Selasa, 24 Desember 2019

Yudi Latif: Arah Transformasi Pendidikan


Arah Transformasi Pendidikan
Oleh: Yudi Latif

LANGKAH apa yang harus diambil rezim pendidikan baru saat ruang publik disapu kelatahan wacana tentang era disrupsi, dengan ultimatum ancaman 'daya sintas' tanpa jalan keluar yang terang?

Diperlukan kejernihan pikiran, bahwa sepanjang sejarah peradaban manusia, kehidupan sesungguhnya telah berkali-kali mengalami disrupsi.

Zaman batu berakhir bukan karena batunya habis, melainkan karena penemuan teknologi perunggu sebagai 'pengubah permainan' (game changer). Zaman perunggu berakhir bukan karena perunggu habis, melainkan karena penemuan teknologi besi sebagai pengubah permainan, dan seterusnya.

Kalaupun ada yang berbeda, hal itu terletak pada tingkat kerapatan dan skala disrupsi yang ditimbulkan. Bila pada zaman dulu, jarak antardisrupsi itu beringsut lambat--karena kelambanan penemuan teknologi baru, pada masa kini, rentang antardisrupsi itu begitu rapat, dengan implikasi yang lebih luas cakupannya dan dalam penetrasinya.

Dengan tendensi kerapatan dan intensitas disrupsi seperti itu, apa implikasinya bagi dunia pendidikan? Apakah hal itu berarti akan mengubah prinsip-prinsip pokok pendidikan, atau perubahan yang diperlukan terletak pada pendekatan dan metodologinya saja?

Pertama-tama harus diinsafi bahwa dengan kerapatan dan intensitas disrupsi, dunia pendidikan tidak bisa dikembangkan sebagai pabrik tenaga 'siap pakai'.

Bila pendidikan terlalu fokus menyiapkan peserta didik untuk menguasai keterampilan tertentu, kecepatan kedatangan teknologi baru akan segera mengedaluwarsakan keterampilan yang diberikan. Dengan kata lain, daya sintas dunia pendidikan tidak bisa mengandalkan pendekatan berbasis tantangan dan ancaman (threat based), tetapi harus dikembangkan berbasis penguatan kapabilitas (capability based).

Dunia pendidikan tidak disiapkan sebagai pemasok 'batu-bata', hanya karena ledakan permintaan batu bata, tetapi pemasok 'tanah liat', yang memiliki elastisitas untuk memenuhi ragam keperluan.

Itu sebabnya, mengapa ada tendensi di banyak negara, termasuk Tiongkok, untuk mengubah kurikulum pembelajaran dari spesialisasi berlebihan menuju penyiapan pembelajar generalis yang mampu berpikir independen dan inovatif.

Dalam buku Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World (2019), David Epstein, setelah melakukan studi komparatif secara ekstensif dan lintas-profesi, menyimpulkan bahwa kepercayaan lama tentang perlunya menekuni spesialisasi secara dini sebagai jalan menuju sukses ternyata hanyalah suatu perkecualian (exception), bukan ketetapan (rule).

Dalam profesi dengan bidang permainan (ruang manuver) yang terbatas, bersifat repetitif dan terukur dengan aturan yang tetap, fokus secara dini dalam spesialisasi ini memang bisa mengantarkan sukses seperti yang diraih Tiger Wood (dalam golf) dan Polgar bersaudara (dalam catur). Namun, dalam profesi dengan bidang permainan yang kompleks, saling berhubungan, berubah cepat dan sulit diprediksi, spesialisasi dini tidak menolong. Diperlukan range berpikir yang lebih luas dan adaptif dengan konteks dan perubahan.

Disrupsi kehidupan akibat perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan connectivity, menambah arti penting wawasan berpikir generalis. Dengan adanya AI, keterampilan teknis-taktikal bisa ditangani lebih baik oleh mesin. Yang dibutuhkan manusia justru kemampuan berpikir strategis dengan pemikiran holistis.

Dengan big data dan connectivity, yangg diperlukan manusia adalah daya analitis-sintetis dengan wawasan interdisiplin dan transdisiplin. Singkat kata, kelebihan manusia atas mesin, dan yang perlu lebih ditekankan adalah kemampuan melihat hutan secara keseluruhan ketimbang melihat satuan-satuan pohon.

Semua ini ada implikasinya pada dunia pendidikan. Spesialisasi secara dini harus dihindari. Hingga tingkat sekolah menengah tak perlu ada penjurusan. Sebaliknya, sekolah harus memberi kesempatan pada peserta dididik untuk mengenali berbagai disiplin ilmu. Spesialisasi bisa diperkenalkan pada jenjang perguruan tinggi. Dengan mengenali berbagai disiplin ilmu di awal pertumbuhan, pendidikan memberikan basis kapabilitas yang kuat.

Pendidikan berbasis kapabilitas menuntut penyiapan peserta didik sebagai manusia pembelajar seumur hidup. Manusia yang selalu update dengan perkembangan baru dengan kesediaan terus belajar memperbarui dirinya untuk bisa menjawab segala macam tantangan.

Pada titik ini, kedatangan zaman baru tidak berarti mengubah hakikat prinsip pendidikan. Prinsip pendidikan seumur hidup (life long education) justru harus dibudayakan lebih sungguh. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, secara visioner mendefinisikan pendidikan sebagai proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan (miko-kosmos dan makro-kosmos) sepanjang hidup.

Manusia pembelajar harus dibekali dengan dua macam kemampuan. Di satu sisi harus memiliki kelenturan untuk menyesuaikan diri dengan angin perubahan. Di sisi lain harus memiliki akar yang kuat agar tidak mudah roboh diterjang angin. Yang pertama memerlukan daya kreatif. Yang kedua memerlukan daya karakter.

Menumbuhkan mental kreatif

Dalam menumbuhkan manusia pembelajar yang kreatif, tugas dunia pendidikan adalah menumbuhkan mental kreatif (creative mind). Mengikuti Peter H Diamandis, MD (2018), setidaknya ada lima karakteristik mentalitas yang perlu dibudayakan peserta didik.

Jiwa sungguh mencintai (passion) terhadap apa yang dirasa sebagai bakat, minat, pilihan, dan impian seseorang. Kuncinya adalah mengupayakan ketersingkapan potensi diri dengan mengalami secara langsung aktivitas pengembaraan, ragam kegiatan dan percobaan (experiential learning).

Rasa ingin tahu (curiosity) dengan memfasilitasi proses eksperimentasi dan penemuan. Peserta didik perlu diberikan keterampilan untuk belajar mengajukan pertanyaan, hipotesis, mendesain eksperimentasi, mengumpulkan data, dan merumuskan kesimpulan.

'Keliaran' imajinasi dengan membiarkan alam terkembang menjadi guru. Program-program pengajaran yang terstruktur dengan basis hafalan bisa mengerdilkan imajinasi. Perkembangan imajinasi siswa bisa difasilitasi dengan permainan berselancar di dunia maya. Karya-karya sastra dan film superhero dan science fiction juga bisa merangsang penjelajahan imajinasi.

Pikiran kritis (critical thinking) sebagai pelita hidup. Untuk bisa mengarungi kehidupan era baru, dengan beragam ide yang saling bertentangan, berebut klaim, misinformasi, berita negatif dan bohong, belajar terampil berfikir kritis dapat membantu mengurangi kesesatan, kegaduhan, dan pembodohan.

Keteguhan hati (persistence) untuk mengarungi percobaan dan tantangan, bahwa segala percobaan dan impian itu memerlukan keuletan perjuangan jangka panjang. Sekolah bisa memfasilitasi pengembangan keteguhan ini lewat ajang kompetisi dalam semangat kolaborasi, juga dengan narasi figur-figur ternama yang mampu bangkit dari kesulitan dan keterpurukan.

Menumbuhkan karakter

Usaha menumbuhkan kapabilitas kreatif peserta didik itu hanya bisa menghasilkan karya dan luaran yang konstruktif dan produktif bila dibarengi kekuatan karakter yang memberi landasan nilai integritas dan etos kerja.

Pendidikan karakter diperlukan untuk menempa siswa menjadi pribadi baik (karakter pribadi) sekaligus warga negara baik (karakter kolektif). Antara karakter pribadi dan karakter kolektif bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan.

Tentang bagaimana menjadi pribadi yang baik, Thomas Lickona (2011), menengarai ada 9 nilai inti karakter pribadi yang harus ditumbuhkan: keberanian (courage), keadilan (justice), kebaikan hati (benevolence), rasa terima kasih (gratitude), dan kebijaksanaan (wisdom), wawas diri (reflection), rasa hormat (respect), tanggung jawab (responsibility), serta pengendalian diri (temperance).

Tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik, Jonathan Haidt (2012), menengarai ada 6 nilai inti moral publik sebagai basis karakter kolektif kewargaan: peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama (care), rasa keadilan dan kepantasan (fairness), kebebasan dengan menjunjung tinggi hak-hak dasar manusia (liberty). Lalu, kesetiaan pada institusi, tradisi dan konsensus bersama (loyalty), respek terhadap otoritas yang disepakati bersama (authority), serta menghormati nilai-nilai yang dipandang paling 'mulia' (santinctity). Dalam konteks Indonesia, keenam nilai inti moral publik itu terkadung dalam Pancasila.

Pergeseran pendekatan

Semuanya itu memerlukan pergeseran atau penyesuaian pada pendekatan dan metodologi pendidikan. Menurut Christiaan Henny (2016), ada beberapa hal yang patut diperhatikan sebagai karakteristik pendekatan dan metodologi pendidikan masa depan.

Aktivitas belajar di ruang kelas mengalami pembalikan (flipped classroom). Dengan fasilitas e-learning, pelajar bisa memiliki lebih banyak kesempatan belajar pada aneka tempat dan waktu, juga bisa belajar jarak jauh dan belajar sendiri.

Dengan demikian, aktivitas di ruang kelas bisa kebalikan dari pendekatan pembelajaran konvensional. Aspek-aspek teoritis yang biasanya disampaikan di ruang kelas bisa dipelajari di luar kelas; sebaliknya aspek-aspek praktis yang biasanya menjadi pekerjaan rumah justru dikerjakan di ruang kelas secara interaktif. Ruang kelas menjadi wahana mendiskusikan hal-hal yang belum jelas, juga menjadi ajang kerja kelompok untuk mengaitkan hal-hal yang teoritis ke dalam praktik.

Pembelajaran mengalami personalisasi (personalizing learning). Para pelajar akan belajar dengan alat-alat pembelajaran sesuai dengan kapabilitas dirinya. Pelajar yang memiliki kecakapan di atas rata-rata pada subjek-subjek tertentu akan ditantang dengan tugas dan pertanyaan yang lebih berat, sedangkan pelajar yang mengalami kesulitan akan mendapatkan kesempatan yang lebih banyak hingga bisa mencapai level yang dikehendaki. Pelajar akan mendapatkan peneguhan secara positif, yang bisa mengatasi kehilangan kepercayaan diri. Guru-guru akan dapat mengenali secara lebih jelas, pelajar mana yang memerlukan bantuan dalam bidang apa.

Keterbukaan pilihan bebas (free choice). Meskipun setiap subjek yang dijarkan mengarah pada tujuan yang sama, jalan yang ditempuh oleh pelajar untuk mencapai tujuan tersebut bisa berbeda. Pelajar akan bisa memodifikasi proses belajar dengan alat-alat pembelajaran yang dirasa cocok dengannya.

Para pelajar akan belajar dengan beragam peralatan, program, dan teknik sesuai dengan preferensinya. Untuk itu, pelajar harus disertakan dalam penyusunan kurikulum. Guru lebih berperan sebagai mentor pendamping, pengarah, pendorong, dan penghubung siswa dengan dunia luar.

Pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Mengikuti kencederungan pilihan karier pekerjaan di era baru, yang tidak terlalu terikat (freelance), para pelajar hari ini harus diadaptasikan pada praktik pembelajaran dan pekerjaan berbasis proyek. Mereka harus belajar bagaimana menerapkan keterampilannya dalam jangka pendek pada ragam situasi.

Hal ini harus mulai diperkenalkan pada sekolah menengah. Pada jenjang ini, kreterampilan berorganisasi, kolaborasi, dan pengaturan waktu juga dapat diajarkan sebagai modal dasar untuk dikembangkan pada karir akademik selanjutnya.

Perluasan pengalaman lapangan (field experience) karena teknologi dapat memfasilitasi secara lebih efisien pembelajaran aspek-aspek teoritis pada domain tertentu, kurikulum akan memberi ruang pagi pengembangan keterampilan dalam pengalaman langsung.

Sekolah/universitas akan menyediakan kesempatan yang lebih luas untuk meraih keterampilan dalam dunia nyata sesuai dengan preferensinya. Kurikulum akan menciptakan lebih banyak ruang bagi pelajar untuk menjalani permagangan, proyek kolaborasi, dan mentoring.

Teknologi bisa menolong aktivitas belajar mandiri di luar kelas manakala peserta didik memiliki budaya belajar dan literasi yang kuat.

Untuk itu, kurikulum pendidikan dasar harus memberi perhatian pada olah pikir lewat pembelajaran membaca, menghitung, menutur, mendengar, menulis, dan meneliti dalam kerangka budi pekerti.

Pelajaran membaca lebih dari sekadar belajar melek-huruf, atau sekadar membaca buku pelajaran yang diwajibkan. Pelajaran membaca harus menjadi kecapakan fungsional yang dibiasakan (reading habit) sejak pendidikan dasar. Kecakapan dan kebiasaan membaca sejak dini akan memudahkan anak-anak untuk menjelajahi dunia ilmu pengetahuan melampaui batas-batas pelajaran sekolah.

Budaya baca kian penting dihadapkan pada perluasan terpaan media digital dengan muatan pesan yang serba ringkas dan instan. Tanpa tradisi membaca yang kuat akan sulit bagi generasi baru untuk memahami dan mengembangkan penalaran panjang seperti pengetahuan-pengetahuan naratif (filsafat, ideologi, sejarah, agama, sastra, dan lain-lain). Padahal, pengetahuan naratif merupakan sumber penemuan diri dan pembentukan karakter.

Oleh karena itu, kemunculan era disrupsi jangan jadi pembenar untuk menelantarkan kapasitas literasi. Pendidikan sekolah dasar menjadi tumpuan untuk membudayakan minat baca, tradisi menulis, dan menutur. Tanpa daya interpretasi, daya baca, daya tulis, dan daya menutur, perkembangan kreativitas manusia tidak meliliki landasan yang kuat. Oleh karena itu, harus disediakan wahana bagi anak-anak untuk membaca atas pilihannya sendiri.

Sekolah hanya menyediakan bahan-bahan bacaan yang sejalan dengan misi pendidikan budi-pekerti. Setelah membaca, anak-anak juga harus dilatih untuk menuturkan apa yang mereka tangkap dari bahan bacaan. Latihan menutur bukan sekadar membantu mengingat, melainkan juga melatih kepercayaan diri, serta pembiasaan saling mendengar dan saling mengapresiasi sesama peserta didik.

Selain membaca, siswa harus diberikan kecapakan menghitung. Pada enam tahun pertama pendidikan dasar, tidak perlu diberikan pelajaran matematika yang rumit. Negara seperti Finlandia dengan prestasi pendidikan yang hebat pun mulai menghilangkan pelajaran matematika di sekolah dasar. Pada tingkat ini, cukuplah diberikan pelajaran aritmatik sederhana sebagi dasar kecapakan hidup, yang diterapkan langsung dalam praktik kehidupan. pelajaran matematika bolehlah mulai diperkenalkan pada kelas tujuh.

Pelajaran membaca berkelindan dengan pelajaran menulis. Pelajaran menulis tidak sekadar diletakkan di pojok mata pelajaran bahasa, tetapi subjek tersendiri yang terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran. Kecakapan menulis merupakan bekal dasar bagi asah kemampuan logika, sistematika, meneliti, dan mencipta. Tak mengherankan, saat AS menyadari penurunan daya saing, solusi kurikulumnya justru mewajibkan pelajaran mengarang di tingkat pendidikan dasar dan menengah (Godzich, 1994).

Semua pergeseran dalam pendekatan dan metodologi pendidikan itu harus seiring dengan transformasi pendidikan karakter. Untuk itu, kurikulum pendidikan dasar harus menyediakan peserta didik suatu wahana olah rasa untuk mengasah daya-daya afeksi yang dapat memperkuat kepekaan estetik, kehalusan perasaan, keindahan perangai, kepekaan empati dan solidaritas sosial, sensitivitas daya spiritualitas, ketajaman rasa keadilan, semangat kebangsaan (nasionalisme), dan gotong-royong. Untuk itu, kurikulum pendidikan hendaklah memberi perhatian pada pelajaran kesenian, moral keagamaan, kesejarahan, pendidikan karakter personal dan kewargaan, wawasan kebangsaan, dan kemanusiaan.

Pengembangan karakter merupakan pendekatan holistis yang menghubungkan dimensi moral pendidikan dengan ranah sosial dan sipil kehidupan siswa. Dalam pendidikan karakter, moral itu ditangkap (caught) dengan keteladan, bukan diajarkan (taught) dengan hafalan. Cara mengajarkannya tidak terisolasi dalam mata pelajaran tersendiri, tetapi melekat dengan seluruh rangkaian kurikulum dan melibatkan peran komunitas.

Sifat-sifat karakter yang dikehendaki harus merembesi lingkungan belajar siswa baik dalam kelas, jalan masuk, gimnasium, kafetaria, lapangan olahraga, dan tempat-tempat lainnya, yang kemudian terhubung dengan praktis moral dalam realitas masyarakat.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa pendidikan itu benih harapan. Bila masyarakat dilanda kekisruhan, kemandekan, dan keterpurukan, dan tak tahu kunci emansipasinya, jurus pemungkasnya adalah pendidikan. Pendidikan benih harapah harus memprioritaskan pengembangkan manusia pembelajar yang kreatif dan berkarakter.

Proses pendidikan harus mampu mengembangkan kreativitas berbasis keragaman kecerdasan insani dengan panduan kompas nilai yang dapat menjaga keselarasannya dengan tertib kosmos dan harmoni dunia. Dengan cara itu, menurut Ki Hadjar Dewantara, manusia pembelajar bisa, "mangaju-aju salira, mengaju-aju bangsa, mangaju-aju manungsa" (membahagiakan diri, membahagiakan bangsa, membahagiakan kemanusiaan). []

MEDIA INDONESIA, 18 Desember 2019
Yudi Latif | Cendekiawan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar