Senin, 14 November 2016

(Hikmah of the Day) Kisah Mbah Kastari, Kiai Kampung Penuh Kesahajaan



Kisah Mbah Kastari, Kiai Kampung Penuh Kesahajaan

Kastari bin Maulana Maghribi Wonobodro merupakan sesepuh Desa Pagerdawung, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal. Mbah Kastari, demikian biasa masyarakat memanggil, lahir di Kendal 15 Juli 1935 dan wafat di tahun 2002. Menurut cerita, Mbah Kastari merupakan keturunan ke-11 Syeikh Maulana Maghribi Wonobodro. Mbah Kastari bukan tokoh populer, bukan kiai besar, atau pengasuh pesantren yang memiliki ribuan santri. Ia hanya dikenal di Desa Pagerdawung, selebihnya tidak banyak yang tahu.

"Mbah yai itu baik banget, Ngajar ngajinya juga mudah dipahami. Jika ada santri yang salah tidak pernah dimarahi kecuali pernah anak kakak saya nggak bisa ngaji akhirnya dimarahi karena beliau merasa malu bisa mendidik anak orang kok cucu sendiri ngak bisa, mungkin itu pikir beliau," kenang Sajidi, putra ketiga Mbah Kastari.

Kehidupan sehari-hari Mbah Kastari berjalan selayaknya masyarakat pada umumnya. Bertani, ngajar ngaji, juga menjadi Imam sholat. Mbah Kastari terkenal akan kesederhanaan, juga kerendahan hatinya. Ketua Ta'mir Masjid At-Taqwa Desa Pagerdawung, KH Solihin mengungkapkan, Mbah Kastari adalah pribadi yang bersahaja.

"Simbah Kiai Kastari itu sangat sederhana. Rendah hati juga. Saya saja masih ingat kerendahan hatinya dulu. Sayang ya orang sebaik dia harus pergi terlebih dahulu," tutur Kiai Solikin.

Kehidupan beliau sangat sederhana, bahkan terkadang kekurangan. Tidak pernah keluar sedikitpun kata "kurang" yang keluar dari mulutnya, justru malah sebaliknya beliau selalu bersyukur.

"Alhamdulillah Gusti Allah wes maringi nikmat. Sitik gak popo daripada raono (Alhamdulillah Gusti Allah sudah memberikan nikmat, Sedikit tidak apa-apa daripada tidak ada," kata Sajidi, menirukan wejangan Mbah Kastari.

Dalam sebuah pengajian, Mbah Kastari pernah menuturkan tentang sosok kiai. Baginya, kiai adalah penyematan gelar yang berat untuk dipikul.

"Kiai itu apa? Semua itu ada aturanya kenapa seorang diangap sebagai kiai. Kalian terlebih saya pribadi jangan berharap dipangil kiai. Jadi kiai itu berat, Jalani aja, sampaikan apa yang kamu tahu dan berharaplah hanya kepada Allah SWT," katanya.

Sebelum wafat, Mbah Kastari jatuh sakit selama dua pekan. Sebenarnya beliau tahu apa penyebab sakitnya, namun untuk mencegah kepanikan anak-anaknya beliau hanya diam dan tetap berkata bahwa beliau sedang sakit biasa.

Karena kesehatannya semakin menurun, anak pertamanya Muryati bertanya kepada beliau tentang penyakitnya. Dan, semua tercengang. Ternyata yang diderita selama ini adalah akibat “diguna-guna” oleh orang yang tidak suka dengan dirinya. 

Setelah mendengar ceritanya, anak-anak beliau hendak membalas perlakuan seseorang kepada ayahnya itu, tetapi dengan tegas Kiai Kastari melarangnya dan menyampaikan pesan yang ternyata itu adalah pesan terakhir sebelum kepergianya.

"Anak anakku, mati ini adalah urusan Allah SWT , Lauhul Mahfuz tidak pernah salah. Mungkin ini adalah pelajaran bagi bapakmu ini yang penuh dosa ketika hidup di dunia. Bapakmu ini ikhlas nak biarkan mereka melakukan apa yang mereka mau. Kita berdoa aja kepada Allah, jangan balas keburukan dengan keburukan, balaslah dengan kebaikan. Bapakmu sudah ikhlas, jika nanti bapak meninggal jangan pernah ungkit-ungkit masalah ini. Berikan senyuman, bapak sudah ihlas, Lillahhita'ala. Doakan bapak agar selalu berada di jalan Allah dan mati juga dijalan Allah"

Itu adalah pesan terakhir Kiai Kastari kepada putra-putrinya, juga  kepada santrinya. Semoga kisah ini bisa bermanfaat bagi kita semua bahwa keburukan tidak perlu dilawan dengan keburukan. Sebaliknya, keburukan harus dihadapi dengan kebaikan. Karena di situ letak ujian manusia. []

(IMS/Zunus)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar