Senin, 08 Agustus 2016

Cak Nun: Kehancuran Tanpa Ralat



Kehancuran Tanpa Ralat
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Bagaimana kalau engkau naik motor bersama istri dan dua anak kecilmu, motormu diserempet mobil. Motormu rusak di atas 50%. Istrimu luka agak parah. Anak bayimu gegar otak ringan. Kakaknya Alhamdulillah tidak terkena suatu apa.

Mobil yang menyerempetmu itu dikendarai oleh anak petinggi negara. Karena menyerempet motormu, mobil itu tak bisa dikendalikan sehingga menabrak pohon. Salah seorang penumpangnya meninggal dunia. Beberapa yang lainnya luka ringan. Kecuali sopirnya yang sakit parah dalam dadanya karena terbentur setir.

Polisi yang bertugas akhirnya tahu punya siapa mobil itu. Juga tahu bahwa yang meninggal adalah salah seorang putra pejabat negara itu. Ini peristiwa serius. Tidak ada manusia siapapun di muka bumi ini yang mau kehilangan anggota keluarganya. Apalagi karena kecelakaan. Itu mengubah secara sangat mendasar dan hampir total susunan pikiran, atmosfir batin dan struktur kesadaran siapapun yang mengalaminya.

Maka kemudian dalam proses penanganan hukum kecelakaan itu, harus engkau yang disalahkan. Segala pemutarbalikan dan manipulasi fakta berlangsung dan terasa sebagai perjuangan kebenaran, demi membela anak yang mati. Subyektivisme dan kepentingan sepihak menjadi alur utama proses hingga ke pengadilan.

***

Engkau tidak punya saksi kecuali pernyataanmu sendiri tentang yang engkau alami. Tak seorang pun yang ketika itu berada di tempat kejadian bersedia terlibat bersaksi. Karena berbagai macam sebab: tidak mau terlibat kasus hukum. Tidak mau menjadi saksi yang jujur tapi nanti oleh kekuasaan aparat hukum dan pengadilan malah dituduh memberikan kesaksian palsu.

Serta berbagai sebab dan latar belakang yang lain: trauma terhadap budaya hukum negara kita. Tidak mau habis waktu untuk terseret proses hukum. Sedangkan untuk cari nafkah sehari-hari saja sudah membuat hatinya hampir pecah dan pikirannya buntu.

Bagi khalayak ramai, peristiwa kecelakaan semacam itu tidak ada urgensinya untuk dipelihara dalam ingatan. Begitu kegaduhan di jalanan itu berlalu, mereka pelan-pelan atau bahkan langsung melupakannya. Jangankan serempetan antara mobil dengan motor. Meskipun ada ratusan bom, walaupun ada uang trilyunan dicuri oleh Pemegang Amanah Rakyat, biarpun ada Pembesar Negara omong besar dan janji besar kemudian bohong besar dan ingkar besar, pun sudah tidak menjadi ingatan utama masyarakat.

Publik sudah selalu melupakan segala sesuatu yang sangat besar, bahkan yang ajaib, yang dalam segala teori ilmu, pengetahuan dan pengalaman sejarah: mustahil dilupakan. Keajaiban sudah beralih ke wilayah lupa itu sendiri. Rakyat negeri ini lupa secara ajaib, acuh tak acuh secara ajaib, salah sasaran menyembah secara ajaib, salah tembak kutukan secara ajaib.

Sepanjang sejarah sejak Nabi Adam ada dua mesin manusia: akal sehat dan akal tidak sehat. Di abad terbaru ini ada mesin canggih ketiga: yakni akal ajaib. Sedemikian ajaibnya akal bangsa terutama negeri ini sampai-sampai yang tertinggal hanyalah keajaiban, sedang akalnya hilang.

Dominasi keajaiban dan hegemoni lupa serta hampir sirnanya logika dan kesadaran membuat rakyat, masyarakat, publik, kelompok, bahkan per manusia, membuat mereka sama sekali tidak bisa membedakan lagi mana hak mana kewajiban. Mana atas mana bawah. Mana kiri mana kanan. Mana baik mana buruk. Mana benar mana salah. Mana mulia mana hina. Mana malu mana bangga.

Bahkan sudah menjadi sangat samar-samar perbedaan antara Tuhan, Satria Piningit, Imam Mahdi, Ratu Adil, Preman, Boneka dan Robot. Sudah direlakan secara akal pikiran maupun kejiwaan bahwa seorang budak dilantik sebagai Nabi. Seorang badut dilantik sebagai Rasul. Seorang Kumprung dinobatkan sebagai Dewa. Seorang Pekatik dijunjung sebagai Raja.

***

Dan engkau, sehabis peristiwa serempetan itu, meringkuk dalam kesengsaraan hidup, tanpa ada batas kapan kira-kira ujungnya.

Engkau didenda, atau dihukum kurungan. Motormu tak tercover karena kau tak punya biaya. Pekerjaanmu terbengkalai. Keluargamu ambruk. Istri dan anak-anakmu bekerja dan hidup darurat. Ada di antara familimu bersimpati dan sedikit-sedikit menolongmu. Tapi sebagian besar dari saudara-saudara sedarahmu menghindar dari kewajiban untuk menolong. Atau karena mereka sendiri tak kalah susah dan repotnya dengan hidup mereka masing-masing.

Peran-peran sosialmu di masyarakat jadi mandeg. Di takmir Masjid. Di Paguyuban itu. Sejumlah fungsi keorganisasian jadi macet. Nama baikmu terbelah. Sebagian teman-teman, tetangga-tetangga dan masyarakat umum bersimpati kepadamu. Tetapi tak kurang di antara mereka yang turut menyalahkanmu, menegasi eksistensimu, bahkan mensinisimu dan membuangmu dari peta hati dan kesadaran mereka.

Posisimu yang terpuruk dalam kehidupan dunia, yang hanya satu kali ini, tidak pernah dilihat, diperhatikan, apalagi direspon atau dibela oleh siapapun. Kehancuran tak diralat oleh bangunan nilai kehidupan ummat manusia, meskipun di Negara Hukum. Sampai usiamu tua, sampai dipanggil Tuhan ke rumah aslimu, sejarah dan ingatan masyarakat tetap mencatatmu sebagai orang yang bersalah dan cacat hukum.

Dan mereka yang melalimimu, yang mencampakkanmu sekeluarga ke lembah yang gelap, dicatat oleh sejarah sebagai figur yang sebaliknya. Mereka orang menang. Mereka orang yang sukses. Mereka orang yang kaya dan sejahtera. Sekian bersaudara ada yang menjadi pejabat negara, ada yang menjadi tokoh cendekiawan, ada yang menjadi ustadz, ada yang menjadi pengusaha kaya raya. Pengusaha kaya raya ini pada suatu hari mengeluarkan biaya untuk merenovasi masjid tempatmu dulu menjadi anggota takmirnya, menjadi masjid baru yang lebih besar dan jauh lebih megah.

Dan salah satu anakmu menjadi muadzdzin di masjid itu. Anakmu yang lain menjadi karyawan di perusahaan si kaya raya itu.

Apa katamu? Bagaimana bunyi orasi pikiranmu dan nyanyian di hatimu?

Engkau sukses atau gagal? Engkau kalah atau menang?

Apa itu sukses? Apa itu menang?

Kalau engkau sukses, nikmatilah sukses. Kalau engkau menang, kenyamlah menang. Kalau engkau gagal dan kalah, siapa yang menolongmu?

Tuhan. Tuhan pasti menolong setiap hamba-Nya yang berposisi akhlak untuk ditolong. Tapi kapan? Bagaimana bentuknya? Seberapa interval waktunya? Sama atau tidak dengan bentuk atau wujud yang kau bayangkan tentang kemenangan dan kesuksesan? []

Dari CN kepada anak-cucu dan JM
Yogyakarta 9 Pebruari 2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar