Senin, 30 Desember 2019

Al-Khairiyah Saksi Bisu Masa Perkembangan NU


Al-Khairiyah Saksi Bisu Masa Perkembangan NU

Siapa sangka gedung Sekolah Dasar Islam (SDI) Al-Khairiyah yang terletak di Jalan Kapten Ilyas, No. 47, Banyuwangi itu menyimpan sejarah penting. Di gedung tersebut, 85 tahun lalu, menjadi saksi bisu fase penting bagi Nahdlatul Ulama (NU). Sebuah fase yang menandai dari masa pertumbuhan ke perkembangan.

Dalam buku "Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama" karya Choirul Anam disebutkan fase perkembangan NU bermula saat pelaksanaan Muktamar ke-IX NU di Banyuwangi pada 21-26 April 1934. Ada sejumlah penanda yang ditiliknya. Salah satunya adalah untuk pertama kalinya peserta muktamar (muktamirin) duduk di kursi. Tak lagi lesehan sebagaimana pada pelaksanaan muktamar-muktamar sebelumnya. Pada saat itu pula, untuk pertama kalinya, rapat tanfidziyah dan syuriyah terpisah. (Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010: 93-95)

Penanda tersebut, dalam riset yang dilakukan oleh Komunitas Pegon, terjadi di SDI Al-Khairiyah. Pada saat itu, gedung tersebut dikenal sebagai Madrasah Al-Khairiyah. Ini merupakan salah satu madrasah tertua di Banyuwangi. Diperkirakan madrasah tersebut dibangun pada awal abad 20.

Konon, madrasah tersebut, pertama kali berdiri di Kelurahan Lateng dengan bentuk angkringan sederhana. Pengelolanya adalah kalangan Ahlussunah wal Jama'ah (Aswaja), baik dari kalangan Arab maupun pribumi. Hal ini, besar kemungkinan, sebagai respon atas munculnya sekolah-sekolah kolonial ataupun sekolah agama yang berhaluan Wahabi yang mulai bermunculan di Banyuwangi.

Madrasah Al-Khairiyah dibangun cukup megah dengan model art deco yang populer di masa kolonial. Kemegahan bangunannya terekam dalam Swara Nahdlatoel Oelama Nomor 7 Tahun ke-II Rajab 1348. Dalam majalah resmi NU tersebut, memuat berita kunjungan pengurus PBNU ke Madrasah Al-Khairiyah.

Pengurus PBNU yang datang ke Banyuwangi pada 16 Januari 1930 itu, dibuat takjub. Saat itu, ada tiga orang pengurus NU yang datang. Antara lain KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan KH. Mas Alwi Abdul Aziz. Nama yang terakhir, merupakan redaktur di Swara Nahdlatoel Oelama (S.N.O).

Atas nama redaksi majalah resmi Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama/ HBNO (istilah PBNU waktu itu), Kiai Mas Alwi menulis demikian:

"Kita muji syukur alhamdulillah ala wujudanil Madrasah al-Khairiyah Banyuwangi. Qulnaa: muta'ajuban maa akbaruhaa wa maa ahsana hay'atuhaa."

Pengurus pusat tersebut bersyukur sekaligus takjub dengan gedung madrasah. Baik karena besarnya bangunan, maupun karena keindahan arsitekturnya.

Masih merujuk pada pemberitaan di SNO di atas, bangunan madrasah tersebut terdiri dari sepuluh kelas untuk belajar mengajar. Juga terdapat 20 kamar untuk asrama bagi pelajar yang berasal dari luar daerah. Serta dilengkapi dengan dua ruang pertemuan. Satu ruang untuk menerima tamu dan satu ruang lain untuk istirahat para guru maupun digunakan untuk menggelar rapat-rapat.

Di penghujung tulisan, Kiai Mas Alwi juga menulis demikian:

"Dene sampurnane wahu madrasah, kita mboten badhe hamanjingaken cariyos."

Kurang lebih artinya adalah karena sempurnanya madrasah ini, kita (HBNO) tidak akan memberikan masukan (saran). Hal ini menandakan betapa majunya madrasah tersebut dibandingkan dengan madrasah-madrasah lainnya di luar Banyuwangi.

Tak seperti saat ini yang halamannya tak seberapa luas. Kala itu, halaman Madrasah Al-Khairiyah cukup luas. Dalam 'De Indische Courant' - sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Nusantara - tertanggal 12 Desember 1933, memberitakan bahwa di halaman madrasah tersebut mampu menampung hingga 2.000 pengunjung.

Saat itu, diadakan open baar (rapat umum) guna mensosialisasikan pelaksanaan Muktamar NU beberapa bulan mendatang. Rapat yang dihadiri oleh KH Wahab Chasbullah tersebut diikuti juga oleh sejumlah pejabat. Baik dari unsur pemerintah, kepolisian, penegak hukum, penghulu, dan sejumlah kiai dari seantero Banyuwangi.

Kebesaran Madrasah Al-Khairiyah pada dekade 30-an tersebut, terbukti dalam sebuah foto yang masih tersimpan di sekolah tersebut. Ratusan murid dan dewan guru berfoto bersama pada 1930. Gedung madrasah yang megah menjadi latar belakangnya. Dari proyeksi foto itu, halaman yang sangat luas juga bisa terlihat. Tak heran, jika tempat tersebut menjadi salah satu venue muktamar selain di Masjid Jami' Banyuwangi dan di Pesantren Lateng yang jaraknya tak terlampau jauh itu. []

(Ayung Notonegoro)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar