Rabu, 21 November 2018

Kang Komar: Muhammad SAW, Tokoh Peradaban


Muhammad SAW, Tokoh Peradaban
Oleh: Komaruddin Hidayat

ADA dua sudut pandang atau sikap dalam melihat sosok Nabi Muhammad SAW, yaitu sikap ilmiah dan sikap iman yang keduanya mesti diintegrasikan. Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW tidak saja diposisikan sebagai nabi pamungkas seluruh nabi sebelumnya, tetapi juga sebagai sosok historis yang memberikan andil besar dalam membangun peradaban dunia. Dia ialah pencerah zaman. Ajaran Islam yang diwariskan dan rekam jejak serta model kepemimpinannya telah menarik minat para sejarawan dunia untuk mempelajarinya, tidak terbatas pada intelektual muslim.

Secara historis-sosiologis, salah satu ukuran kebesaran seorang tokoh sejarah seperti Nabi Muhammad bisa dilihat dari warisan ajarannya, yang dianut dan dijaga miliaran penduduk bumi. Bahkan, masih bertahan serta berkembang terus tanpa terputus mata rantai kesejarahannya dan autentisitas dokumen kitab sucinya. Dalam perjalanan sejarahnya, semua agama, termasuk Islam, selalu terlibat dan berinteraksi dengan dinamika budaya setempat. Pada urutannya, agama dan budaya tidak mungkin dipisahkan sekalipun asal usulnya bisa dibedakan. Ajaran agama diyakini berasal dari Allah yang diwahyukan melalui rasul-Nya.

Sementara itu, budaya ialah hasil kreasi budi daya manusia, yang keduanya saling mendukung dan memerlukan. Agama tak akan berkembang tanpa instrumen budaya. Agama punya klaim kebenaran universal, sedangkan ekspresi budaya selalu bersifat lokal-kontekstual. Kita mengenal konsep kebenaran normative-universal, dan kebajikan partikular (local wisdom). Oleh karenanya, sulit membayangkan Islam tanpa pengaruh budaya Arab sekalipun keduanya mesti dibedakan, antara islamisme dan arabisme.

Bagi umat Islam, Rasulullah Muhammad SAW diyakini sebagai penutup dan pamungkas para rasul Allah sebelumnya. Namun, jika sosok Muhammad diposisikan sebagai tokoh sejarah pembangun peradaban dunia, untuk melihat kebesarannya diperlukan pendekatan ilmiah sehingga lebih objektif. Kebesarannya sebagai rasul pamungkas akan terlihat bahwa setelah Muhammad memang tak ada lagi rasul Tuhan yang membawa ajaran baru yang bisa melebihi pengaruh Muhammad.

Di berbagai belahan bumi pernah muncul tokoh-tokoh pencerah zaman yang membawa pesan Tuhan yang warisannya tetap bertahan dan tumbuh meskipun kita tidak tahu persis sejarah hidup pembawanya.

Asumsi itu sangat sejalan dengan Alquran yang menyatakan bahwa Allah pernah mengirim rasul-rasul-Nya ke muka bumi, sebagian diceritakan dalam Alquran dan sebagian lagi tidak diceritakan (Al-Mu'min 40:78). Berbagai warisan ajaran rasul Tuhan, sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, merupakan al-hikmah, al-khalidah atau perennial wisdoms yang menjadi inspirasi tumbuhnya nilai-nilai dan tradisi kebaikan (al-ma'ruf) yang berkembang di berbagai komunitas di muka bumi, apa pun suku dan agamanya. Makanya cukup logis ketika Alquran menyebutkan ajaran yang dibawa Nabi Muhammad itu meneruskan dan menyempurnakan warisan ajaran para nabi sebelumnya.

Para nabi itu menyeru ke kebaikan yang bersumber dari Tuhan yang sama dan mahaesa. Kecenderungan dasar setiap pribadi ialah memilih kebaikan, yang dalam bahasa Alquran disebut al-khair dan al-ma'ruf, didorong fitrah yang ditanamkan Allah pada setiap anak Adam. Karena itu, tidak aneh bahwa setiap insan itu pada dasarnya selalu menyenangi kebaikan, kebenaran, kedamaian, dan keindahan. Jadi, menurut ajaran Rasulullah, setiap pribadi pada dasarnya baik dan mengarah ke kebaikan, apa pun etnik dan keyakinannya.

Kata khair (kebaikan) yang puluhan kali disebutkan dalam Alquran seakar dengan kata khara (memilih) dan ikhtiar yang artinya sebuah tindakan akan memiliki nilai moral kebaikan, jika dilakukan atas dasar pertimbangan secara sadar dan pilihan bebas, bukan produk ancaman dan keterpaksaan. Oleh karena itu, Allah berfirman, tak ada kebaikan dan kesalehan dalam beragama jika dilakukan karena terpaksa (Al-Baqarah 2:256).

Jika kita mau jujur dan berempati pada tradisi-tradisi masyarakat mana pun di muka bumi ini, akan ditemukan spirit dan dorongan untuk hidup secara baik, benar, damai, dan indah. Rasulullah menyatakan kehadirannya untuk menjaga, meneruskan, dan menyempurnakan ajaran-ajaran para rasul Tuhan yang sebelumnya. Dengan kata lain, ajaran Islam bersikap inklusif, menghargai ajaran para nabi sebelumnya, dan berbagai hikmah dari mana pun datangnya. Oleh karena itu, dalam studi Islam dibedakan antara kajian Islam tekstual-normatif dan Islam historis-sosiologis. Yang kedua ini ialah Islam yang dipahami, ditafsirkan, dan diekspresikan para pemeluknya sehingga melahirkan fenomena Islam Arab, Islam Nusantara, dan Islam di berbagai wilayah lain. Dalam konteks ini, ekspresi keislaman di Indonesia jauh lebih kaya ketimbang di Timur Tengah karena pemahaman dan perkembangan Islam tak bisa dipisahkan dari pengaruh budaya pemeluknya. Karena itu, kita perlu membedakan antara islamisme dan arabisme, sebagaimana juga kita mesti bedakan antara Islam doktrinal dan Islam kultural. Antara budaya dan wahyu.

Dalam momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini sesungguhnya banyak aspek ajaran dan keteladanannya yang mesti diangkat. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya untuk mengajak ke jalan Tuhan bilhikmah. Kata itu sangat penting direnungkan, di sana digunakan kata 'dengan bijaksana', bukannya dengan mengandalkan kepintaran, ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan kekayaan. Sikap bijak itu memerlukan ilmu, kematangan pribadi, sabar, dan kasih sayang. Jadi, jika kita mengajak orang ke jalan Tuhan, sekalipun pintar dan kaya, tanpa disertai sikap bijak (wise), orang tidak akan tertarik. Terlebih lagi jika dengan marah dan ancaman, orang bukannya simpati, melainkan antipati. Yang terjadi, kemuliaan ajaran yang diwariskan Nabi Muhammad sebagai penggerak dan pilar peradaban bisa berbalik menjadi kekuatan yang mengancam dan menakutkan. []

MEDIA INDONESIA, 21 November 2018
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar