Kamis, 23 Januari 2020

Nasaruddin Umar: Meluruskan Makna Jihad (9): Memahami Islam Secara Benar


Meluruskan Makna Jihad (9)
Memahami Islam Secara Benar
Oleh: Nasaruddin Umar

Banyak orang merasa memperjuangkan "Islam", tetapi sesungguhnya memperjuangkan budaya dalam mana Islam mewujudkan dirinya, bukan Islamnya itu sendiri. Masih banyak umat Islam belum bisa membedakan antara ajaran Islam dan budaya Arab, sebuah budaya yang pertama kali mengusung ajaran Islam. Menjadi the best muslim tidak mesti harus menyerupakan diri dengan orang Arab, orang Mesir, orang Yaman, atau orang Persia. Kita bisa tetap sebagai orang yang berkebudayaan Indonesia dengan berbagai atributnya, tetapi pada saat bersamaan tetap menjadi the best muslim. Bahkan mungkin tidak kalah dengan muslim Arab.

Kata Islam tersusun dari huruf sin, lam, mim (salima), sebuah akar kata yang membentuk kata salam (damai), islam (kedamaian), istislam (pembawa kedamaian), dan taslim (ketundukan, kepasrahan, ketenangan). Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian lebih umum. Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki seperangkat konsepsi nilai dan norma. Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, rigit, dan sempurna. Allah memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan agama Islam. Bukan agama Salam (kepasrahan tanpa konsep). Bukan juga agama Istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan, dan kesempurnaan dalam memperjuangkan kedamaian dan kepasrahan.

Kata islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth). Di dalam Al-Quran disebutkan: Inna al-dina 'inda Allah al-islam (Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam/Q.S. Ali Imran/3:19), man yabtagi gair al-islam dinan falan yuqbala minhu (Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya/Q.S. Ali Imran/3:19).

Perhatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata al-islam, dengan menggunakan alif ma'rifah (al), bukan islam dalam bentuk nakirah, bukan juga salam atau istislam. Ini semua menunjukkan bahwa dari segi bahasa saja al-islam (Islam) sudah mengisyaratkan jalan tengah, moderat, dan sudah barang tentu menolak kekerasan dan keonaran. Seharusnya seorang muslim (orang yang beragama Islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan, dan pada akhirnya merasakan ketenangan lahir batin.

Agaknya kontradiktif jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan. Apalagi jika (atas nama) Islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa; sangat tidak sepadan dengan kata islam itu sendiri. Kelompok minoritas liberal muslim memaknai Islam dengan konteks salam yang lebih bersifat inklusif-substantif, sementara kelompok minoritas radikal muslim lebih memaknai Islam dengan konteks istislam yang menuntut adanya intensitas dan semangat progresif di dalam mewujudkan nilai dan norma Islam. Kelompok mainstream muslim memaknainya sebagai islam, sebuah sistem nilai dan norma kemanusiaan yang terbuka dan moderat. []

DETIK, 14 Januari 2020
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar