Jumat, 08 November 2019

(Khotbah of the Day) Rasulullah Orang Pertama yang Memperingati Maulidnya


KHUTBAH JUMAT
Rasulullah Orang Pertama yang Memperingati Maulidnya

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَرْسَلَ مُحَمَّدًا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ فَبِذَلِكَ أَمَرَنَا أَنْ نَفْرَحَ وَنَشْكُرَ بِوُجُوْدِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ فَاتِحِ كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَحُجُوْبِيْنَ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

.بَعْدُ. فَاتَّقُوْا اللهَ يَا عِبَادَ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتُمْ وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلىَ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم وَاشْكُرُوْا اللهََ تَعَالىَ عَلىَ مَا مَنَّ عَلَيْنَا بِهِ مِنْ طُلُوْعِ هَذَا الْبَدْرِ الْمُنِيْرِ فِي هَذِهِ الدَّارِ الْفَانِيَةِ فَبِمُتَابَعَتِهِ وَوَسِيْلَتِهِ وَمَحَبَّتِهِ حَصَلَ النَّجَاةُ فِي تِلْكَ الدَّارِ الْآخِرَةِ الْخَالِدَةِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Marilah kita selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah , dengan selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Yakni mengerjakan apa yang diperintahkan, serta menjauhi apa yang dilarang, kapan pun dan di mana pun, dalam keadaan bagaimana pun, senang maupun susah, gembira ataupun sedih. Karena dengan kita bertakwa, Allah pasti akan menjamin kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat, juga memberikan jalan keluar atas setiap masalah yang kita hadapi.

Hadirin Sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Saat ini kita memasuki bulan Rabiul Awal, pada bulan ini tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal tahun gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 M., lahirlah seorang bayi yang kelak akan membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Ayahnya bernama Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Muthallib meninggal kurang lebih 7 bulan sebelum ia lahir. Ibunya bernama Sayyidah Aminah al-Zuhriyyah binti Wahab, meninggal dunia saat sang buah hati berusia 6 tahun. Kehadiran bayi itu disambut oleh kakeknya, Sayyid Abdul Muthalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu dibawanya ke kaki Ka’bah. Di tempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad, sebuah nama yang tidak mentradisi di kalangan kaum Quraisy pada waktu itu.

Disebutkan dalam kitab Dalail al-Nubuwwah karya pakar hadits kenamaan, Imam al-Baihaqi memuat riwayat sebagai berikut:

فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ السَّابِعُ ذَبَحَ عَنْهُ، وَدَعَا لَهُ قُرَيْشًا، فَلَمَّا أَكَلُوا قَالُوا: يَا عَبْدَ الْمُطَّلِبِ، أَرَأَيْتَ ابْنَكَ هَذَا الَّذِي أَكْرَمْتَنَا عَلَى وَجْهِهِ، مَا سَمَّيْتَهُ؟ قَالَ: سَمَّيْتُهُ مُحَمَّدًا. قَالُوا: فَلِمَ رَغِبْتَ بِهِ عَنْ أَسْمَاءِ أَهْلِ بَيْتِهِ؟ قَالَ: أَرَدْتُ أَنْ يَحْمَدَهُ اللهُ تَعَالَى فِي السَّمَاءِ، وَخَلْقُهُ فِي الْأَرْضِ

“Saat hari ketujuh dari kelahiran Nabi Muhammad, Sayyid Abdul Muthallib menyembelih kambing untuknya dan mengundang orang Quraisy. Ketika mereka menikmati hidangan, mereka bertanya; wahai Abdul Muthallib beritahulan kepada kami tentang si jabang bayi yang engkau muliakan kami di depannya, siapa namanya?. Abdul Muthallib menjawab; aku menamakannya “Muhammad”. Mereka berkata; mengapa engkau lebih suka nama itu dari pada nama-nama keluarganya?. Abdul Muthallib menjawab; aku berharap Allah memujinya di langit dan maklukNya di bumi.”

Riwayat senada juga disampaikan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab al-Sirah al-Nabawiyyah. Seteleh menyampaikan riwayat sebagaimana di atas, Ibnu Katsir mengatakan:

قَالَ أَهْلُ اللُّغَةِ كُلُّ جَامِعٍ لِصِفَاتِ الْخَيْرِ يُسَمَّى مُحَمَّدًا

“Berkata para pakar Bahasa; setiap orang yang mengumpulkan sifat-sifat kebaikan disebut Muhammad (orang yang banyak dipuji).”

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Muslim disebutkan:

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ.

“Rasulullah ditanya tentang puasa di hari Senin. Lalu beliau menjawab, “Itu adalah hari di mana aku dilahirkan, hari di mana aku diutus atau diturunkannya wahyu kepadaku” (HR. Muslim).

Selain anjuran berpuasa di hari Senin, ada beberapa petunjuk yang dapat diambil di dalam Hadits tersebut.

Pertama, menunjukan keagungan hari dan bulan kelahiran Rasulullah .

Anjuran ibadah dengan mengaitkan sebuah peristiwa besar merupakan salah satu metode dakwah Rasulullah . Anjuran memperbanyak ibadah di hari Jumat dikaitkan dengan peristiwa yang menimpa Nabi Adam As. Beliau diciptakan, dimasukan dan dikeluarkan dari surga pada hari Jumat. Anjuran puasa hari Asyura’ (tanggal 10 Muharram) dikaitkan dengan peristiwa Nabi Musa As beserta kaumnya. Begitu juga anjuran berpuasa hari Senin. Dikaitkan dengan sejarah besar berupa hari kelahiran Sang Manusia terbaik sepanjang masa, Rasulullah Muhammad . Anjuran mengaitkan ibadah dengan sebuah peristiwa tersebut menunjukan keagungan waktu dan hari terjadinya peristiwa itu.

Syaikh Yusuf Khatar Muhammad, seorang tokoh sufi, dalam kitab al-Mausu’ah al-Yusufiyyah mengatakan:

“Sesungguhnya Rasulullah memperhatikan keterkaitan antara sejarah besar di masa lampau dengan persoalan-persoalan keagamaan. Jika telah datang masa itu, maka hal tersebut menjadi kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya. Rasulullah sendiri yang mendasari prinsip ini. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits shahih bahwa ketika Rasul sampai di Madinah dan melihat orang Yahudi berpuasa di hari Asyura’, lalu beliau bertanya atas latar belakang ritual orang Yahudi tersebut. Maka disampaikan kepada Rasul bahwa mereka berpuasa sebab pada hari itu Allah telah menyelamatkan nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka. Mereka berpuasa sebagai wujud syukur atas nikmat Allah ini. Kemudian Rasulullah bersabda kepada sekelompok Yahudi tersebut: "Kami lebih pantas mengikuti Musa dari pada kalian." Selanjutnya Rasul berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari Asyura’ tersebut”.

Maka dari itu, hari kelahiran Rasulullah merupakan peristiwa besar yang memiliki nilai lebih dibandingkan hari-hari yang lain. Begitu juga bulan Rabiul Awal, memiliki sisi kemuliaan dengan dilahirkannya Rasulullah pada waktu itu.

Syekh Ibnu al-Haj, seorang ulama besar mazhab Maliki mengatakan:

أَشَارَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ إلَى فَضِيلَةِ هَذَا الشَّهْرِ الْعَظِيمِ بِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لِلسَّائِلِ الَّذِي سَأَلَهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ لَهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ فَتَشْرِيفُ هَذَا الْيَوْمِ مُتَضَمِّنٌ لِتَشْرِيفِ هَذَا الشَّهْرِ الَّذِي وُلِدَ فِيهِ .فَيَنْبَغِي أَنْ نَحْتَرِمَهُ حَقَّ الِاحْتِرَامِ وَنُفَضِّلَهُ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ الْأَشْهُرَ الْفَاضِلَةَ وَهَذَا مِنْهَا.

“Rasulullah memberi isyarat atas keutamaan bulan Rabiul Awal ini dengan sabda beliau saat ditanya tentang puasa di hari Senin, beliau menjawab: "Itu adalah hari kelahiranku". Maka, memuliakan hari Senin tersebut secara tidak langsung juga memuliakan bulan Rabiul Awal ini, bulan di mana Rasulullah dilahirkan. Sudah seharusnya bagi kita untuk memuliakannya dengan sebaik-baiknya memuliakan seperti kita memuliakan bulan-bulan utama lainnya. Dan bulan Rabiul Awal ini salah satu di antara bulan-bulan mulia itu”.

Kedua, Rasulullah memperingati hari kelahirannya.

Memperingati hari kelahiran Rasul adalah sebuah ungkapan dari suka cita dan luapan kegembiraan atas kehadiran Rasulullah di muka bumi. Dari situ dapat dipahami bahwa rutinitas puasa yang dilakukan Rasulullah . d hari Senin, hakikatnya merupakan wujud dari peringatan hari kelahiran beliau sendiri. Rasulullah melakukannya sebagai wujud mengagungkan dan rasa syukur beliau telah dijadikan Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Seorang ulama besar ahli hadits kesohir, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengatakan:

إِنَّ أَوَّلَ الْمُحْتَفِلِيْنَ بِالْمَوْلِدِ هُوَ صَاحِبُ الْمَوْلِدِ وَهُوَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ الَّذِيْ رَوَاهُ مُسْلِمٌ لَمَّا سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ الْإِثْنَيْنِ قَالَ صلى الله عليه وسلم ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ فَهَذَا أَصَحُّ وَأَصْرَحُ نَصًّ فِي مَشْرُوْعِيَّةِ الْإِحْتِفَالِ بِالْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ الشَّرِيْفِ وَلَا يُلْتَفَتُ اِلَى قَوْلِ مَنْ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَنِ احْتَفَلَ بِهِ الْفَاطِمِيُّوْنَ لِأَنَّ هَذَا إِمَّا جَهْلٌ أَوْ تَعَامٍ عَنِ الْحَقِّ.

Sesungguhnya pertama kali yang merayakan maulid adalah sang empunya maulid itu sendiri, yaitu Rasulullah . Sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih riwayat imam Muslim ketika Rasul ditanya tentang anjuran puasa di hari Senin, beliau menjawab: “Itu adalah hari di mana aku dilahirkan”. Ini adalah sekuat dan sejelas-jelasnya nash dalil yang menjelaskan anjuran maulid Nabi yang mulia. Tidak dapat dijadikan pijakan pendapat yang mengatakan bahwa pertama kali yang merayakan maulid adalah dari dinasti Fathimiyyah. Sebab pendapat tersebut tidak lepas dari ketidak tahuan atau berpura-pura tidak tahu akan fakta yang sebenarnya.

Ketiga, Anjuran memperingati hari kelahiran Rasulullah .

Allah memerintahkan kita untuk bersyukur dan bahagia atas setiap rahmat-Nya yang diberikan kepada kita. Di dalam surat Yunus ayat 58 dikatakan :

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا

"Katakanlah, atas anugerah dan RahmatNya hendaknya mereka berbahagia" (QS. Yunus: 58).

Tidak diragukan lagi jika Rasulullah adalah lebih agung-agungnya rahmat Allah kepada umat manusia, bahkan seluruh alam semesta. Anjuran bersyukur-bahagia pada ayat tersebut tidak dibatasi waktu dan tempat. Kapanpun, kita dianjurkan mensyukuri wujudnya Rasulullah di dunia. Setiap saat kita dianjurkan untuk melakukannya. Rahmat wujudnya Rasulullah dapat dirasakan sampai kapanpun dan tidak akan terputus habis dimakan zaman.

Jika di hari-hari biasa saja kita dianjurkan bersyukur atas wujudnya Rasulullah , lebih-lebih di hari atau bulan kelahiran beliau. Anjuran tersebut menjadi sangat dikukuhkan. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menegaskan:

فَالْفَرَحُ بِهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَطْلُوْبٌ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَفِي كُلِّ نِعْمَةٍ وَعِنْدَ كُلِّ فَضْلٍ وَلَكِنَّهُ يَتَأَكَّدُ فِي كُلِّ يَوْمِ اثْنَيْنِ وَفِي كُلِّ شَهْرِ رَبِيْعْ لِقُوَّةِ الْمُنَاسَبَةِ وَمُلَاحَظَةِ الْوَقْتِ وَمَعْلُوْمٌ أَنَّهُ لَا يَغْفَلُ عَنِ الْمُنَاسَبَةِ وَيُعْرِضُ عَنْهَا عَنْ وَقْتِهَا اِلَّا مُغَفَّلٌ أَحْمَقُ.

"Berbahagia dengan kehadiran Rasulullah di dunia dianjurkan pada setiap waktu. Setiap mendapat kenikmatan dan karuniaNya. Akan tetapi, anjuran tersebut menjadi sangat dikukuhkan pada setiap hari Senin dan bulan Rabiul Awal karena korelasi yang kuat dan momen waktu yang selayaknya diperhatikan. Sudah menjadi kemakluman bersama tidak akan melupakan dan berpaling dari sebuah momen peristiwa besar kecuali orang yang lalai dan bodoh."

Memperingati hari kelahiran Rasulullah bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalkan membaca maulid (sejarah hidup Rasul), berkumpul berdzikir, membaca shalawat bersama, bersedekah, mengadakan walimah, menyantuni anak yatim, memberi makan fakir miskin dan lain sebagainya. Semoga kita senantiasa dapat meningkatkan rasa cinta kita kepada Rasulullah sehingga diakui sebagai umatnya dan dapat berkumpul bersamanya kelak di hari kiamat. Amin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتِلَاوَتِهِ إِنَّهُ تَعَالَى هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.

Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا . {اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوَن. وَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ, وَاشْكُرُوْا عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ, وَاسْأَلُوْا مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ, وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar