Rabu, 06 November 2019

(Hikmah of the Day) Nasihat Orang Kampung tentang Cara Berteman yang Baik


Nasihat Orang Kampung tentang Cara Berteman yang Baik

Dalam kitab al-Shadâqah wa al-Shadîq, Imam Abu Hayyan al-Tawhidi (310-414 H) mencatat jawaban orang Arab Badui (Arab Kampung) ketika ditanya siapa orang yang paling baik pergaulannya:

وقيل لأعرابي: من أكرم الناس عشرة؟ قال: من إن قرب منح، وإن بعد مدح، وإن ظلم صفح، وإن ضويق فسح، فمن ظفر به فقد أفلح ونجح

Seorang Arab Badui (orang Arab kampung) ditanya: “Siapakah orang yang paling mulia pergaulannya?”

Ia menjawab: “Orang yang jika dekat ia memberi; jika jauh ia memuji; jika dizalimi ia memaafkan; jika dipersempit ia melapangkan. Siapa saja yang mendapatkan (teman seperti itu), maka ia benar-benar beruntung dan sukses.” (Imam Abu Hayyan al-Tawhidi, al-Shadâqah wa al-Shadîq, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998, h. 39)

****

Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa orang Arab Perkotaan (hadlari) zaman dulu menitipkan anaknya di perkampungan untuk disusui dan dibesarkan, seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muttalib, dan lain sebagainya. Karena kebanyakan orang kampung memiliki ketulusan dan keluguan yang murni. Mereka cerdas dengan caranya sendiri. Seringkali kebijaksanaan keluar dari perilaku dan ucapan mereka, dengan apa adanya, tidak dibuat-buat dan dicitrakan.

Kebijaksanaan mereka tidak berasal dari pengajaran sistematis seperti masyarakat perkotaan, tapi pergaulan mereka dengan alam, lingkungan, realitas sosial, dan budaya berbagi di kalangannya. Orang Arab Badui, meskipun kasar, mereka terkenal sangat dermawan dan murah hati. Sayyidina Qais bin Sa’d, seorang sahabat nabi yang kedermawanannya dianggap tanpa tanding, ketika ditanya, ‘apakah ada orang yang melebihi kedermawananmu?’ Ia menjawab, ‘ada’.

Kemudian ia bercerita suatu hari ia dan temannya melakukan perjalanan dan menginap di tenda orang Arab Badui. Sang tuan rumah menyembelihkan mereka unta untuk hidangan makan malam. Di pagi harinya, tuan rumah menyembelihkan mereka unta lagi. Qais bin Sa’id terkejut dan bertanya, “tuan, bukankah daging unta sisa tadi malam masih banyak, kenapa menyembelihkan kami unta lagi?” Jawaban orang Arab Badui itu membuat Qais bin Sa’d lebih terkejut. Ia menjawab, “innî lâ ath’amu adlyâfîl ghâbb—aku tidak mau memberi makanan yang telah bermalam kepada tamu-tamuku.”

Mereka menginap di tenda orang Arab Badui selama tiga hari, dan setiap hari mereka memakan daging unta yang baru disembelih. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, Qais bin Sa’d memberi isteri orang Arab Badui itu uang seratus dinar. Belum terlalu jauh mereka berjalan, sang suami memanggil dengan suara keras, “wahai pengendara yang sangat tercela, kalian membayar hidangan yang kuberikan pada kalian sebagai tamu?” Lalu ia melanjutkan ucapannya dengan marah, “lata’khudznahu wa illâ tha’antukum bi ramhî—ambillah kembali uangmu ini, jika tidak, akan kutikam kau dengan tombakku!” (Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Dar al-Salam, 2014, h. 136)

Kisah di atas adalah contoh kemurahan hati mereka. Mereka sangat marah jika kemurahan hatinya dinilai dengan uang. Karena itu, bagi mereka, teman yang ideal adalah teman yang selalu membuka, bukan dibuka. Jika disakiti, ia memaafkan sebelum diminta; jika dibakhili, ia memberi sebelum diminta; jika dibenci, ia menyayangi sebelum diminta, sehingga wajar saja jika mereka mengatakan: “Orang yang jika dekat ia memberi; jika jauh ia memuji; jika dizalimi ia memaafkan; jika dipersempit ia melapangkan. Siapa saja yang mendapatkan (teman seperti itu), maka ia benar-benar beruntung dan sukses.”

Oleh karena itu, kita harus terbuka dalam berteman, menjaga di depan sekaligus mengawasinya di belakang. Kita harus memahami bahwa teman kita adalah manusia, yang bisa benar dan salah. Agar kita tidak terlalu kecewa ketika ia berbuat salah, dan tidak terlalu melebihkan ketika ia berlaku benar. Sebab, asas dasar dalam pertemanan adalah menerima kekurangan temannya, bukan mengharapkan kelebihannya. Jika kita bisa menerima kekurangan teman kita, kita akan lebih bahagia dalam menerima kelebihannya.

Dengan demikian, kita sudah menyiapkan beribu-ribu maaf untuk kesalahan yang telah, sedang, dan akan diperbuatnya. Ketika ia menzalimi kita, kita tidak terkejut karena sudah menyiapkan maaf untuknya. Tidak hanya itu, kita malah berterima kasih kepadanya karena meningkatkan semangat ibadah kita. Bagi orang yang selalu mengintrospeksi diri, ia tidak akan menerima kebencian sebagaimana kebencian itu sendiri. Ia akan menelaahnya terlebih dahulu, apakah itu murni kebencian atau ada yang melatar-belakanginya. Andaipun tidak menemukan latar belakang kebencian tersebut, ia tetap merasa perlu memohon ampun kepada Allah karena ketidak-sadaran dirinya akan kesalahannya.

Kisah Aban bin Abi ‘Ayyas bisa menjadi pelajaran. Suatu hari seseorang mendatanginya dan menceritakan bahwa fulan mencaci makinya. Aban bin Abi ‘Ayyas menjawab:

أَقْرِئْهُ السَّلَامَ، وَأَعْلِمْهُ أَنَّهُ قَدْ هَيَّجَنِي عَلَى الِاسْتِغْفَارِ

Sampaikan salam(ku) kepadanya, dan beritahu dia bahwa dia telah membangkitkan (semangat)ku untuk beristigfar (memohon ampun kepada Allah).” (Imam Ibnu Abi Dunya, al-Shumt wa Adâb al-Lisân, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi, 1410 H, h. 268)

Dengan mendalami nasihat orang Arab Badui di atas, semoga kita bisa menjadi teman yang membuat temannya merasa beruntung berteman dengan kita. Amin. Wallahu a’lam bish shawwab. []

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar