Selasa, 20 September 2016

(Tokoh of the Day) KH. Afandi Abdul Muin Syafi’i, Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu - Jawa Barat



Abah Afandi, Kedalaman Ilmu Kitab Kuningnya Diakui Para Kiai


Salah satu kiai sepuh NU Jawa Barat KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa Abah Afandi, berpulang ke rahmatullah, Rabu (13/7/2016) dalam usia 78. Beliau adalah pengasuh Pesantren Asy-Syafi’iyyah Kedungwungu Krangkeng Indramayu, Jawa Barat.

Abah Afandi pernah menuntut ilmu di sejumlah pesantren besar, salah satunya di Pondok Pesantren Tambakberas  Jombang mulai tahun 1953 sampai tahun 1962.  Ia siswa angkatan pertama Madrasah Muallimin Pesantren Tambakberas yang didirikan oleh Mbah KH Fattah Hasyim Idris pada tahun 1953.

Selain itu, di luar madrasah, Abah Afandi beliau juga aktif mengikuti pengajian kitab- kitab pada Mbah Yai Abdul Wahab Chasbullah dan Mbah Yai Fattah Hasyim.

Semasa hidup, Mbah Yai Wahab Chasbullah dan Mbah Yai Fattah Hasyim sering mengunjungi muridnya yang bernama Afandi itu di desa Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu Jawa Barat.

Untuk kitab aJ-Jurumiyah (kitab dasar ilmu nahwu), Abah Afandi diajar langsung oleh Mbah Yai Wahab diulang sampai empat kali khataman. Mbah wahab bilang: “Afandi, kalau mengaji kitab aJ-Jurumiyah cuman sekali saja, itu belum sempurna, sedikitnya empat kali khatam”.

Menurut cerita abah saya (Mbah Kiai Fatah), saat menuntut ilmu di Pesantren Tambakberas Jombang, selain sebagai santri yang sungguh-sungguh, rajin dan tekun, kelebihan lain Abah Afandi (muda) juga terletak di lisannya yang fasih, tutur katanya jelas dan suaranya keras ketika mengajar, sehingga tidak aneh jika beliau disenangi oleh para santri.

Setiap Mbah Kiai Fattah mengaji, maka pasti menyuruh santri bernama Afandi asal Indramayu itu untuk membaca kitab yang diajarkan. Mbah Yai Fattah hanya mendengarkan dan kemudian menjelaskan isi dari kitab yang dibaca oleh Afandi muda.

Karena itulah kalangan santri dan kiai Tambakberas waktu itu, Abah Afandi mendapat sebutan “qori”, yaitu santri yang selalu ditugaskan oleh Mbah Yai Fattah sebagai “tukang baca kitab” yang diajarkan oleh guru-guru dan kiainya. Demikian, cerita paman saya, KH. Moh. Faiq Hasyim Idris Pondok Pesantren Kedunglo Kediri, Jawa Timur.

Beberapa tahun sebelum wafatnya Almaghfurlah KH Chudori, yang akrab di sapa Pak Chudori, wali kelas Abah Afandi waktu sekolah di Madrasan Muallimin Tambakberas, dalam beberapa kesempatan beliau bercerita, ”Bertahun-tahun saya mengajar di Madrasah Muallimin, belum menemukan siswa yang pemahaman dan penguasaan kitab kuningnya sangat luar biasa seperti Afandi. Ia belum ada yang menandingi dalam matangnya pemahaman nahwu, sharaf, mantiq, dan balaghahnya,” tutur Pak Chudori.

Atas prestasinya dalam belajar, meski masih muda dan masih menjadi siswa Madrasah Muallimin, Abah Afandi selalu dipercaya oleh guru-gurunya setiap ada ujian untuk mengoreksi lembaran-lembaran jawaban para santri seangkatannya.

Karena kemampuan penguasaan kitabnya Abah Afandi yang diakui oleh teman-temannya waktu itu, banyak teman-teman sesama santri yang minta mengaji kitab tertentu pada Abah Afandi kala muda itu di pesantren Tambakberas.

Awalnya hanya satu-dua santri, di dalam bilik atau kamar santri, namun seiring waktu, jumlah santri yang ikut pun bertambah, sehingga peserta meluber di teras-teras depan asrama santri.

Melihat antusiasme para santri yang mengikuti pengajian kepada santri bernama Afandi itu, Mbah KH Fattah Hasyim dan Mbah KH Wahab Chasbullah (sesepuh Pesantren Tambakberas waktu itu) diam- diam memperhatikannnya, dan atas izin dua kiai sepuh tersebut, akhirnya santri Tambakberas bernama Afandi kala itu, dipersilakan mengaji di masjid Pesantren Tambakberas. Pesertanya pun membeludak.

Tidak sedikit para santri yang diajar oleh Abah Afandi sewaktu di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, di kemudian hari menjadi kiai besar, seperti Almaghfurlah KH Masruri Abdul Mughni, yang pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah selama dua periode dan pengasuh Pesantren al-Hikmah Dua Benda Sirampog, Brebes, Jawa Tengah dengan tujuh ribu santri, dan kini menjadi besannya Abah Afandi.

Waktu Abah Afandi berdiskusi dengan saya di Pesantren Gedongan, Astana Japura, Ender Cirebon ( asuhan buyut KH Said Aqil Siroj) Abah Afandi dengan tawaduknya bilang, “Dulu waktu di Pondok Pesantren Tambakberas Jombang yang mengajar saya, tetapi ketika pulang yang menjadi kiai dia (Kiai Masruri). Pondoknya besar, santrinya ribuan,” tuturnya .

Hal ini mengingatkan saya kepada gurunya Abah Afandi, yaitu Mbah KH Abdul Fattah Hasyim Idris. Ketika mondok di Tebuireng Jombang, beliau juga sering ditugasi “mbadali” ngaji di masyarakat. Di samping itu juga ditugasi mengajar di kelas sifir awal dan seterusnya sebagai guru kelas.

Karena disenangi murid-muridnya, ketika beliau Mbah yai Fattah pindah ke Denanyar Jombang memenuhi panggilan sang mertua, yakni KH Bisri Syansuri, sekitar 25 muridnya ikut pindah ke Denanyar. Pada akhirnya, mereka juga ikut boyongan ke Tambakberas ketika beliau diminta Pak Denya, KH Abdul Wahab Chasbullah untuk kembali ke Tambakberas membantu pamannya, KH. Hamid Chasbulloh.

Antara Abah Afandi dan Mbah Kiai Fattah Hasyim ada kesamaan dan perbedaan. Keduanya sama-sama dipercaya oleh kiainya untuk mengajar santri-santri junior. Keduanya sama-sama digemari murid-muridnya. Keduanya sama-sama mempunyai lisan yang fasih, tutur kata yang jelas, suara yang keras, dan seterusnya.

Perbedaanya, yang paling nampak, adalah ketika boyong, dari Tebuireng ke Denanyar dan dari Denanyar ke Tambakberas, diikuti oleh murid-muridnya. Tidak demikian dengan beliau Abah Afandi ketika beliau boyong dari Jombang ke kampungnya di Indramayu, tidak diikuti oleh murid-muridnya.

Di antara rutinitas Mbah Yai Fattah adalah membangunkan santri di sepertiga malam, agar para santri shalat Tahajjud. Tetapi, di kala itu, setiap melewati bilik atau kamar yag ditempati oleh santri bernama Afandi, Mbah Yai Fattah tidak akan menggedor pintu tesebut. Karena kalaupun pintu diketuk atau dibuka, sudah dipastikan santri dalam kamar tersebut sedang muthalaah (mempelajari) kitab-kitab. Bukan sedang tidur seperti umumnya santri-santri yang lain.

Dalam kesehariannya, setelah Abah Afandi menetap di kampungnya hingga wafatnya, beliau menjadi rujukan para kiai pecinta kitab kuning, baik dari Indramayu maupun daerah sekitarnya, yang bertanya tentang masalah-masalah “kelas berat” yang berkaitan dengan kitab kuning papan atas.

Bahkan Abah Afandi oleh Mbah Yai Wahab, waktu masih di Pesantren Tambakberas mau dinikahkan dengan seorang gadis putri kiai besar yang tak lain adalah sahabat dekatnya dan pengasuh pesantren di Jawa Tengah.

“Afandi, saya pilih kamu untuk menjadi menantu seorang kiai, yang mencari menantu ahli kitab kuning,” kata Mbah Wahab dalam bahasa Jawa Timur-an.

Tetapi saat ditawari itu, Abah Afandi malah menangis.

Mbah Wahab pun menanggapi dengan becanda, “Lho mau saya nikahkan dengan gadis cantik, putrinya kiai, pesantrennya besar, kok malah kamu menangis?”

Afandi menjawab, “Mohon maaf, Mbah Yai. Saya sudah menikah”.

Mbah Wahab menimpali, “Oh, ya sudah, berarti belum jodoh,” tuturnya.

Karena memang Abah Afandi waktu itu sudah menikah dengan seorang gadis bernama Sofiyah putri KH Habib Hasan, pilihan orang tuanya yang menjadi pendamping hingga akhir hayatnya. Keduannya sudah melalui akad nikah, meskipun waktu itu belum tinggal serumah, karena masing-masing masih belajar di pesantren. Abah Afandi di Jombang, sedangkan istrinya belajar di Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
  
KH DR (HC) Fuad Hasyim Pesantren Buntet Cirebon Jawa Barat, salah satu kerabat terdekat Abah Afandi, dalam beberapa kesempatan ia pernah bilang, “Abah Afandi ini ‘mutiara yang terpendam’. Beliau seorang kiai yang luar biasa penguasaan kitab kuningnya, dan sangat tawaduk, sahabat dekatnya Gus Dur, namun sungguh sayang beliau kurang begitu dikenal oleh masyarakat luas secara nasional.”

Hal itu, lanjut Kiai Fuad, kiranya disebabkan karena Abah Afandi menetap di Indramayu, sedangkan sudah terkenal bahwa masyarakat Indramayu kurang bisa menghormati para kiai. Padahal penghormatan masyarakat luas kepada kiai tertentu itu tergantung bagaimana masyarakat sekitar tempat kiai itu menetap member penghormatan. “Contoh paling sederhana: Masayarakat sekitar memanggil ‘gus’ maka masyarakat luas di luar daerahnya juga akan memangil ‘gus’. Kalau masyarakat sekitar memanggil ‘Mbah Yai’, maka masyarakat luas di luar daerahnya pun pasti akan memanggil demikian pada kiai itu. Selain itu, di Indramayu juga ada mitos susah jadi kiai,” tutur Kiai Fuad.

Abah Afandi juga meninggal dunia dengan warisan karya tulis berjudul “Risalah al-Muin, fi Aqaid al-Khamsin”. Kitab ini mengulas penjelasan soal ilmu tauhid. []

Oleh KH Abdul Nashir Fattah, Rais PCNU Jombang, Pengasuh Pesantren Al-Fathimiyah Tambakberas, Jombang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar