, baik secara vertikal maupun horizontal dengan seimbang. Keseimbangan antara dimensi ritual dan sosial juga menjadi penting dalam rangka menggapai jiwa yang merdeka.

Sebab, meminjam istilah KH Ahmad Mustofa Bisri (2006), seorang yang beriman adalah seorang yang seimbang dimensi ritual dengan dimensi sosialnya. Artinya, kohesi sosial juga menjadi parameter keterbangunan jiwa seseorang.

Adapun membangun raga, tentu saja yang dimaksudkan adalah bukan raga manusiawi saja. Namun, yang dimaksud raga juga adalah raga pembangunan bangsa Indonesia. Pembangunan raga bangsa Indonesia bisa diartikan dengan pemerataan pembangunan dan juga termasuk kemerataan tingkat kesejahteraan.

Salah satu indikator pencapaian pembangunan raga bangsa yang berhasil adalah tidak ditemukannya lagi kesenjangan yang terlampau menganga antara mereka yang hidup di kota dengan mereka yang tetap memilih berdomisili di kota.

Masih tingginya laju urbanisasi, misalnya, merupakan salah satu indikator bahwa selama ini masih terjadi sentralisasi ekonomi yang membuat masyarakat perdesaan berduyun-duyun bergerak ke kota.

Membangun karakter bangsa

Sesungguhnya apa yang digalakkan oleh Presiden Joko Widodo tentang revolusi mental sangatlah relevan dalam konteks kemerdekaan kali ini. Sebab, dengan revolusi mental itulah karakter bangsa bisa dibangun dengan baik.

Thomas Lickona (2013), seorang guru besar pendidikan karakter, mengatakan bahwa makna karakter sejatinya adalah knowing the good, desiring the good, and doing the good. Karakter adalah mengetahui kebaikan, menginginkan kebaikan, dan juga melakukan segala sesuatu yang baik. Bahkan, lebih lanjut Lickona menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik yang terdiri dari moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau tindakan moral.

Muara pembangunan jiwa dan raga bangsa adalah pembangunan kerakter manusia Indonesia itu sendiri. Sebab, penting untuk dicatat bahwa problem terutama yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah kerusakan mental dan 'erosi' moralitas.

Oleh karenanya, momentum kemerdekaan ke-71 Republik Indonesia ini merupakan momentum yang tepat untuk merefleksikan diri sejauh mana pembangunan jiwa dan raga bangsa Indonesia dewasa ini. Sebab, bagaimanapun juga refleksi yang demikian ini penting keberadaannya sebagai titik pijak untuk menetukan sikap dan langkah pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Wallahu a'lam
bisshawab. []
REPUBLIKA, 16 Agustus 2016
A Helmy Faishal Zaini | Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar