Rabu, 28 September 2016

Cak Nun: Pandai Kepada Diri Sendiri



Pandai Kepada Diri Sendiri
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Kalau Yu Sumi mengerti apa itu kewajiban, terutama kewajiban kepada Tuhan, salah satu kemungkinannya adalah ia akan menjadi ahli ibadah.

Ia merasa eman kalau sedikit saja mengurangi ibadahnya. Ia tidak melewatkan satu jam semenit sedetik pun untuk beribadah. Tidak ada yang lebih mulia dari beribadah kepada Tuhan. Tidak ada yang dipuji Tuhan melebihi hamba-Nya yang mengisi siang dan malam dengan ibadah.

Akibatnya Yu Sumi akan didatangi oleh semacam ujian. Ia sangat mungkin menjadi seseorang yang karena tekun ibadahnya maka ia punya naluri untuk membandingkan dirinya dengan orang lain berdasarkan kerajinan ibadahnya.

Tahap berikutnya ia memperoleh sub-ujian bahwa ia merasa dirinya lebih dekat kepada Tuhan dibanding orang lain yang kurang beribadah, terlebih lagi dengan orang yang tidak beribadah. Rasa lebih dekat kepada Tuhan itu bisa memperanakkan rumusan atau gambaran bahwa yang rajin beribadah berderajat lebih tinggi dibanding yang tidak beribadah.

Rasa lebih tinggi itu bisa mengurangi jarak pergaulan Yu Sumi dengan orang lain yang tidak setekun ia ibadahnya. Kemudian bisa berkembang menjadi rasa meremehkan orang yang tidak beribadah, berikutnya merendahkan, berikutnya lagi bisa menjadi cibiran yang merendahkan, meskipun hanya di dalam hati. Dan kalau tidak hati-hati, Yu Sumi bisa sampai pada suatu anggapan yang berkembang menjadi pendapat yang diyakini, bahwa sesungguhnya yang lebih berhak hidup di dunia adalah orang yang tekun beribadah dan dekat dengan Tuhan.

Pandangan itu bisa memuai menjadi keputusan sosial untuk memusuhi siapa saja yang tidak beribadah. Memusuhi bisa membengkak menjadi keyakinan untuk membuang, membunuh atau memusnahkan. Tuhan adalah Maha Tuan, semua manusia adalah abdinya. Barangsiapa tidak beribadah, maka ia bukan abdi. Dan siapa saja yang bukan abdi, ia tidak berhak hidup di bumi Tuhan. Sehingga harus diusir atau disirnakan.

***

Semua ummat manusia di peradaban apapun meyakini secara mantap dan hampir absolute bahwa anak-anak manusia harus berpendidikan, berkebudayaan, harus belajar membaca dan menulis, harus mencari ilmu dan pengetahuan.

Juga Yu Sumi. Tapi yang kukatakan kepada anak cucuku dan para jm ini tak perlu dibawa-bawa ke para tetangga. Mereka tidak memerlukan pikiran seperti ini. Mereka sudah beres hidupnya, tidak ada manfaatnya semua yang kukatakan kepada anak cucu dan para jm ini.

Mungkin Yu Sumi sebaiknya berpendidikan seperti mereka. Ia harus mengerti hak dan kewajiban. Ia wajib mempelajari Islam, membaca Al-QurĂ n dan menjalankan peribadatan. Akan tetapi berdasarkan seluruh sejarah Yu Sumi, dan berlaku khusus untuk Yu Sumi, aku harus menyimpan di laci rahasiaku bahwa kewajiban-kewajiban itu kemungkinan besar malah membahayakan hidup Yu Sumi.

Sebab di samping ada peluang besar bahwa dengan itu semua Yu Sumi menjadi manusia sombong-agama dan merasa lebih tinggi derajatnya dibanding orang-orang di sekitarnya — yang juga sangat penting adalah kemungkinan bahwa sesudah ia menjadi ahli ibadah: kadar kerja kerasnya pasti berkurang.

Yu Sumi akan menjadi lebih banyak omong, sedikit kerja. Banyak omongnya pun isinya adalah muncul dari tinggi hati, merasa lebih suci, yakin lebih dekat kepadaTuhan dibanding semua orang. Mungkin sesudah menjadi ahli ibadah Yu Sumi menjadi punya masalah dengan memanjat kelapa dan membelah kayu. Di samping energinya mengecil untuk kerja keras, mungkin saja bekerja memanjatkan kelapa untuk tetangganya sangat kecil nilainya dibanding satu sujud dalam shalat.

Dan kalau karena kecerdasannya pada akhirnya Yu Sumi menjadi benar-benar pandai mengaji dan tahu banyak ilmu, mungkin ia akan diminta mengajar di sana-sini. Ia menjadi sibuk, dan akhirnya kehilangan keterampilannya untuk bekerja. Pada akhirnya ia bisa menjadi Ustadz atau Ustadzah tidak karena ilmunya melainkan karena tidak punya kemampuan untuk bekerja.

Tentu kehidupan mengandung kemungkinan tak terbatas. Namun terang benderang bahwa Yu Sumi dilindungi oleh Tuhan dengan formula eksistensinya, dengan keawamannya, dengan kebutahurufannya, dengan ketidakmampuannya atas ilmu dan kepandaian, dan mempertapakannya dalam kesibukan memanjat kelapa dan membelah batu.

Maka Tuhan tidak mentakdirkan Yu Sumi kawin dan beranak. Karena akan bisa menjadi masalah orientasi bagi anaknya. Hampir mustahil anaknya, jika ada, akan mampu dan mau memanjat kelapa dan membelah kayu, karena zaman dan lingkungannya sudah berubah.

Teknologi berkembang sangat pesat. Salah satu hasilnya adalah manusia kehilangan dirinya, manusia menjadi luntur kemanusiaannya, manusia menurun kemampuan bekerjanya. Bahkan manusia bukan hanya mewakilkan pekerjaan ini itu kepada robot dan onderdil teknologi industri. Bahkan sudah cukup lama menjadi robot dan onderdil teknologi dan obeng tang catut industri.

***

Akan tetapi Guk Urip kawin dan punya anak, sekarang bahkan sudah mulai lahir cucu-cucu. Mas Bardi juga kawin, meskipun tidak punya anak.

Siapapun yang pernah ketemu dengan Guk Urip dan Mas Bardi, langsung tahu bahwa mereka melambai. Bahkan sangat melambai. Dan itu tidak karena akulturasi, tidak karena penularan dari siapapun, tidak karena pengaruh lingkungan budaya.

Tetapi Guk Urip dan Mas Bardi tidak terlalu bodoh atas dirinya sendiri. Mereka melakukan reformasi ke dalam dirinya sendiri, jiwa maupun jasadnya.

Sama dengan apapun dalam kehidupan, sesuatu direformasi, ditemukan proporsi dan harmoninya. Ada besi yang dipotong atau disambung. Ada kayu yang digergaji atau disusun beberapa batang. Ada cairan yang ditambah atau dikurangi volumenya. Ada gas yang dipadatkan atau dikurangi kepadatannya.

Ada logam yang diambil sedikit dan logam lain diambil banyak. Ada sesuatu yang dipacu dan lainnya dikontrol. Ada laju yang di-gas dan pada momentum tertentu di-rem. Ada sesuatu yang dilampiaskan dan lainnya dikendalikan. Ada ini itu yang dihitung batas perkembangannya sementara yang lain justru dipacu kesuburannya.

Memang demikianlah kehidupan. Juga diri setiap manusia sendiri adalah bagian, bahkan yang utama, dari kehidupan. Ada sesuatu dalam diri manusia yang perlu dikendalikan, ditahan, dipuasakan, dibatasi atau bahkan mungkin dihilangkan, misalnya daging tumbuh yang tidak pada tempat dan proporsi alamiahnya.

Dan managemen diri semacam itulah yang dilakukan oleh Guk Urip dan mas Bardi. Apalagi Yu Sumi.
Kalau engkau menyangka hidup ini isi utamanya adalah hak, dan itu menjadi landasan utama dari perilakumu, menjadi hulu-ledak dari kelakuanmu, menjadi dasar pikiran untuk mengambil keputusan menuju masa depanmu — aku tidak akan mempersalahkanmu. Tidak akan membantahmu. Juga tidak mengecam atau menghardik dan mengutukmu.

Hanya dua kata yang kalau kau minta, aku bisikkan ke telingamu: “Tunggulah waktu”. []

Dari CN kepada anak-cucu dan JM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar