LINU, Perekat NU
antara Pengurus dan Anggota
Setelah NU berdiri di
Surabaya pada 31 Januari 1926, organisasi para kiai ini berusaha secepat
mungkin untuk melebarkan sayapnya. Pada muktamar ketiga, di Surabaya, tahun
1927, NU membentuk Lajnatun Nashihin. Lembaga iniditerjemahkan oleh Choirul
Anam sebagai Komisi Propaganda. Tujuannya untuk menyebarkan NU ke
daerah-daerah.
Komisi yang
beranggota sembilan kiai ini dipimpin langsung Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.
Masing-masing memiliki tugas menyebarkan NU ke timur, ke tengah dan ke barat.
Setelah konsolidasi
dan fokus mendirikan cabang-cabang NU kemudian memperkokohnya dengan beragam
pertemuan dan pemahaman tentang gerak dan tujuan organisasi para ulama
itu.
Untuk tujuan itu, NU
berusaha memperat hubungan antarwarga NU, baik yang di kampung desa, maupun
kota, dengan cara mengadakan pertemuan setiap hari Jum’at atau seminggu sekali.
Pertemuan semacam itu diadakan di semua tingkatan jajaran NU, dari sejak
hoopdbestuur (pengurus besar) sampai dengan pengurus ranting (kring).
Isi pertemuan itu
sendiri, biasanya berupa pengajian keagamaan yang dipimpin seorang kiai,
kemudian diteruskan dengan tahlilan untuk arwah warga NU setempat yang telah
meninggal dunia.
Setiap tanggal 15
bulan qomariyah (tahun hijriyah) juga diadakan pertemuan antarkampung guna
mendengarkan pcmbacaan brosur LINU (Lailalatul Ijtima NU). Dalam brosur LINU
tertulis nama-nama warga NU yang telah meninggal dunia dari berbagai daerah.
Brosur itu sendiri dikeluarkan oleh hoopdbestuur NU secata rutin dan teratur.
Sehabis pembacaan
nama-nama almarhum seorang kiai tampil memimpin shalat ghaib buat para mayit.
Dan setelah itu dilangsunkaan tahlilan seperti biasa. Juga tidak jarang
dalam pertemuan itu diselipkan pengumuman mengenai hasil-hasil muktamar NU.
Dengan demikian hubungan sosial antarpengurus dan warga NU menjadi erat dan tak
terpisahkan.
Lailalatul Ijtima NU
terus berlangsung hingga kini. Di Lombok Tengah, misalnya di Desa Bonder,
kegiatan tersebut sudah sangat berakar. Warga sekitar sudah tidak mengetahui
lagi bahwa LINU adalah kegiatan sebuah organisasi karena mereka mengenal
kegiatan tersebut sejak lahir, melanjutkan tradisi dari lelhurnya. []
(Abdullah Alawi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar