Jumat, 21 Juni 2019

Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (1)


Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan dan Gerakan Aswaja di Tapanuli (1)

Pada tahun 2011, saya diminta oleh Djalaluddin Pane Foundation (DPF) untuk meneliti tentang sosok seorang ulama asal Tapanuli, yaitu Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan. Penelitian ini menarik karena belum banyak ulama asal Tapanuli yang dijadikan bahan penelitian dan hasilnya diperkenalkan ke publik, bahkan sampai saat ini. Salah satunya adalah Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan.

Dari kisah hidup Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan, kita mengetahui tentang kekejaman Kaum Padri, pengikut Wahabi, dalam menyiarkan paham mereka di tanah Tapanuli karena ia adalah saksi hidup dari kekerasan mereka.

Selain itu, kita dapat mengetahui dan memahami tentang adat istiadat dan budaya masyarakat Tapanuli, sejarah masuknya Islam di Tapanuli, serta tantangan, suka duka, dari  perjuangan dakwah Islam di Tapanuli di masa Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan. Kisahnya ini tentu untuk menjadi pelajaran yang berharga  bagi para juru dakwah dan hikmahnya untuk kita semua.

Perjalanan hidup Tuan Syekh Djalaluddin Pane Parsambilan tidak terlepas dari gerakan Kaum Padri yang mempunyai kaitan dengan gerakan Wahabi yang muncul di Arab Saudi. Paham dan gerakan Wahabi ini (yang keras dan tidak segan-segan memaksakan pahamnya dengan kekerasan atau perang) mewarnai pandangan Haji Miskin dari Pandaui Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak Lima Puluh) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar) yang  bermukim di Makkah, Arab Saudi dan merupakan pendiri Kaum Padri.

Pada tahun 1802 M, ketiga orang ini kembali ke Sumatera Barat. Dari praktik keislaman yang dijalankan kaum Muslimin di Sumatera Barat waktu itu, mereka menilai bahwa yang dijalankan baru kulitnya saja, hanya mengaku beragama Islam namun praktik keagamaannya masih jauh dari ajaran Islam yang sejati.

Dengan penilaian semacam ini, maka mereka mulai berdakwah di daerahnya masing-masing. Namun dakwah mereka tidak mulus. H. Muhammad Arief di Sumanik mendapat tantangan hebat di daerahnya sehingga terpaksa pindah ke Lintau; Haji Miskin juga mendapat perlawanan hebat di daerahnya dan terpaksa harus pindah ke Ampat Angkat. Hanya Haji Abdur Rahman di Piabang yang tidak banyak halangan dan tantangan.    

Kepindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat tidaklah sia-sia, karena ia mendapatkan sahabat-sahabat perjuangan yang setia. Di antaranya adalah Tuanku Nan Renceh di Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Ladang Lawas, Tuanku di Koto di Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, dan Tuanku di Lubuk Aur.

Mereka inilah tujuh orang yang berbai`ah (berjanji sehidup semati) dengan Tuanku Haji Miskin. Jumlah para ulama yang berbai`ah ini menjadi delapan orang yang kemudian terkenal dengan sebutan Harimau Nan Salapan.

Harimau Nan Salapan ini menyadari bahwa gerakan mereka akan lebih berhasil jika mendapat dukungan dari ulama yang lebih senior dan lebih berpengaruh, yaitu Tuanku Nan Tuo di Ampat Angkat. Oleh mereka, diutuslah Tuanku Nan Renceh yang lebih berani dan lebih lincah untuk menjumpai Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat berkali-kali dengan maksud agar ia bersedia menjadi imam atau pemimpin gerakan ini.

Setelah bertukar-pikiran berulang kali, Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat menolak tawaran itu. Sebab penolakan itu karena Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat memandang Harimau Nan Salapan hendak memaksakan penerapan syari`at Islam di setiap negeri yang telah ditaklukannya, kalau perlu dilakukan dengan kekuataan dan kekuasaaan.

Padahal menurutnya, jika ada orang yang beriman di satu nagari walaupun hanya seorang, maka nagari itu tidak boleh diserang. Yang penting adalah menanamkan pengaruh yang besar pada setiap nagari. Apabila seorang ulama di satu nagari telah besar pengaruhnya, ulama itu dapat memasukkan pengaruhnya kepada penghulu-penghulu, imam khatib, mantra dan dubalang.

Karena berbedaan pendapat ini, Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat tidak mungkin diangkat oleh Harimau Nan Salapan sebagai imam atau pemimpin gerakan ini. Untuk memecahkan kebuntuan ini, Harimau Nan Salapan mencoba mengajak Tuanku di Mansiangan, yaitu putra dari Tuanku Mansiangan Nan Tuo yang merupakan guru dari Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat. Rupanya Tuanku yang muda di Mansiangan ini bersedia diangkat menjadi imam gerakan Harimau Nan Salapan dengan gelar Tuanku Nan Tuo.  

Tuanku Nan Tuo Ampat Angkat akhirnya sulit untuk mencegah dan menentang gerakan Harimau Nan Salapan karena yang diangkat menjadi imamnya adalah anak dari gurunya sendiri. Padahal sebenarnya yang menjadi imam dari  gerakan ini adalah Tuanku Nan Renceh, sedangkan Tuanku  Nan Tuo di Mansiangan hanya sebagai simbol saja.

Kaum Harimau Nan Salapan selalu memakai pakaian putih-putih sebagai lambang kesucian dan kebersihan yang kemudian gerakan kaum ini terkenal dengan nama Gerakan Padri atau gerakan Kaum Padri.

Asal kata padri ada yang berpendapat  berasal dari kata Pidari dari Sumatera Barat, dan ada yang berpendapat berasal dari kata Padre, bahasa Portugis, yang artinya pendeta, dalam hal ini adalah ulama.

Setelah berhasil mengangkat Tuanku Nan Tuo Mansiangan menjadi imam gerakan Padri, maka Tuanku Nan Renceh selaku pimpinan yang paling menonjol dari Harimau Nan Lapan mencanangkan perjuangan Kaum Padri ini dan memusatkan gerakannya di daerah Kamang.

Untuk memuluskan aksinya mereka berpendapat bahwa tidak ada cara lain selain memperoleh kekuasaan politik. Sedangkan kekuasaan politik saat itu berada di tangan para penghulu adat.

Oleh karenanya, untuk memperoleh kekuasaan politik, juga tidak ada cara lain kecuali merebut kekuasaan dari tangan para penghulu adat. Karena daerah Kamang menjadi pusat perjuangan Kaum Padri, maka kekuasaan Penghulu Kamang harus diambil alih oleh Kaum Padri dan usaha itu berjalan dengan baik.

Sementara itu, para penghulu adat dari daerah-daerah lain yang mendengar keberhasilan Kaum Padri mengambil kekuasaan Penghulu Kamang ingin membuktikan sampai sejauh mana kemampuan alim ulama dalam perjuangan mereka untuk melaksanakan syari`at Islam secara utuh dan murni ini. Para penghulu adat itu kemudian memilih Bukit Batabuh dengan Sungai Puar di lereng Gunung Merapi sebagai tempat memancing reaksi Kaum Padri kepada mereka.

Para penghulu adat itu dengan sengaja dan mencolok mengadakan penyambungan ayam, main judi, dan minum-minuman keras yang dimeriahkan dengan berbagai macam pertunjukan. Tentu saja pancingan ini membuat marah Kaum Padri.

Dengan segala persenjataan yang ada, seperti setengger (senapan balansa), parang, tombak, cangkul, sabit, pisau dan sebagainya, Kaum Padri pergi ke Bukit Batabuh untuk membubarkan pesta maksiat yang diselenggarakan oleh golongan Penghulu Adat tersebut.

Sesampainya Kaum Padri di Bukit Batabuh, mereka disambut dengan serangan dari kelompok Penghulu Adat. Pertempuran yang banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya dimenangkan oleh Kaum Padri. Inilah awal permulaan peperangan yang dilancarkan oleh Kaum Padri, bukan hanya di Sumatera Barat tetapi sampai ke tanah Tapanuli.       

Setelah seluruh Pasaman dikuasai, maka untuk memperkuat basis pertahanan untuk penyerangan ke utara, didirikan pula benteng di Rao dan di Dalu-Dalu. Benteng ini terletak agak ke sebelah utara Minangkabau dan masuk di daerah Tapanuli.

Benteng Rao dikepalai oleh Tuanku Rao sedangkan Benteng Dalu-Dalu dikepalai Tuanku Tambuse. Kedua perwira Padri ini berasal dari Tapanuli dan berada di bawah pimpinan Imam Bonjol.

Dengan mengangkat Tuanku Rao dan Tuanku Tambuse, kaum Padri dengan kedua pimpinan tersebut, secara ekspansif melakukan perluasan kekuasaanya di daerah Tapanuli yang memiliki sistem religi tersendiri yang sudah mapan dan berbeda dengan masyarakat Pariaman. []

(bersambung…)

Rakhmad Zailani Kiki, Sekretaris RMI NU DKI Jakarta. Ia juga diamanahi sebagai Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre (JIC).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar