Tanda Hati Sehat, Hati Sakit, dan Hati Mati
Detak jarum jam terdengar sangat keras
memenuhi kedua gendang telinga. Suara motor sayup-sayup terdengar dari
kejauhan. Tiada kata terucap dari insan bernyawa. Semua terlelap menikmati
anugerah tuhan yang Maha-kuasa. Mengistirahatkan badan setelah seharian mencari
berkah dan rezeki di hamparan bumi-Nya. Inilah kondisi tengah malam yang
sepertinya tinggal menunggu berapa menit saja menuju pagi.
Bergegas ambil air wudhu dan memakai sandal
menuju tempat ibadah. Begitulah para guru telah mengajarkan agar lebih
hati-hati dalam urusan najis. Karena suci dari najis merupakan salah satu dari
syarat sahnya shalat. Saya perhatikan lantai dimana kami sekeluarga shalat
terlihat bercak-bercak kotor karena air yang mengering. Dipikir-pikir bukankan
baru saja mengambil air wudhu, seharusnya kondisi kaki justru lebih bersih.
Kenapa kok mengotori lantai? Ternyata bukan air, kaki, atau sandalnya yang
kotor, tapi justru lantai yang berdebu. Lantai tampak menjadi lebih kotor
walaupun sebenarnya terkena air bersih.
Begitulah barangkali kondisi hati seseorang,
terkadang semua yang terlihat, nampak sebagai sesuatu yang salah, walaupun
sebenarnya adalah benar. Subjektivitas manusiapun terjadi akibat kondisi hati.
Sebagaimana Amin Syukur dalam bukunya Terapi Hati, mengutip pendapatnya Imam
al-Ghazali menjelaskan bahwa hati terdiri dari 3 macam:
Pertama, hati yang sehat dan menyebabkan
keselamatan. Hati yang sehat memiliki beberapa tanda, yaitu, imannya kokoh,
ahli bersyukur, tidak serakah, kehidupan tenteram, khusyuk dalam beribdah,
banyak berdzikir, kebaikan selalu dinamis, segera sadar jika melakukan
kesalahan, suka bertobat dan sebagainya.
Kedua, hati yang sakit. Hati yang sakit
adalah hati yang masih memiliki keimanan, ada ibadah, ada pahala, namun ada
pula noda-noda maksiat dan dosa. Tanda-tanda hati yang sakit antara lain: hati
selalu gelisah jauh dari ketenangan, mudah marah, tidak pernah puas dengan apa
yang dimiliki, susah menghargai orang lain, kehidupan tidak nyaman, mengalami
penderitaan lahir batin, dan sebagainya.
Ketiga, hati yang mati. Hati yang mati
berarti hati yang telah mengeras dan membatu karena terlalu banyak kotoran
akibat dosa-dosa yang diperbuat. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا
يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ، إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا
قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ، كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
Artinya: “Dan tidak ada yang mendustakan hari
pembalasan itu melainkan Setiap orang yang melampaui batas lagi berdosa, yang
apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah
dongengan orang-orang yang dahulu", sekali-kali tidak (demikian),
sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS
Al-Muthaffifin [83]: 12-14)
Hati yang bersih dan sehat bisa saja menjadi
sakit bahkan kotor dan menjadi mati disebabkan karena dosa. Sehingga ketika
hati sudah mati tiada sesuatu pun yang indah dalam dirinya. Sebagaimana
potongan hadits mengatakan “.....jika baik hati seseorang maka baik pula
seluruh anggota badan...”.
Setidaknya ada 5 hal yang dapat mengobati
hati, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Kifayatul Atqiya karya Sayid Abu Bakr.
Pertama, membaca Al-Qur’an dengan penghayatan arti dan maknanya. Kedua, membiasakan
diri dalam kondisi tidak kenyang atau dengan banyak berpuasa. Ketiga, beribadah
di waktu malam, baik dengan shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan
sebagainya. Keempat, mendekatkan diri kepada Allah sedekat dekatnya di waktu
sahur. Kelima, berkumpul dengan orang-orang yang shalaeh, yang dapat membimbing
dan menjadi cermin kehidupan yang lebih baik. []
Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU
Surakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar