Kisah Lucu di Neraka
Judul
Buku : Trik Ahli Neraka
Pengarang
: Hilmi Abedillah
Penerbit
: Mitra Karya
Cetakan
: I / Maret 2018
Kota
Terbit : Tuban
Tebal
Buku : 189 Halaman
Peresensi
: Muhammad Miftahuddin, Pimpinan redaksi Majalah Aksara, Pimpinan redaksi www.aksaraonline.com, Wakil II
Pimpinan Umum Majalah Suara Pandanaran, dan Kontributor www.bangkitmedia.com
“Waktunya makan
malam,” kata malaikat itu sambil menyodorkan duri-duri beracun dan bangkai
babi. “Minumnya ambil sendiri di sana,” lanjutnya sambil menunjuk ke sebuah
galon berisi darah-darah panas.
Mereka bertiga
menggangguk.
Setelah malaikat itu
pergi, mereka melanjutkan obrolan. Tampaknya mereka sudah terbiasa makan
bangkai babi atau duri beracun. Bangkai babi itu rasanya seperti steak kalau di
dunia, duri-duri itu seperti bandeng presto. Minuman darah sudah mereka anggap
semacam soda gembira yang melegakan tenggorokan.
Penggalan di atas,
merupakan sedikit kreasi imajinatif yang tergambar dalam kumpulan cerpen ini.
Cerita ini berjudul “Trik Ahli Neraka” yang menggambarkan mengenai bagaimana
keseharian kehidupan di neraka dan segala aktifitasnya. Dalam kutipan di atas
tak terlihat bagaimana kerasnya neraka, justru yang terlihat adalah sebuah
rutinitas keseharian selayaknya hidup sekarang.
Kisah ini bercerita
mengenai tiga pendosa yang tinggal di neraka dan berusaha untuk menyusup ke
surga. Ketiga tokohnya adalah sapto sebagai pezina, Rojam sang plagiator
tulisan-tulisan, dan Ciyus yang merupakan koruptor. Konflik terjadi antara para
penghuni neraka yang diprakarsai oleh ketiga orang tersebut, dengan para
malaikat penjaga neraka. Konflik berikutnya yang muncul adalah antara Sapto
dengan keduanya dimana Sapto menipu kawan-kawannya mengenai jalur menuju surga.
Kisah yang dikemas
sangat unik dan ramah bagi pembaca. Dunia neraka yang sering digambarkan dalam
kengerian yang tak terbanyangkan, ditarik menjadi aktiitas keseharian
selayaknya manusia hidup di dunia (tentunya dengan siksa yang menjadi
rutinitas). Racikan katanya juga mudah dipahami bagi semua kalangan, karena
memang ada beberapa cerpen yang disampaikan melalui puitisasi kata-kata atau
narasi yang rumit untuk dipahami dalam sekali baca.
Secara umum buku
kumpulan cerpen karya Hilmi ini nyaman di mata dan mudah membuat tertawa.
Beberapa kisah mungkin hanya bisa dipahami oleh kalangan pesantren saja,
semisal kisah “Puntung Rokok di Toilet Pondok”, “Daenuri Ketemu Dinawari”,
“Barokah”, dan “Seminar Nasi Pecel” yang membahas tentang setitik kehidupan
dalam dunia pesantren. Hal ini mungkin tidak terlepas dari backgroun pesantren
yang dimiliki oleh penulis.
Gaya diksi yang
digunakan sangat variatif. Misal kita lihat pada cerpen yang berjudul “Bunga
Sya’ban”. Terlihat bagaimana penulis menggunakan majas personifikasi –penggambaran
dengan hal yang mati lalu membuatnya seakan-akan hidup- dalam mengungkap bulan
Sya’ban dan Ramadhan.
Sya’ban tersenyum
mendengar tekadku yang baru. Lalu ia meraih gelas yang ada di depannya.
Melanjutkan tegukannya. “Nanti kalau ramadan ke sini, jangan sampai kau suguhi
dia minuman seperti ini saat matahari masih tergantung di langit. Ia juga
berpuasa. Ajak ia berbuka bersama.”
Kisah ini
mengutarakan mengenai nilai keutamaan bulan Sya’ban. Sya’ban diibaratkan
selayaknya tamu yang datang kepada seseorang dan membawa bunga-bunga yang
wangi. ‘Bunga’ di sini menjadi pengibaratan dari jumlah hari yang ada pada
bulan Sya’ban. penulis berusaha menyampaikan bahwa tak semua orang mendapat
keutamaan bulan Sya’ban ini. Hanya orang tertentu yang memiliki niat dan tekad
yang tulus yang dapat menghirup harum wangi bunga yang dibawa oleh bulan
Sya’ban. Dari sini terlihat bagaimana cara penulis dalam menyampaikan
nilai-nilai agama dalam cerpennya.
Ada sedikit kesulitan
untuk memahami nilai yang dimaksud saat membaca kisah “Arwah Seorang Putri”.
Kesan kisahnya seperti semacam drama umum yang sering dilihat dalam acara
televisi. Sehingga terkesan biasa-biasa saja. Namun akhirnya disadari bahwa ada
nilai toleransi agama yang kuat dan tersirat dalam kisah ini.
Istriku seorang
muslimah yang telah menghafal kitab sucinya. Dihormati di antara umat muslim
yang lain. Sedangkan aku seorang komunis kantoran yang tentu sangat dibenci
oleh mereka.
Walaupun begitu, kami
tetap bisa serumah, sekamar, bahkan seselimut.
Sebagai sebuah karya
yang lahir dari rahim pesantren, karya ini sangat perlu untuk diapresiasi dan
ditularkan kepada santri-santri lain. Hilmi yang masih nyantri di Jombang ini
menunjukkan bahwa seorang santri harus kreatif. Dalam pengantarnya tersirat
bahwa si pengarang berusaha menyampaikan nilai keagaman dan kehidupan melalui
kumpulan cerpennya ini. Jadi, para pembaca silahkan bersiap-siap untuk
tersenyum sendiri saat membacanya. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar