Mengenal Hadits Musalsal,
Sabda Nabi yang Diriwayatkan secara Khas
Penyampaian hadits masih terjadi di masa
kini. Beberapa ulama disebutkan ada yang mendapat sanad hadits dari para
gurunya. Salah satu conoth adalah KH. Sahal Mahfudh rahimahullah yang
mengijazahkan hadits musalsal dari Syekh Yasin al Fadani. Sebagaimana
dikisahkan, setidaknya ada tiga ijazah hadits yang didapatkan Kiai Sahal:
musalsal bil awwaliyah, musalsal bil qira’ah ayatil kursi, dan musalsal bil
mahabbah.
Apa sebenarnya hadits musalsal itu? Mengapa
periwayatannya begitu khas?
Hadits musalsal adalah salah satu model
periwayatan hadits dari masa Nabi kepada para perawi secara turun temurun,
bahkan hingga sekarang. Secara bahasa, musalsal bermakna berturut-turut. Ulama
memberikan definisi bahwa hadits musalsal adalah hadits yang disampaikan para
perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik
secara perbuatan maupun perkataan.
Imam an-Nawawi dalam kitab at-Taqrib
menyebutkan bahwa hadits musalsal ini bisa terkait perbuatan, keadaan atau
sifat pada diri perawi, atau bisa juga terkait dengan cara penyampaian
haditsnya.
Karena periwayatan hadits musalsal terkait
dengan keadaan atau sifat tertentu pada perawi, setidaknya hadits musalsal bisa
musalsal qauli (secara perkataan), fi’li (secara perbuatan) atau keduanya.
Sebagai contoh adalah hadits berikut:
عَنْ
مُعَاذٍ قَالَ: لَقِيَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ". فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَأَنَا
وَاللهِ أُحِبُّكَ. قَالَ: فَإِنِّي أُوصِيكَ بِكَلِمَاتٍ تَقُولُهُنَّ فِي كُلِّ
صَلَاةٍ: اللهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Artinya: “Diriwayatkan dari Muadz bin Jabal:
Aku berjumpa Rasulullah SAW, beliau berkata: ‘Wahai Mu’adz, sungguh aku
mencintaimu (sebagai sahabat).’ Kemudian aku menjawab, ‘Begitupun aku wahai
Rasulullah.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Sungguh, aku mewasiatkanmu dengan doa
yang hendaknya kamu baca ketika usai shalat: Allahumma a’innî ‘alâ dzikrika wa
syukrika wa husni ‘ibâdatik’.”
Hadits tersebut diriwayatkan dalam Musnad
Ahmad bin Hanbal. Dalam proses periwayatan, para perawi disebutkan meriwayatkan
hadits itu sebagaimana Nabi melakukannya, yaitu dengan mengucapkan “Ya Fulan,
inni lauhibbuk” (Wahai Fulan, sungguh aku mencintaimu). Hadits ini adalah
contoh periwayatan hadits musalsal secara perkataan.
Kemudian ada juga yang terkait suatu
perbuatan. Seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi:
شَبَّكَ
بِيَدِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَافِعٍ، وَقَالَ لِي شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَقَالَ لِي: شَبَّكَ بِيَدِي أَبُو الْقَاسِمِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ لِي: “خَلَقَ اللَّهُ الْأَرْضَ يَوْمَ
السَّبْتِ”
Artinya: (Perawi sebelumnya berkata) tanganku
digenggam oleh Abdullah bin Rofi’, lalu ia berkata bahwa: tanganku digenggam
oleh Abu Hurairah, dan ia juga berkata: Abul Qasim Rasulullah SAW menggenggam
tanganku, dan bersabda: Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu.”
Sebagaimana disebutkan, hadits tersebut
diriwayatkan para perawi dengan meniru cara menjalinkan tangan (tasybik)
sebagaimana Nabi lakukan. Tentu masih banyak contoh terkait hadits musalsal
ini. Anda bisa merujuk kitab-kitab hadits khusus untuk itu, semisal kitab
al-Musalsalat al-Kubra karya Imam Jalaluddin as Suyuthi atau at-Thali’us Sa’id
al Muntakhab minal Musalsalat wal Asanid, karya Sayyid Muhammad al-Maliki.
Selain diriwayatkan secara khas dalam
perkataan atau perbuatan, hadits musalsal juga bisa disampaikan perawi pada
muridnya di tempat atau momen tertentu. Semisal, momen bulan Ramadhan atau
hadits musalsal berdoa di Multazam.
Apa faedah hadits musalsal ini? Menurut para
ahli hadits model periwayatan hadits musalsal ini memperkuat hafalan seseorang tentang
suatu hadits, karena dalam sebuah hadits, ada hal lain yang menunjang untuk
diingat. Jika merekam satu keadaan, tentu hadits yang sudah dihapal dan
diketahui tadi bisa tercetus untuk diingat kembali.
Namun perlu Anda ketahui bahwa hadits
musalsal ini, meskipun diriwayatkan secara khas, bahkan hingga masa sekarang,
tetap harus dicek kualitas haditsnya, baik dari sanad atau matan. Jadi kualitas
hadits ini bisa shahih, hasan, atau dla’if, sehingga tetap berdampak pada aspek
ajaran Islam.
Di Indonesia, beberapa kiai pesantren ada
yang menyampaikan hadits musalsal kepada para santri ataupun jamaahnya.
Pernahkah Anda mendapatkan ijazah hadits seperti itu? Tentu tidak ada salahnya
mencari berkah dari majelis hadits. Wallahu a’lam. []
Sumber: NU Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar