Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang
Judul
Buku : KH Zubair Dahlan: Kontribusi
Kiai Sarang untuk Nusantara & Dunia Islam
Penulis
: Amirul Ulum
Penerbit
: Global Press Yogyakarta
Tebal
: 452 halaman (xxxii + 420)
ISBN
: 978-602-5653-24-7
Persesensi
: Dwi Oktaviani Kurniawati, pemerhati
Kajian Sejarah Ulama Nusantara
Kealiman seorang santri tidak dapat
dipisahkan dengan kiainya, yang menggulo wentah (mengajar) dengan penuh
kesungguhan. Selain tirakat lahir, mereka juga tirakat batin, dengan selalu
mendoakan santrinya agar menjadi orang yang dapat meneruskan perjuangannya
dalam mengemban amanah, menyebarkan agama Islam. Ilmu yang diajarkan, bukan
sekedar ilmu biasa, namun ilmu tersebut bersambung dengan sumber aslinya,
shâhibu al-syari’ah, baginda Nabi Muhammad SAW.
Kesinambungan keilmuan tersebut dirawat
dengan adanya sanad atau silsilah keilmuan yang ditransmisikan dari satu
generasi ke generasi yang selanjutnya hingga sampai sekarang. Ilmu sanad ini
hanya dimiliki oleh umat Islam, tidak selainnya, sehingga kitab suci selain
Al-Qur’an, rawan mengalami sebuah distorsi (tahrif) di dalamnya.
Tradisi keilmuan di Pesantren Sarang sangat
erat dengan transmisi silsilah keilmuan, sanad. Setiap usai menghatamkan sebuah
kitab, semisal Shahih Bukhari, maka kiai atau ustadz yang mengampu mata kuliah
akan membacakan riwayat keilmuannya yang diriwayatkan dari gurunya hingga
kepada pengarang kitab Shahih Bukhari, yaitu Imam Bukhari.
Selain pembacaan sanad kitab, juga terkadang
dibacakan silsilah keilmuan fiqih Mazhab Syafi’i melalui mata rantai emas,
silsilatu al-dzhab, yang diriwayatkan dari ulama alim yang menjadi rujukan pada
zamannya, seperti silsilah keilmuan yang diriwayatkan Kiai Zubair Dahlan,
ayahanda Kiai Maimoen Zubair dari Syekh Said al-Yamani (murid Syekh Ahmad Zaini
Dahlan), Syaikh Hasan al-Yamani (murid Sayyid Umar Syatha), Syekh Ibnu Maya’ba
al-Syinqithi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi), Syekh Baqir al-Jukjawi (murid
Syekh Mahfudz al-Termasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi), dan Kiai
Faqih Maskumambang (murid Syekh Mahfudz al-Termasi). Semua silsilah ini jika
ditelusuri akan berhujung kepada silsilatu al-dzahab, sebagaimana yang dikupas
dalam buku ini.
Selain tradisi riwayah, Kiai Zubair Dahlan
sangat menekankan dirayah, bahkan ini yang lebih diunggulkan. Oleh sebab itu,
maka tidak mengherankan jika muridnya banyak menjadi seorang ulama atau nibras
(cahaya) dalam bidang masalah pengembangan agama Islam ketika mereka sudah
berkiprah di tengah masyarakat.
Di antara muridnya adalah Kiai Maimoen
Zubair, Kiai Muslih ibn Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen), Kiai Ustman
al-Maraqi, Kiai Muradi al-Maraqi, Kiai Hisyam Cepu, Kiai Sahal Jepara, Kiai
Ridwan Bangilan, Kiai Jauhari Jember, Kiai Bisyri al-Hafi Cepu, Kiai
Masyhudi Merakurak, Kiai Manfuri Merakurak, Kiai Habib Sayyid Zaen al-Jufri,
Kiai Abdul Fattah Sendang, Kiai Shiddiq Sendang, Kiai Muslih Tanggir, Kiai
Abdul Khaliq Laju, Kiai Masyhudi Senori, Kiai Kurdi al-Makki, Kiai Matin
Mas’ud Cilacap, Kiai Shiddiq Narukan, Kiai Sahal Mahfudz Kajen, Kiai Abdul
Wahab Sulang, Kiai Syahid Kemadu, Kiai Dahlan Surabaya, Kiai Ghazali
Bojonegoro, Kiai Fayyumi Siraj Kajen, Kiai Tamam Siraj Pamotan, Kiai Ibrahim
Karas, Kiai Humaidi Narukan, Kiai Syifa Makam Agung, Kiai Abdul Ghafur Senori,
Kiai Harun Kalitidu, Kiai Masyhudi Madiun, Kiai Mursyid Klaten, Kiai Abu
Thayyib Solo, Kiai Hambali Demak, Kiai Sholeh Kragan, Kiai Masyhudi Blora, Kiai
Abdussalam Rengel, Kiai Syaerozi Cirebon, Kiai Izzudin Cirebon, Kiai
Nashiruddin Cirebon, Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Pesantren Lirboyo), Kiai
Islahudin Dukuhseti, Kiai Muslim Mranggen, Kiai Dimyathi Rais Kendal, Mbah Dim
Ploso, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Hasani Sidogiri, dan lain-lain.
Dalam buku ini, Amirul Ulum, sang penulis
biografi ulama Nusantara, mengupas dengan detail manaqib atau biografi Kiai
Zubair Dahlan, mulai dari masa kecil hingga wafat. Sumbangsihnya dikupas
dengan bahasa yang mudah dipaham, terutama bagi kalangan pesantren.
Kontribusi Kiai Zubair Dahlan yang dikupas
dalam buku ini di antaranya, keberhasilannya dalam mendidik santrinya,
bertafaqquh fiddin, melanjutkan tradisi keilmuan baginda Nabi Muhammad SAW,
menjadi pimpinan pejuang dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan
(ketika terjadi Agresi Militer Belanda), menjadi anggota Dewan Perwakilan
Rakyat, pengabdiannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, menjadi Syekh Haji,
jaringan-jaringannya, baik lokal maupun internasional (melalui media Haramain),
dan lain-lain.
Tak kalah pentingnya, dalam buku ini telah
dikupas tentang sifat mulia Kiai Zubair Dahlan yang sangat memperhatikan
kehidupan fakir dan miskin. Setiap usai menjalankan salat Jum’at, ia sering
mengunjungi rumah-rumah penduduk, terlebih kaum fakir dan miskin. Ia
mendermakan sebagian hartanya untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Ia
juga mengajak kepada hartawan di wilayah Sarang dan sekitarnya untuk ikut
mendermakan harta mereka.
Ia sangat dermawan sekali, meskipun
kenyataannya, ia bukanlah orang yang kaya. Sebab kedermawanannya ini, maka
tidak mengherankan jika ia sangat akrab dan disegani oleh kaumnya. Tentang
kefakiran Kiai Zubair Dahlan, Kiai Maimoen Zubair mengatakan, “Beliau (Kiai
Zubair Dahlan) adalah salah satu Masyayikh Sarang yang hidup dalam kondisi
fakir dan wafat juga dalam keadaan fakir.”
Selain mengupas tentang biografi Kiai Zubair
Dahlan, pemikirannya, jaringannya, dan kiprahnya untuk agama dan bangsanya,
buku ini juga mengupas sebagian manaqib Masyayikh Sarang seperti Kiai Ghozali
al-Sarani, Kiai Umar al-Sarani, Kiai Syu’iab al-Sarani, Kiai Fathurrahman
al-Sarani, dan Kiai Ahmad Syu’aib al-Sarani.
Kejayaan Pesantren Sarang dimulai pada zaman
Kiai Umar al-Sarani dan Kiai Syu’aib al-Sarani. Pada masa kepengasuhannya,
Pesantren Sarang diserbu banyak thalabah dari berbagai kawasan, khususnya pulau
Jawa.
Mereka banyak menjadi orang berpengaruh
ketika kembali ke kampung halamannya seperti Kiai Khalil Kasingan, Kiai
Baidlowi al-Lasemi (Rais Akbar Thariqah Ifadhiyyah Nahdlatul Ulama dan pencetus
gelar Soekarno, huwa waliyyul amri adh dharûry bi al-syaukah), Kiai Ridwan
Mujahid (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ma’shum Ahmad (pendiri Nahdlatul
Ulama), Kiai Muhaimin al-Lasemi (pendiri Dar al-Ulum (Makkah) dan pengajar di
Masjidil haram), Kiai Bisri Syansuri (pendiri Nahdlatul Ulama), dan lain-lain.
[]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar