KHUTBAH JUMAT
Pentingnya Sabar bagi Orang Terkena Musibah
Khutbah I
الحَمْدُ
للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَى قُلُوْبِ اْلمُسْلِمِيْنَ
المُؤْمِنِيْنَ، وَجَعَلَ الضِّياَقَ عَلَى قُلُوْبِ الْمُنَافِقِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْمَلِكُ اْلحَقُّ اْلمُبِيْنُ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْوَعْدِ
الأَمِيْنِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلمِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ
المَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ
لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ
أَيُّهاَ
اْلحَاضِرُوْنَ اْلمُسْلِمُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ
بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَن يَتَّقِ
اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Jamaah shalat JUmat hafidhakumullâh,
Sabar adalah sesuatu yang sangat penting
dalam ajaran Islam. Oleh karena pentingnya kedudukan sabar itulah, sabar
dijadikan oleh Allah ﷻ sebagai satu sebab
dari berbagai sebab atau faktor mendapatkan pertolongan dan kebersamaan bersama
Allah Taala.
يٰۧااَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ إنَّ اللّٰهَ مَعَ
الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman!
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah
beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153)
Nabi ﷺ bersabda:
اَلصَّبْرُ
نِصْفُ الْإِيْمَانِ
“Sabar adalah separuh dari iman.” (HR. Abû
Na‘îm dan al-Khathîb)
Ajaran sabar begitu penting dalam Islam,
sehingga porsinya separuh dari kesempurnaan kualitas dan tingkat keimanan kita.
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,
Oleh karena urgensi sabar itulah, Allah ﷻ dalam QS. al-‘Ashr
menegaskan bahwa kita diperintahkan untuk saling berwasiat, saling memberikan
nasihat agar berbuat sabar (watawâshau bish-shabr), bukan hanya agar
berbuat yang benar. Bahwa wasiat agar bersabar ini menjadi salah satu di antara
empat elemen yang sangat penting bagi keselamatan dan kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Syekh Ash-Shâwî dalam kitab tafsirnya Hâsyiyat
al-Shâwî ‘alâ Tafsîr al-Jalâlain, ketika menjelaskan Surat al-’Ashr,
menyatakan bahwa barangsiapa yang bisa memenuhi empat elemen ini: beriman,
beramal saleh, berwasiat/nasihat kebenaran, dan berwasiat kesabaran, maka ia
telah memenuhi hak Allah dan hak hamba-Nya, sehingga mendapatkan keselamatan
dan kebahagiaan dunia akhirat.
Kita pun telah maklum dengan ayat yang
menegaskan bahwa dunia ini adalah arena ujian (dâr balâ’) berupa ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta benda, nyawa dan buah-buahan, dan sebagainya. Allah
pun memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar, memberitahukan
keadaan mereka ketika ditimpa musibah dan menetapkan balasan pahala dan rahmat
bagi mereka.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِّنَ الـخَوْفِ وَالْـجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَموَالِ وَالأَنفُسِ
وَالثَّمَرَاتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ. اَلَّذِيْنَ إذَا أَصَابَتهُمْ
مٌّصِيْبَةٌۗ قَالُوْا إنَّا لِلّٰهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَۗ. أُولٰۧئِكَ
عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحمَةٌۗ وَأُولٰۧئِكَ هُمُ
الْـمُهْتَدُوْنَ
“Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan
sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan
sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang
yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ”Innaâ lillâhi wa innâ ilaihi
râji‘ûn” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Mereka
itulah yang memperoleh ampunan dan rahmah dari Tuhannya, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 155-157)
Atas dasar itulah, sabar merupakan sebab
kelangsungan kokohnya cita-cita, langgengnya amal dan usaha sungguh-sungguh.
Tidaklah hilang dari seorang suatu kesempurnaan kecuali karena lemahnya
kekuatannya dalam menanggung rasa sabar dan beban. Padahal dengan kunci
kesabaran yang kokoh, gembok-gembok persoalan dapat diatasi. Sebaik-baik
perbuatan adalah sabar dalam menghadapi kesulitan.
Imam al-Ghazali (450-505/1058-1111)
mengatakan bahwa: ”Seluruh yang dihadapi seorang manusia dalam kehidupan ini
tidak lepas dari dua macam, yaitu: (1) sesuatu yang sesuai dengan keinginannya;
dan (2) sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, justru dibencinya.
Masing-masing memerlukan kesabaran (al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn [Surabaya:
Alhidayah, t.t.], Juz 4, hlm. 1409).
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,
Ada dua macam orang dalam kehidupan ini dalam
hubungannya dengan kesabaran. Nabi ﷺ, sebagaimana tersebut dalam hadits shahih al-Bukhari dan
Muslim, memberikan tamsil, suatu perumpamaan indah, mengenai orang mukmin yang
sabar, dan orang munafik, dalam menghadapi kehidupan dunia ini.
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيْحُ تُمِيْلُهُ، وَلَا يَزَالُ
الْمُؤْمِنُ يُصِيْبُهُ الْبَلَاءُ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ كَمَثَلِ شَجَرَةِ
الْأَرُزِّ لَا تَهْتَزُّ حَتَّى تُسْتَحْصَدُ
”Perumpamaan orang mukmin bagaikan pohon yang
selalu diterpa angin --tetapi tetap kokoh, dan seorang mukmin selalu ditimpa
musibah; sementara perumpamaan orang munafik bagaikan pohon padi yang tidak
bergoyang dan tidak roboh sampai dengan dipanen (HR Muttafaq ‘Alaih, redaksi
Muslim). (An-Nawawî, Shahîh Muslim bi-Syarh al-Nawawî, Cet. ke-1,
Al-Azhar: al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1930, Juz, XVII, hlm. 151)
Pohon bambu misalnya menancap kuat di bumi,
meskipun diterjang angin yang mendoyongkannya, merontokkan daun-daunnya, tetapi
tidak merobohkannya, tidak membelahnya, dan tidak mencerabut akarnya. Demikian
pula seorang mukmin meskipun ditimpa musibah, yang mengakibatkan kesedihan,
tetapi musibah itu tidak bisa mengalahkannya ataupun menggoncangkan keimanannya
sedikitpun, sebab keimanannya kepada Allah merupakan pegangannya dari
menghadapi musibah.
Dunia ini penuh dengan peristiwa dan kejadian
yang mendadak. Pada satu sisi, manusia merasakan bahagia dekat dengan orang
yang disayangi dan dicintai, tetapi tiba-tiba terdengar berita kematiannya.
Pada sisi lain, manusia berada dalam keadaan sehat walafiat dan rezeki yang melimpah,
tetapi tiba-tiba ia jatuh sakit, masa depannya suram, hartanya habis
tersia-siakan....
Dunia ini ada anugerah, ada ujian, ada
kegembiraan dan ada kesedihan, ada cita-cita serta ada derita. Dunia ini tidak
ada yang langgeng (baqâ’), tetapi sifatnya fanâ’. Sesuatu yang jernih
bisa berubah keruh, kesenangan bisa berubah menjadi keperihatinan dan kesedihan
bahkan kesengsaraan. Alangkah janggal orang yang tertawa tetapi tidak pernah
menangis; alangkah janggal orang yang penuh kemewahan tetapi tidak pernah
merasakan kesulitan; alangkah janggal orang yang bahagia tetapi tidak pernah
sedih, bukan?
Imam Syarf al-Dîn al-Nawawî memberikan
penjelasan tentang maksud hadits di atas. Ia mengatakan:
قَالَ
الْعُلَمَاءُ: مَعْنَى الْحَدِيْثِ أَنَّ الْمُؤْمِنَ كَثِيْرُ الْآلَامِ فِيْ
بَدَنِهِ أَوْ أَهْلِهِ أَوْ مَالِهِ، وَذَلِكَ مُكَفِّرٌ لِسَيِّئَاتِهِ،
وَرَافِعٌ لِدَرَجَاتِهِ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَقَلِيْلُهَا، وَإِنْ وَقَعَ بِهِ
شَيْءٌ لَمْ يُكَفِّرْ شَيْئًا مِنْ سَيِّئَاتِهِ، بَلْ يَأْتِيْ بِهَا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ كَامِلَةً.
Artinya: ”Para ulama berkata: ‘makna hadits
itu adalah bahwa orang mukmin banyak mengalami kepedihan pada badannya, dan
keluarganya ataupun hartanya, tetapi hal itu justru menjadi pelebur bagi
kesalahan-kesalahannya, dan meninggikan derajatnya. Sementara orang kafir
sedikit mengalami kepedihan, bila ia tertimpa sesuatu, sesuatu itu tidak
meleburkan kesalahan-kesalahannya sedikit pun, bahkan ia datang membawa
kesalahan-kesalahannya itu pada Hari Kiamat secara sempurna.” (An-Nawawî, Shahîh
Muslim bi-Syarh al-Nawawî, Cet. ke-1, Al-Azhar: al-Mathba’ah al-Mishriyyah,
1930, Juz, XVII, hlm. 151)
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullâh,
Inilah realitas dunia. Ada bahagia, ada
sengsara, ada gembira ada sedih, ada suka dan ada duka. Oleh karena itulah,
musibah bagi orang mukmin dipandang sebagai ujian. Bagi orang mukmin keberadaan
dunia yang penuh dengan lika-liku dan dinamika kehidupan ini dihadapi dengan
penuh kesabaran, karena sabar itulah obat dari penyakit-penyakit yang
mengguncang dunia.
Allah ﷻ telah jelas
menyatakan bahwa: ”Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya....” (QS. Al-Mulk [69]: 2). Jadi,
dunia ini berisi ujian bagi manusia, untuk menguji orang yang paling baik
perbuatannya (ahsan/khair), bukan cuma ornag yang paling banyak
perbuatannya (aktsar).
Oleh karena itulah, Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullâh
(31-110 H), sebagaimana disitir oleh Syaikh ‘Abd al-Majîd bin Muhammad bin
Muhammad al-Khânî al-Syâfi‘î al-Naqsabandî (w. 1318), berkata:
جَرَّبْنَا
وَجَرَّبَ الْمُجَرِّبُوْنَ فَلَمْ نَرَ شَيْئًا أَنْفَعَ مِنَ الصَّبْرِ، بِهِ
تُدَاوَى الْأُمُوْرُ، وَهُوَ لَا يُدَاوَى بِغَيْرِهِ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ
عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ.
Artinya: ”Kami telah mendapatkan ujian,
sebagaimana orang-orang mendapatkan ujian, kami tidak melihat sesuatu pun yang
lebih bermanfaat daripada sabar. Sebab dengan sabar itu segala persoalan dapat
diobati (dicarikan solusinya), sementara sabar itu sendiri tidaklah diobati
dengan selainnya. Tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih
luas--kenikmatannya--daripada sabar.” (‘Abd al-Majîd bin Muhammad al-Khânî
al-Naqsabandî, al-Hadâ’id al-Wardiyyah fî Ajlâ’ al-Sâdâh al-Naqsabandiyyah,
Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2010 hlm.
198).
Ekistensi orang mukmin di antara manusia ini
sungguh menakjubkan, karena karakteristik baiknya dalam menghadapi kondisi
senang maupun kesulitan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:
إِنْ
أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ
صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: ”Seorang mukmin itu bila mendapatkan
kesenangan, maka ia bersyukur, karena bersyukur itu lebih baik baginya; dan
bila ditimpa sesuatu kesulitan, maka ia bersabar, karena sabar itu lebih baik
baginya.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, jelas ajaran kesabaran
sangat penting diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai
sendi dan dinamika kehidupan, terutama tentu ketika tertimpa musibah. Bagi
orang mukmin yang bisa menjalani dan menghadapi musibah dengan sabar, maka ia
diberikan petunjuk, ampunan, dan rahmat dari Allah Taala. Semoga Allah ﷻ memberikan kekuatan
lahir bagi ahli musibah (orang dan keluarga yang terkena musibah). Semoga Allah
Taala menyelamatkan kita, bangsa Indonesia, dari penderitaan, musibah dan
bencana, âmîn…
بَارَكَ
الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ
بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا
فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ
رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ
وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
أَمَّا
بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا
عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ
بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ
وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ
الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ
الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ
اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ
وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ
اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ
اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ
الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ
وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ
عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى
اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا
وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ
ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Ahmad Ali MD, pengampu Rubrik Bahtsul Masail
NU Online, Pengurus Lembaga Dakwah PBNU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar