Rasulullah Bersumpah Tiga
Hal Ini Pasti Terjadi
Imam Jalaludin As-Suyuthi di dalam kitabnya al-Jâmi’us
Shaghîr merekam satu sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
ثلاث
أقسم عليهن: ما نقص مال قط من صدقة فتصدقوا، ولا عفا رجل عن مظلمة ظلمها إلا زاده
الله تعالى بها عزاً فاعفوا يزدكم الله عزاً، ولا فتح رجل على نفسه باب مسألة يسأل
الناس إلا فتح الله عليه باب فقر
Artinya: “Tiga hal yang aku menyumpahinya;
(1) tak akan berkurang harta karena sedekah, maka bersedekahlah; (2) tidaklah
seseorang memaafkan suatu penganiayaan yang dialaminya kecuali Allah
menambahkan baginya kemuliaan karena penganiayaan itu, maka maafkanlah niscaya
Allah akan menambah kemuliaan bagimu; (3) tidaklah seseorang membuka bagi
dirinya pintu meminta-minta di mana ia meminta-minta kepada manusia kecuali
Allah bukakan baginya pintu kefakiran.” (Jalaludin As-Suyuthi, al-Jâmi’us
Shagîr dalam al-Faidlul Qadîr, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012,
jilid III, halaman 393 – 394)
Dari hadits di atas dituturkan ada 3 (tiga)
hal yang Rasulullah bersumpah akan kebenaran ketiga hal tersebut. Semestinya
apa pun yang disampaikan oleh Baginda Rasul sudah pasti kebenarannya meski
tanpa sumpah sekalipun. Adanya Rasulullah bersumpah pada tiga hal ini merupakan
penguat akan kebenarannya dan menunjukkan betapa pentingnya umat beliau menaruh
perhatian kepadanya.
Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, Rasulullah
bersumpah bahwa tidak akan berkurang harta seorang hamba karena disedekahkan.
Tidak berkurangnya harta ketika disedekahkan
bukan berarti secara kasat mata harta itu benar-benar tidak berkurang
jumlahnya. Jelas setiap kali harta ditasarufkan pastilah jumlahnya berkurang.
Abdur Rauf Al-Munawi dalam kitabnya al-Faidlul Qadîr (Beirut, Darul
Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid III, halaman 393) menuturkan bahwa meski harta
yang disedekahkan secara kasat mata berkurang jumlahnya namun kemanfaatan harta
tersebut di akherat kelak tetap kekal, tidak berkurang.
Sebagaimana diketahui bahwa manusia hidup di
dua alam, yakni alam dunia dan alam akherat. Ketika ia memberikan sebagian
hartanya untuk disedekahkan maka sesungguhnya yang ia lakukan adalah
memindahkan manfaat harta itu dari alam dunia ke alam akherat. Secara kasat
mata memang jumlah hartanya berkurang di dunia ini, namun di akherat kelak ia
akan bertemu kembali dengan harta yang ia sedekahkan itu dalam bentuk nilai
manfaat yang jauh lebih berharga. Inilah yang dimaksud tak akan berkurang harta
karena disedekahkan.
Dalam kehidupan sehari-sehari kita bisa
melihat dengan mata kepala betapa orang-orang yang mudah mensedekahkan hartanya
justru kekayaannya makin bertambah banyak. Ketika ia berikan sebagian hartanya
memang pada saat itu jumlah hartanya berkurang. Namun pada saat berikutnya ia
dapatkan kembali rejeki yang lebih melimpah sehingga makin bertambah harta yang
dimilikinya.
Mengapa demikian? Karena dengan mensedekahkan
sebagian harta Allah akan memberkahi harta pelakunya sehingga semakin bertambah
banyak di dunia untuk menutup harta yang berkurang secara fisik karena
disedekahkan. Sementara di akherat kelak Allah akan membalas sedekah tersebut.
Demikian Al-Munawi menuturkan.
Tidak akan berkurangnya harta karena sedekah
disumpahi oleh Rasulullah akan kebenarannya. Bukti di lapangan pun telah nyata.
Meski demikian, banyak orang yang tidak mengimaninya sehingga merasa berat bila
harus memberikan apa yang ia miliki untuk disedekahkan kepada orang lain yang
membutuhkan atau untuk kepentingan syiar agama.
Tidak salah kiranya bila kita belajar kepada
mereka yang gemar melakukan perjudian. Mereka tidak eman-eman dengan uang yang
mereka miliki. Berapapun akan mereka keluarkan demi satu harapnn, menang dengan
hasil yang lebih melimpah dari yang dipasangkan. Padahal diakui bahwa apa yang
mereka harapkan adalah semu. Namun kecintaan mereka pada dunia menjadikan
mereka begitu yakin akan harapan-harapan semu itu. Bila mereka kalah berjudi
mereka tidak putus asa dan dengan mudahnya mengeluarkan uangnya lagi demi
berharap kemenangan. Bila mereka menang berjudi maka akan lebih banyak uang
yang dikeluarkan demi berharap kemenangan yang lebih besar lagi.
Sementara harapan akan bertambah banyak dan
berkahnya harta karena disedekahkan adalah harapan yang pasti benarnya, adalah
harapan yang nyata, bukan semu. Namun kecintaan kepada dunia menjadikan
lunturnya keimanan pada harapan-harapan nyata itu.
Kedua, Rasulullah
menyumpahi satu kebenaran bahwa tidaklah seorang yang dizalimi lalu ia mau
memaafkan orang yang menzaliminya kecuali Allah akan mengangkat kemuliannya.
Dalam riwayat yang lain disebutkandengan
redaksi:
ولا
ظلم عبد مظلمة صبر عليها الا زاده الله عز وجل عزا
Artinya: “Tidaklah seorang hamba didzalimi
yang ia bersabar menghadapinya kecuali Allah akan menambahnkan kemuliaan
baginya.” (Jalaludin As-Suyuthi, al-Jâmi’us Shagîr dalam al-Faidlul Qadîr,
Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012, jilid III, halaman 394)
Ya, kemuliaan akan diberikan oleh Allah
kepada siapa saja yang disakiti oleh orang lain namun ia tetap bersabar atas
perlakuan itu dan dengan lapang hati mau memaafkan orang yang menyakitinya. Ia
tidak menaruh benci dan dendam kepada orang tersebut. Kesalahan dan perbuatan
aniaya yang dilakukan kepadanya ia maafkan dengan menghapusnya dari memori hati
dan pikirannya.
Ini adalah sikap yang sulit dan berat, tak
setiap orang mampu melakoninya. Namun justru karena sulit dan berat itulah maka
Allah berkenan memberikan kemuliaan di dunia dan akherat bagi siapa saja yang
melakukannya.
Di dalam hal ini Syekh Nawawi Banten dalam
kitabnya Nashâihul ‘Ibâd (Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah, 2010,
halaman 13) memberi contoh Nabi Yusuf ‘alaihis salâm. Ketika difitnah
dan dimasukkan ke dalam penjara Nabi Yusuf tetap bersabar menghadapi perilaku
dzalim tersebut. Ia tidak dendam kepada Zulaikha yang menjadi penyebab
kesusahannya. Dan pada akhirnya Allah mengangkat derajat Nabi Yusuf menjadi
seorang pembesar di negeri Mesir. Ia dimuliakan setelah sebelumnya ia
dihinakan.
Ketiga, tidaklah seseorang
membuka bagi dirinya pintu meminta-minta kepada manusia kecuali Allah akan
bukakan baginya pintu kefakiran.
Orang yang suka meminta-minta kepada orang
lain untuk memberikan sejumlah harta kepadanya, dengan menampakkan kefakiran
dan kebutuhannya, disumpahi oleh Rasulullah bahwa Allah akan membukakan baginya
pintu kefakiran yang tidak pernah ia sangka. Kepadanya Allah akan menguasakan
sesuatu yang dapat menghancurkan apa saja harta yang dimiliki orang tersebut
sehingga ia jatuh melarat dengan kondisi yang lebih jelek dari yang ia
tunjukkan kepada orang saat ia meminta-minta. Demikian Al-Munawi menjelaskan.
Kiranya hadits ini tidak sedang berbicara
tentang para pengemis papa yang setiap hari berkeliling meminta-minta dari satu
pintu rumah ke rumah yang lain. Ini berbicara tentang orang-orang yang
sesungguhnya memiliki cukup harta untuk memenuhi kebutuhannya namun karena
kerakusannya ia lakukan segala cara agar orang lain mau memberinya harta. Untuk
maksudnya itu ia tampakkan kondisi seakan ia tak memiliki apa-apa, ia seakan
membutuhkan sesuatu namun tak bisa mencukupinya.
Kiranya hadits ini berbicara tentang
orang-orang yang suka meminta-minta secara tidak hak. Dengan berbagai dalih dan
alasan ia meminta kepada orang lain yang berkeperluan dengannya untuk
memberikan sesuatu yang tidak semestinya ia terima.
Mereka yang suka melakukan hal ini pada
akhirnya nanti akan difakirkan oleh Allah. Bila sebelumnya ia memiliki banyak
harta maka pada saatnya kelak hartanya itu akan dibinasakan Allah sehingga ia
menjadi benar-benar fakir dan membutuhkan pemberian orang lain. Na’ûdzu billah.
Hal ini disumpahi oleh Rasulullah akan kebenarannya.
Wallâhu a’lam. []
Sumber: NU Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar