Senin, 24 Juni 2013

(Buku of the Day) The Mystery of Historical Jesus


Pendekatan Qur’ani Tentang Yesus

 




Judul                : The Mystery of Historical Jesus

Penulis             : Louay Fatoohi

Penerbit            : Mizan

Cetakan            : I, April 2012

Tebal                : 851 halaman

Harga               : Rp. 95. 000

Peresensi          : Wildani Hefni, Peneliti di Lembaga Kajian Pendidikan, Keislaman dan Sosial (LeKDiS), Jakarta

 

Kajian dan karya-karya tentang Yesus yang ada selama ini mayoritas bersandar pada Perjanjian Baru, sumber-sumber Kristen, Yahudi, dan sumber-sumber sejarah lainnya. Al-Qur’an jarang disebut apalagi dipertimbangkan oleh sebagian besar penulis Kristen. Pengabaian ini mencerminkan anggapan bahwa Al-Quran tidak dapat diandalkan sebagai sumber penelitian sejarah. Sebaliknya, para peneliti muslim yang menulis tentang Yesus hanya mengkaji apa yang dikatakan Al-Qur’an dan sumber-sumber Islam lainnya namun menolak gambaran Kristen tentang Yesus.


Buku The Mystery of Historical Jesus karya Louay Fatoohi sengaja hadir untuk mengkaji Yesus dengan pendekatan qur’ani. Fatoohi memperlihatkan bahwa gambaran Al-Qur'an tentang Yesus bersifat konsisten secara internal dan dapat dicocokkan dengan fakta sejarah yang ada. Fatoohi adalah cendekiawan mulism Inggris yang baru masuk Islam saat umurnya masuk 23 tahun. Ia tertarik untuk memperdalam Al-Qur’an karena baginya, Al-Qur’an telah mengambil panggung utama yang begitu berpengaruh dalam ketertarikannya kepada Yesus (hlm 17).


Dalam buku ini, Fatoohi hendak menegaskan posisi Al-Qur'an sebagai sumber yang konsisten, otentik dan komprehensif tentang sejarah Yesus. Ia menampilkan kajian yang menempatkan sumber-sumber sejarah tentang Yesus secara berimbang. Menurut Fatoohi, Al-Qur’an banyak menyebut Yesus atau Isa Al-Masih dalam beberapa ayatnya, seperti dalam QS. Annisa’: 163, QS. Maryam: 30, QS. Ali-Imran: 84, QS. Al-Baqaroh: 84, dan QS. Ali Imran: 49, QS. Al-Maidah: 65, dan QS. Al-Hadid: 57 (hlm 443).


Kajian Fatoohi yang imajinatif dan argumentatif ini, menyatakan bahwa Yesus menurut Al-Qur’an adalah seorang Nabi manusia dan utusan Allah yang tidak pernah mengklaim sebagai Tuhan. Yesus adalah pendahulu Nabi Muhammad yang hidup sekitar enam abad sebelum Nabi Muhammad. Ramalannya tentang kedatangan Muhammad dan pembenar atas kenabiannya secara khusus menjadi penting. Pada saat Nabi Muhammad hadir, ada jutaan orang Kristen di pelbagai penjuru negara. Yesus memerintahkan orang-orang Kristen untuk menerima Nabi yang baru melanjutkan ajaran yang telah disampaikannya. Al-Qur’an mengatakan bahwa setiap Nabi datang dengan membawa misi kebaikan dan mengakui serta membenarkan terhadap nabi-nabi sebelumnya. Muhammad membenarkan ajaran Yesus, Musa, Harun, dan nabi-nabi sebelumnya. Yesus menurut Al-Qur’an sama dengan nabi-nabi sebelumnya. Hanya saja, Al-Qur’an menetapkan Muhammad sebagai Nabi puncak risalah ilahi (hlm 455).


Menurut pengajar di Universitas Durham ini, Al-Qur’an menghormati seluruh Nabi dan juga memposisikan Yesus secara terhormat. Al-Qur’an mengisahkan Yesus dalam 11 ayat. Kisah Yesus dalam Al-Qur’an secara substansial berbeda dengan Kristen yang ada dalam perjanjian baru. Yesus dalam Perjanjian Baru dianggap bersifat ketuhanan sebagai esensi dari kedudukan uniknya sebagai anak Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Yesus adalah nabi Muslim laiknya Adam, Ibrahim, Musa dan nabi lainnya. Deskripsi ini barangkali terdengar aneh bagi orang yang tidak memahami makna qur’ani Islam dan berpikir bahwa Islam hanya terkait dengan nabi Muhammad. Menurut Fatoohi, ungkapan perisraftik “anak Allah” hanya untuk menepis upaya menuhankan Yesus di masa mendatang. Al-Qur’an secara mutlak menolak pernyataan bahwa Yesus adalah anak Allah. (hlm 782).


Lebih jauh, buku ini juga mengulas bahwa Yesus mendapatkan mukjizat dari Allah. Al-Qur’an menjelaskan bahwa Yesus menerima mukjizat berupa kecerdasan paranormal, menciptakan bentuk-bentuk burung dari tanah liat, menyembuhkan kebutaan, dan menghidupkan orang mati (hlm 547). Yesus juga tak pernah mengklaim diri atau menginginkan menjadi seorang raja bagi bangsa Yahudi. Misi Yesus sama dengan misi spiritual yang dibawa oleh nabi-nabi lainnya.


Karya yang ditulis dengan penelitian ekstensif ini mengisi kekosongan dalam literatur tentang Yesus historis dengan mempertimbangkan Al-Qur’an, Injil, dan sumber-sumber religius dan historis lainnya. Buku ini sangat komprehensif dan informatif dalam memberikan perspektif baru dan segar tentang sejarah Yesus dengan pendekatan qur’ani. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar