Mengenal KH Abdul
Majid Tamim, Murid Hadratussyekh yang Produktif Menulis
Di antara orang yang
memiliki jasa besar dalam penyebaran agama Islam ke Madura adalah RKH Abdul
Majid bin Tamim, salah seorang murid Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari. Jasanya
yang cukup besar dikarenakan kemampuannya menerjemahkan sejumlah kitab Islam, dari
berbagai ilmu pengetahuan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Madura.
Sederet nama kitab
yang diterjemahkan antara lain Safinah An-Najah, Sullam Taufiq, Muqaddimah
Hadlramiyah, Nadham Al-Maqshud bahkan juga kitab Tafsir Jalalain. Selain
menerjemahkan, beliau juga mengarang Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah dan
kitab “At-Tashrif”. Kebanyakan karya Kiai Majid baik yang dikarangnya sendiri
ataupun terjemahannya diterbitkan di Maktabah Salim Nabhan Surabaya. Saya
merasa beruntung karena mendapatkan beberapa karya beliau langsung dari
penerbit tersebut.
Nama Kiai Majid juga
tertulis dalam penelitian Martin Van Bruinnessen yang berjudul: “Kitab Kuning:
Books In Arabic Script Used In Pesantren Milieu”. Peneliti berkebangsaan
Belanda ini menyebut Kiai Majid Tamim sebagai salah satu tokoh yang berjasa dan
banyak berbuat dalam rangka penerjemahan kitab-kitab salaf ke dalam bahasa
Madura.
Profil singkat
Kiai Abdul Majid
sendiri lahir di Madura pada 1922 dan wafat pada tahun 2004. Semasa
muda beliau belajar di pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tepatnya pada pertengahan
tahun 1930-an sampai awal tahun 1940-an beliau mengaji langsung kepada
Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Setelah lulus, beliau
tinggal di Jember, tepatnya di Kompleks Masjid Raudlatul Mukhlisin Kelurahan
Condro Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember Jawa Timur. Semasa hidupnya Kiai
Majid tidak hanya aktif menerjemahkan dan menulis kitab kuning, namun seperti
kiai pada umumnya, KH Majid mengisi ceramah dan pengajian-pengajian dalam
majelis-majelis ta’lim yang diselenggarakan oleh masyarakat sekitarnya baik di
Jember maupun di Madura.
Pandangan tentang
emansipasi perempuan
Di antara kitab yang
menarik untuk dibahas saat ini adalah kitab Tafsri Al-Mar’ah Al-Shalihah,
mengingat relevansinya terhadap kondisi saat ini. Kita ini sendiri merupakan
jawaban Kiai Abdul Majid terkait westernisasi tentang emansipasi wanita kala
itu. Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah ini merupakan kitab tafsir yang ditulis
Kiai Abdul Majid dalam Bahasa Madura.
Sebagaimana juga
diungkapkan oleh Ahmad Qusyairi dalam penelitiannya yang berjudul: Kritik
Sosial dalam Tafsir Al-Qur’an (Studi terhadap Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah
Karya Majid Tamim). Dikatakan bahwa tafsir ini ditulis dalam lingkup sosial
budaya madura dan merupakan kritik terhadap westernisasi barat.
Dari hasil penelitian
Ahmad Qusyairi dapat kita ambil kesimpulan mengenai KH Abdul Majid Tamim
Pamekasan adalah sosok ulama konservatif yang sangat selektif terhadap budaya
yang datang dari luar. Dalam kesimpulan penelitian Ahmad Qusyairi disimpulkan
bahwa: (1) Kitab Tafsir Al-Mar’ah Al-Shalihah yang ditulis KH Abdul Majid Tamim
adalah bertujuan untuk merespon isu-isu sosial utamanya masalah westernisasi
dan gender; (2) Metode tafsir yang digunakan Abdul Majid Tamim merupakan tafsir
tematik bil ra’yi dengan corak sosial budaya; dan (3) Kriteria perempuan dalam
pandangan Abdul Majid Tamim dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: (a) Wanita
dengan kepribadian yang kuat; (b) Wanita patuh kepada suami; (c) Wanita pandai
dan cerdas dalam diskursus kesetaraan gender; dan (d) Wanita yang menjaga
kesuciannya.
Menghindari keramaian
Menurut penuturan
keluarganya, KH Abdul Majid merupakan ulama yang berusaha untuk menyembunyikan
dirinya dari kemasyhuran. Ia sering datang ke kediamannya di Pamekasan sebelah
utara Masjid Agung Jami’ Kota Pamkesan tepat di sebelahnya. Ia selalu datang
secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi dan langsung menemui keponakannya R.
Abdullah untuk suatu keperluan. Setelah itu sesegera mungkin (paling lambat
keesokan harinya) kembali ke Jember dengan sembunyi-sembunyi pula.
Penulis sendiri
merasa bertemu muka dengannya hanya sekali dalam hidupnya. Namun penulis telah
banyak mengoleksi kitab-kitab karya dan terjemahannya. Salah satunya adalah
kitab ‘At-Tashrif” yang ditulisnya dalam bidang morfologi bahasa Arab. Kitab
ini penulis dapatkan dari peneribit dan toko kitab Salim Nabhan Surabaya, salah
satu penerbit tertua di Indonesia.
Dari penuturan
pimpinan penerbit itu yakni Adnan Nabhan, dapat saya simpulkan bahwa sosok Kiai
Majid sangat dekat dengan keluarga Nabhan. Memang semasa hidupnya KH Majid
sering mengisi pengajian-pengajian yang dihadiri dan diselenggarakan orang
keturunan arab dan para habib, utamanya di Pamekasan.
Kiranya dari kisah
singkat KH Abdul Majid Tamim ini dapat ditarik dua pelajaran yaitu: (1)
Menguatkan kredibilitas KH Hasyim Asy’ari dan Pesantren Tebuireng sebagai Maha
Guru Ulama dan Pesantren pencetak ulama di Nusantara; (2) Bahwa seorang
Ulama/Kiai meskipun tinggal di pedesaan dan tertutup oleh liputan media serta
tampak kolot, tetap mampu menjawab tantangan zaman. []
(Ahmad Nur Kholis)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar