Rabu, 14 September 2016

Peristiwa Idul Adha Berdarah di Tahun 1962



Peristiwa Idul Adha Berdarah 1962

KH Zainul Arifin waktu itu belum genap dua tahun menjabat Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang dibentuk Presiden Soekarno. KH Idham Chalid sudah 5 tahun memimpin Nahdlatul Ulama. Sementara KH Saifuddin Zuhri baru 12 hari dilantik menjadi Menteri Agama RI.

Pada tahun 1962, tepatnya hari Rabu 14 Mei pagi, Kiai Zainul Arifin yang juga Panglima Hizbullah pada masa Revolusi Fisik itu pergi ke masjid Baiturrahim di Istana Negara, Jakarta, untuk mendirikan Shalat Idul Adha bersama Presiden Soekarno.

Pada Shalat Idul Adha waktu itu, Ketua PBNU KH Idham Chalid bertindak sebagai imam, sementara khotibnya Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan/KSAD Abdul Harris Nasution.

Ketika mendirikan Shalat Id yang dimulai sekitar pukul 7.50 WIB tersebut, Soekarno berada di barisan terdepan jamaah. Di sebelah kirinya ada Abdul Harris Nasution. Di Samping Nasution ada KH Zainul Arifin. Di Samping Kiai Zainul ada KH Saifuddin Zuhri. Shalat Id berlangsung aman hingga memasuki rakaat kedua.

Cucu KH Zainul Arifin, Ario Helmy, dalam catatannya menggambarkan seperti berikut:

Keheningan khusuk berlangsung khidmat melingkupi umat memuji Sang Maha Agung dalam ruku’ mereka pada rakaat kedua Idul Adha tersebut.

"Sami'allahu liman hamidah," ucap imam KH Idham Chalid. Belum sempat jamaah menyahuti seruan imam dengan "rabbana wa lakal hamdu," dari barisan ketiga jamaah bagian kiri, tiba-tiba pecah teriakan lantang seorang jamaah, "Allahu Akbar...!", seraya tangannya mengacungkan pistol yang diambil dari betis kanannya.

Ia adalah seorang penembak tepat, mestinya sasaran tembaknya tidak bakal luput dari muntahan pelurunya, namun anggota pengawal presiden berhasil menepiskan tangan pembokong itu dengan sigap hingga senjata api sang penembak gelap melenceng ke sisi kiri target yang ditujunya, Soekarno!

"Dor...!" peluru menyalak nyaring.

Orang-orang, termasuk imam bertiarap. Lalu suasana berubah kacau balau.

KH Zainul Arifin dalam upayanya merebahkan diri di atas sajadah, malah jatuh tersungkur. Bahu kirinya terasa basah. Ketika dia mencoba meraba bagian tubuhnya yang terasa hangat, didapatinya buhul dasinya sampai terputus. Darah segar merembesi kemeja putih hingga ke jas luarnya. Sedikit lagi peluru bisa mengenai jantungnya.

"Saya kena...," desah tokoh NU tersebut pasrah, di antara kekacauan di sekelilingnya.

"La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim," begitu ucap kiai bermarga Pohan asal Barus tersebut. Matanya mulai berkunang-kunang. Ia terus berdzikir, bertasbih. Menyeru-nyeru tuhannya Yang Maha Kuat...

Empat jamaah lainnya juga turut terluka, KH Idham Chalid, Pengawal Presiden Ipda Darjat, Pengawal Presiden Brigadir Susilo dan pegawai istana Momahad Noer.

Belakangan, diketahui pelakunya adalah orang yang berafiliasi dengan kelompok DI/TII. Target utamanya adalah Soekarno.

Sejak itu, KH Zainul Arifin, berkali-kali keluar masuk rumah sakit. Sepuluh bulan kemudian, tepatnya 2 Maret 1963, akhirnya meninggal dunia setelah mengalami koma selama beberapa hari sebelumnya karena berbagai komplikasi. Keesokan harinya ia dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta. []

(Abdullah Alawi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar