Jumat, 30 September 2016

Cak Nun: Di Tengah Hutan Belantara Indonesia dan Dunia



Di Tengah Hutan Belantara Indonesia dan Dunia
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Indonesia sudah fix segala sesuatunya. Dunia ini seluruhnya sudah hampir tidak ada persoalan. Hanya kita saja yang masih perlu belajar hal-hal tertentu dan mempelajari hal-hal lain. Anak cucuku dan para jm tahu bahwa di dunia di luar rumah kita seringkali ada tulisan yang “oleh” (nama) ku tapi bukan aku yang menulis. Ada tulisan “ku” 20-30 tahun yang lalu tapi disebar seolah aku menulis kemarin sore. Ada banyak akun-akun “ku” yang bukan aku.

Ada banyak video hasil editan orang-orang yang berniat baik yang aku dipertengkarkan dengan ini itu, diadu-domba soal macam-macam yang aku tak pernah memaksudkannya untuk beradu dengan siapapun. Semua yang kuomongkan adalah untuk anak cucu dan para jm, dengan bahasa dan konteks untuk anak cucu dan para jm, dengan nuansa, dimensi, urgensi dan tajaman-tajaman untuk anak cucuku dan para jm.

Tetapi salah secara pemikiran, rendah secara rohani dan remeh secara mental, kalau dari kedhaliman kepada kita itu hasilnya pada diri kita adalah kemarahan, dendam, niat pembalasan, atau apapun yang mencerminkan kelemahan dan ketidakmatangan diri. Lebih hina lagi dan salah kelola kalau karena hantaman-hantaman dan penganiayaan kepada kita lantas mengurangi kadar kasih sayang kita semua kepada ummat manusia. Terutama kepada mereka yang melalimi kita.

Dunia ini kita serap ilmu, hikmah dan makrifatnya, tetapi kita tidak mempersoalkan dunia dan tidak punya soal dengan dunia. Apalagi Indonesia, yang tidak kenal kita, yang tidak tahu ada kita, dan anak cucuku hendaknya jangan kasih tahu bahwa ada kita. Bukan karena kita menolak silaturahmi, tetapi karena kita tidak mampu berbuat apa-apa kepada dan untuk Indonesia.

Kita hidup tidak di arena peradaban manusia. Kita berada di tengah hutan belantara. Di mana setiap orang bisa melakukan apa saja tanpa tanggung jawab. Di mana siapa-siapa yang harus bertanggung jawab, bukan bertanggung jawab atas dasar keharusan hidup untuk bertanggung jawab, melainkan dipilih berdasarkan kepentingan pihak yang menuntut tanggung jawab.

Kita beralamat di tengah hutan rimba di mana setiap makhluk boleh berteriak, menuding, memaki dan memfitnah, tanpa terbentur oleh tembok tanggung jawab. Hutan belantara tidak memerlukan tembok. Siapapun bisa melakukan kecurangan, kekufuran, kedhaliman dan penggelapan, tanpa kawatir akan mendapatkan akibat apa-apa. Sebab hutan belantara tak ada batas nilainya, tidak ada perjanjian antar makhluk-makhluknya, tak ada tata ruang dengan aturan-aturannya. Hukum bisa ditegakkan untuk mencelakakan. Negara bisa dibangun untuk menyamarkan perampokan. Bahkan agama bisa dikerudungkan sebagai pakaian untuk pencurian dan penipuan.

***

Aku beserta anak cucuku dan para jm ini hina papa, tidak memiliki apapun yang bisa kita berikan kepada Indonesia dan dunia. Karena Indonesia dan dunia semakin berkembang menjadi hutan belantara.

Bahkan kita mengaku saja bahwa karena kebelantaraan habitat yang mengurung kita, maka kepada diri kita sendiripun kita tidak punya apa-apa untuk kita berikan. Kita hanya penyadong kedermawanan Tuhan. Kita pengemis berderajat sangat rendah di depan pintu gerbang Istana Tuhan. Itu pun permohonan kita belum tentu dikabulkan, karena belum cukup persyaratan hidup kita untuk berhak mendapatkan kemurahan dari Tuhan.

Dari detik ke detik siang malam sepanjang tahun sejauh-jauh jatah waktu, kehidupan kita tergantung absolut pada kasih sayang Tuhan. Jika ada sedikit kelebihan berkah-Nya kita akan cipratkan kepada Indonesia dan sedekahkan kepada dunia, untuk lega-lega dan GR perasaan kita sendiri, sebab Indonesia dan dunia tidak kurang suatu apa, sehingga tidak memerlukan apapun dariku beserta anak cucuku dan para jm.

Maka jangan sampai aku beserta anak cucuku dan para jm menjadi masalah bagi hutan belantara. Dan kita berjuang tanpa henti agar hutan belantara pun tidak menjadi masalah bagi kita. Kegelapan hutan tidak membuatmu kehilangan arah, karena engkau belajar memancarkan cahaya dari dirimu. Keliaran belantara tidak membuatmu takut dan keder, karena keberanian tidak terletak di hutan melainkan di dalam susunan saraf rohanimu sendiri.

Ketidakberaturan rimba tidak membebanimu, karena kalau engkau menemukan, menyadari dan memuaikan kebesaran dirimu, maka hutan belantara engkau genggam di tanganmu, engkau olah di mesin pikiranmu, dan engkau jinakkan di semesta rohanimu.

Tetapi jangan lupa, engkau hanya menempuh batas untuk mengatasi dirimu sendiri di tengah hutan belantara. Tetapi itu tidak pasti berarti engkau sanggup mengatasi hutan belantara itu pada skala hutan dan kebelantaraannya.

Jangankan hutan belantara. Bahkan pun bagi Indonesia dan dunia: sudah jelas kita tidak punya ilmu, daya dan kuasa untuk bisa mengatasi masalah-masalahnya. Maka sekurang-kurangnya kita jaga diri agar jangan pernah menjadi masalah bagi Indonesia dan dunia. Kita sudah sangat bersyukur bahwa Tuhan menciptakan kita, meletakkannya di tanah Indonesia, di permukaan bumi dan di pinggiran dunia.

Jangankan menjadi masalah, meminta apapun jangan. Kalau diberi, kita pertimbangkan sepuluh kali putaran. Kalau ada hak-hakku beserta anak cucuku dan para jm, kita lihat kemashlahatan dan keutamaannya untuk kita ambil atau tidak. Sekedar menerima hak-hak yang disampaikan pun jangan lakukan tanpa perhitungan kasih sayang. Apalagi sampai menagih hak, mengejar hak, meneriakkan hak, mendemonstrasikan hak, mengibar-ngibarkan hak: mari anak cucuku dan para jm berlindung kepada Tuhan dari kerendahan dan kefakiran mental semacam itu. []

Dari CN kepada anak-cucu dan JM
28 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar