70 Tahun Sastrawan
Membumi Ahmad Tohari
Judul
: Sastra Itu Sederhana: Kesaksian Lintas Profesi dan Generasi
Editor
: Hadi Supeno
Penerbit
: Kepel Press Yogyakarta
Cetakan
: Pertama, Juni 2018
Tebal
: xxix + 214 halaman
ISBN
: 978-602-356-203-9
Peresensi
: Fathoni Ahmad, bertemu Ahmad Tohari tahun 2004 dalam lembar novel Ronggeng
Dukuh Paruk
Ahmad Tohari (AT),
mendengar nama itu, masyarakat sastra Indonesia bahkan dunia tentu mengenalnya
sebagai sastrawan handal yang karya-karyanya begitu membumi. Berangkat dari
kegelisahan dirinya untuk menyikapi dan menyelesaikan problem-problem
masyarakat bawah, Ahmad Tohari menuangkannya dalam banyak karya sastra, baik
cerpen maupun novel.
Empat tahun lalu,
tepatnya 28 Maret 2014, Redaksi NU Online pernah menghelat acara Pidato
Kebudayaan dengan mengangkat tema Membela dengan Sastra. NU Online mendaulat
Ahmad Tohari untuk menyampaikan pidato kebudayaannya. Dasar membela dengan
sastra menggambarkan perjuangannya selama ini yang berupaya menyelasaikan
problem pelik masyarakat dengan goresan sederhana berupaya karya sastra.
Saat menyampaikan
pidato kebudayaan tersebut, usia sastrawan kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini
berusia 65 tahun. “Saya memang membela dengan sastra,” ujar Ahmad Tohari dalam
salah satu pernyataannya kala itu.
Nama Ahmad Tohari
membumbung tinggi berkat karya novelnya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.
Mengangkat tema kemanusiaan di tengah dan setelah prahara politik 1965-1965,
Ronggeng Dukuh Paruk dinilai orisinil, berani, dan tepat.
Bahkan, novel yang
sudah diterjemahkan dalam bahasa Banyumas, Jerman, Inggris, Cina, Jepang, dan
Belanda ini menjadi mayoritas ulasan para tokoh penulis dalam buku 70 tahun
Ahmad Tohari berjudul Sastra itu Sederhana. Total ada 56 tokoh dalam buku
setebal 214 halaman ini yang berkontribusi memberikan testimoni tentang sosok
Ahmad Tohari dalam rangka merayakan usianya yang ke-70 tahun.
Dalam buku tersebut
para penulis yang juga sahabat karib Ahmad Tohari sepakat bahwa AT merupakan
sosok sederhana, baik dalam bentuk laku dan penampilan. Kebersahajaannya itu
terwujud dalam karya-karyanya. Karya sastra yang diketengahkan Ahmad Tohari
meluncur dalam bahasa-bahasa sederhana dan membumi. Hal ini tidak terlepas dari
basis problem masyarakat yang diangkat oleh AT.
Budayawan Emha Ainun
Nadjib dalam testimoninya mengatakan, yang dibangun Ahmad Tohari dalam
buku-bukunya adalah jembatan antar-zaman. Ia mengangkut khazanah-khazanah
kebudayaan dan peradaban dari masa silam, yang berlaku pada masa kini, dan yang
diperlukan oleh masa depan. Ahmad Tohari dalam pandangan Cak Nun adalah
kontinyuator, katalisator, bahkan transformator nilai-nilai kehidupan yang ia
jembatani antar-zaman demi zaman yang mengaliri waktu.
“Dia betul-betul
Njawani!” itulah pernyataan Novelis kenamaan Nh Dini lewat testimoni dalam buku
tersebut. Saat itu Nh Dini bertemu Ahmad Tohari di pameran buku internasional
di Frankfurt, Jerman tahun 2015. Ketika melihat tampilannya, Nh Dini segera
memahami bahwa sosok tersebut ialah Ahmad Tohari.
Solah-tingkah atau
perilaku yang wantah kelihatan sederhana tanpa dibuat-buat, lugu, dan apa
adanya, santun, tanpa dipaksakan. Kesederhanaan Ahmad Tohari dengan segudang
prestasinya tidak terlihat terhadap orang-orang Jawa masa kini. Zaman modern,
banyak orang Jawa yang kehilangan Jawa-nya. Begitulah Ahmad Tohari
mengekspresikan identitasnya sebagai wujud perjuangan dan pembelaan dalam karya
sastranya.
Kesan mendalam dari
karya-karya AT juga dirasakan pengarang novel Ayat-ayat Cinta Habiburrahman
El-Shirazy atau Kang Abik. Ia mengatakan bahwa Ahmad Tohari merupakan gurunya
dalam hal menulis karya prosa. “Saya belajar banyak dari karya-karya
legendarisnya,” ujar Kang Abik.
Saat kuliah di
Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Kang Abik menjelajahi sejumlah toko buku
untuk mendapatkan karya-karya Ahmad Tohari. Ia senang bukan kepalang ketika
berhasil mendapatkan novel Kubah karya Ahmad Tohari. Ketika membaca karya
tersebut, Kang Abik seperti sedang mengaji kitab kuning mengenai bab taubat dan
pemberian maaf.
Perburuan Kang Abik
berlanjut ke novel Ronggeng Dukuh Paruk. Ia tidak mendapatkannnya di Mesir,
lalu pulang ke Indonesia. Di tanah air, Kang Abik berhasil mendapatkan novel
legendaris itu disamping juga mendapatkan novel karya AT lainnya Lingkar Tanah,
Lingkar Air. “Novel-novel menemai saya menghirup kembali udara kampung saya
Bangetayu Wetan, Semarang,” ungkapnya.
Testimoni dalam buku
terbitan Kepel Press Yogyakarta (Cetakan pertama, Juni 2018) tersebut juga
diberikan Al-Zastrouw Ngatawi, Prie GS, KH Masdar Farid Mas’udi, Bre Redana,
Mohamad Sobary, Yessi Gusman, Taufik Ismail, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa
Herliani, Maman S. Mahayana, Atmo Tan Sidik, Didik Ninik Thowok, Hamzah Sahal,
dan tokoh sastrawan serta budayawan lainnya.
Pegiat budaya
Al-Zastrouw Ngatawi mengungkapkan bahwa selain sebagai sastrawan masyhur, Ahmad
Tohari juga mempunyai perhatian serius terhadap aktivis-aktivis pergerakan
mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa AT juga merupakan aktivis yang kritis terhadap
dinamika sosial politik.
Dari cerita yang
diutarakan Zastruow Ngatawi, di masa Orde Baru, Ahmad Tohari menyembunyikan
para aktivis pergerakan mahasiswa dari kejaran aparat keamanan. AT memang tidak
punya kekhawatiran dan rasa takut terhadap rezim militer tersebut meski nyawa
taruhannya. Keberanian mengungkapkan sisi kemanusiaan dalam dinamika sosial
politik ini ia tuangkan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.
Bagi Ahmad Tohari,
perlawanan seberat apa pun terhadap fenomena sosial dan politik, tetap
dilakukannya secara sederhana lewat karya sastra dan laku kehidupan nyata.
Sebagian karya sastranya memang lebih banyak menggambarkan kehidupan masyarakat
desa, masyarakat akar rumput yang hidup serba kekurangan. Nama-nama tokoh dalam
cerpen dan novelnya juga sebagian besar menggambarkan identitas nama
orang-orang desa seperti Lasipang, Sanwirya, Karyamin, Srintil, Rasus,
Santayib, Sakum, dan lain-lain.
Tidak hanya identitas
nama berbasis lokalitas, tetapi juga tradisi, budaya, dan bahasa yang begitu
kuat dipertahankan Ahmad Tohari dalam karya sastranya. Sehingga Didik Ninik
Thowok tidak meragukan komitmen kebudayaan AT dalam meneguhkan dan melestarikan
budaya dan kearifan lokal (local wisdom). Bahkan Didik menyebut AT sebagai
perpustakaan hidup (living treasure). Wallau’alam bisshawab. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar