Memahami
Tasawuf KH Saleh Darat
Judul
Buku : Pemikiran Tasawuf KH Saleh
Darat Al-Samarani; Maha Guru Para Ulama Nusantara
Pengarang
: Prof Dr Ali Mas’ud Kholqillah, MAg
Penerbit
: Pustaka Idea
Tahun
Terbit : 2018
Tebal
Buku : xxii + 338
Peresensi
: Ibnus Shofi (Mahasiswa S2 UIN Sunan Ampel, penerima Beasiswa Kemenpora 2018)
Nama
KH Saleh Darat Semarang dalam konteks sejarah Islam di Nusantara, terkhusus
sejarah pesantren, memiliki tempat tersendiri dalam ruang diskusi para pembaca
dan pemerhati. Ia dikenal salah satu ulama yang produktif berdakwan dan
menulis. Tidak sedikit berbagai karya telah dituliskan sebagai medium dakwah di
tengah masyarakat luas, termasuk diajarkan kepada santri-santrinya dengan
menggunakan tulisan Arab pegon Jawa.
Kealimannya
tidak disangsikan. Karenanya, berbagai santri yang kelak menjadi tokoh besar
terlahir dari sentuhan dingin dari sosok Kiai Saleh. Kenyataan ini tidak bisa
lepas dari proses belajarnya kepada beberapa ulama di di Makkah al-Mukarramah,
termasuk beberapa ulama Jawa yang pernah disinggahi. Salah satu ulama Makkah
yang menjadi jujukannya adalah Syaikh Muhammad Muqri al-Mishri al-Makki, Syaikh
Ahmad ibn Zaini Dahlan, Syaikh Nahrawi al-Mishri al-Makki. (lihat 84-86).
Buku
ini menarik, sebab mengupas dari kekhasan pemikiran Kiai Saleh. Menarik sebab
Kiai Saleh menguasai beberapa disiplin keilmuan Islam dan buku ini mengungkap
secara gamblang plus detail bagaimana pemikiran tasawuf Kiai Saleh Darat serta
berada dalam tipologi apakah tasawufnya, bila dikaitkan dengan tipologi tasawuf
Sunni atau tasawuf falsafi. Sebuah usaha akademik yang sangat berharga sehingga
layak dibaca oleh semua kalangan.
Salah
satu pemikiran tasawuf Kiai Saleh Darat bila dipahami, misalnya, adalah
“larangan agar kita tidak mudah berburuk sangka kepada guru –tepatnya guru
mursyid—yang telah memiliki sanad yang sangat jelas dari para guru-guru atau
mursyid yang sempurna” (lihat, 259). Sebuah larangan yang layak direnungkan
dalam konteks hubungan murid dan guru sehingga akan sangat berarti buku ini
untuk dibaca dalam rangka mendalami bagaimana langkah tasawuf itu mengajarkan
banyak hal dalam kehidupan; bukan saja kehidupan bersama Allah, tapi juga
bersama manusia.
Dalam
kontek pendidikan, untuk menafsirkan isyarat atau intruksi ambigu yang
disampaikan oleh seorang guru, siswa harus memiliki rasa kepercayaan yang
tinggi kepada guru. Oleh karena itu dengan adanya rasa percaya seorang siswa
kepada guru, siswa akan memperoleh manfaat berupa kurangnya keraguan dalam
mengartikan tingkah laku guru, rasa hormat kepada guru sehingga siswa komitmen
dan mematuhi aturan serta norma-norma yang berlaku baik di kelasa maupun di
sekolah. Rasa percaya seorang murid kepada guru sangat penting dilakukan untuk
menciptakan proses belajar mengajar yang diinginkan.
Banyak
ajaran tasawuf Kiai Saleh Darat yang diulas dalam buku ini, yang pasti tipologi
pemikiran tasawufnya menjadi menarik untuk didalami. Pembacaannya yang
mengunakan bahasa lokal menjadi kelebihan tersendiri dalam karya-karyanya
sehingga sungguh cukup bagus ulasan buku ini juga mengupas bahasa aslinya
lantas penulisnya mengulas dan menafsirkan sesuai dengan kerangka pengetahuan
yang dipahami secara teroritis.
Namun,
membaca buku ini memang butuh pembacaan yang serius dan ini –sekaligus--menjadi
kelebihan buku ini sebab bukan sekadar buku biografi sebagaimana buku-buku lain
yang membahas tentang buku Kiai Saleh Darat. Tapi lebih pada tulisan sejarah
intelektual Muslim, apalagi buku ini adalah karya disertasi penulisnya dalam
rangka menyelesaikan program doktoral.
Lebih
dari itu ulasannya yang cukup baik dengan membandingkan data-data lain
memastikan buku ini mampu menyuguhkan posisi tasawuf Kiai Saleh Darat dalam
bingkai perkembangan tasawuf Nusantara. Yang pasti, membaca buku ini adalah
salah satu jalan agar kita mampu membaca dan menemukan bagaimana ulama
Nusantara berdakwah memahamkan nilai-nilai tasawuf kepada masyarakat. Selamat
membaca. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar