Kamis, 26 Desember 2019

(Ngaji of the Day) Rasulullah, Pemimpin yang Tidak Ingin Diistimewakan


Rasulullah, Pemimpin yang Tidak Ingin Diistimewakan

Biasanya orang yang memiliki kedudukan ingin diistimewakan, dihormati, dan dilayani. Sebagai seorang pemimpin misalnya, dia bebas sekehendak hati memerintahkan anak buahnya untuk melakukan ini dan itu. Tanpa dia ikut mengerjakannya. Mungkin itu sudah menjadi ‘watak’ atau ‘karakter’ orang yang memiliki jabatan. Mereka selalu merasa di atas dan harus diistimewakan.

Namun Rasulullah tidak lah demikian. Meski dia adalah seorang pemimpin agama dan negara, seorang nabi dan rasul Allah yang terakhir, tapi Rasulullah tidak pernah meminta kepada para sahabat dan umatnya untuk diistimewakan.

Rasulullah bergaul dengan para sahabatnya tanpa ada sekat yang memisahkannya. Jika memerintahkan sahabatnya untuk melakukan suatu hal, Rasulullah juga ikut terlibat di dalamnya. Bahkan, Rasulullah memberikan teladan terlebih dahulu sebelum menyuruh sahabatnya untuk melakukan suatu hal.

Sebagaimana keterangan dalam buku Akhlak Rasul Menurut Bukhari Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2009), diceritakan bahwa suatu hari Rasulullah dan para sahabatnya akan memasak kambing bareng. Rasulullah lantas membagi tugas untuk para sahabatnya. Ada yang bertugas menyembelih kambing, mengulitinya, menyiapkan tungku, menyiapkan air, dan memasaknya.

Awalnya para sahabat tenang karena semuanya kebagian tugas. Namun suasana langsung riuh manakala Rasulullah mengatakan kalau dirinya yang akan mencari dan mengumpulkan kayu bakar. Para sahabat ‘tidak terima’ dengan hal itu. Mereka meminta Rasulullah agar berdiam diri dan menunggu saja. Tidak perlu ikut bekerja. Apalagi mencari kayu. Tugas itu biar dikerjakan orang lain saja. Kata para sahabat dengan nada memprotes.

“Saya tahu kalian bisa menyelesaikan pekerjaan ini, tapi saya tidak suka diistimewakan,” jawab Rasulullah dengan tegas. Rasulullah lantas mengungkapkan bahwa Allah tidak suka melihat seorang hambanya diistimewakan dari teman-teman yang lainnya.

Begitu lah Rasulullah. Kedudukan dan statusnya yang begitu agung tidak lantas menjadikannya arogan. Buta akan penghormatan. Dan selalu minta diistimewakan. Beliau seolah memberikan teladan bahwa seorang pemimpin tidak cukup dengan hanya memberikan instruksi apa yang harus dikerjakan anak buahnya, lalu kemudian berdiam diri dan ongkang-ongkang. Jika tidak benar, maka ia akan memarahi anak buahnya habis-habisan.

Tidak seperti itu. Bagi Rasulullah, seorang pemimpin harus ikut turun ke bawah. Kalau perlu berkeringat sebagaimana anak buahnya berkeringat dan memastikan semua yang dikerjakan anak buahnya berjalan dengan baik dan lancar. []

(A Muchlishon Rochmat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar