Kamis, 28 Agustus 2014

Kang Sobary: Loh, Kita Sudah Merdeka To?



Loh, Kita Sudah Merdeka To?
Oleh: Mohamad Sobary

”Alangkah hebatnya kejadian-kejadian tahun yang lalu, 365 hari lamanya kita bekerja keras, berjuang, menderita, dan menghadapi berbagai-bagai kesulitan yang sebagai gunung besarnya. 350 tahun lamanya kita mengalami hidup di dalam penjajahan Belanda, sekarang dengan secara kilat pada tanggal 17 Agustus 1945 kita telah memproklamirkan kita punya kemerdekaan.

Karena kita sudah tahu bahwa kita punya proklamasi itu sudah sepatutnya dan sistem penjajahan harus diberhentikan setelah 350 tahun.” Ini petikan Pidato Presiden Soekarno dalam memperingati satu tahun Hari Kemerdekaan Indonesia, (17 Agustus 1946), dihimpun di dalam buku yang berisi pidato-pidato Presiden Soekarno, Dari Proklamasi sampai Takari, 1945- 1965 .

Dalam rentang waktu selama 20 tahun itu, tiap tahun, yaitu pada setiap tanggal 17 Agustus, saat hari kemerdekaan kita peringati, kita diberi tahu bahwa kita ini bangsa yang sudah merdeka. Kita tahu bagaimana bertingkah laku sebagai bangsa merdeka, yang diminta mengisi kemerdekaan itu dengan kerja, kerja, dan kerja untuk membuktikan kepada dunia bangsa kita bangsa merdeka.

Menyadari bahwa kita sudah merdeka itu kita bangga. Ekspresi kebanggaan diwujudkan dengan pawai kemerdekaan yang gegap gempita. Di kampung- kampung, anak-anak sekolah membawa bendera kecil, dari kertas, berjalan sepanjang beberapa kilo meter menuju ke lapangan, tempat upacara seluruh sekolah di kota kecamatan diselenggarakan. Bapak-bapak, ibu-ibu kaum tani, ikut ambil bagian di dalam pawai kemerdekaan itu, dengan memperlihatkan hasil-hasil panen dari sawah dan kebun mereka, untuk menunjukkan: beginilah bangsa merdeka, yang berkarya dalam kemerdekaannya, dan menyatakan bahwa semua hasil karya itu bisa diperoleh karena kemerdekaan.

Pendeknya, itu pameran hasil karya, tapi juga pameran rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan karena kita bisa merdeka semata berkat Rahmat-Nya. Murid-murid sekolah yang kecil-kecil membawa bendera-bendera kertas kecil-kecil tadi merasa makin kecil saja melihat Sang Saka Merah Putih dari kain yang besar yang dikerek di dalam upacara di lapangan dan makin naik, makin naik, berkibar-kibar, ”klebet-klebet ” ditiup angin kencang. Jiwa kita, anak-anak yang belum mengerti apa-apa itu, ikut bergetar, dengan rasa kagum pada bendera kain yang besar, dan bangga menikmati ritus tahunan, memperingati hari kemerdekaan bangsa.

Kita selalu tahu bahwa kita bangsa merdeka. Kita tahu bahwa revolusi belum selesai. Tapi, pidato demi pidato peringatan Hari Kemerdekaan RI di Istana Merdeka tak pernah melibatkan kita. Seolah kita juga tidak tahu bahwa mereka sedang memperingati Hari Kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Peringatan selalu di Istana, tertutup dari rakyat, dan tak ada rakyat jelata bisa ikut, atau disuruh ikut. Lapangan Monas seluas itu selalu mubazir. Peringatan hari kemerdekaan atau harihari besar lain tak pernah diselenggarakan di sana.

Tapi, kalau gelandangan tidur di tempat itu, pasti dengan sigap aparat ketertiban kota mengusirnya. Apa kira-kira arti kemerdekaan bagi kaum gelandangan yang baru mau merebahkan diri untuk beristirahat sejenak di taman itu, tapi segera diusir seperti mengusir anjing geladak? Apanya yang merdeka kalau warga negara yang belum pernah kebagian apa-apa ini dilarang menikmati ”kemerdekaan” berguling-guling di taman saja tak diperbolehkan? Kira-kira apa jawaban sepasang suami-istri yang sudah berusia setengah abad, memiliki tiga anak yang tak bisa sekolah, tak bisa bekerja, dan mereka sendiri, dua warga negara dewasa itu, tak pernah mempunyai pekerjaan, dan tak punya sekeping pun tanah, di tanah airnya sendiri?

Apakah bagi mereka kata ”merdeka” juga punya arti? Bagaimana kira-kira makna kemerdekaan dipahami oleh makelar pajak, bocah yang baru meniti awal kariernya, tetapi sudah sangat kaya, dan sudah terampil menggelapkan pajak, dan dibela oleh ”lawyer ” kawakan yang mengaku pejuang demokrasi, pejuang keadilan hukum dan kemanusiaan?

Akankah demokrasi ini tumbuh selama dia masih berbuat begitu? Apakah kemanusiaan dan keadilan tak terancam hancur luluh jika orang-orang macam itu dibiarkan merajalela semaunya, seolah hukum itu warisan kakek buyut dan para moyangnya? Apa orang-orang ini bukan perusak kehidupan bangsa? Apa mereka bukan pengkhianat bagi kita semua?

Tak usah kita melihat jauhjauh pada kepentingan ekonomi politik yang begitu rakus dari pihak asing. Mereka orang asing yang tak punya kewajiban membela kita. Jadi kita bisa memahaminya jika mereka berbuat durjana secara ekonomi dan politik, di negeri kita tak perlu jauh-jauh melihat orang asing. Kita sendiri, yang merasa bertanggung jawab pada sesama, bangsa, dan negara yang sudah telanjur merdeka ini, mengapa kita tega merusak? Apa makna ”merdeka” bagi anak pejabat, ketua partai, yang ikut mengatur uang dalam aliansi politik antarpartai?

Anak itu belum seberapa usianya, tapi tentang harta dunia, dia ibaratnya mandi duit. Kecemasan apa yang ada pada orang tuanya? Malah bangga pada anaknya? Kiblat moralnya hancur, tak menjadi masalah? Lalu, apa makna ”merdeka” bagi kita semua, golongan kere, rakyat jelata, kaum kesrakat dan sampah masyarakat, serta kalangan ”sinting” yang mandi uang, bergelimang harta dunia yang diperoleh bukan dengan kerja keras dan berjuang mati-matian, melainkan dengan menggunakan kekuasaan bapaknya dengan perlindungan partainya? Apa makna ”merdeka” di situ kalau kemudian mereka terjerumus di penjara yang gelap gulita?

Orang tuanya masih tak merasa cepat melihat hari depan anaknya, yang sejak sangat muda, sudah bergelimang harta, yang diperoleh bukan dari kerja keras, melainkan dengan manipulasi politik, dan tipu-menipu? Banyak keruwetan muncul ketika kita bersyukur dan merenungkan makna ”merdeka” di tengah kolonialisasi modern yang jauh lebih kejam. Para pejabat pemerintah juga bikin ruwet. Mereka tak becus mengelola apa makna ”merdeka”. Kita sering kaget.

Dalam hidup di mana pekerjaan langka, sumber ekonomi tertutup, cara untuk menunjukkan bahwa kita perlu hidup layak pun tak ada, apa artinya kita ini? Lalu tiap tanggal 17 Agustus tiba, kita dibikin kaget setengah mati: Loh, kita ini sudah merdeka to ? ”Merdeka kok begini.....?” []

KORAN SINDO, 18 Agustus 2014
Mohamad Sobary ; Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar