Puasa Ruh, Puasa Akal, dan
Puasa Jiwa
Memasuki bulan suci Ramadhan, kita selalu
berharap menjadi jiwa yang suci dengan diampuninya dosa-dosa kita di bulan ini.
Begitu pula saat detik-detik Ramadhan akan meninggalkan kita, tak ada harapan
lain selain diterimanya seluruh amalan dan diampuninya seluruh dosa kita oleh
Allah ﷻ berkat puasa yang
kita jalani.
Puasa dapat kita bagi menjadi dua. Puasa
sebagai wujud menjalankan syariat Allah ﷻ dan puasa sebagai
pendidikan bagi diri kita sendiri. Seperti halnya shalat, mengerjakan syarat
dan rukunnya membuatnya sah dan bernilai ibadah; sementara mengambil hkmah dari
setiap gerakan dan bacaan yang ada dalam shalat adalah pendidikan bagi diri
kita.
Puasa (shaum) secara bahasa artinya menahan.
Sudah hal yang lumrah yang timbul dalam pikiran kita adalah menahan lapar dari
terbitnya fajar hingga datangnya maghrib atau terbenamnya matahari.
Kata lain dalam bahasa Arab yang bermakna
menahan atau mencegah adalah al-man‘ (mencegah). Ada sebagian pula yang
menyebutkan al-imsâk. Allah ﷻ berfirman dalam
Al-Qur’an:
إِنِّي
نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا
“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa
untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang pun
hari ini” (QS Maryam: 26)
Di ayat tersebut terdapat kata shaum yang
berarti menahan, yakni menahan dari berbicara kepada manusia. Dari ayat itu
kita dapat menyimpulkan bahwa makna puasa adalah menahan.
Mudzoffar al-Qarmisiny, dalam kitab
ar-Risâlah al-Qusairiyyah mengatakan bahwa puasa ada tiga macam:
الصَوْمُ
عَلَى ثَلَاثَةِ أَوْجُهٍ: صَوْمُ الرُّوْحِ بِقَصْرِ الْأَمَلِ، وَصَوْمُ الْعَقْلِ
بِخِلَافِ الْهَوَى، وَصَوْمُ النَّفْسِ بِالإِمْسَاكِ عَنِ الطَّعَامِ
وَالْمَحَارِمِ.
“Puasa ada tiga macam: (1) puasa ruh dengan
memendekkan angan-angan, (2) puasa akal dengan melawan keinginan, (3) puasa
jiwa dengan menahan dari makanan dan perkara-perkara yang haram.”
Pertama, puasa ruh dengan memendekan
angan-angan. Karena, terlalu panjang berharap akan menghambat diri dari
perbuatan baik atau usaha untuk meraih kebaikan karena terlalu sibuknya kita
dengan bercita-cita. (Syekh Mustafa al-‘Arusy, Natâij al-Afkâr al-Qudsiyyah fî
Bâyani Ma’âni Syarh Risalah al-Qusyairiyyah, Lebanon, Dar el Kutub ‘Ilmiyyah,
2007, halaman 306)
Ketika di pesantren, salah satu guru saya
pernah menasihati agar tidak panjang dalam bercita-cita. Maksud beliau bukan
berarti tidak boleh sama sekali memiliki harapan, namun jangan terlalu
berlebihan pada harapan yang tak mungkin ada habisnya, khawatir kita tertimpa
oleh musibah yang bisa disebut dengan cinta dunia.
Kedua, puasa akal dengan melawan keinginan.
Syekh Zakaria al-Anshari menjelaskan, dengan akal kita dapat mengetahui antara
yang baik dan yang buruk, dan itu dapat dihasilkan dengan melawan keinginan
atau hawa nafsu. (Syekh Mustafa al-‘Arusy, Natâij al-Afkâr al-Qudsiyyah fî
Bâyani Ma’âni Syarh Risalah al-Qusyairiyyah, Lebanon, Dar el Kutub ‘Ilmiyyah,
2007, halaman 307)
Ketiga, puasa jiwa dengan menahan diri dari
makanan dan perkara-perkara yang haram. Menahan diri dari makanan adalah salah
satu proses untuk meningkatkan spiritual. Dengan mempuasakan jiwa dari makan,
kita akhirnya terbiasa untuk menerima setiap keadaan yang telah ditentukan oleh
Allah ﷻ, baik berupa lapar maupun kenyang. Selain itu menahan diri dari
hal-hal yang diharamkan juga bagian dari proses meningkatkan keimanan kita
kepada Allah ﷻ.
Melihat dari penjelasan yang ketiga, kita
dapat mennyimpulkan bahwa puasa memang menahan diri dari makanan, tapi yang
lebih sempurna dari itu adalah menahan diri dari sesuatu yang diharamkan
seperti ghibah, mengadu domba, dan berbohong. Yang terakhir ini hanya bisa
didapat ketika kita tempatkan puasa sebagai sarana pendidikan ruhani kita.
Semoga puasa Ramadhan tahun ini dapat menjaga
kita dari segala perbuatan yang dilarang dalam agama, dan mendidik kita supaya
meningkatkan nilai-nilai rohani dalam hidup kita. Bukankah puasa yang paling
sulit tingkatannya adalah puasa menahan hawa nafsu? Mudah-mudahan kita menjadi
pribadi yang lebih baik lagi. Amiin. []
Sumber: NU Online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar