Rabu, 22 Mei 2019

(Hikmah of the Day) Umar bin Khatab dan Panci Rakyat Miskin


Umar bin Khatab dan Panci Rakyat Miskin

Suatu masa dalam kepemimpinan ‘Umar, terjadi “Tahun Abu”. Masyarakat Arab menderita masa paceklik berat. Hujan tak lagi turun, pepohonan mengering, hewan-hewan mati. Tanah tempat berpijak hampir menghitam layaknya abu. 

Suatu malam, bersama sahabatnya Aslam, Khalifah ‘Umar berjalan-jalan ke kampung terpencil yang berada di tengah gurun sepi. Tiba-tiba beliau terkaget. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar suara gadis kecil menangis keras. ‘Umar bin Khaththab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, untuk mengecek bila penghuninya membutuhkan bantuan. 

Umar: Assalamualaikum.. 

Wanita Janda: Waalaikumsalam (sedikit mengabaikan, dan kemudian melanjutkan pekerjaanya yaitu sambil mengaduk panci) 

Umar: Boleh aku mendekat? 

Wanita Janda: Silahkan, jika kau membawa kebaikan 

(Kemudian umar mendekati wanita yang sendang mengaduk panci tersebut) 

Umar: Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu? 
Wanita Janda: Anakku…. 
Umar: Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah ia sakit? 
Wanita Janda: Tidak, mereka lapar. 

(Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya) 

Umar: Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu? 
Wanita Janda: Hmmm, kau lihatlah sendiri! 

(Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak)

Umar: Apakah kau memasak batu?! 

Wanita Janda: Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi apa belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan. 

(Wanita janda itu diam sejenak, kemudian ia melanjutkan) 

Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya. 

(Mendengar penuturan wanita itu, Aslam berniat menegur perempuan itu. Namun Khalifah ‘Umar sempat mencegah) 

(Dengan air mata berlinang beliau bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, ‘Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua nan sengsara itu.) 

Umar: Angkatkan ke punggungku. 
Aslam: Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu… 

Umar: Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak? (dengan wajah yang merah padam) 

Aslam tertunduk. Tersuruk-suruk Khalifah ‘Umar berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.
Sesampainya ditempat wanita jandi tersebut umar langsung menyuruh dan mebantu wanita tersebut untuk memasak.

Umar: (sambil memberikan serantang gandum) Masukkan gandumnya dan aku yang akan mengaduknya. 

(Umar sembari meniup asap untuk menghidupkan apinya) 

(Setelah masak, Sayyidina Umar pun mengajak keluarga yang miskin itu untuk makan.) 

Wanita janda: Kemarilah,,, kemarilah anaku,, ayo kita makan. 

(Sambil melihat mereka makan, Umar duduk tersenyum dalam hatinya. Hatinya berasa sangat lega kerana melihat anak-anak kecil itu kembali gembira.) 

Wanita janda: Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan yang lebih baik. Engkau lebih baik dibanding khalifah Umar. 

Umar: Berkatalah yang baik-baik, besok termui Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga disana. InsyaAllah ia akan mencukupimu 

(Pada keesokan hari itu, datanglah ibu itu ke Baitul Mal. Umar pun menyambut dengan senyum bahagia. Ketika ibu itu melihat wajah Khalifah, dia menyadari bahwa orang yang membantunya semalam adalah Umar sang Amirul Mu'minin, ) 

(Wanita itu gemetaran dan terlihat ketakutan) 

Wanita janda: Aku mohon maaf! aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. aku sudah siap menerima hukuman yang akan ditimpakan. 

Umar: Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah selama ini. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaannku, bagaimana aku mempertanggungjawabkan dihadapan Allah?. Sudi kiranya Ibu memaafkan aku? 

(Beliau masih sempat datang membawa makanannya sendiri sekedar untuk memenuhi kebutuhan makanan wanita dan anaknya yang kelaparan).[]

(Abdullah Alawi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar