Kamis, 15 September 2016

Buya Syafii: Buta di Sini, Buta di Sana (1)



Buta di Sini, Buta di Sana (1)
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Judul ini didasarkan pada Alquran surat al-Isrâ’(17) ayat 72 yang makna lengkapnya adalah: “Barangsiapa yang buta di sini [di dunia], maka dia akan buta pula di akhirat, bahkan perjalanannya lebih sesat lagi.” Saya sudah buka beberapa tafsir, Arab, Indonesia, dan Inggris, tidak satu pun yang mengaitkan ayat itu dengan kejatuhan peradaban Muslim, saat umat ini terkapar dengan hina di depan umat lain, seperti yang tengah berlaku sekarang. Semuanya mengartikan perkataan buta (a’mâ) sebagai buta hati terhadap kebenaran yang datang dari Allah melalui wahyu. Tentu tidak salah tafsiran itu, tetapi apakah bukan karena buta terhadap realitas sejarah, umat ini telah kehilangan jati-dirinya sebagai manusia beriman yang tulus?

Atau apakah ungkapan buta itu tidak dapat dikaitkan dengan kelumpuhan Muslim dalam perlombaan hidup duniawi di tengah persaingan global yang tunakasih-sayang dan tunakeadilan? Sebagian kita cenderung menghibur diri dengan asyik mendengarkan para da’i yang meninabobokkan, sambil  mengusap airmata.  Tahukah tuan dan puan, dalam situasi kejatuhan sebuah peradaban, curahan airmata bukanlah dewa penolong, gunanya sekadar obat penenang. Dan hanya akan semakin mempertinggi tempat jatuh.

Jika tafsiran yang saya ajukan dimungkinkan, maka logikanya menjadi: “Lumpuh di sini, lumpuh di sana, atau tersungkur di sini, tersungkur di sana.” Dalam bacaan saya, kelumpuhan umat ini sama sekali tidak masuk di nalar jika Alquran dijadikan rujukan dalam ungkapan “kuntum khaira umma ukhrijat li al-nâs” (kamu adalah umat terbaik yang ditampilkan untuk manusia), seperti yang tersebut dalam surat Âli ‘Îmrân ayat 110. Tidak nalar, tetapi itulah yang berlaku, semata-mata karena kebodohan dan kecerobohan kita sebagai umat yang hobinya berpecah-belah sambil menguras energi untuk sesuatu yang sia-sia.

Syarat untuk merebut posisi umat terbaik itu menurut lanjutan ayat adalah: kemampuan memerintahkan kebaikan (al-ma’rûf), kesigapan mencegah yang buruk (al-munkar), dan beriman kepada Allah. Tiga kualitas itu harus berjalan bersama dalam susunan gerak yang menyatu, tidak boleh dipisah-pisahkan. Iman sebagai landasan spiritual yang teramat kokoh mesti membuahkan kemampuan menegakkan kebaikan dan keberanian mencegah keburukan. Jika tidak demikian, maka iman itu sedang berada pada posisi mandul, tak bertenaga. Bagaimana mungkin orang akan dapat memerintahkan kebaikan sementara kondisi dirinya jauh kebaikan. Bagaimana mungkin orang akan mampu mencegah yang buruk, jika dirinya berkubang dalam keburukan dan kebodohan.

Kebaikan itu bisa berupa tegaknya keadilan dan nilai-nilai kemanusian yang luhur, terwujudnya persaudaraan sejati dalam lingkungan iman yang sama atau dalam lingkungan iman yang berbeda. Bahkan persaudaraan itu juga harus tampak dalam komunitas orang beriman dan komunitas orang tidak beriman, karena kita semua melangsungkan hidup di atas planet bumi yang satu. Tidak seorang pun punya hak monopoli di planet yang satu ini. Ini di antara hasil bacaan saya dalam memahami benang-merah Alquran, kumpulan wahyu terakhir sebagai pedoman hidup manusia sejagat.

Dalam Resonansi, 30 Agustus, telah diungkapkan betapa tajamnya kesenjangan sosial-ekonomi pada tataran global dan pada tataran nasional. Kemudian, tengoklah penduduk Muslim dengan jumlah sekitar 1,6 miliar manusia di seluruh dunia adalah di antara umat yang lumpuh dan hina, tidak mampu berbuat apa-apa untuk mempertautkan kesenjangan itu, karena masalah internal mereka benar-benar sangat memprihatinkan. Secara teologis, umat ini terpecah-pecah dalam berbagai sekte sebagai buah pahit dari sengketa politik elite Arab Muslim di abad-abad permulaan. Adalah sebuah ironi yang memalukan, mengapa kemudian dalam bilangan kurun yang panjang, sengketa elite Arab itu diekspor ke seluruh komunitas Muslim di muka bumi sampai hari ini, termasuk ke Indonesia?

Logika Alquran memastikan bahwa sebuah perubahan ke arah perbaikan dan kemajuan hanya mungkin berlaku jika umat ini cerdas dalam mengambil inisiatif. Ayat yang sering dikutip oleh banyak orang: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah kondisi sebuah kaum, sampai kaum itu sendiri mau mengubah apa yang ada pada diri mereka”  (surat al-Ra’d (13): 11).  []

REPUBLIKA, 13 September 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar