Selasa, 27 September 2016

Buya Syafii: Islam Ditelikung oleh Kelompok Elitenya



Islam Ditelikung oleh Kelompok Elitenya
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Telikung (bahasa Jawa) diberi awalan me menjadi menelikung berati “mengikat kaki dan tangan” sehingga tidak bisa bergerak bebas, apakah itu manusia, hewan, atau pun sesuatu yang bersifat abstrak, seperti agama, ideologi, dan sebagainya. Maka Islam menjadi sesuatu yang tersandera karena ditelikung oleh kelompok elite umatnya sendiri yang telah berhenti berfikir kreatif.

Akibatnya, agama ini telah berubah menjadi fosil, membeku, tidak lagi menawarkan solusi bagi penyelesaian masalah-masalah sosial kemanusiaan. Adapun diktum Alquran tentang misi kenabian sebagai “rahmat bagi alam semesta” (s. al-Anbiyâ’: 107) telah menjadi hampa di tangan elite Muslim yang tuna kejujuran, tuna kreativitas, dan tuna inisiatif.

Diktum ini masih dikutip berulang-ulang oleh berbagai kalangan, tetapi tanpa pemahaman yang benar dan dalam. Diktum ini telah kehilangan dinamika pemahaman yang segar akibat telikungan yang demikian dahsyat dalam baju teologis, faham politik, sukuisme, dan sektarianisme. Benar, secara teoretik, Islam adalah agama pembela keadilan dan persaudaraan sejati sebagai wujud ajaran tauhid dalam kehidupan kolektif manusia. Lain teori, lain pula kenyataan. Godaan duniawi berupa benda dan kekuasaan yang melingkari kelompok elite ini (penguasa dan ulama) dalam kurun yang panjang telah menjadikan umat ini seperti ayam kehilangan induk. Bukti yang teranyar, tengoklah tanah Suria dan Irak, tak ubahnya seperti kepingan neraka yang dipindahkan ke bumi. 

Ulama yang biasa menyebut dirinya sebagai “ahli waris para nabi” tidak jarang bersekongkol dengan penguasa yang busuk sekalipun. Untaian tasbih dan jubah panjang tidak jarang dipakai sebagai tameng suci untuk mengelabui umat yang buta politik, buta agama, dan minus pendidikan. Munculnya ulama sunni, ulama syi’ah, ulama khawarij dengan klaim kebenarannya masing-masing adalah akibat belaka dari perseteruan elite Arab Muslim yang berebut kuasa di masa awal, sebagaimana yang pernah ditulis di ruang ini.

Jalan ke luarnya adalah agar Islam kenabian dipisahkan dari sektarianisme Arabisme politik kekuasaan yang telah menelikung agama ini tanpa perasaan dosa. Tidak ada yang perlu dicemaskan, selama al-Qur’an dijadikan pedoman pertama dan utama. Nabi Muhammad sebagai pelanjut risalah nabi Ibrahim dengan susah payah telah meruntuhkan norma-norma sektarisnisme, sukuisme, dan kebanggaan atas ajaran leluhur yang lepas dari kawalan tauhid dan cita-cita tentang keadilan. Adalah sebuah ironi yang sangat melelahkan, ajaran yang begini universal, anggun, dan humanis, telah dicemari oleh daki-daki sektarianisme dan sukuisme yang membunuh cita-cita suci Islam.

Semestinya elite Arab Muslim menyadari bahwa Islam itu bukan hanya untuk mereka, tetapi untuk kemanusiaan sejagat. Tidak ada hak mereka untuk memenopoli kebenaran Islam sebagaimana yang terkesan dari faham Wahabisme, bentuk ekstrem sunnisme, dan syi’sme. Gerakan al-Qaedah dan ISIS tidak lain dari Wahabisme radikal yang kini sedang menggali kuburan masa depan Islam. Adapun pihak Barat yang ikut bermain untuk melumpuhkan dunia Arab Muslim yang telah mereka peras selama ini adalah akibat belaka dari suasana internal Arab yang semakin merapuh dan tak kunjung sadarkan diri. Islam yang dibungkus dalam mantel sektarianisme dan sukuisme jelas berkhianat terhadap al-Qur’an dan cita-cita kenabian.

Memang tidaklah mudah mengurai benang kusut yang sudah berusia berabad-abad, tetapi jika Alquran difahami secara benar dan tulus,  benang kusut itu pasti bisa diurai. Masalahnya tidaklah rumit amat dan bahkan sederhana: bersediakah kita menundukkan egoisme dan subjektivisme kita kepada perintah Alquran tentang kesatuan dan persaudaraan umat beriman? Selama egoisme dan subjektivisme yang jadi sesembahan, selama itu pulah malapetaka dan palu godam sejarah akan senantiasa mengejar kita sehingga umat ini luluh berkeping-keping. Saya teringat ucapan Prof. Fazlur Rahman: “Jika bahan bakar lenyap dari bumi pasti akan ada gantinya. Tetapi jika Islam yang hilang, tidak akan ada gantinya.” Ucapan ini teramat dalam dan tajam yang menembus relung-relung saraf mereka yang masih punya kepekaan ruhani.

Akhirnya, Alquran dalam surat al-Shaff (61):4 menggambarkan mereka yang berjuang di jalan Allah dalam barisan yang rapi, “mereka seperti sebuah bangunan yang kokoh dan kompak.” Sekarang tengoklah situasi dunia Muslim, jangankan penaka bangunan yang kokoh, bangunan itu sendiri telah roboh di tangan elitenya yang merasa benar di jalan yang sesat. Lalu, siapa kita sebenarnya? Inilah peta global umat Muhammad yang mesti diubah dengan pemahaman agama yang benar dan perbuatan yang konkret. Jalan lain adalah jalan kehancuran! []

REPUBLIKA, 27 September 2016, 06:00 WIB
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar