Kamis, 05 Maret 2020

(Ngaji of the Day) Pesan Rasulullah: Orang Tua adalah Pintu Surga Terbaik


Pesan Rasulullah: Orang Tua adalah Pintu Surga Terbaik

Ajaran Islam meliputi segala aspek kehidupan kita, bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, apa saja yang harus kita jalani di dunia ini, serta apa saja kebutuhan dan bekal yang harus kita persiapkan untuk kehidupan di akhirat nanti. Tentunya, jika seorang hamba dihadapkan untuk memilih antara surga dan neraka, maka ia akan memilih surga.

Surga memiliki banyak pintu yang dapat kita masuki. Sesuai amalan yang kita lakukan di dunia. Ada pintu sedekah, ada pintu puasa, dan lain-lain. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ أنفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيْلِ اللهِ نُوْدِيَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا خَيْرٌ، فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلاةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, niscaya ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan. Siapa orang yang giat mengerjakan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat. Siapa yang termasuk orang yang berjihad, ia akan dipanggil dari pintu jihad. Siapa orang yang rajin berpuasa, ia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyân. Dan barangsiapa termasuk orang yang gemar bersedekah, maka ia akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menyebutkan beberapa pintu surga yang dapat kita masuki, beragam macamnya dan tergantung kepada amal perbuatan baik yang sering kita lakukan. Meski hadits di atas belum menghimpun keseluruhan perbuatan baik, tapi bisa kita analogikan pada kebaikan-kebaikan lain yang sering kita lakukan. Di lain waktu Rasulullah pernah bersabda:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya” (HR. Tirmidzi).

Penegasan kata ‘paling baik’ di atas seakan-akan ingin menunjukkan kepada kita akan pentingnya berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. Al-Qâdhi dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi menjelaskan: 

أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُوْلِ الْجَنَّةِ وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُوْلِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ

“Tegasnya, maksud dari awsath al-bâb adalah sebaik-baiknya pintu dan paling mulianya pintu. Maknanya adalah, sesungguhnya sebaik-baiknya pintu yang menjadi wasilah masuknya seseorang ke dalam surga, juga menjadi wasilah bagi ia untuk mendapatkan derajat yang tinggi ialah dengan menaati orang tua dan merawat di sampingnya” (Imam al-Mubarâkfûri, Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi, juz 4, hal. 522).

Melihat hadits dan penjelasan di atas, kita pun sangat dilarang mendurhakai orang tua. Tingkat larangannya mencapai level haram, sebab ada ancaman jika melakukannya. Bahkan mendurhakai orang tua termasuk bagian dari dosa yang besar (al-kabâir). Rasulullah pernah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُحَدِّثُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?" Para sahabat menjawab; “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: "Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Cukuplah hadits-hadits di atas menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya berbakti kepada orang tua, dan bahayanya mendurhakai keduanya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita semua agar selalu menaati orang tua kita semua. Amiin. []

Amien Nurhakim, Mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah, Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar