Puasa Menahan Hasrat Berlebih
Oleh: Haedar Nashir
Marhaban ya Ramadan. Selamat datang puasa Ramadan. Kehadiran bulan
penuh berkah ini selalu dinanti dan dijalani setiap muslim dengan gelora
keagamaan tinggi.
Di setiap negeri muslim, hatta yang tinggal di negara-negara
sekuler sekalipun, insan mukmin menyambut dan menjalani puasa. Dan, segala
rangkaian ibadah Ramadan lainnya dengan semangat luar biasa disertai segala
syiar aktivitasnya.
Pada perjalanan hidup setiap muslim, tentu sejumlah kali puasa
Ramadan telah ditunaikan seiring rentang usia yang menyertai. Kegiatan ibadah
yang paling masif itu bahkan disertai aktivitas sosial yang luar biasa
menyeruak di setiap lingkungan jamaah umat. Para sosialita, bahkan program
televisi pun, kian akrab dengan aktivitas Ramadan. Lebih-lebih, di era media
sosial yang makin menjadi budaya baru, penyambutan dan syiar Ramadan kian
bersemarak luas.
Pertanyaannya, apa yang membekas dalam diri dengan puasa dan
rangkaian ibadah lainnya selama satu bulan setiap tahun itu? Sebuah pertanyaan
yang memerlukan refleksi diri setiap muslim yang berpuasa, baik selaku individu
maupun kolektif.
Benih rohani apa yang dapat ditanam dan dikembangkan dalam
kehidupan umat muslim, khususnya di negeri yang mayoritas beragama Islam ini?
Jawaban normatifnya, tentu setiap muslim atau umat Islam makin bertakwa karena
sudah tergembleng keagamaannya selama sebulan pada setiap tahun sehingga
terjadi akumulasi kualitas ketakwaan yang kukuh.
Benarkah itu semua? Apakah setiap diri kita yang telah menjalani
puasa Ramadan plus puasa-puasa sunah lainnya seperti puasa Senin-Kamis dan
puasa Daud telah menjelma menjadi insan muslim yang semakin berkualitas
keislamannya?
Apakah watak-watak dan perangai buruk terkikis? Sebutlah sikap
temperamental, arogan, mudah marah, berujar keburukan, aura kebencian,
permusuhan, merendahkan sesama, mencerca golongan lain yang tak sepaham, dan
segala perangai onar yang melambangkan perilaku primitif di ruang publik!
***
Setiap muslim paham puasa itu al imsaak, bermakna menahan diri.
Menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan hasrat biologis sejak terbit
fajar sampai terbenam matahari. Sesuatu yang sehari-hari dihalalkan pada waktu
puasa diharamkan. Artinya, betapa puasa bukan sekadar rukun syariat belaka,
karena relatif mudahnya orang secara fisik menahan tiga syahwat duniawi itu
untuk ditunaikan, hatta meskipun berat bagi mereka yang berpuasa di atas 12 jam
seperti di negeri-negeri Skandinavia.
Semudah itukah berpuasa, terlebih bagi yang sudah terbiasa? Secara
rukun syariat, tentu mudah.
Tetapi, bagaimana dimensi hakikat dan makrifat dari puasa dan
segala rangkaian ibadah di bulan yang agung itu? Hingga di sini, pada titik
yang esensial dan eksistensial, fungsi kerohanian puasa penting untuk terus
dipertanyakan dan dihayati setiap insan yang berpuasa dan beribadah lain di
setiap kehadiran Ramadan.
Takhta, harta, dan segala kebutuhan indrawi itu memang manusiawi
untuk dipenuhi, tetapi jangan berlebihan. Bukankah Allah SWT memperingatkan, “Wa-kuluu wasrabuu
walaa tusrifuu” atau “Makan dan minumlah, dan jangan berlebihan”
(QS Al A’raf: 31).
Ketika seseorang atau sekelompok orang mengejar jabatan (takhta)
maupun materi (uang, harta) dan segala kepentingan duniawi secara berlebihan,
akan terjadi pemutlakan. Sehingga yang terlahir karakter to be or not to be
atau sikap hidup-mati.
Bagi yang diberi mandat kuasa, memperoleh harta dan segala
kesenangan duniawi, jangan merasa bangga, congkak, dan euforia tatkala berhasil.
Belajarlah rendah hati dan bersyukur kepada Allah.
***
Ukuran sukses puasa dan ibadah Ramadan tentu pada sublimasi
(penyucian diri) dan transformasi (perubahan) diri dalam bingkai kualitas
takwa. Sukses atau tidaknya orang berpuasa ialah pada seberapa dalam dan jauh
kualitas takwa itu menginternalisasi dalam diri setiap muslim yang
menunaikannya. Yang kemudian berbuah segala kebaikan diri sebagai pancaran dari
ketakwaan. Adakah semua itu terjadi dan menjelma dalam setiap insan muslim di
negeri tecinta ini? Semoga demikian.
Menjadi bertakwa itulah tujuan berpuasa, sebagaimana firman Allah
dalam Alquran yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa
(QS Al Baqarah: 183).”
Setiap muslim mudah mengingat dan menghafalnya. Para mubalig pun
dengan fasih menjelaskan dalam segala keindahan tafsir dan retorika ketika
menguraikan ayat tentang puasa Ramadan itu.
Takwa, kata para ulama, ialah menjalankan segala perintah Allah
dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Semudah itu. Tapi, apakah setiap insan
muslim dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata?
Kenapa di negeri ini masih banyak korupsi, padahal mereka rajin
puasa, salat, haji, dan segala ritual ibadah lainnya? Korupsi dilakukan oleh
mereka yang -selain beragama Islam- malah terbilang tokoh-tokoh Islam yang
paham Islam luar-dalam dan setiap hari menyuarakan Islam.
Kenapa di negeri ini masih berseliweran sikap, perangai, dan
ujaran-ujaran yang mengirim kegaduhan, amarah, kebencian, perseteruan,
permusuhan, dan amuk massa atas nama Islam dan dilakukan oleh sosok-sosok yang
semestinya menjadi teladan umat? Bahkan, berpolitik pun menjadi gaduh dan
dibawa ke ranah pertentangan keras.
Bukankah di antara ciri orang bertakwa ialah mampu menahan marah
dan memberi maaf kepada sesama (QS Ali Imran: 134-135). Bukankah Rasul
bersabda, ketika ada orang yang mengajak bertengkar, jawablah inni shaimun, aku
sedang berpuasa.
Maknanya, ada mekanisme pertahanan diri yang kukuh untuk tidak
terjebak pada segala tingkah permusuhan. Apalagi sampai menciptakan suasana
permusuhan, amarah massa, dan kegaduhan sosial hatta atas nama amar makruf nahi
mungkar.
Mengapa ada sosok-sosok warga atau elite muslim yang setiap hari
menghujat dan menghakimi saudara seiman dengan berbagai label buruk, tajassus
(mencari-cari kesalahan orang), gibah (menggunjing aib pihak lain), dan
merendahkan sesama padahal pada saat yang sama mengumandangkan ukhuwah dengan
suara indah.
Hatta ketika dapat angin kuasa sesaat, justru yang mencuat
arogansi diri dan kebanggaan akan golongan sendiri. Di mana letak nilai-nilai
Islam yang berakhlak mulia, uswah hasanah, dan rahmatan lil ‘alamin yang setiap
hari disuarakan dengan dalil-dalil agama dan retorika indah? Telah bertakwakah
orang yang berperangai demikian?
Sungguh sangatlah penting nilai-nilai puasa dan ibadah Ramadan
ditransformasikan menjadi energi pencerahan yang menghadirkan Islam dan setiap
insan muslim sebagai role model. Atau contoh utama dalam menyebarluaskan dan
mewujudkan alam pikiran, sikap, dan tindakan yang sukses menahan segala hasrat
duniawi yang berlebihan menjadi hidup qanaah dan tuma’ninah.
Seraya dengan itu secara pribadi maupun kolektif mewujudkan
keteladanan hidup yang berkeadaban mulia dan rahmatan lil ‘alamin secara nyata
dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal! []
JAWA POS, 6 Mei 2019
Haedar Nashir | Ketua umum PP Muhammadiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar