Rabu, 02 November 2016

Kang Sobary: Orientasi Ideologis Kaum Pergerakan



Orientasi Ideologis Kaum Pergerakan
Oleh: Mohamad Sobary

Urusan pribadi. Jarang di antara mereka yang mewarnai pengalaman hidup dengan suatu sikap politik maupun ideologis yang dipersembahkan bagi kehidupan masyarakat, negara, dan wujud pengabdian lain yang tak berhubungan langsung dengan kepentingan pribadinya.

Komitmen sosial mereka pun terbatas pada ungkapan-ungkapan verbal yang tak berjejak di bumi. Pengaruh gaya kepemimpinan Orde Baru terhadap mereka alangkah besarnya.

Mudah dipahami karena para tokoh sekarang ini lahir di zaman Orde Baru dan menjadi pemuda atau dewasa sebagi sarjana juga di zaman Orde Baru. Sejarah pergerakan kemerdekaan kita kaya akan tokoh besar, orang-orang pergerakan, yang hingga kini kita kenang dengan rasa hormat dan kekaguman yang tak perlu kita sembunyikan.

Sebaliknya, kekaguman pada sikap dan ketulusan mereka harus dipupuk. Mereka itu kiblat budaya. Mereka suri teladan agung. Sebutan ini mungkin tidak berlebihan bila dibandingkan dengan gaya hidup, sikap, dan tingkah laku politik para tokoh kita hari ini yang setiap hari hanya menyuguhi kita tontonan monoton, membosankan, dan membikin perasaan agak muak karena hampir semua hanya berbicara tentang kepentingan pribadi.

Orang-orang yang berseliweran di media cetak, radio maupun televisi kita berbeda sekali dari mereka. Pengalaman hidup tokoh-tokoh hari ini rata-rata berkisar pada muda yang dipompa dengan semangat dan kesadaran ideologis kaum militer yang mengendalikan jalannya pembangunan.

Ormas-ormas pemuda merupakan wadah menjinakkan kaum muda dengan jejalan ideologi yang menggelembung seperti balon raksasa yang kosong dan tak menawarkan kebebasan berpikir kritis. Apalagi kemerdekaan memilih suatu warna ideologi lain yang tidak militeristik dan bebas dari orientasi serba-pembangunan yang sebenarnya tidak membangun apa-apa. Kaum muda, yang memiliki watak kritis dan siap memberontak, dilatih untuk tunduk, taat, dan berbakti pada suatu kiblat kekuasaan yang tak terbantah.

Mungkin benar, kaum muda tumbuh menjadi boneka yang orientasi ideologisnya bersifat membebek. Boleh dikatakan mereka itu hidup tanpa sikap. Mereka tak dilatih untuk belajar memahami arti penting perbedaan. Mereka bukan orang-orang yang memiliki karakter politik yang bersifat militan.

Sejak masih mahasiswa mereka sudah terlatih membungkuk dalam-dalam menghadapi penguasa. Organisasi intrakurikuler maupun ekstrakurikuler mahasiswa juga menjadi sarana penundukan dan penjinakan yang penuh strategi untuk menawarkan cara hidup, cara berpikir dan berpolitik yang mengabdi. Jika kemudian tokoh-tokoh ini tumbuh dewasa dan memasuki dunia bisnis atau politik, mereka hanya akan menjadi penjaga sikap normatif yang kaku dan legalistik-formalistik tanpa jiwa, tanpa semangat yang bisa memberi pihak lain suatu perspektif kebebasan yang sehat.

Pemikiran Romo Mangun mengenai pilihan mendidik jiwa manusia merdeka tidak pernah ada. Dengan begitu mereka tidak pernah belajar bertanggung jawab terhadap kehidupan di luar diri mereka sendiri. Tokoh politik, tokoh birokrasi di dalam pemerintahan, tokoh militer, tokoh polisi, tokoh bisnis, tokoh pendidikan atau kaum akademisi, tokoh pergerakan, aktivis LSM, juga para tokoh dunia rohani—para rohaniwan—apa bedanya jika mereka berbicara tentang kekuasaan?

Mengapa tiba-tiba semua pihak tergila-gila terhadap kekuasaan? Mengapa mereka juga sama dalam segi kemampuan melihat batas-batas kompetensi pribadi? Tiap kali bicara mengenai kekuasaan, mengapa semua pihak membelalak dan siap bertarung memperebutkan suatu jabatan tanpa bisa lagi menyadari bahwa mereka tidak mampu?

Di sini ukuran-ukuran etis tak berlaku. Orang mudah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain asal di sana lebih dekat dengan kekuasaan. Orang mudah melupakan orientasi ideologis, meninggalkan suatu kiblat ideologis yang dibelanya secara mati-matian untuk berganti kiblat ideologis lain demi sebuah kursi dalam suatu jabatan?

Patut menjadi catatan bahwa ini, kurang lebih, merupakan wajah politik kaum muda kita. Orang yang semula gigih membela suatu ideologi keagamaan, serbamoral, serbaetika, serbakeluhuran, dengan mudah berganti ideologi yang keras dan serbaduniawi. Tak perlu membuat kita heran bahwa dengan mudah sekali pula orang menerima tawaran dukungan politik dari suatu partai yang membikin banyak kalangan marah.

Di dalam hidupnya—hidup yang sejak dulu sudah terlatih membebek, mudah tunduk, mudah taat demi materi, jabatan, dan hal-hal duniawi lainnya—tak perlu ada suatu sikap. Baginya, tak punya sikap itu juga sikap. Dan tuduhan bahwa dia tak punya prinsip moral itu juga sudah merupakan prinsip moral tersendiri. Mudah baginya mengubah sikap, mengubah prinsip, karena perubahan itu akan menemukan sikap baru dan prinsip baru yang sudah disebut di atas: tanpa sikap tanpa prinsip.

Rohaniwan berjualan rohani pun kini menjadi biasa. Rohaniwan kaya punya banyak mobil mewah dan rumah-rumah mewah kini merupakan persoalan biasa. Sang rohaniwan pun bisa berdalil, dengan dalil-dalil kitab suci bahwa hal itu biasa. Ini pun representasi tokoh-tokoh muda kita. Boleh dikatakan bahwa mereka ini melanggar semua etika, melanggar khutbah-khutbah mereka dan mungkin juga menyobek perasaan mereka sendiri.

Tokoh muda dunia pergerakan, yang bersikap kritis dan seolah hendak merobohkan semua kekuasaan yang disaksikannya, dan mungkin dikagumi oleh sebagian kalangan, tiba-tiba mendadak berubah. Dia tidak tahan hidup dalam semangat pergerakan yang telah dilaluinya. Dia kemudian bergabung dengan partai politik yang memberinya kemakmuran.

Dulu semua partai politik dianggap nonsense, omong kosong, mandul, dan tak punya gereget perjuangan. Tapi kini dia lupa akan caci maki dan kutukan itu. Dia memasuki dunia kemapanan, hidup necis, dan makmur. Dan tak merasa risi. Apalagi berdoa.

Ini bagian dari kaum pergerakan, kaum muda yang dulu penuh optimistis menghadapi kerasnya pergerakan di bidang politik. Tapi dia termasuk kaum muda yang cepat patah. Ada sinisme terhadap kaum muda seperti itu sebagaimana diucapkan Joel Brainer dalam film koboi: The Magnificent Seven: The graves are full of young men who brave and optimist. Dan kita prihatin, terus menerus, tiap kali menyaksikan drama politik tentang idealisme yang selalu mati muda. Ini dimulai di zaman Orde Baru dan berkembang di kalangan militer, birokrat sipil, dan para loyalis terhadap rezim yang militeristik itu.

Di dunia pergerakan lain, di LSM, banyak caci maki karena sebagian dari mereka yang sangat kritis dan berani menghadapi risiko perjuangan, selalu bersikap terbuka dan mengkritik pemerintah tanpa tedeng aling-aling. Sinisme terhadap mereka masih terasa sekarang. Ada yang beranggapan bahwa LSM telah kehilangan peran karena banyak peran penting telah diambil oper partai politik.

Ini agak berlebihan. Partai politik mengambil hanya sebagian, terutama yang berhubungan dengan hal-hal penting dan sensitif, yang nilai politiknya tinggi. Di luar itu, sangat banyak persoalan yang menanti datangnya politisi untuk melakukan pembelaan, tetapi mereka diam membisu. Tak pernah ada suara, tak pernah ada tanda-tanda bakal datangnya orang partai. Kita sampai berpikir bahwa partai politik itu tidak ada.

Kita harus adil dalam menilai. Sampai saat ini LSM masih merupakan alternatif dari kekuatan pemerintah. LSM juga alternatif kekuatan partai politik. Dalam hal-hal yang besar, politis, dan sensitif secara global, siapa yang berani mengambil inisiatif untuk bersuara? Pemerintah? Tidak mungkin. Pemerintah terjerat banyak konvensi dan subasita  politik global.

Partai politik? Tidak. Di parlemen pun mereka sunyi senyap. Kadang mereka hanya tahu persoalan dari media. Siapa yang berani bersuara? LSM. Tak diragukan lagi, lewat jaringan yang dikenal sebagai New Social Movement, mereka bisa bersikap jelas. Suatu isu lokal bisa diangkat ke tingkat global dan menjadi kepedulian bersama. Mereka waspada terhadap tiga musuh utama: global market, global capitalist, state, dan state policies.

Kaum pergerakan di LSM dengan begitu jelas memiliki ”musuh” utama di tingkat global maupun di tingkat lokal. Orientasi ideologis mereka? Mohon maaf, ini agak kurang jelas.

Tak sedikit tokoh yang bekerja di LSM bersikap sebagai pegawai. Dia bekerja dan merasa berhak digaji tiap akhir bulan.

Di sini aktivisme pergerakan tak terasa penting. Dia bekerja, bekerja, dan bekerja secara teknis, apa adanya, dan tak lebih dari sekadar mencari sandang pangan, mencari penghidupan seperti halnya serombongan semut yang setiap hari juga mencari penghidupan.

Aktivis di LSM bukan semut. Mereka orang terpelajar. Mungkin mereka bisa disebut concerned intellectuals, devoted intellectuals, atau kaum sekolahan yang harus memanggul peran profetik buat begitu banyak kegiatan pembebasan: membebaskan rakyat dari kemiskinan, dari kebodohan, dari ketidakadilan, dan dari berbagai jenis ketertindasan.

Ancaman global melalui bisnis ritel dalam dunia perkebunan, pertambangan, perbankan, rumah sakit, sekolah. Kita ditindas, kita digilas sampai tak berdaya. Tapi banyak aktivis LSM yang membisu. Peran profetik kita mengajari agar kita bertindak. Tidak bisa kita hanya omong atau hanya bertindak asal bertindak.

Kita diminta melakukan tindakan revolusioner yang mengubah dunia di sekitar kita. Kita mencari palagan tempur, the battle field, tempat mencucurkan keringat, keprihatinan, dan jerih payah dalam kerja mewujudkan komitmen sosial kita. Seperti inilah representasi ideologis kita. []

Koran SINDO, 29 Oktober 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar