Kamis, 22 September 2016

Zuhairi: Turki Versus NIIS



Turki Versus NIIS
Oleh: Zuhairi Misrawi

Serangan bom bunuh diri oleh Negara Islam di Irak dan Suriah di Gaziantep, Turki, Selasa (23/8), yang menewaskan 51 orang, dibalas Pemerintah Turki dengan melakukan operasi militer besar-besaran ke Jarablus, wilayah Suriah yang berbatasan langsung dengan Turki. Wilayah ini ditengarai sebelumnya berada di bawah kekuasaan NIIS.

Pemerintah Turki mengklaim menguasai penuh wilayah itu. Turki ingin memastikan bahwa NIIS tak boleh lagi mengganggu keamanan dalam negeri Turki. Perang melawan NIIS telah jadi prioritas utama Pemerintah Turki karena dalam setahun terakhir NIIS terbukti menjadi ancaman serius bagi keamanan Turki.

Dalam tiga tahun terakhir, NIIS berhasil memorakporandakan Turki. Setidaknya 46 orang tewas dalam serangan NIIS yang sangat mematikan di Bandara Istanbul. Sebelumnya, masih pada 2016, NIIS melancarkan dua kali serangan, termasuk di Alun-alun Sultan Ahmet yang menewaskan 12 orang. Pada 2015, setidaknya bom menewaskan 100 orang di kereta bawah tanah Ankara, dalam sebuah parade suku Kurdi. Pada tahun 2013, sekitar 50 orang tewas dalam bom bunuh diri di Reyhanli, wilayah perbatasan Turki dengan Suriah.

Menurut Mustafa Akyol (2016), pada mulanya pihak yang hendak disasar NIIS adalah suku Kurdi dan turis asing. Namun serangan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir membuktikan, NIIS sudah tak lagi menyasar Kurdi saja, melainkan telah menjadikan warga Turki secara umum sebagai musuhnya. Konsekuensinya, Turki melakukan perlawanan serius atas NIIS.

Mesra

Pada mulanya, relasi Turki dan NIIS relatif mesra. Sejak berdiri pada 2013, NIIS hampir tidak mendapatkan perlawanan dari Turki yang dipimpin Erdogan. Bahkan, konon NIIS mendapat hak istimewa untuk memasok milisi melalui jalur perbatasan Turki-Suriah. Dikabarkan juga, Turki menikmati minyak yang dieksplorasi NIIS melalui jalur perdagangan gelap.

Hubungan mesra NIIS dan Turki tersebut bukan isapan jempol, tetapi koalisi strategis untuk menumbangkan rezim Bashar al-Assad di Suriah. Turki dan NIIS punya tujuan sama. Turki bersama AS, Eropa, Arab Saudi, dan negara Teluk lainnya memandang Assad sebagai ancaman. Karena itu, Turki mendukung segala upaya melengserkan Assad, terutama upaya NIIS untuk menumbangkan Assad. Turki menjadi pintu masuk pasukan NIIS yang akan berperang melawan tentara Assad.

Namun, dalam perjalanannya, Assad tidak tumbang. Setelah hampir lima tahun digempur habis-habisan, rezim Assad justru makin kuat karena disokong Rusia dan Iran. Bersamaan dengan itu, NIIS mengambil keuntungan dengan mendirikan negara dalam negara. NIIS yang semula hadir untuk menumbangkan rezim Assad justru belakangan tak terdengar melakukan perlawanan kepada rezim Assad.

NIIS punya agenda tersendiri: membangun ”Negara Islam” dengan sistem khilafah yang dipimpin Abu Bakar al-Baghdadi. Kini, NIIS menjelma sebagai kekuatan sangat menakutkan dengan menebarkan bom bunuh diri ke seantero dunia. Yang mutakhir, NIIS mulai menjadikan Turki sebagai target operasi aksi terorisme. Pertanyaannya, kenapa NIIS justru menyerang Turki yang dulu banyak membantu masuknya pasukan mereka ke Irak dan Suriah?

Pertama, NIIS kecewa dengan kebijakan Turki yang menutup perbatasan dengan Suriah. Kebijakan tersebut secara nyata telah menghambat masuknya pasukan NIIS ke Irak dan Suriah. Di samping itu, pasukan NIIS juga tidak bisa keluar dari Irak dan Suriah. Akibatnya, pasukan NIIS yang tersebar di Irak dan Suriah ibarat berada dalam penjara karena mereka dikepung pasukan negara-negara adidaya, baik darat maupun udara.

Dalam beberapa bulan terakhir, NIIS semakin terdesak. Untuk memperkuat kekuatannya, mereka membutuhkan tambahan pasukan, yang biasa disuplai dari Eropa, AS, Asia, dan negara-negara Teluk. Ketika Turki menutup perbatasan dengan Suriah dan Irak, secara otomatis NIIS tidak akan mampu menambah pasukannya.

Kedua, NIIS ingin memberikan peringatan keras kepada Turki bahwa kebijakan menutup perbatasan dengan Irak dan Suriah akan berakibat fatal bagi keamanan negara yang menjadi destinasi para wisatawan asing. NIIS seakan tak melihat positif jasa-jasa Turki selama ini.

NIIS membuat perhitungan yang serius dengan mengebom Bandara Istanbul yang jadi salah satu kebanggaan Turki. Bandara Istanbul merupakan salah satu bandara yang padat karena merupakan pintu masuk ke Timur Tengah, Eropa, dan Israel. Serangan NIIS ke Bandara Istanbul merupakan bentuk perlawanan terhadap rezim Erdogan.

Ketiga, NIIS bertujuan melemahkan rezim Erdogan. Kita tahu, Erdogan terus digoyang di dalam negeri akibat keinginannya untuk mengamandemen konstitusi Turki dengan menganut sistem presidensial. Meski popularitas partai penguasa, AKP, terus menanjak, keinginan Erdogan untuk memperkuat cengkeraman kekuasaannya mendapatkan tantangan tidak hanya dari lawan-lawan politiknya, tetapi juga oleh para elite partainya sendiri.

Terakhir, David Oglo yang menjabat sebagai pimpinan AKP memilih mengundurkan diri karena Erdogan bersikukuh mengubah sistem pemerintahan Turki. NIIS melalui serangannya yang mematikan itu hendak mengingatkan Erdogan bahwa sikap memusuhi NIIS akan semakin memperlemah kekuasaannya. NIIS menggunakan momentum krisis politik sebagai kesempatan untuk terus menggerus kekuasaan Erdogan.

Dilema

Maka, sikap Turki memusuhi NIIS akan melahirkan dilema. Di satu sisi, Turki dapat keuntungan politik dari Uni Eropa dan AS, tetapi ketidakmampuan Erdogan menjaga keamanan akan berakibat fatal. Apalagi, Turki terbukti tak punya pengamanan kuat, yang mampu mendeteksi gejala serangan NIIS yang bisa terjadi kapan dan di mana saja.

Kendati demikian, sikap Turki menutup perbatasan bagi pasukan NIIS di Irak dan Suriah terbukti berdampak serius bagi NIIS. Praktis, NIIS hanya mengandalkan bom bunuh diri. Padahal, mereka juga butuh pasukan tempur darat dalam rangka menghambat masuknya pasukan Irak dan Suriah ke kantong-kantong kekuasaan mereka di daerah yang sedang memanas, seperti Mosul, Aleppo, dan Raqqa.

Harus diakui, langkah yang diambil Turki dengan menutup perbatasan merupakan langkah strategis untuk memulihkan kembali kehidupan di Irak dan Suriah. Selama masih ada NIIS di dua negara tersebut, sulit rasanya akan terjadi stabilitas politik. NIIS terbukti sebagai gerakan makar karena mereka membangun negara dalam negara. Maka dari itu, salah satu cara memulai dialog dan jalan damai di antara faksi yang berkonflik di Irak dan Suriah diperlukan stabilitas politik. Bahkan, kalau mau jujur, langkah yang diambil Turki sebenarnya tergolong terlambat karena ribuan pasukan NIIS sudah kadung masuk melalui jalur perbatasan Turki.

Meski terlambat, langkah Turki patut diapresiasi. Dunia saat ini sangat berharap NIIS bisa benar-benar lumpuh, seperti halnya Al Qaeda. Eksistensi NIIS sudah terbukti menjadi ancaman serius seluruh dunia. Bahkan, serangan NIIS dianggap lebih brutal dari Al Qaeda. []

KOMPAS, 20 September 2016
Zuhairi Misrawi | Peneliti Pusat Kajian Pemikiran dan Politik Timur Tengah, The Middle East Institute

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar