Gerakan
Indonesia Main-main
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Istilah “Masyarakat Madani” sejak
beberapa lama ini diucapkan oleh semua orang, dari Presiden sampai Ketua RT,
dari veteran sampai ABG, dari sarjana sampai tukang becak. Itu persis
sebagaimana kaum terpelajar dulu membohongi rakyat dengan istilah “Tinggal
Landas”, “Era Globalisasi” dan lain-lain, yang ditahayulkan dan menguap di
angkasa waktu.
Masyarakat
Madani bersumber dari Masyarakat Maddaniyah (baca: dengan demikian bukan
Masyarakat Masihiyah) yang dibangun oleh Rasulullah Muhammad saw. sesudah
beliau dengan pengikutnya berhijrah dari Mekah untuk bertempat tinggal di
Madinah. Ketika itu belum ada “state” dengan konstitusinya, sehingga kedatangan
masyarakat penghijrah yang disebut Kaum Muhajirin tidak mengalami resiko
konstitusional ketika kemudian harus memasuki “negara” lain dan hidup bersama
tuan rumahnya yang disebut Kaum Anshor. Sekurang-kurang nya ada tiga substansi
clan peristiwa Hijrah itu.
Pertama,
momentum hijrah itulah yang dipakai untuk menandai satuan waktu, awal tahun dan
abad Islam, “Ilmu”nya di sini terletak pada kenyataan bahwa bukan hari atau
tahun kelahiran Muhammad saw. yang dipakai sebagai patokan awal abad Islam,
sebab fokus ajaran Islam tidak pada Muhammad, melainkan pada ajaran Allah yang
dititipkan melalui ia. Islam tidak bersikap feodal dan veded-interest dengan
memonumenkan Muhammad sebagai manusia, karena yang terpenting adalah kasih
sayang Allah yang dibawanya untuk seluruh ummat manusia. Muhammad bukan
founding father of Islam. Agama tidak didirikan oleh Nabi, Rasul atau manusia.
Agama bukan bikinan atau ciptaan yang selain Allah. Otoritas atas kehidupan
manusia seratus persen berada di tangan Allah, dan para Nabi hanya
menyampaikannya. Bagi tradisi sifat Allah, Nabi dan Rasul boleh tidak ada.
Allah berhak tidak menciptakan Muhammad, tidak memilihnya sebagai kekasih, atau
melakukan apapun. Jadi, sekali lagi, yang penting adalah “hijrah”nya, bukan
“Muhammad”nya — meskipun karena etika historis dan logika cinta: Muhammad kita
sayangi sesayang-sayangnya sebagaimana Allah menyayanginya melebihi sayangNya
kepada apapun dan siapapun saja.
Kedua,
hijrah sebagai acuan pokok ilmu, ajaran dan cinta kasih Islam. Anda jualan
bakso itu menghijrahkan bakso ke pembeli dan si pembeli menghijrahkan uang
kepada Anda. Anda buang air besar itu menghijrahkan sampah biologis ke lubang
WC. Anda nikah dan bikin anak itu menghijrahkan sperma ke ovum istri. Anda juga
menghijrahkan Suharto ke rumahnya, menghijrahkan Habibie ke Binagraha dan
seterusnya. Anda menghijrahkan uang Anda ke brangkas bank. Anda menghijrahkan
diri Anda ke rumah Allah. Hidup adalah hijrah dariNya menuju keharibaanNya.
Hidup hanya berlangsung dalam konsep dan mekanisme hijrah. Tidak ada benda,
makhluk, peristiwa atau apapun saja dalam kehidupan ini yang tidak berhijrah.
Yang
menjadi masalah dan pilihan manusia adalah pengakuan dari mana ia berhijrah, ke
mana ia sedang dan akan menghijrahkan dirinya, dengan cara apa ia melakukan
hijrah. Anda menghijrahkan uang dari kas kantor ke kas keluarga: pertanyaannya
terletak pada bagaimana konteks dan nilai (akidah, akhlak, hukum) hijrahnya
uang itu. Yang disebut Era Reformasi, jatuhnya Suharto, kerusuhan Ambon,
pekikan Aceh, kasus Bank Bali, tempe-delenya perilaku politisi, sidang MPR dan
apapun — diikat oleh bagaimana nilai seseorang menghijrahkan dirinya, aspirasinya,
political will-nya. Di situ terdapat langit nilai baik buruk, benar salah,
indah dan jorok; serta terdapat acuan formal: legal atau illegal, sah atau
tidak sah, halal atau makruh atau haram atau malah wajib, dan seterusnya.
Menjadi
jelas bahwa empasis nilai Islam tidak pada Muhammad, melainkan pada nilai
Hijrah. Muhammad wajib patuh kepada nilai hijrah, terikat untuk menjadi uswatun
hasanah atau teladan, dan tidak boleh melanggar kasih sayang Allah yang sudah
la rumuskan dalam AI-Qur’an, serta yang juga dicipratkan melalui subbah-nya
atas Muhammad sendiri.
Ketiga,
metodologi dan strategi hijrah. Yang dilakukan pertama-tama oleh Rasulullah
saw. begitu tiba di Madinah adalah mempersaudarakan Kaum Muhajirin dengan Kaum
Anshor. “Mempersaudarakan” ini sangat luas maknanya: mempersaudarakan dalam
konteks transaksi kultural, sosiologis, politis dan lain sebagainya. Negara
Indonesia kecolongan kerusuhan di Ambon, Timor Timur dan Aceh dan lain-lain.
Karena konsep persaudaraan mereka tidak digali, diterjemahkan dan dirumuskan ke
dalam konsep nasionalisme, persatuan dan kesatuan yang jelas. Ketidakjelasan
konsep itu membuahkan ketidakmenentuan komunikasi, etika pergaulan antar
kelompok, kecurangan politik, dan menjadi lebih parah lagi karena kepemimpinan
ilmu kenegaraan Indonesia tidak bersedia mensyukuri ilmu dan ajaran Allah yang
mendialektikakan konteks-konteks horisontal dengan vertikal. Kalau tidak karena
perlindungan dan kasih sayang Allah kepada rakyat kecil, negara Indonesia tidak
akan sanggup menyelamatkan dirinya sendiri.
Akan
tetapi sangat tidak mengagetkan kalau Indonesia tidak kunjung berhenti
“cengengesan” alias main-main. Artinya, tidak bersikap serius terhadap dirinya
sendiri, terhadap pilihan nilainya sendiri, bahkan juga tidak serius terhadap
pilihan ideologi dan partai politiknya sendiri. Gus Dur menjadi Presiden
bukanlah hasil wajar dari Pemilu yang gegap gempita. Warga parpol-parpol
bertengkar satu sama lain, bahkan sampai bakar-bakaran dan bunuh-bunuhan, juga
antar sesama warga parpol Islam. Tetapi ketika memilih presiden, pada jam-jam
terakhir: tak ada lagi PPP, PKB, atau apapun. Semua tidak berpikir
konstitusional, melainkan pragmatis: “Sudahlah, supaya tidak bentrok, kita
orang Islam bersatu saja milih Gus Dur”. Dari sudut husnudh-dhon, itu bagus:
orang Islam mau bersatu asal kepepet. Tapi kenapa nggak dulu-dulu? Kenapa
ketika tiga tahun yang lalu. saya anjurkan bikin Partai Islam Nasional mereka
marah-marah? Kalau toh di ujung-ujungnya mereka berpikir secara partai Islam
juga, sesudah pengorbanan Pemilu yang begitu banyak? Juga, ingat: untuk apa Pak
Amin Rais mengutuk-ngutuk Golkar sebagai partai mampus dan lain-lain. Kalau
pada akhirnya ia menjadi Ketua MPR atas dukungan suara Golkar? Sekarang ini MPR
kita reformis atau status quo? DPR kita reformis atau status quo? Kabinet kita
reformis atau status quo?
Dan
contoh paling aktual lainnya yang menjadi tema kita kali ini adalah overlapping
konsep Masyarakat Madani di satu pihak dengan pemahaman Millenium-III di lain pihak.
Masyarakat
Madani bukan hanya secara teknis waktu dimulai pada momentum hijrahnya
Rasulullah saw, tapi juga substansi nilai yang dibawanya sangat berbeda dengan
Masyarakat Masehi. Pandangan hidupnya berbeda, jam kerjanya berbeda, konsep
budayanya berbeda, aspirasi politiknya berbeda, konsumsi seninya berbeda, hati
dan akalnya berbeda. Artinya bukan sekedar pengikut konsep Masyarakat Madani
kini baru berada di pertengahan Millenium-II, dan masih sekitar 10 generasi
lagi baru akan memasuki Millenium-III — tapi juga secara ideologis Masyarakat
Madani memperjuangkan nilai yang sama sekali berbeda dengan kenyataan Peradaban
Masehi yang sekarang sedang berlangsung.
Tapi
karena kita memang “cengengesan”, kita bisa menegakkan bendera Masyarakat
Madani sekaligus menyanyi-nyanyikan tahayul Millenium-III. [*****]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar