Kamis, 08 September 2016

(Hikmah of the Day) Kekuatan Supranatural Berkah Khidmah kepada Guru



Kekuatan Supranatural Berkah Khidmah kepada Guru

Ketika laki-laki pengembara itu sampai di daerah Tamgrut untuk berguru pada sufi Syekh Ahmad bin Nasir Al-Dar'i, ia dapatkan orang tua itu tengah menderita sakit yang menjijikkan. Mungkin semacam cacar. Sang guru menyeru para muridnya agar datang. Satu demi satu, sang guru meminta mereka agar mencucikan bajunya. Tapi setiap orang dari murid-muridnya tersebut menolak. Setiap orang dari mereka merasa jijik oleh wajah sang guru dan rupa bajunya. Mereka takut penyakit cacar itu menulari mereka.

Sikap berbeda ditunjukkan oleh pengembara dari Maroko bernama lengkap Sidi Lahsen Lyusi. Pemuda yang lahit lahir 1631 di Pegunungan Atlas Tengah itu datang meskipun ia tak dikenal siapa pun juga. "Guru, biarkan hamba cucikan baju itu," pinta Lyusi.

Maka baju itu pun diberikan kepadanya. Lyusi pun membawanya ke sebuah mata air, menggosok membersihkan pakain guru sufi dan seraya memerasnya agar kering, ia minum air kotor yang menetes dari sana. Setelah selesai mencucikan pakain tersebut, ia pun kembali pada sang guru. Sontak perubahan terjadi pada dirinya, matanya menyala, bukan karena penyakit, tapi seolah-olah ia baru saja meminum anggur yang garang. Lyusi bukan lagi orang biasa. Ia telah memiliki barokah, semacam kekuatan supernatural.

Maka sejak itu namanya pun kian masyhur. Pada suatu hari ia datang ke kota Meknes, ibu kota yang didirikan oleh Sultan Mulay Ismail. Mendengar kedatangan penempuh jalan spiritual (salik) ini, Sultan Mulay Ismail menyambutnya dengan penuh hormat. Ia diberi penginapan yang bagus dan hidangan yang lezat. Ia diajak menjadi penasihat rohaniahnya di dekat mahligai.

Bersamaan pada waktu itu sultan sedang membangun dinding besar mengitari kota. Para pekerja yang menggarap proyek ini baik budak ataupun bukan diperlakukan dengan kejam. Para buruh yang membangun dinding tersebut diperlakukan secara tidak manusiawi. Pada suatu hari seorang buruh jatuh sakit ketika sedang bekerja. Ia dihukum. Bukan main hukumannya, yaitu pekerja yang jatuh sakit itu direkatkan ke tembok tempat ia jatuh.

Prihatin dengan kejadian di atas, kawan-kawan buruh itu diam-diam mengadu ke tempat Lyusi. Namun Lyusi diam saja, tak berkata apa pun kepada sultan. Barulah saat tiba waktu makan malam dan hidangan dibawa ke kamarnya, Lyusi pun mulai memecahkan semua piring, satu demi satu. Dan ia terus saja melakukan hal ini, malam demi malam, hingga seluruh piring di istana itu hancur.

Ketika sultan penasaran dan bertanya apa yang terjadi dengan piring di istananya, para pelayannya menjawab: "Tamu itu yang memecahkan semuanya". Maka sultan pun memerintahkan agar Lyusi dibawa menghadapnya.

"Tuan kami telah memperlakukan anda sebagai tamu Tuhan, tapi kenapa anda memecahkan semua piring kami?” Kata sultan mengintrogasi.

"Ah! Manakah yang lebih baik, keramik yang dibikin Allah atau keramik tanah liat itu?

Dengan jawaban itu Lyusi ingin mengatakan bahwa ia hanya memecahkan piring ciptaan manusia, sementara sultan mematahkan manusia ciptaan Allah. Mendengar jawaban Lyusi sultan bertambah berang dan Lyusi diusirnya dari istana. Lyusi meninggalkan istana dan berkemah di luar dekat tembok kota. Tak sabar akan pembangkangan ini, sultan sendiri datang berkuda. Saat itu Lyusi sedang shalat. Ketika sultan tetap menerjang, Lyusi hanya menorehkan tombaknya membikin garis. Melewati itu, kaki kuda sultan tiba-tiba terbenam ke dalam tanah.  

Demikian kisah ini kami sadur dari salah satu esai catatan pinggir Gunawan Muhammad berjudul "Lyusi" edisi 19 Januari 1978. Mantan Pimred Tempo ini merujuk pada salah satu bukunya Clifford Geertz berjudul Islam Observed.

Keistimewaan yang diperoleh Lyusi tentu bukan hasil yang pasti akan didapatkan setiap orang yang menaruh hormat dan sudi berkhidmah kepada guru. Kekuatan supranatural tersebut bukan harapan, apalagi tujuan, tapi ia menjadi penanda bahwa ketulusan dan ketawadukan murid kepada guru akan berbuah kemuliaan dan membawa berkah tersendiri bagi seorang murid. Dan berkah itu bermacam-macam, bisa dalam wujud fisik maupun nonfisik. []

(M. Haromain)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar