Peran NU dalam
Kabinet Ali Sastroamijoyo I
Tepat 65 tahun silam,
lewat tengah malam Jumat, 31 Juli 1953, Kabinet Ali Sastroamijoyo I akhirnya
terbentuk setelah melewati 58 hari penuh perundingan alot antar-partai besar
negeri ini. Untuk pertama kalinya NU mendapat hingga 3 kursi dengan KH Zainul Arifin
menduduki kursi Wakil Perdana Menteri (Waperdam) II.
Tokoh politisi NU
yang pernah menjabat Panglima Laskar Hizbullah, Sekertaris Pucuk Pimpinan TNI
serta Ketua Seksi Hankam BP KNIP ini pun menjadi orang pertama NU berposisi
tertinggi di lembaga eksekutif.
Selama masa tugasnya
dalam kabinet, kegiatan-kegiatan Zainul Arifin diwarnai dengan timbulnya
masalah-masalah keamanan baik yang ditimbulkan oleh DI/TII maupun urusan
internal TNI, pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung, dan persiapan
penyelenggaraan pemilu yang pertama.
Kabinet tanpa Masyumi
Begitu Kabinet Wilopo
bubar, Masyumi langsung mendesak pembentukan kabinet presidentil di bawah
wapres Hatta. PNI menolak sekaligus mencurigai kabinet demikian hanya bakal
menguntungkan Masyumi dan PSI, dua partai sangat dekat dengan Wapres. Presiden
Sukarno sendiri menentang karena UUD 1950 tidak mengenal kabinet presidentil.
Dia kemudian menunjuk
formatur sampai lima kali: Mohammad Roem (Masyumi) dan Sarmidi Mangunsarkoro
(PNI), kemudian Mukarto Notowidigdo (PNI) hingga dua kali diberi kesempatan,
serta terakhir Burhanuddin Harahap (Masyumi). Semuanya gagal berkoalisi
membentuk pemerintahan baru. Akhirnya, keinginan membangun koalisi kuat antara
dua partai terbesar itu pun ditinggalkan.
Setelah formatur
diserahkan ke Wongsonegoro dari partai kecil PIR di luar dugaan banyak orang,
malah tercapai kesepakatan antara PNI, PIR dan NU. Maka, kabinet Ali I pun
lahir setelah negara dalam keadaan krisis pemerintahan selama hampir dua bulan.
Partai Masyumi yang tidak terwakili dalam kabinet baru, menjadi oposisi di
parlemen.
Selama berlangsungnya
kabinet ini, NU tertantang untuk membuktikan kemampuannya ikut serta dalam
menjalankan roda pemerintahan. Nyatanya, kabinet berhasil bertahan hingga dua
tahun dan menjadi kabinet terlama selama era Demokrasi Parlementer (1950-1959).
Menjawab Tantangan
Zainul Arifin salah
satu pencetus perpisahan NU dari Partai Masyumi dan mendirikan partai
tersendiri pada 1 Mei 1952, karena Masyumi terus menerus melecehkan para ulama tradisionalis
NU. Otomatis kinerjanya dalam kabinet menjadi sorotan, terlebih lagi karena NU
telah kehilangan politisi unggulan lainnya, KH Wahid Hasyim yang wafat pada 19
April 1953.
Zainul sendiri yang
sebelumnya memang belum pernah menjadi menteri beberapa kali dipertanyakan
kemampuannya. Misalnya ketika dia meminta Perdana Menteri untuk melimpahkan
kewenangan masalah keamanan terkait gerakan-gerakan subversif DI/TII, Ali
Sastroamijoyo tidak memenuhinya.
Padahal, Iwa
Kusumasumantri yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan beraliran kiri
seringkali mengambil tindakan tidak persuasif dalam menghadapi para
pemberontak. Sebagai mantan Panglima Hizbullah yang mengenal pimpinan DI/TII
Arifin menginginkan tindakan yang lebih persuasif. Lagipula intimidasi yang
dilancarkan Menhan berdampak pula terhadap warga NU yang tidak ikut memberontak
sama sekali.
Bersama Menteri Agama
KH Masjkur yang juga dari NU, Zainul Arifin kemudian mencanangkan pemberian
gelar waliyul amri dharuri bissyaukah terhadap Presiden Sukarno sebagai
pemimpin yang sah untuk dipatuhi masyarakat Islam. Yang timbul malah tuduhan NU
bersikap "mencari muka" terhadap Sukarno.
Namun Zainul dengan
tegas menyatakan, "Presiden, pemerintah, dan parlemen adalah waliyul amri
dharuri bissyaukah yang otoritasnya harus dipatuhi. Bagi yang memberontak
hukumnya sudah jelas." Menanggapi pernyataan tersebut ulama Sulawesi
Selatan, misalnya kemudian mencabut dukungannya terhadap DI/TII sebagai
"pemerintah sah".
Krisis lainnya
terjadi pada 25 November 1954, manakala kabinet harus melakukan reshuffle
karena keluarnya menteri-menteri PIR sebagai dampak perselisihan internal
partai.
Zainul Arifin
kemudian menjadi satu-satunya wakil perdana menteri hingga kabinet pun dinamai
Kabinet Ali-Arifin. Namun, kewenangan mengurusi masalah keamanan tak kunjung
dilimpahkan kepadanya. Kabinet memang langsung sibuk melaksanakan Konferensi
Asia Afika di Bandung.
Lagi-lagi konferensi
antarnegara-negara baru merdeka dan masih terjajah dari kedua benua ini
dikritisi dengan diplesetkan menjadi "Konferensi Asal-Asalan" oleh
oposisi. Padahal banyak negara Afrika yang berhasil mencapai kemerdekaannya
karena termotivasi oleh Dasa Sila Bandung.
Pemilu pertama, yang
sejak 1946 ingin dilaksanakan namun baru terlaksana selama pemerintahan Kabinet
Burhanuddin Harahap, sudah dimatangkan persiapannya sejak era Kabinet
Ali-Arifin.
Sebuah insiden
terjadi ketika PBNU menyurati menteri-menteri dalam kabinet untuk menyikapi PKI
yang slogan partainya dirasa menyesatkan. Setelah dikonfrontir, akhirnya PKI
bersedia mencabut slogan partainya itu.
Dalam periode kabinet
ini pula Zainul Arifin ikut dalam rombongan Presiden melakukan muhibah
kenegaraan sekaligus melaksanakan ibadah Haji ke Tanah Suci.
Sebelum berangkat,
ditengah-tengah kisruh di kalangan militer, Perdana Menteri akhirnya
melimpahkan kewenangan sebagai Menhan ad interim kepada Zainul Arifin setelah
akhirnya Iwa Kusumasumantri mengundurkan diri pada 12 Juli 1955 atas desakan
mosi tidak percaya yang diusung Ketua Seksi Keamanan Parlemen, Zainul
Baharuddin. Namun, dua hari setelah rombongan Presiden berangkat Kabinet
Ali-Arifin membubarkan diri. []
Ario Hemly, penulis
buku KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri Ikhlas Membangun Negeri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar